NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Jejak yang Terhapus

Langkah Aruna gontai menyusuri trotoar di pinggiran Sungai Thames. Ia duduk di sebuah bangku kayu yang basah oleh sisa gerimis, menatap pantulan lampu kota di permukaan air yang gelap. Siapa yang menyangka, gadis yang baru saja diusir dari kelas karena dianggap "berbau bawang" dan berpenampilan kumuh itu sebenarnya adalah pewaris tunggal dari dinasti Prawijaya?

​Aruna merogoh saku jaket parkanya, mengeluarkan sebuah kartu kredit hitam yang sudah lama tidak ia sentuh. Di baliknya, tersimpan saldo yang cukup untuk membeli seluruh gedung fakultas hukum tadi. Namun, benda itu bagai duri baginya.

​Ia teringat malam terkutuk itu. Malam di mana ayahnya lebih memilih percaya pada fitnah rekan bisnisnya daripada kata-kata anak kandungnya sendiri. Ayahnya melemparkan tumpukan uang dan tiket pesawat ke arahnya, menyuruhnya pergi jauh agar tidak mempermalukan nama keluarga.

​"Pergi dan jangan balik lagi sampai kamu tahu cara menjaga nama baik papamu!" Kalimat itu masih terngiang, lebih dingin dari udara London malam ini.

​Aruna menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak menggunakan uang itu. Sejak menginjakkan kaki di Inggris, ia berjuang mati-matian mendapatkan beasiswa penuh dengan identitas palsu, gadis desa sederhana yang hanya punya mimpi. Ia sengaja menenggelamkan jati dirinya.

Jauh di belahan dunia lain, di sebuah mansion megah yang terasa hampa, seorang wanita paruh baya duduk bersimpuh di lantai kamar yang rapi. Itu adalah kamar Aruna. Ratna, ibu Aruna, memeluk bantal milik putrinya yang masih menyisakan aroma parfum vanila yang lembut.

​"Pa, cukup... sudah hampir setahun. Aruna di mana? Kenapa semua orang suruhan kita tidak ada yang bisa menemukannya?" Ratna terisak, menatap suaminya, Wijaya, yang berdiri kaku di depan jendela besar.

Deon terdiam. Guratan penyesalan jelas tercetak di wajahnya yang mulai menua. "Dia menghapus jejaknya dengan sangat rapi, Ma. Dia pintar, terlalu pintar untuk kita temukan jika dia memang ingin bersembunyi."

​"Dia itu anak kita! Bukan musuh bisnismu!" teriak Ratna frustrasi. "Kalau terjadi apa-apa sama dia di luar sana, aku tidak akan pernah memaafkanmu."

​Deon menghela napas berat. Ia teringat sahabat lamanya, Dirgantara, yang sempat bercerita bahwa putranya, Baskara, sedang mengajar di London. Ingin rasanya ia meminta tolong, tapi gengsinya sebagai seorang kepala keluarga konglomerat masih menahan lidahnya.

Kembali ke London, suasana di kantor dosen tampak tenang. Baskara sedang memeriksa beberapa berkas mahasiswa baru saat matanya kembali tertuju pada formulir pendaftaran Aruna Prawijaya.

​"Asal sekolah, SMA Negeri di pelosok Indonesia. Pekerjaan orang tua, Adalah Petani," gumam Baskara sambil menyipitkan mata.

​Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Cara Aruna berargumen, pilihan katanya saat menjawab soal hukum perdata tadi, dan ketenangannya saat dihina oleh Michelle... itu bukan mentalitas seseorang yang tidak terdidik. Ada martabat yang kuat di balik jaket parka lusuh itu.

​Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Michelle masuk dengan gaya anggunnya yang dibuat-buat, membawa segelas kopi mahal.

​"Pak Baskara, saya membawakan ini untuk Bapak. Maaf soal kejadian tadi ya, Aruna memang sering membuat malu kelas kita," ucap Michelle sambil meletakkan kopi itu di meja.

​Baskara tidak menyentuh kopi tersebut. Ia hanya menatap Michelle dengan datar. "Kenapa kamu repot-repot mengurusinya, Michelle? Bukankah kamu bilang dia tidak selevel denganmu?"

​Michelle sedikit tersentak. "Ya... benar sih, Pak. Tapi saya merasa terganggu saja. Oh iya, minggu depan ada jamuan makan malam untuk para donatur universitas. Papa saya salah satu pengundangnya, dan saya dengar ada relasi dari Indonesia juga yang akan datang. Bapak hadir, kan?"

​Baskara hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban. Pikirannya masih melayang pada Aruna. Saat Michelle keluar dari ruangan, Baskara mengambil ponselnya. Ia mendapati sebuah pesan singkat dari ayahnya di Jakarta.

"​Bas, kalau ada waktu, coba cari tahu soal anak teman Papa, Deon Prawijaya. Namanya Aruna. Kabarnya dia hilang di sekitar Inggris. Papa merasa berutang budi padanya."

​Baskara tertegun. Nama belakangnya sama. Aruna Prawijaya.

​"Tidak mungkin," bisik Baskara pada ruangan yang sepi. "Gadis yang tadi mengais sisa nasi di lantai itu... anak dari seorang Wijaya Prawijaya?"

​Ia kembali melihat foto di formulir pendaftaran. Wajah ceria yang tadi pagi ia usir dari kelas. Perasaan tidak enak mulai menjalar di dadanya. Jika benar gadis itu adalah orang yang dicari ayahnya, maka Baskara baru saja melakukan kesalahan besar dengan merendahkannya di depan umum.

​Sementara itu, di sebuah perpustakaan kota yang sepi, Aruna sedang duduk di pojok ruangan. Di depannya bukan buku hukum, melainkan sebuah laptop tua. Ia sedang mengetik sesuatu dengan cepat, mengirimkan sebuah surel rahasia yang berisi data-data perusahaan yang dulu memfitnahnya.

​"Kalian pikir aku pergi untuk menyerah?" Aruna tersenyum tipis, kali ini senyumnya tidak terlihat ramah, melainkan tajam dan berbahaya. "Aku pergi untuk mengumpulkan peluru."

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!