Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mati?
"Pengen banget pulang..." bisik Anna lirih pada dirinya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk kelas. Ia merasa sangat lelah dengan segala drama yang terus menghimpitnya di dunia novel ini.
Tak lama kemudian, suasana kelas mendadak mencekam. Kiel melangkah masuk dengan aura dingin yang menusuk, diikuti oleh Arland yang tampak meledak-ledak.
"Elo apain Zela?!" tanya Kiel dengan nada rendah namun penuh ancaman, matanya menatap Anna tajam seolah ingin menguliti rahasianya.
Anna hanya menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa kaget karena terus-menerus dituduh atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Elo kenapa sampai nampar dia?! Liat, pipinya sampai merah!" bentak Arland, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa murid di kelas terlonjak.
Gausah dilawan, mending dibunuh langsung aja, ucap Anna dalam hati, mencoba memasrahkan diri pada alur cerita yang kejam ini.
Arland yang sudah dikuasai emosi menatap Anna dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia maju dan menarik paksa lengan Anna dengan sangat kasar. Entah kenapa, Kiel yang biasanya tidak peduli merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat melihat perlakuan Arland—sebuah rasa tidak suka yang asing—namun ia hanya diam mematung, membiarkan egonya menang.
"Ikut gue!" Arland menyeret Anna dengan kasar keluar kelas, mengabaikan rintihan kecil gadis itu, menuju ke arah rooftop gedung sekolah.
Arland mencengkeram bahu Anna, menekannya hingga punggung gadis itu membentur tembok pembatas rooftop yang rendah. Di bawah sana, ketinggian gedung sekolah terlihat mengerikan, namun Arland seolah buta karena amarah.
"Lo mau gue dorong, hah?!!" bentaknya tepat di depan wajah Anna.
Anna hanya diam. Ia tidak meronta, tidak juga menangis ketakutan seperti biasanya. Ia justru sedang mengatur napasnya yang pendek, mencoba menenangkan debar jantungnya agar ia siap menyambut apa pun yang terjadi selanjutnya.
Evan yang melihat situasi semakin tidak terkendali mulai merasa cemas. "Land, tenangin diri elo. Jangan gila!" serunya mencoba menengahi.
Namun, Arland tidak bergeming. Ia menatap Anna dalam-dalam dengan sorot mata yang penuh kebencian murni. Sementara itu, Kiel yang berdiri di belakang hanya terdiam. Wajah tulus Anna saat mengobati lukanya semalam terus terngiang-ngiang di kepalanya, menciptakan konflik batin yang membuat tangannya mengepal erat di dalam saku celana.
Melihat keraguan di mata orang-orang di depannya, Anna justru mengambil langkah nekat. Ia mundur perlahan hingga tumitnya berada tepat di tepi rooftop.
"Ayok," ucap Anna pelan namun terdengar sangat jelas di tengah hembusan angin kencang. Ia menatap Arland dengan tatapan pasrah yang kosong. "Sekarang dorong aku."
Anna memejamkan mata, siap jika ini memang menjadi akhir dari perannya di dunia novel yang melelahkan ini.
"Lo nantangin gue?" Arland menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak berbahaya namun terselip keraguan di matanya.
Anna sama sekali tidak berniat meladeni gertakan itu. Fokusnya hanya satu: mengakhiri semua kegilaan ini. "Enggak," jawabnya singkat dengan suara yang sangat tenang, hampir tanpa emosi.
Melihat Anna yang tidak melawan, nyali Arland justru sedikit menciut. Sejahat-jahatnya dia, ia tidak benar-benar ingin menjadi pembunuh. "Kalau lo minta maaf sekarang, gue bakal maafin elo," ucap Arland, mencoba memberi jalan keluar bagi Anna—dan juga bagi nuraninya sendiri.
Namun, jawaban itu justru membuat Anna kecewa. Ia tidak butuh dimaafkan; ia butuh bebas dari dunia ini.
"Kalau kamu nggak mau..." Anna menatap Arland dengan tatapan yang sulit diartikan, "biar aku sendiri."
Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bereaksi, Anna dengan cepat menyentak tangan Arland yang masih memegang lengannya. Dengan satu gerakan mundur yang mantap, ia melepaskan tumpuan kakinya dari tepi gedung dan membiarkan tubuh mungilnya terjun bebas ke udara.
"ANNA!!" teriak Evan dan Arland bersamaan, suara mereka pecah oleh keterkejutan.
Kiel, yang sedari tadi hanya diam membeku, membelalakkan matanya. Waktu seolah melambat saat ia melihat tubuh Anna meluncur jatuh dengan wajah yang tampak sangat damai, seolah beban berat yang selama ini dipikulnya baru saja terangkat.
Angin kencang menerpa seragam Anna saat ia jatuh, dan di dalam pikirannya, ia hanya membisikkan satu harapan terakhir: Semoga aku bangun di kamarku sendiri.
Angin kencang bersiul di telinga Anna saat tubuhnya membelah udara, sebelum akhirnya—BYURRR!—permukaan air danau yang sedingin es menghantam punggungnya dengan keras. Air danau belakang sekolah yang gelap dan dalam itu seolah menelan tubuh mungilnya dalam sekejap, menyisakan riak gelembung yang perlahan menghilang.
Di atas rooftop, Arland terdiam mematung. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya gemetar hebat saat menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat memegang Anna. Ia tak menyangka gertakannya akan berakhir dengan nekatnya gadis itu melompat.
"Anna..." gumam Arland dengan suara tercekat, napasnya terasa berhenti.
Namun, sebelum Arland sempat bergerak, sebuah bayangan hitam melesat melewati dirinya.
Kiel.
Tanpa ragu sedikit pun, sang mafia itu terjun bebas. Suara dentuman air yang keras terdengar saat tubuh atletisnya menghujam danau. Di dalam air yang pekat dan nyaris tanpa cahaya itu, Kiel membuka matanya. Rasa perih menusuk penglihatannya, namun ia tidak peduli.
Kiel berenang semakin dalam, menembus kedinginan yang menggigit tulang. Paru-parunya mulai terasa sesak, namun bayangan wajah Anna yang tenang saat mengobati lukanya semalam serta tatapan pasrah gadis itu sebelum melompat terus membayangi pikirannya.
Ia terus menggerakkan tangannya di tengah kegelapan air, mencari-cari keberadaan Anna. Di dasar yang lebih dalam, ia melihat siluet seragam sekolah yang melayang tak berdaya. Anna sudah tidak bergerak, rambut panjangnya terurai seperti ganggang di tengah air yang sunyi.
Kiel mengerahkan seluruh tenaganya, membelah air dengan cepat untuk meraih tangan gadis itu. Saat jemarinya berhasil mencengkeram lengan Anna, ia segera menarik tubuh itu ke dalam pelukannya dan menendang sekuat tenaga menuju permukaan, membawa Anna keluar dari kedalaman yang mematikan.
Kiel menarik tubuh Anna ke tepian danau dengan napas terengah-engah. Dinginnya air danau yang menusuk tulang tak ia hiralkan. Ia segera membaringkan tubuh gadis itu di atas rumput yang basah, menatap wajah Anna yang kini sepucat kertas.
"Anna! Buka mata lo!" bentak Kiel, suaranya parau menahan kepanikan yang luar biasa.
Ia menekan dada Anna, mencoba melakukan CPR dengan tangan yang gemetar. Tubuh Anna terasa sangat kaku dan dingin di bawah telapak tangannya. Tidak ada tanda-tanda napas, tidak ada gerakan dari kelopak mata yang biasanya menatapnya dengan penuh binar kagum itu.
Kiel terdiam sejenak, menatap lekat wajah gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejarnya tanpa lelah. Selama ini, ia hanya menganggap Anna sebagai pengganggu, gadis manja yang haus perhatian. Namun, melihatnya terkapar tak berdaya setelah dengan sengaja melompat ke kematian, ada perasaan aneh yang menghantam dada Kiel.
Rasa sesak yang menyesakkan mulai merayap di hatinya. Mengapa gadis ini lebih memilih mati daripada meminta maaf padanya? Mengapa tatapan pasrah itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian musuh-musuhnya?
"Bangun, sialan! Jangan mati sekarang!" teriak Kiel lagi, kali ini suaranya pecah.
Ia teringat betapa lembutnya tangan ini saat mengobati lukanya semalam di gang sempit. Anna yang polos, yang memintanya berhati-hati di malam hari, kini justru sedang bertaruh nyawa di pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang mafia yang berhati dingin, Kiel merasakan ketakutan yang murni—ketakutan kehilangan sosok yang selama ini ia abaikan.
"Gue belum izinin lo pergi, Anna... bangun!" desisnya sambil mendekatkan telinganya ke dada Anna, berharap mendengar detak jantung yang masih tersisa.