“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Suami Segel
Seroja menatap Ryu yang terdiam, lalu matanya berpindah ke ponsel Ryu yang masih berdering.
"Siapa?" tanya Seroja.
Ryu tersentak kecil. "Clara," ucap Ryu akhirnya. Ponsel di tangannya masih berdering.
Seroja mengangguk tipis, seolah tak terganggu sama sekali. Lalu ia bertanya dengan nada tenang.
"Kamu mau putusin dia secara online apa offline?"
Ryu tidak menyangka reaksi Seroja setenang itu. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab,
"Jika kamu gak keberatan, aku mau bicara sama dia langsung," katanya pelan, penuh harap Seroja menyetujuinya.
"Kapan?" tanya Seroja. "Aku mau kamu memutuskan dia secepatnya. Kalau kamu menunda-nunda, aku anggap kamu gak serius dengan keputusanmu tadi. Ingat, jika kamu masih berhubungan setelah tahu kau sudah menikah, itu artinya..."
Seroja maju selangkah ke arah Ryu. "Kamu selingkuh."
Dua kata itu diucapkan pelan tapi penuh tekanan. Ryu yang memegang prinsip bertanggung jawab dan setia, tentu saja merasa terpukul.
"Aku tahu," katanya akhirnya. Ia hendak menerima panggilan, tapi nada deringnya sudah lebih dulu mati.
Seroja melipat tangan di depan dada. "Jadi... kapan?"
"Sekarang dia sedang di luar negeri," jawab Ryu akhirnya.
Suara notifikasi pesan masuk terdengar beberapa kali, tapi ia abaikan.
"Kalau begitu," kata Seroja. "pesan tiket penerbangan sekarang juga."
"Kau gila!" Ryu menatapnya tak percaya. "Aku masih capek setelah menjemput kamu, sekarang kau suruh ke luar negeri?"
"Aku bilang pesan sekarang, tapi gak bilang harus pergi sekarang bukan?" ucap Seroja. “Aku kasih waktu tiga hari buat mutusin dia. Selesaikan urusan kantor yang mendesak, lalu temui dia. Anggap saja itu bukti keseriusan kamu," ujar Seroja tenang.
"Oke, deal," sahut Ryu.
Tapi Ryu mengerutkan dahinya saat melihat Seroja menatapnya dari bawah hingga atas.
"Kenapa kau melihatku kayak itu? Kagum lihat bentuk tubuhku?" tanya Ryu dengan dagu terangkat dan dada membusung.
Seroja tertawa kecil. "Ternyata suamiku narsis juga."
Ryu terdiam. Ia tidak tersinggung saat dibilang narsis. Hatinya justru menghangat saat Seroja mengucapkan kata "suamiku".
"Aku hanya penasaran," kata Seroja akhirnya. Kali ini terlihat serius.
Ryu menyipitkan matanya. "Apa?"
"Suamiku masih segel atau second?" katanya kembali mengamati Ryu dari atas hingga bawah.
"Aku memang hidup di dunia modern, tapi aku memegang agama dan budaya ketimuran," ucap Ryu tegas, bahkan terlihat sedikit tersinggung.
"Yakin?" tanya Seroja kembali maju satu langkah. "Tidak pernah ciuman?"
"Tidak," jawab Ryu mantap.
Ryu ingat betapa ketat neneknya menjaga batas hubungannya dengan Clara. Bahkan selama lima tahun, hubungan mereka tak pernah lebih dari genggaman tangan dan pelukan.
Sekarang ia baru mengerti kenapa neneknya begitu ketat. Ternyata karena ia sudah menikah.
"Syukurlah," ucap Seroja sedikit lega. “Soalnya kalau soal suami, aku orangnya agak posesif," katanya enteng.
"Oh ya?"
Ryu melangkah maju ke arah Seroja. Selangkah. Dua langkah. Lalu berhenti tepat di depan gadis itu. Jarak mereka dekat. Terlalu dekat.
Ryu menunduk hingga mata mereka sejajar dan wajah mereka tinggal berjarak beberapa senti.
Jantung Seroja berdegup lebih cepat dari seharusnya. Tapi ia tetap memasang ekspresi tenang.
"Seposesif apa?" tanya Ryu dengan suara rendah dan berat. Napasnya terasa hangat di kulit wajah Seroja.
"Kamu akan tahu nanti," ucap Seroja seraya mendorong dada Ryu menjauh.
Ryu tak langsung mundur. Tatapannya justru semakin dalam, seolah mencoba membaca apakah gadis di depannya benar-benar tenang atau hanya berpura-pura.
Sedangkan Seroja?
Jantungnya sudah seperti hendak meloncat keluar. Tapi ia menolak kalah hanya karena jarak sedekat ini.
"Kenapa kau lihat aku kayak gitu?” tanya Seroja berusaha memasang wajah sedatar mungkin meski ritme jantungnya tak terkontrol.
Ryu akhirnya mundur setengah langkah dengan satu sudut bibir terangkat samar.
"Aku tunggu pembuktiannya," katanya tanpa menjawab pertanyaan Seroja.
"Jangan terlalu percaya diri," balas Seroja cepat.
Sebelum wajahnya makin panas, ia buru-buru berbalik mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi.
Ryu menahan tawa. Ia bisa melihat pipi Seroja yang merona. Dan entah kenapa ia suka.
Ia menatap Seroja yang menghilang di balik pintu. Ia sama sekali tidak bisa membaca wanita itu.
Gadis itu bisa tersipu malu, bisa lembut, bisa tegas, kadang terasa mengintimidasi, tapi terkadang bicara ringan dan bercanda.
"Apa benar dia gadis desa? Kepercayaan dirinya bahkan menyaingi aku yang seorang CEO."
Ryu menghela napas panjang lalu duduk di tepi ranjang. Ia menekan panggilan cepat yang langsung tersambung dengan Jordi.
"Halo, Bos," suara Jordi terdengar dari seberang dibarengi suara kokok ayam jago yang terdengar nyaring.
"Pesankan aku tiket pesawat ke Singapura. Atur jadwalku dalam tiga hari ini."
"Ngapain ke Singapura, Bos? Jangan bilang mau ketemu cewek matre itu. Ingat Bos, ada istri di rumah. Kalau Bos seling--"
"Jordi!" potong Ryu kesal. "Kerjakan saja perintahku."
"Bos--"
"Kamu bukan nenekku." Lagi-lagi Ryu memotong. "Jangan cerewet."
"Iya..iya... Aku 'kan cuma mengingatkan. Soalnya kalau Bos dapat masalah ujung-ujungnya aku juga yang kena imbasnya. Disuruh nyari solusi dalam tempo sesingkat singkatnya. Aku bukan proklamator, Bos," cerocos Jordi cepat.
Ia tak mau lagi kata-katanya dipotong majikannya yang selalu mengancam memotong gaji dan meniadakan bonus.
Ryu mendengus, lalu mengakhiri sambungan sepihak.
"Dasar cerewet," gerutunya pelan.
Ryu akhirnya duduk bersandar di kepala ranjang. Ia membuka laptopnya, mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda selama dua hari.
Beberapa menit kemudian Seroja keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Aroma shampo dan sabun mandi menguat di udara. Lembut dan segar.
Ryu menoleh. Melihat gadis itu memakai pakaian rumahan sederhana. Tetapi tetap terlihat cantik dan segar.
Seroja duduk di depan meja hias, mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Sesekali Ryu tanpa sadar melirik ke arahnya.
Rambut panjang itu tebal dan hitam legam bak arang. Berkilau diterpa cahaya sore matahari yang masuk dari jendela kaca.
"Kenapa sih, aku kepo banget sama dia?" dumel Ryu dalam hati.
"Aku mau keluar," kata Seroja setelah mengeringkan rambutnya.
"Ke mana?" tanya Ryu.
"Lihat-lihat rumah ini biar gak tersesat," sahut Seroja sambil menyengir.
Ryu hanya menatapnya hingga gadis itu menghilang di balik pintu.
"Aku kira dia gadis pemalu. Ternyata aku salah."
Ponsel Ryu di atas nakas kembali berdering. Nama Clara kembali muncul di layar.
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua pernikahan dimulai dengan cinta. Tapi setiap hubungan tetap membutuhkan satu hal yang sama: kesetiaan."...
..."Sebuah hubungan tidak akan pernah benar-benar dimulai selama masih ada orang ketiga yang belum selesai."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁