NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8 — Mereka yang Tak Menoleh

Saat Tri sadar kembali, hal pertama yang ia lakukan bukan membuka mata.

Ia mendengar dulu.

Bunyi logam yang mendingin.

Bunyi darah menetes di atas pecahan kaca.

Dan getaran dua mesin Mecha yang menekan udara dari dekat.

Tidak.

Kesadarannya tersangkut di antara sakit dan dingin. Ia memaksa kelopak matanya naik sedikit. Cahaya senja pecah menjadi garis-garis kabur. Di depan matanya, lantai beton dipenuhi darah hitam Bestia Bintang dan darah merah miliknya sendiri.

Tubuh raksasa itu sudah tidak bergerak.

Kepalanya tergeletak dekat rak alat yang patah.

Di samping bangkai itu, dua sosok berdiri.

Yang satu berambut hitam, panjangnya diikat rapi. Seragam tempurnya bersih, bahkan setelah turun ke gedung busuk Planet 3212. Di belakangnya, Mecha pelindung berat berlutut setengah, perisainya masih terbuka seperti dinding emas pucat yang dingin.

Yang satu lagi berambut keemasan pendek sebahu. Ia memegang bilah panjang, menatap bangkai Bestia tanpa ekspresi takut. Mecha ramping di belakangnya masih menyala, garis sendinya tajam, siap bergerak kapan saja.

Anak-anak orang besar.

Tri tidak perlu melihat lambang keluarga untuk tahu.

Orang miskin tidak punya Mecha yang mendarat tanpa suara.

Gadis berambut keemasan menendang kepala Bestia dengan ujung sepatu. “Sudah mati.”

“Ambil kristalnya,” kata gadis berambut hitam.

Suaranya tenang.

Bukan tenang karena tidak melihat darah.

Tenang karena darah di lantai ini bukan urusannya.

Tri mencoba menggerakkan jari.

Tidak bisa.

Rasa sakit datang terlambat, lalu datang sekaligus. Rusuk kirinya seperti digergaji dari dalam. Perutnya panas. Punggungnya kebas. Setiap napas terasa seperti menarik pecahan kaca ke paru-paru.

Ia ingin berkata, Tolong.

Mulutnya hanya mengeluarkan suara basah.

Gadis berambut keemasan meliriknya.

Hanya melirik.

“Masih hidup.”

Yang berambut hitam tidak menoleh. Ia berjalan ke dinding yang tadi ditembus laser Uji 37. Di celah bawah runtuhan, sesuatu memancarkan cahaya kelabu samar. Bukan mesin. Bukan kabel. Sebongkah kristal tertanam di antara tulang beton dan lapisan tanah lama, seolah-olah gedung busuk ini menyembunyikan jantung kecil sejak lama.

Kristal Kelabu.

Lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa.

Mata Tri berhenti pada benda itu.

Pantas.

Pantas Bestia itu bersembunyi di balik dinding.

Pantas Uji 37 menembus ruang kosong yang tidak kosong.

Kristal itu mungkin memberi makan medan kecil, membuat Bestia tidur, atau memancingnya. Ia tidak tahu detailnya. Ia hanya tahu satu hal: harga benda itu cukup untuk membayar semua utangnya, semua bahan, mungkin satu semester sekolah Empu Mecha yang dulu tidak mampu ia sentuh.

Gadis berambut hitam mengeluarkan kotak logam kecil.

Kotak itu terbuka tanpa suara.

Tangan bersarung putih mengambil Kristal Kelabu dari celah dinding. Gerakannya tepat, seolah-olah ia sudah melakukan ini berkali-kali.

Tri menggerakkan bibir.

“Itu...” Suaranya retak. “Dinding... gue.”

Gadis berambut keemasan tertawa pendek.

Bukan tawa bahagia.

Tawa karena mendengar sesuatu yang terlalu kecil untuk dianggap serius.

“Gedung ini milik siapa?”

Tri tidak bisa menjawab.

Gedung itu memang bukan miliknya.

Tidak ada apa pun di Planet 3212 yang benar-benar milik anak tanpa nama keluarga, kecuali utang, luka, dan barang yang bisa ia sembunyikan sebelum diambil orang.

Gadis berambut hitam akhirnya menoleh.

Matanya gelap, jernih, dingin. Usianya mungkin sebaya Tri. Mungkin sedikit lebih muda. Tetapi cara ia memandang darah, bangkai, dan anak sekarat di lantai membuat ruangan ini terasa seperti meja pemeriksaan.

“Dia terkena ekor dan cakar,” kata gadis berambut keemasan. “Kalau dibiarkan, bisa mati sebelum petugas datang.”

“Kita tidak membawa kapsul medis lapangan untuk orang luar.”

“Aku tidak bilang mau dipakai.”

“Maka selesai.”

Selesai.

Satu kata.

Ringan.

Lebih ringan dari mur yang setiap hari Tri kumpulkan dari kolong mesin.

Gadis berambut hitam menutup kotak Kristal Kelabu. Klik kecil itu masuk ke telinga Tri seperti pintu dikunci dari luar.

Mecha pelindungnya bangkit.

Gadis berambut keemasan berjalan melewati Tri. Ujung sepatunya hampir menyentuh darah di dekat tangannya, tetapi tidak kena. Ia berhenti sesaat, menunduk, lalu berkata, “Kau membuat lubang di sarang Bestia dengan senjata sampah. Berani juga.”

Tri menatapnya.

Ia ingin menyimpan wajah itu.

Rambut keemasan.

Bilah panjang.

Mata yang menilai orang seperti menilai sasaran latihan.

Gadis itu tersenyum tipis. “Sayang bodoh.”

Ia naik ke kokpit.

Mesin Mecha menyala.

Angin dari pendorong kecil menyapu debu dan darah ke wajah Tri. Dua Mecha itu naik melalui lubang atap, membawa kepala Bestia, kotak kristal, dan semua jawaban yang seharusnya bisa membuatnya tidak mati di lantai.

Mereka tidak menoleh.

Tri menunggu suara mesin menghilang.

Lalu ia tertawa.

Tidak ada bunyi.

Hanya darah yang keluar dari sudut mulut.

Ia menggerakkan tangan kanan sedikit demi sedikit. Satu ruas. Setengah ruas. Ujung jarinya menyentuh serpihan kecil yang tertinggal dekat retakan dinding.

Pecahan Kristal Kelabu.

Kecil sekali.

Lebih kecil dari kuku.

Tetapi dinginnya nyata.

Tri menutup jari di atasnya.

Kali ini ia tidak menghitung harga.

Ia menghitung wajah.

Dua.

Satu yang mengambil.

Satu yang tertawa.

Pintu besi di lantai bawah tiba-tiba dibanting terbuka.

“Tri!”

Suara Pak Ilyas naik dari tangga seperti batu dilempar.

Langkah berat berlari. Satu kali terpeleset. Sumpah serapah pendek. Lalu sosok guru itu muncul di ambang ruangan, wajahnya berubah pucat saat melihat darah dan bangkai Bestia.

“Bocah celaka...”

Pak Ilyas berlutut di samping Tri, menekan luka perutnya dengan kain yang langsung basah.

“Pak,” Tri mencoba berkata.

“Diam!”

“Kristal...”

“Diam atau saya pukul kau setelah kau hidup.”

Tri tidak punya tenaga untuk membantah.

Pak Ilyas mengangkat Kom rusak di pergelangan Tri, memaksa sisa layarnya menyala. “Darurat medis. Koordinat gedung utara, zona rongsok tujuh. Korban Prajurit Mecha murid Sekolah 3212. Kirim Kapsul Pemulihan sekarang. Saya bayar.”

Tri membuka mata sedikit.

Bayar.

Kata itu lebih menakutkan daripada cakar Bestia.

“Pak... jangan... mahal.”

Pak Ilyas menatapnya seperti ingin benar-benar memukul. “Nyawa kau lebih murah?”

Tri berpikir satu detik.

“Tergantung bunga.”

Untuk pertama kalinya, wajah Pak Ilyas pecah antara marah dan ingin menangis.

“Anak kurang ajar.”

Kapsul Pemulihan datang delapan menit kemudian.

Bagi Tri, delapan menit itu terasa seperti dua puluh tahun. Ia setengah sadar saat tubuhnya dimasukkan ke dalam tabung transparan. Cairan dingin menutup kulit. Alat menusuk lengan, leher, tulang rusuk. Lampu hijau berjalan dari kepala ke kaki.

Diagnosis muncul di layar luar.

Patah rusuk ganda.

Robek jaringan perut.

Pendarahan dalam.

Gegar ringan.

Risiko kematian sebelum stabil: tinggi.

Biaya dasar: 7.000 kredit.

Biaya tambahan obat regenerasi: berjalan.

Tri menutup mata.

Ia tidak takut mati lagi.

Ia takut bangun sebagai orang miskin yang lebih miskin.

Saat ia benar-benar sadar, ruangan sudah berubah.

Bukan lagi gedung busuk.

Langit-langit kayu murah.

Bau bubur hangat.

Kain bersih di dada.

Bu Wening duduk di sisi ranjang kecil, matanya merah tetapi tangannya stabil saat mengganti kompres.

Pak Ilyas berdiri di dekat pintu, memegang lembar tagihan seperti memegang surat perang.

“Tujuh ribu kredit,” katanya.

Tri menatap langit-langit.

“Termasuk bunga?”

“Termasuk bunga karena kau membuat saya hampir mati berdiri.”

Bu Wening memukul lengan suaminya pelan. “Jangan mulai.”

“Harus mulai.” Pak Ilyas menunjuk Tri. “Mulai hari ini kau tinggal di sini. Makan di sini. Latihan di bawah pengawasan saya. Semua penghasilan perbaikanmu dipotong untuk utang sampai lunas.”

Tri menoleh pelan ke Bu Wening.

Wanita itu tersenyum tipis, lelah dan lembut. “Kamar ini kecil, nak. Tapi lebih baik daripada lantai beton.”

Tri tidak menjawab cepat.

Tenggorokannya seperti tertutup sesuatu yang bukan darah.

Ia membuka tangan kanan.

Pecahan Kristal Kelabu masih ada, diselipkan dalam perban oleh seseorang yang mungkin mengira itu sampah kecil.

Dingin.

Tajam.

Nyata.

Tri menggenggamnya lagi.

“Saya akan bayar,” katanya.

Pak Ilyas mendengus. “Tentu kau bayar.”

“Bukan cuma itu.”

Bu Wening menatapnya.

Tri menutup mata, dan dalam gelap ia melihat dua Mecha naik tanpa menoleh.

“Suatu hari,” bisiknya, “mereka yang di atas harus melihat ke bawah dengan benar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!