Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak mau menikah
-
-
-
Dean benar-benar bingung ia disituasi yang sangat sulit saat ini. Ia memikirkan Rivana, bagaimana dengan wanita itu? akankah Dean tega menyakiti Rivana? Tapi jika Dean menolak Ken, ia akan menjadi manusia yang paling tidak tahu diri dimuka bumi ini. Bukankah dari dulu Dean selalu bertanya pada Ken apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan pria itu?. Dan mungkin inilah saat yang tepat meskipun ini sangat berat dan Dean akan melukai hati wanita yang dicintainya
" Dean!" panggil Ken menyadarkan Dean. Pria itu berbalik menatap Ken. Menatap wajah dewa penolongnya, wajah itu terlihat memohon pada Dean agar menerima keinginannya. Dean menarik nafasnya dalam, mau tidak mau, suka tidak suka
" Baik aku akan menikahinya. " Ken tersenyum, sekali lagi pria itu menepuk bahu Dean lalu berpindah pada puncak kepalanya
" Terima kasih Dean.!"
" Kapan aku harus menikahinya?"
" Minggu depan. " saut Ken cepat. Dean lagi-lagi tertegun
" Kalau boleh tahu apa alasan Tuan menikahkan Bulan secepat ini?"
" Aku ingin mengurangi beban didadaku!" Ken terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya
" Kau tahu Dean, anak perempuan bagi seorang ayah adalah segalanya begitupun dengan Bulan. Sejak masih bayi merah aku selalu menjaganya, merawat dan memenuhi semua kebutuhan gadis kecilku. Semakin Bulan beranjak dewasa aku semakin ketakutan, aku takut putriku dibawa lari oleh pria brengsek yang tidak bertanggung jawab dan jika itu terjadi aku mungkin bisa gila. Aku ingin ada yang menjaganya, aku ingin mengurangi beban didadaku. Mungkin Chesa dan Chesy memang masih kecil, tapi seiring berjalannya waktu mereka akan tumbuh besar. Dan sebelum itu terjadi aku ingin putri sulungku ada yang menjaganya dan aku memilihmu!." tutur Ken
Dean hanya terdiam membisu, ia bahkan tidak menyukai gadis itu. Galak dan cerewet, bagaimana bisa Dean menikah dan seatap denganya. Dean terus bergelung dalam pikirannya sampai gebrakan sebuah pintu membuatnya tersadar dan spontan menoleh ke arah pintu
Tampak Bulan disana, seperti biasa wajah itu selalu jutek pada Dean. Bulan bahkan tak menghiraukan Dean, menganggap pria itu patung. Dengan tak sopan wanita itu melenggang saja masuk kedalam dan berdiri didepan ayahnya
" Apa yang kau lakukan?" tanya Ken tajam. Terlihat sekali bahwa pria itu masih marah pada putrinya
" Aku tidak mau menikah dengannya!" tunjuk Bulan pada Dean
" Menangnya siapa yang mau menikah dengan gadis kecil yang sombong sepertimu! " batin Dean menggerutu
" Siapa yang mengijinkamu bicara?"
" Dad, dad berniat mau menyiksaku begitu?"
" Keluarlah, kau tak berhak membantah dan menolak. " Bulan melipat kedua tangannya didada, kali ini ia terlihat tidak takut pada sang ayah. Bulan sudah diambang batas kemarahannya pada Ken
" Aku berhak karena ini hidupku. "
" Baiklah, kalau begitu jangan harap Dad memberi uang bulanan padamu dan membiayai studymu. Carilah uang sendiri!"
" Dad!" teriak Bulan
" Kenapa Dad tega sekali apa aku bukan anak kandungmu?" Bulan mulai menangis kencang
Ken hanya terdiam memperhatikan dengan wajah datarnya begitupun Dean yang tanpa ekspresi melihat drama queen didepan matanya
" Dad, aku tidak mau menikah dengannya. Dia sangat pendiam dia bukan tipeku sama sekali. " Kini Bulan berlutut dengan wajah memelas dan gadis itu tidak menyadari bahwa cel*na da*amnya yang berwarna merah kini terekspos dikedua mata Dean dan sang ayah karena wanita itu hanya memakai rok mini
" Dad, aku mohon. Aku tidak mau menikah, aku masih mau melanjutkan studyku. "
" Dean akan membiayai semuanya. Studymu!"
" Tidak! aku tidak mau menikah dengannya. " Bulan terus menggelengkan kepalanya dengan airmata menderai
" Kenapa Dad tega sekali padaku!" gumamnya menangis sesenggukan
" Ini semua demi kebaikanmu! Menikah atau tidak melanjutkan studymu sama sekali." ucap Ken tegas lalu beranjak bangun, begitupun Dean mengikuti dibelakang sudah seperti antek-anteknya membuat Bulan semakin membenci pria itu
Bulan menjatuhkan tubuhnya, ia bersujud dan menangis meraung meratapi nasibnya yang harus menikah bersama orang yang tidak ia sukai. Bagaimana dengan James, Bulan sangat mencintai James bahkan Bulan bermimpi menikah dengan James saat mereka sama-sama dewasa nanti. Tangisan itu bahkan sampai terdengar sampai keluar dan terdengar ditelinga Dean
Ken berhenti, ia berbalik pada Dean lalu merangkul pria itu
" Bulan sebenarnya baik, hanya saja ... kau tahu Dean, dia seperti itu karena dia tidak mengenalmu. Aku yakin sifatnya akan berubah jika kalian sudah saling mengenal. " ucap Ken pada Dean lalu melanjutkan jalan kembali. Dean hanya tersenyum, sangat tipis hampir tak terlihat, pikirannya melayang pada Rivana. Bagaimana jika wanita itu tahu Dean kembali ke Paris dalam keadaan sudah menjadi milik orang lain? apakah Rivana akan menangis lagi seperti kemarin?
Dean terus melamun sampai tak sadar kini ia tepat didepan pintu kamarnya. Dean memegang handle pintu, membukanya dan masuk kedalam. Ia berniat menutup pintu jika saja Bulan tak mendorong pintu itu dengan kencang hingga ia hampir terjengkang ke lantai karenanya. Cepat-cepat gadis itu masuk dan menutup pintunya kembali
Dean hanya menghela nafasnya, ia melipat kedua tangannya didada sambil menatap Bulan yang juga menatapnya garang
" Apa yang kau lakukan dikamar seorang pria?"
" Dengar Dean bagiku kau bukan seorang pria kau hanya seorang penguntit. " ucap Bulan tajam menaikan jari telunjuknya tepat didepan wajah Dean. Dean memegang jari itu dengan satu tangannya, spontan Bulan menariknya kembali
" Jangan sekali-kali menyentuhku!" bentaknya pelan dengan kedua mata melotot pada Dean. Dean menyeringai
" Memangnya apa yang menarik darimu?" Dean menatapi Bulan dari atas kebawah lalu kembali keatas. Bulan membuka mulutnya jengah, ia jadi merasa terhina, belum pernah ada yang bicara padanya seperti ini. Ia mendekat dan mencengkram kerah kaos yang Dean pakai dengan begitu berani
" Dengarkan aku! batalkan semuanya, pernikahan itu. Atau-"
" Atau apa?" potong Dean lalu melepaskan tangan Bulan dan menghempasnya kasar. Dean mendekat membuat Bulan mundur kebelakang
" Atau apa? katakan!"
" Atau kau akan menyesal?"
" Menyesal?"
" Kenapa aku harus menyesal?"
" Atau jangan-jangan kau tertarik padaku?" tanya Bulan begitu percaya diri
Dean berdecih. " Aku tidak tertarik dengan gadis kecil sepertimu." saut Dean menatap lekat wajah imut didepannya. Kening mata hidung dan bibir mungil bergelombang itu tak lolos dari pandangan netra coklat Dean
" Keluar atau kau yang akan menyesal. " ucap Dean menghentikan Bulan yang akan membuka mulutnya
" Dasar penguntit brengsek!" umpat Bulan memancing Dean. Wanita itu berjalan keluar namun sebelum mencapai pintu Dean menarik lengannya dan mendorong Bulan pada pintu hingga pintu itu tertutup kembali
" Jaga mulutmu! kau masih bocah ingusan tidak sopan sekali berbicara pada orang dewasa. "
" Dan kau seorang fedofil!" Bulan kembali mengumpat semakin menangtang Dean. Pria itu lebih mendekat lagi hingga Bulan sedikit menciut karenanya
" Katakan! katakan sekali lagi. " Dean mencengkram kedua pipi itu pelan dan segera ditepis oleh Bulan
" Sudah kubilang, jangan menyentuh penguntit!" bentak Bulan
Dean benar-benar geram, tatapan itu terlihat tajam. Kedua tangannya terulur menyentuh pinggang ramping itu namun secepat kilat kaki Bulan menendangnya tepat pada pangkal paha pria itu membuat Dean berteriak kesakitan dan langsung memegangi miliknya
" Kau. " ucap Dean geram ditengah kesakitannya
Bulan yang ketakutan mendorong Dean menjauh lalu beringus membuka pintu dan berlari secepat mungkin
-
-