Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Rayhan Melamar dalam Bahasa Prancis
Seminggu setelah pesta, Keira belum mendapatkan kembali satu pun suara.
Audiometri kedua menunjukkan hasil yang sama. Ia mulai belajar membaca gerak bibir dari terapis, tetapi baru bisa memahami kalimat pendek bila orang berdiri tepat di depannya. Untuk hal penting, semua orang di vila memakai tulisan.
Rumah juga berubah bersamanya. Lampu pintu menggantikan ketukan. Alarm kebakaran dihubungkan ke lampu strobo dan gelang getar. Meja makan diatur setengah lingkaran agar Keira bisa melihat wajah semua orang. Bi Sari berhenti memanggil dari dapur dan memilih masuk ke bidang pandang.
Rayhan mempelajari sepuluh isyarat dasar: makan, obat, sakit, berhenti, bahaya, ya, tidak, tidur, rumah, dan Kei. Gerakannya masih kaku. Ia tidak berpura-pura menguasai bahasa yang baru dipelajari, tetapi setiap malam ia berlatih bersama video dari terapis.
Keira tidak diminta bersikap seolah semua penyesuaian itu menghapus kehilangan. Ia boleh marah ketika transkripsi salah dan boleh menutup pintu ketika lelah membaca bibir.
Malam itu, lampu di kamar Keira berkedip dua kali.
Itu sistem baru pengganti ketukan pintu.
Amanda masuk setelah Keira menekan tombol izin. Ia membawa gaun sederhana warna biru pucat, bukan pakaian pesta.
`Pakai ini. Kita ke taman,` tulisnya di ponsel.
Keira memandang pakaian Amanda yang terlalu rapi untuk makan malam biasa.
"Ada apa?"
Amanda menggeleng cepat. `Bukan bahaya.`
Di luar kamar, jalur menuju taman dihiasi lampu putih kecil. Lilin berada di dalam tabung kaca lebar agar tidak mudah jatuh. Bunga putih disusun rendah di sisi jalan, menyisakan ruang cukup untuk tongkat dan langkah pincang Keira.
Oma berdiri dekat kursi taman bersama Bi Sari dan Tante Mira. Brandon memegang tablet. Amanda berjalan di sisi Keira, sementara Rayhan menunggu di bawah lengkungan lampu.
Ia mengenakan setelan gelap tanpa dasi.
Keira berhenti. "Ini apa?"
Rayhan menghadapnya penuh agar bibirnya terlihat. "Satu pertanyaan. Kamu boleh menjawab tidak. Kamu juga boleh meminta waktu."
Brandon menampilkan kalimat yang sama pada tablet.
Keira melanjutkan langkah.
Di tengah taman, Rayhan mengambil tangan kanannya dan menunggu sampai Keira mengangguk. Ia lalu berlutut dengan satu kaki.
Sebuah kotak kecil terbuka di telapak tangannya. Di dalamnya ada cincin milik mendiang ibu Rayhan, batu bening dengan rangka lama yang sudah diperiksa dan disesuaikan ukurannya tanpa mengubah bentuk asli.
Sebelum malam itu, Oma telah menunjukkan dokumen kepemilikan dan surat pendek dari ibu Rayhan. Cincin tersebut diwariskan kepada Rayhan tanpa syarat bahwa pasangan berikutnya harus menerimanya. Jika Keira menolak, benda itu akan kembali ke kotak keluarga dan Rayhan akan melamar tanpa cincin.
Keira tidak mengenal perempuan yang pernah memakainya. Ia hanya tahu cincin itu bukan barang yang dibeli mendadak untuk menciptakan adegan. Rayhan membawa bagian hidup yang paling dijaganya, lalu tetap memberinya hak untuk tidak menyentuh.
Rayhan mulai berbicara dalam bahasa Prancis.
Keira melihat bibirnya bergerak, tetapi tidak mendengar dan tidak memahami bahasa tersebut. Pada tablet Brandon muncul transkripsi Prancis yang sama asingnya.
`Je ne te demande pas d'oublier ce qui t'est arrivé. Je te demande de me permettre de marcher avec toi, sans prendre ta place ni choisir ton chemin.`
Keira mengerutkan dahi.
Di belakangnya, Amanda membaca teks dan berbisik menerjemahkan kepada Tante Mira. Tante Mira langsung menutup mulut, air matanya jatuh. Bi Sari menyeka mata dengan ujung celemek. Oma memukul lengan Brandon karena ia lupa memperbesar huruf untuk Keira.
Brandon buru-buru mengganti layar, kali ini dalam bahasa Indonesia.
`Aku tidak memintamu melupakan apa yang terjadi. Aku meminta izin berjalan bersamamu, tanpa mengambil tempatmu atau memilih jalanmu.`
Keira membaca sampai selesai.
Rayhan beralih ke bahasa Indonesia. Ia mengucapkan setiap kata dengan perlahan, dan kalimat yang sama muncul di layar.
"Keira, aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup bersamaku akan mudah. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: selama aku hidup, tidak akan ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi."
Air mata memenuhi mata Keira, tetapi ia tidak langsung menjawab.
Ia mengambil tablet dari Brandon dan mengetik.
`Kamu tidak bisa menjanjikan dunia tidak akan menyakitiku. Kamu tidak berhasil mencegah pesta itu.`
Rayhan membaca tanpa membela diri.
"Benar."
`Kalau kita bertunangan, kamu tidak boleh memutuskan atas nama perlindungan tanpa memberitahuku.`
Rayhan diam sesaat. Ada hal-hal dari malam pesta yang belum seluruhnya diketahui Keira. Ia tidak mengubah pertanyaan menjadi desakan.
"Aku bisa berjanji akan mengatakan kebenaran, meminta izin ketika keputusan itu milikmu, dan menerima jika kamu pergi setelah mengetahui pilihanku."
Brandon mengetik semua itu, termasuk jedanya.
Keira membaca. "Kenapa bahasa Prancis?"
Rayhan hampir tersenyum. "Ibuku mengajariku. Itu bahasa yang dia pakai untuk menulis hal-hal yang tidak ingin dibaca Ferdinand."
"Aku tidak mengerti satu kata pun."
"Karena itu aku menyiapkan terjemahan."
Amanda mengangkat tangan dari belakang. "Terjemahan awalnya terlalu kaku. Aku yang memperbaiki."
Brandon menoleh. "Saya yang memperbaiki tata bahasanya."
Amanda menyikut lengannya. Keira tidak mendengar suara tawa yang muncul, tetapi ia melihat Tante Mira tersenyum di antara air mata.
Tiga minggu sebelumnya, Keira berjalan keluar dari lapas dengan satu seragam SMA dan tidak satu pun orang menunggu. Ia mengira hidup setelah gerbang besi hanya akan berisi upaya menjauh dari orang-orang yang ingin memakai tubuhnya.
Sekarang laki-laki paling berkuasa di lingkar bisnis Jakarta berlutut di depannya. Namun yang membuat Keira menangis bukan kekuasaan itu. Rayhan memberi tempat untuk kata tidak, menyediakan terjemahan, dan menunggu ketika ia menantang janji yang mustahil.
Keira menatap cincin tersebut.
"Apakah aku harus memakai ini setiap hari?"
"Tidak."
"Kalau tanganku sakit?"
"Simpan."
"Kalau aku belum mau menentukan tanggal pernikahan?"
"Kita tidak menentukan."
"Kalau aku ingin kontrak pranikah dan penasihat hukum sendiri?"
"Pilih sendiri pengacaranya. Hartono membayar biaya tanpa memilih orangnya."
Keira menatap tongkat di sisi kakinya. "Aku pincang, hanya punya satu ginjal, satu tangan tidak lengkap, dan sekarang tidak bisa mendengar. Dokter bahkan belum tahu kerusakan lain yang belum ditemukan."
Rayhan menunggu sampai wajahnya kembali terangkat.
"Aku tidak sedang membeli aset yang harus lolos pemeriksaan," katanya. "Tubuhmu bukan daftar kekurangan."
"Kalau nanti aku selalu membutuhkan bantuan?"
"Kita membayar tenaga profesional untuk hal yang membutuhkan keahlian. Untuk hal lain, kita bertanya apa yang kamu mau."
"Kalau aku tidak bisa menjadi istri yang dibutuhkan keluarga Hartono?"
Oma hendak menyela, tetapi Rayhan menjawab lebih dulu. "Aku tidak membutuhkan istri untuk perusahaan atau nama keluarga. Aku meminta kamu menjadi pasanganku. Kalau jawabannya tidak, rumah, perawatan, dan kontrak kerjamu tetap sama."
Brandon menunjukkan salinan klausul itu di tablet. Tawaran pernikahan tidak mengubah hak tinggal atau upah Keira. Ia tidak harus mengatakan iya agar perlindungan tetap ada.
Keira mengembalikan tablet kepada Brandon.
Ia mengangguk. Air mata jatuh ke pipinya.
"Iya."
Rayhan tidak langsung memasang cincin. Ia bertanya dengan tatapan dan satu kata yang jelas di bibir.
"Boleh?"
Keira mengulurkan tangan kanan.
Cincin mendiang ibunya masuk perlahan ke jari manis. Rayhan berdiri, lalu memeluk Keira setelah ia membuka kedua lengan. Bibirnya menyentuh dahi Keira singkat.
Oma bertepuk tangan begitu keras hingga telapak tangannya memerah.
"Akhirnya! Cucuku punya cucu menantu!"
Keira tidak mendengar, tetapi Brandon menunjukkan kalimat itu. Ia tertawa. Amanda bersiul, kemudian sadar Keira tidak bisa mendengarnya dan mengganti dengan mengangkat kedua ibu jari. Bi Sari dan Tante Mira memeluk Keira bergantian.
Rayhan menyalakan satu getaran pendek pada gelang pintar yang terhubung ke ponsel Keira. Mereka telah menyepakatinya sebagai tanda `lihat aku`, bukan alat pelacak. Keira menoleh.
`Terima kasih sudah memilihku,` tulis Rayhan.
Keira membalas, `Jangan buat aku menyesal.`
`Tidak akan.`
Tidak ada tanggal pernikahan diumumkan. Tidak ada kontrak ditandatangani malam itu. Pertunangan mereka dimulai dengan satu cincin, satu jawaban sadar, dan daftar batas yang tetap berlaku setelah bunga dibersihkan.
Keira meminta agar pengumuman publik ditunda sampai penasihat hukumnya meninjau perubahan status sosial tersebut. Oma mengeluh ingin segera memberi tahu seluruh Jakarta, tetapi akhirnya setuju menunggu. Brandon hanya mengambil satu foto keluarga untuk arsip pribadi dan mematikan cadangan otomatis ke media sosial.
Foto itu memperlihatkan Rayhan masih berlutut, Keira memegang tablet, dan semua orang di belakang menunggu jawaban. Bukan gambar seorang perempuan yang terkejut tanpa jalan keluar.
Larut malam, semua orang meninggalkan taman. Keira masuk ke ruang sulam.
Dua potong Peony Agung terbaring di atas meja konservasi. Ia tidak mencoba menyatukan kain lama seolah robekan tidak pernah terjadi. Sebagai gantinya, ia memasang dasar sutra baru dan memilah setiap benang yang berhasil diselamatkan.
Konservator telah memberi label pada seratus delapan belas kelompok benang menurut warna, panjang, dan bagian asal. Keira memotret setiap kelompok sebelum memindahkannya. Potongan kain lama disimpan terpisah sebagai bukti dan referensi, bukan dipaksa menahan jahitan baru.
Rancangan kedua tidak akan menjadi salinan. Peony utama tumbuh dari garis gelap yang mengikuti bekas robekan. Cabangnya dibuat lebih lebar agar benang pendek dapat dipakai tanpa disambung secara palsu.
Benang merah yang putus menjadi bayangan pada kelopak. Benang emas yang terlalu pendek dipakai untuk urat daun. Bekas kerusakan tidak dibuang. Ia akan menjadi bagian dari rancangan kedua.
Keira memasukkan jarum pertama.
"Ini akan lebih indah dari yang pertama."
Ia tidak mendengar suaranya sendiri, tetapi merasakan getaran kecil di tenggorokan.
Ponsel di meja bergetar.
Pesan datang dari nomor tidak dikenal.
`Selamat atas pertunanganmu. Tapi tahukah kamu, tunanganmu saat berusia lima tahun menikam ibu kandungnya sendiri dengan pisau? Tanyakan padanya mengapa dia melakukannya.`
Keira membaca pesan itu sekali.
Kemudian sekali lagi.
Jarum berhenti di atas kelopak baru.