NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

******

Malam harinya, Calista duduk tak tenang di kursi sofa ruang tamu. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, seolah berusaha menahan kegelisahan yang terus merayap di dalam dadanya.

Pandangannya berulang kali melirik ke arah pintu utama mansion, menunggu—berharap—kedua suaminya segera pulang.

Namun semakin lama ia menunggu, semakin kuat pula firasat aneh itu mengganggunya.

Entah mengapa, hatinya terasa begitu tidak nyaman. Seolah-olah ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Perasaan itu membuat napasnya terasa berat.

Calista menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran negatif yang terus menghantui. Tapi sia-sia. Justru semakin ia menolak, semakin kuat rasa gelisah itu mencengkeramnya.

Hingga tiba-tiba—

Suara mobil memasuki pekarangan mansion terdengar jelas.

Calista sontak bangkit dari duduknya. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju pintu utama. Harapan kecil muncul di dalam hatinya.

“Ayah….”

Kalimat itu belum sempat selesai terucap, ketika Tuan Hendra sudah lebih dulu berbicara. Suaranya tegas, dingin, dan tanpa basa-basi.

“Ke ruang kerja ayah sekarang, Calista. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan.”

Tidak ada penjelasan. Tidak ada ekspresi hangat seperti biasanya.

Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung melangkah melewati Calista dan menuju tangga. Langkahnya mantap, cepat, dan penuh tekanan, hingga menghilang di lantai dua.

Calista hanya bisa terdiam.

Tatapannya mengikuti punggung ayahnya yang semakin menjauh. Ada sesuatu dalam nada suara itu—dingin, berat, dan penuh arti—yang membuat dadanya semakin sesak.

Perasaannya… semakin tidak enak.

“Nona muda.”

Panggilan kepala pelayan menyadarkannya dari lamunan.

Calista tersentak kecil. Ia menoleh, mencoba menenangkan ekspresinya.

“Ah… iya.”

Ia mengangguk pelan, lalu segera melangkahkan kaki menuju tangga. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya, seakan ia sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak ingin ia hadapi.

Pintu ruang kerja itu terasa lebih berat dari biasanya saat ia dorong perlahan.

Ceklek.

Ruangan itu sunyi.

Lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan panjang di sudut-sudut ruangan. Aroma khas kayu dan kertas memenuhi udara, namun suasana malam itu terasa berbeda—lebih menekan.

Tuan Hendra sudah duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya tampak serius, jauh lebih serius dari biasanya. Tatapannya tajam, namun dalam diamnya tersimpan sesuatu yang sulit ditebak.

Calista melangkah masuk dengan hati-hati, lalu berhenti di depan meja.

“Ayah ingin menyampaikan apa? Terlihat serius sekali,” tanyanya pelan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

“Duduk.”

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk membuat suasana semakin mencekam.

Calista menelan ludah. Ia duduk perlahan di kursi yang tersedia. Punggungnya tegak, tetapi kedua tangannya kembali saling menggenggam erat di atas pangkuan.

“Sebenarnya ada apa, Ayah?” suaranya kali ini sedikit lebih lirih.

Tuan Hendra tidak langsung menjawab.

Ia bersandar sejenak, menatap Calista dalam diam, seolah sedang menimbang sesuatu. Keheningan itu terasa panjang dan menyiksa.

Hingga akhirnya—

“Cabang perusahaan kita yang ada di negara Valerion… diambil alih secara diam-diam oleh suamimu—Damar.”

Kalimat itu terdengar jelas, namun tetap terasa seperti petir yang menyambar telinga Calista.

“Kau tahu, ayah memang yang meminta dia untuk mengurusnya,” lanjut Tuan Hendra, suaranya rendah namun penuh tekanan. “Tapi apa yang dia lakukan… sudah melewati batas.”

Calista membeku.

Jantungnya berdegup kencang.

“Diambil alih… maksud Ayah?” suaranya nyaris bergetar, meski ia berusaha terdengar tenang.

Tuan Hendra menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya tajam.

“Dia memindahkan kendali penuh cabang itu ke bawah namanya sendiri. Tanpa laporan. Tanpa izin. Bahkan tanpa sepengetahuan ayah.”

Hening.

Udara di ruangan itu terasa semakin berat.

Calista menatap meja di depannya, pikirannya kacau.

Damar… melakukan itu?

Atau… memang sejak awal sudah ada rencana?

“Ayah sudah mengecek semuanya,” lanjut Tuan Hendra. “Dokumen, laporan keuangan, hingga alur kepemilikan. Semuanya bersih. Terlalu bersih… sampai sulit untuk dilacak kapan tepatnya dia mulai bergerak.”

Calista mengepalkan tangannya semakin erat.

Ada sesuatu yang terasa janggal.

Damar bukan tipe pria yang gegabah. Jika ia melakukan sesuatu sebesar itu, berarti… semuanya sudah direncanakan sejak lama.

“Tapi…” Calista akhirnya membuka suara, “kenapa Ayah memberitahuku?”

Tatapan Tuan Hendra berubah. Lebih dalam. Lebih tajam.

“Karena kau istrinya.”

Satu kalimat yang membuat napas Calista tercekat.

“Ayah ingin tahu… apakah kau benar-benar tidak tahu apa-apa,” lanjutnya pelan.

Calista langsung menggeleng.

“Aku tidak tahu, Ayah. Demi apa pun, aku tidak tahu.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.

Tuan Hendra menatapnya lama, seolah mencoba membaca kejujuran di wajah putrinya.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.

“Kalau begitu…” gumamnya pelan. “Berarti masalah ini jauh lebih besar dari yang ayah kira. Dia pasti sudah merencanakan ini sebelum kau menikah dengannya, entah apa alasannya. "

Calista menunduk, jantungnya masih berdetak tak karuan.

Pikirannya hanya dipenuhi satu nama.

Damar.

Apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan…?

******

Setelah mengobrol panjang di ruang kerja Tuan Hendra, kini Calista tengah berada dalam perjalanan menuju perusahaan tempat Damar berada. Ia ingin memastikan sesuatu. Hatinya masih saja terasa mengganjal, seolah ada potongan kebenaran yang belum ia pahami sepenuhnya.

Malam ini, ia mengendarai mobil seorang diri. Jalanan kota sudah mulai lengang, lampu-lampu jalan memantul di kaca depan mobilnya, menciptakan bayangan yang bergerak cepat seiring laju kendaraan.

Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi.

Tangannya mencengkeram setir erat, rahangnya mengeras, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan.

Damar… benar-benar melakukan itu?

Calista menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak.

Ia tidak ingin langsung menuduh. Tapi juga tidak bisa tinggal diam.

Beberapa menit berlalu.

Mobilnya akhirnya memasuki kawasan pusat bisnis kota. Gedung-gedung tinggi menjulang, sebagian masih menyala meski waktu sudah larut malam.

Dan tak lama kemudian—

Mobil Calista berhenti tepat di depan gedung perusahaan Damar.

Ia mematikan mesin, namun tidak langsung turun.

Tangannya masih menggenggam setir. Pandangannya lurus ke depan, menatap pintu utama gedung yang terlihat megah dan dingin di bawah cahaya lampu.

Sejenak… ia ragu.

Namun hanya sejenak.

Calista menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku harus tahu kebenarannya…” gumamnya pelan.

Ia membuka pintu mobil dan keluar. Suara langkah sepatu haknya menggema pelan di area parkir yang hampir kosong.

Udara malam terasa dingin, namun tidak sedingin perasaan di dalam hatinya.

Calista melangkah masuk ke dalam gedung.

Seorang petugas keamanan yang berjaga di lobi langsung berdiri tegak saat melihatnya. “Nona Calista… datang malam-malam begini?”

“Aku ingin bertemu dengan Damar. Dia masih berada di di kantor, kan?”

Petugas itu tampak ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. “Masih, Nona. Beberapa hari ini Tuan Damar memang menginap di kantor dan belum pernah berpergian sekalipun.”

Calista hanya mengangguk kecil, ternyata lima hari ini ia masih berada di wilayah perusahaannya. Calista kira selama ini, Damar berada di luar negara untuk mengurus pekerjaannya.

Tanpa berkata lagi, ia langsung berjalan masuk menuju lift.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Calista masuk, lalu menekan tombol lantai paling atas—lantai khusus direksi.

Selama lift bergerak naik, detak jantungnya terasa semakin cepat.

Setiap detik terasa begitu panjang.

Dan saat pintu lift kembali terbuka—

Lorong panjang yang sepi menyambutnya.

Lampu-lampu masih menyala, namun suasana begitu sunyi, hanya terdengar samar suara pendingin ruangan.

Langkah Calista kembali bergema.

Satu… dua… tiga…

Hingga akhirnya ia berhenti di depan pintu besar bertuliskan Direktur Utama.

Tangannya terangkat, langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

"Kamu sudah datang, istriku tersayang....."

******

^^^Ngegantung dulu, biar pada penasaran 🤣🤣🤣^^^

^^^Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya, guys.... ^^^

1
Fatimah Ima
ceritanya bagus kak aku suka
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!