Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Menyakitkan
Nala menghabiskan makan paginya dengan Akira, kemudian dia masuk kembali ke dalam mobil Akira. Jujur saja Nala mulai menyukai sikap Akira yang sangat lembut dan perhatian kepadanya, ya hampir mirip dengan sikap Mas Radit kepadanya. Namun, ini beda, apalagi Akira adalah orang pertama yang menyentuhnya.
"Maaf, apa kamu nyaman aku panggil hanya dengan sebuatan Akira? mengingat usia kamu diatas usiaku."
"Aku nyaman saja, kamu boleh memanggilku sesuka kamu. Aku tidak akan keberatan." Akira tersenyum.
"Terima kasih, entah kenapa aku lebih nyaman memanggil kamu dengan sebutan nama saja, nama kamu sangat indah Akira kamu bukan orang Indonesia, Ya?
"Aku ada darah Indonesia dari nenekku, mamaku orang Jepang dan Jawa, ayahku orang Inggris atau biasa kalian menyebutnya bule."
"Oh begitu! pantas saja kamu memiliki wajah yang sangat tampan. Seperti bayi kecil yang tampan."
"Oh, Ya? apa menurut kamu aku tampan?" Akira tersenyum, dan senyumnya itu sangat meneduhkan.
Nala hanya mengangguk perlahan malu. "Akira, apa bisa nanti kamu mengantarnya agak jauh dari tempat kerja aku, aku tidak mau terlihat banyak orang turun dari dalam mobil kamu, aku bingung nanti kalau di tanyai oleh mereka."
"Baiklah, aku akan menurunkan kamu agak jauh dari tempat kerja kamu. Oh ya, Nala. Apa kamu sudah lama bekerja di sana?"
"Iya, aku sudah hampir satu tahun bekerja di sana. Setelah dulu aku bekerja di sebuah toko bangunan," Nala nada bicaranya sedih.
"Kenapa kamu malah terlihat sedih?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin mengingat pernah bekerja di sana."
"Memangnya kenapa? Apa kamu pernah mendapat kejadian buruk?"
"Iya, tapi sudahlah tidak perlu aku ceritakan, aku sudah melupakan hal itu. Aku sekarang sudah sangat bahagia bisa keluar dari sana dan bekerja di cafe milik mas Radit."
"Ada apa, Nala? katakan padaku?" Akira menggenggam tangan Nala. Mata Akira menatap tajam pada Nala yang juga melihat mata indah itu.
"Aku pernah hampir dinodai oleh pemilik tempat aku bekerja," ucap Nala pelan.
"Apa?!" Reno malah mendadak menghentikan mobilnya. Nala yang hampir terpental ke depan bisa dengan cepat di peluk oleh Akira.
"Reno! hati-hati!" seru Akira kesal.
"Ma-maaf, Bos. Aku terkejut mendengar apa yang terjadi dengan Nala. Kurang ajar sekali bos kamu yang dulu. Pria itu perlu diberi pelajaran!"
"Tidak usa, Pak Reno. Aku sudah tidak mau membahas masalah ini lagi, aku ingin melupakan kejadian itu."
"Kamu tidak apa-apa kan, Nala?" tanya Akira.
"Aku tidak apa-apa, aku bisa melawannya, aku sempat memukulnya dengan material di dalam toko iku sehingga dia pingsan dan aku bisa lari dari dalam toko itu."
"Oh Tuhan! bagaimana kejadian itu bisa terjadi? apa tidak ada orang yang menolong kamu, apa pria itu sudah menikah?"
"Dia sudah berkeluarga, istrinya sangat baik, bahkan aku pernah dipinjami uang saat aku membutuhkan uang, malam itu istri dan anaknya pergi ke rumah ibunya, dan semua pegawai sudah pulang, bos aku meminta aku tidak pulang dulu karena harus memeriksa stok barang yang habis, aku tidak curiga sama sekali di dalam toko, aku mengecek barang yang habis sampai jam 10 malam." Nala terdiam
"Lalu?"
"Lalu, saat aku memeriksa barang, dia datang mendekatiku dan bertanya kapan aku akan melunasi hutangku pada istrinya, aku bilang jika istrinya tidak memaksakan aku untuk cepat-cepat melunasinya, jika aku punya uang aku boleh membayarnya. Dia bilang dia akan membantu melunasi hutangku jika aku mau menemaninya semalam, bahkan dia akan memberiku lebih banyak lagi."
"Dia memang brengsek, Nala!" ucap Reno kesal. sambil memegang erat setir kemudi mobil yang dijalankannya.
"Aku langsung menamparnya, dan tiba-tiba dia menarik tanganku dengan kasar, dia bilang aku jangan berpura-pura baik dan sok jual mahal, aku hanya gadis miskin yang hanya bisa menjual diri." Nala meneteskan air mata.
Kedua rahang Akira seketika mengeras, tangannya mengepal erat, entah kenapa dia merasa hatinya tersayat mendengar Nala dihina seperti itu. "Pria brengsek! apa kamu masih berhutang sama dia?" tanya Akira.
"Iya, dan aku menyicilnya sedikit demi sedikit sama istrinya, aku tidak mau bertemu dengan suaminya. Aku bilang sama istrinya jika aku keluar dari sana karena mendapat pekerjaan yang lebih baik, aku tidak mau membuat rumah tangga orang itu hancur."
"Oh my God! kenapa masih ada orang sebaik kamu." Reno seolah tidak percaya.
"Aku sudah tidak mau berurusan dengan mereka Pak Reno."
"Nala jangan panggil aku pak Reno, panggil saja Reno atau mas Reno," celetuk Reno.
Kedua mata Akira menyipit mendengar hal itu, dia merasa Reno mulai suka menggoda Nala.
lanjuut
lanjuutt