Zarania permata, nama yang terdengar indah dan cocok dengan sifat periang dari sang pemilik nama yang baru berusia 17tahun namun siapa yang menyangka dibalik itu semua dia harus hidup dengan kekejaman dari ibu tiri beserta anaknya yang berusia sama dengan Zarania.
Zara menyukai seorang lelaki yang bernama Davi dan ternyata adalah sepupu dari temannya yang bernama Saipul yang pada kenyataannya memiliki perasaan terhadap Zara, meski awalnya Ipul mengelak tentang perasaanya itu sendiri, hingga akhirnya Zara pun menjatuhkan pilihannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Maryuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Saat pelajaran terakhir usai sore hari dan bel tanda pulang pun telah berbunyi nyaring hingga semua semua penghuni kelas langsung berhambur berlarian keluar berlomba untuk lebih dulu pulang.
Saipul pun tak luput dengan hal seperti itu, setelah merapikan buku pelajarannya yang gegas dimasukkan kedalam tas, pemuda itu terlihat menengok ke sana sini mencari sosok Zara yang rupanya sudah lebih dulu keluar dari kelas.
Langkah kaki Saipul bergegas keluar dari kelas untuk mencari temannya itu yang entah kenapa hari ini mengusik pikirannya.
"Lihat Zara nggak?" tanya Ipul pada Intan teman sebangku Zara.
"Tadi gue lihat dia kearah parkiran deh." sahut Intan mengatakan kemana Zara pergi.
"Oke thanks." pungkas Ipul seraya berlari ketempat yang dikatakan oleh Intan.
Di parkiran langkah Ipul terhenti dengan napas yang tersengal karena berlari.
Matanya berkeliling mencari Zara yang ternyata tidak ada ditempat itu, dia pun mencoba bertanya lagi pada teman-teman sekolahnya yang ada disitu.
Namun tidak ada satupun yang melihat, kebanyakan dari mereka malah menggeleng lalu bergegas pergi menaiki kendaraan mereka.
"Ngapain Pul?" tanya Herman ketika melihat Saipul seperti orang bingung ditempat parkir itu.
"Zara, lu ada lihat Zara nggak?" tanya Ipul dengan harapan bahwa Herman memberi jawaban yang berbeda dari teman yang tadi ia tanyakan.
Herman mengerutkan keningnya sejenak.
"Tadi sih gue lihat dia jalan keluar gerbang udah pulang ke rumah kali." cetus Herman cepat.
Tanpa bicara Saipul lantas menaiki motor dan menyalakan nya lalu menuju keluar melewati gerbang sekolah yang akan terbuka lebar saat jam masuk atau pulang sekolah seperti sekarang.
Saipul memperhatikan sekitar bahkan setiap gadis yang memakai seragam sekolah dan dirasa itu adalah Zara karena postur tubuh yang sama langsung Ipul dekati dan ketika melihat wajahnya ternyata bukan Saipul hanya bisa berkata maaf karena salah orang.
"Nih anak kemana sih." Sungut Ipul seraya menepikan motornya agar tidak menghalangi jalanan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan yang kebanyakan anak sekolahan lah sang pengendaranya.
Pemuda yang dari raut wajahnya menampakkan kegelisahan itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan HP dari sana.
Dia pun mencoba menghubungi gadis yang sekarang tengah dia khawatirkan, meski tersambung namun nyatanya usahanya untuk menghubungi gadis itu percuma saja, sebab sang gadis tidak juga kunjung menjawab panggilan nya meskipun berulang kali Saipul mengulangi kembali menelepon Zara.
Belasan pesan pun Saipul kirimkan untuk Zara dengan harapan temannya itu akan segera membacanya dan membalas pesannya.
Namun semua itu nihil, tidak ada hasil sama sekali persis seperti saat dia menelepon, tidak ada jawaban juga balasan.
Mulut Saipul terlihat berkomat-kamit entah berkata apa tapi dari gerak tubuhnya sangat tergambar bahwa pemuda itu sedang memikirkan Zara.
Aneh, itu yang ada di dalam kepala Ipul, karena dia semenjak kenal dengan Zara, gadis itu tidak pernah bersikap seperti ini.
Karena saat pulang sekolah Zara selalu berbicara dulu dengannya atau bahkan Ipul mengantar Zara pulang jika sedang tidak ada urusan.
Tapi hari ini jangan berbicara padanya untuk sekedar menjawab telepon serta pesannya saja Zara tidak melakukannya sama sekali, membuat seorang Saipul Gunawan menjadi cemas tak karuan seperti sekarang.
Sekian lama duduk di atas motornya seraya terus mengutak-atik HP masih berusaha menghubungi Zara namun sampai matahari mulai tenggelam pun dia masih juga tidak tahu dimana Zara.
"Apa sudah pulang, terus ketiduran?" berkata sendiri tentang kemungkinan yang ada.
"Ah tapi nggak mungkin juga Zara pulang sekolah bisa langsung tidur." kata Saipul mematahkan perkataannya sendiri.
Saipul menengok ke arah jalanan lalu pemuda itupun menyalakan mesin motornya dan melakukannya dengan kencang.
Tak butuh lama karena kendaraannya itu sudah berhenti didepan rumah Zara yang lampunya nyala benderang.
Pemuda yang belum pulang ke rumah sehabis sekolah itu mematikan motornya dan turun langsung menuju pintu depan tidak perlu membuka pagar karena memang ternyata pagar besi itu yang terbuka.
Tok..
tok..
"Permisi." suara Ipul berbarengan dengan tangannya yang mengetuk pintu.
Tok..
tok..
tok..
Ipul mengulangi lagi ketukan nya karena orang didalam rumah belum juga keluar membukakan pintu.
Di ketukan kelima akhirnya pintu terbuka dan wajah Dira lah yang menyambut kedatangan Saipul.
"Mau ngapain lo?" Tanya Dira dengan wajah ketus seraya bersedakep didepan pintu.
"Zara mana?" tukas Ipul tak mau berbasa-basi pada gadis jutek di depannya.
"Nggak ada!"
Ipul menautkan kedua alis mendengar jawaban dari Dira.
"Kemana?" kepanikan kini tergambar lagu di wajah Saipul mendengar pemberitahuan Dira.
"Mana gue tahu, emang gue emaknya!" Kata Dira seraya mendelik kesal.
Ipul diam membeku dengan kepalanya yang kali ini makin berputar memikirkan kemana Zara pergi tanpa memberitahunya.
Karena tak ingin lebih lama berbicara dengan Dira yang malah memancing kekesalannya, Saipul membalik badannya dan hendak pergi namun Dira berkata kencang dibelakangnya.
"Ngapain sih lo repot banget cariin si Zara, mungkin aja dia sekarang lagi seneng-seneng sama cowok lain." kata Dira yang seolah tahu sedang apa Zara saat ini.
Ipul tak menghiraukan perkataan gadis dibelakangnya karena dia terus saja menuju motornya untuk segera pergi dari tempat itu.
Saipul melajukan motor matic nya dengan kecepatan penuh di jalanan yang masih ramai oleh kendaraan berlalu lalang.
Kecemasan masih terlukis jelas diwajahnya yang memakai helm.
Tak dipungkiri perkataan Dira sebelum dia pergi tadi mengganggu pikirannya sebagai seorang lelaki yang dekat dengan Zara.
Meskipun dia menganggap Zara seperti adiknya sendiri tapi entah kenapa akhir-akhirnya perasaan lain mulai menggelayuti hati serta jiwanya yang kerap kali dia abaikan.
Dia tidak ingin perasaannya itu malah nantinya akan merusak pertemanan dia dengan Zara, dia tidak mau Zara malah menjauh darinya.
Saipul memilih untuk pulang ke rumahnya karena tidak mendapatkan hasil apapun dalam mencari Zara, tubuhnya sudah cukup lelah dengan keringat yang membasahi kemeja sekolahnya.
Saipul langsung naik ke kamarnya untuk mandi bahkan dia mengabaikan sapaan sang ibu yang tengah duduk diruang keluarga seraya menonton TV.
Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala mendapat perlakukan seperti itu dari sang anak yang hanya satu-satunya itu.
****************
emang mood ibu hamil sesuatu banget ya tetapi setuju kalau minta pulang dan Ipul wajib anterin.. kasihan orang tua Davi dan benar sampai rumah biar wajah tampan Davi dibuat babak belur biar lupa ngomelin Zara. Tetapi aku yakin Davi nggak bakal Marah yang ada bahagia sekali karena istri dan calon anaknya ternyata baik² saja.
Alamat begadang u/ marathon ini..
alur cerita yang ga ketebak, bikin penasaran, bikin perasaan jadi kaya roller coaster karena ikut kebawa suasana cerita.
semangat terus mba yuni dalam berkarya ☺️☺️☺️
senangnya 🤗
tpi cerita raffan sma deefa kya nya unsurnya beda dari yg sblumnya,lbh agamis,tpi ad humornya uga
aq selalu dukung semua karya karya ny mbak yuni..
selalu ngangenin d hati 😘
semangat terus mbak yuni..💪