NovelToon NovelToon
My Cold Husband

My Cold Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:823.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dilara

Menikah dengan seseorang yang dicintainya.

Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.

Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.

Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?

###

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Merasa bersalah?

Alvian menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Ia tidak langsung turun dan malah memandang ragu pada gedung di depannya itu. Sekarang sudah sore, pasti seluruh keluarganya dan keluarga Medisya sedang menjaga istrinya itu.

Tadi pagi, ia bersikeras menolak ajakan Gio untuk menemui Abraham. Kesadaran Alvian masih cukup untuk berfikir bahwa tidak baik menemui papahnya dalam keadaan mabuk. Jadi Alvian memutuskan untuk menyewa hotel dan mengistirahatkan tubuhnya di sana.

Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya Alvian memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tempat Medisya dirawat. Ia sudah menyiapkan nyalinya untuk menghadapi kemarahan Abraham dan mertuanya nanti.

"Assalamualaikum," salamnya begitu membuka pintu.

Belum sempat Alvian melangkah masuk. Seorang laki-laki muda mendorongnya keluar. Bahkan ia menendang Alvian sampai pria itu tersungkur.

"Brengsek," umpatnya kecil merasakan sakit di pinggang kirinya.

"Jadi anda yang sudah melukai Kak Medisya? Membuatnya hamil lalu menelantarkannya sendirian?" Seru laki-laki itu.

"Siapa kamu?" Tanya Alvian setelah berdecih merasakan darah keluar dari tenggorokannya.

Sialan! Bocah itu menendang Alvian dengan sangat keras.

"Saya adiknya, bodoh!" Raga mengangkat kepalan tangannya untuk memukul Alvian lagi. Tapi sayangnya Haris menahan tangannya di udara.

"Cukup, Raga!" Seru Haris. "Dia kakakmu sekarang! Jadi bersikaplah yang sepantasnya!"

"Aku nggak sudi mempunyai kakak seperti dia! Kenapa ayah membiarkan dia menikahi Kak Medisya?"

"Karena Alvian harus melakukannya! Kakak kamu hamil atas perbuatan Alvian! Sudah sepatutnya mereka menikah!"

Abraham menepuk bahu besannya itu. "Saya akan mengajak Alvian untuk berbicara. Kalian tenanglah, tidak ada gunanya bertengkar," ucapnya.

Netra tajam Abraham menatap Alvian. Mengisyaratkan anaknya itu untuk mengikutinya.

"Tapi Medisya--"

"Dia sedang tidur. Kamu bisa menemuinya nanti," sela Abraham saat Alvian hendak masuk ke dalam kamar VIP itu.

Tidak ada pilihan lain bagi Alvian selain mengikuti kemana perginya Abraham. Sebelum pergi ia sempat melirik pada Raga juga Haris yang menatapnya. Seolah memberikan dukungan untuk menuruti Abraham.

"Papah menelfon kamu jam dua pagi, Alvian. Dan kamu baru datang sekarang?" Sarkas Abraham begitu mereka duduk di kantin rumah sakit.

"Alvian mabuk semalam."

Balasan itu sontak membuat Abraham menggeram marah. "Kamu meninggalkan Medisya hanya untuk mabuk-mabukkan?"

Helaan nafas kecil terdengar dari mulut Alvian. Ia menatap Abraham berani.

"Apa Medisya tidak mengatakan apapun?"

"Kamu pikir apa yang akan dikatakan perempuan itu? Bahkan sejak tadi dia hanya menangis ketakutan. Papah tidak tau lagi apa yang akan terjadi pada Medisya jika dia tidak menelfon Senja semalam," jelas Abraham, "sekarang jawab pertanyaan papah tadi!"

"Alvian tidak akan meninggalkannya jika dia mau menurut pada Vian."

"Apa maksudmu? Kamu memaksanya untuk melayani kamu?"

"Papah pikir Vian tega melakukan itu?" Alvian terkekeh miris mendengar tuduhan papahnya. "Kami tidur terpisah. Vian hanya datang ke kamar Medisya untuk melihat kondisinya. Medisya mengalami mimpi buruk semalam, suhu tubuhnya juga panas. Alvian hanya membangunkan dia agar tersadar dari mimpi buruknya."

"Lalu?" Tanya Abraham tidak sabar menunggu kelanjutannya.

"Alvian pergi mengambil air hangat untuk mengompres Medisya. Tapi dia justru mengunci pintu kamarnya. Papah pikir Vian tidak marah dengan sikapnya yang seperti itu?"

Mendengar penjelasan Alvian membuat Abraham mendesah pelan. Meski ia dapat memahami kemarahan anaknya, tetap saja sikap Alvian tidak dapat dibenarkan.

"Lain kali kamu harus bisa memaklumi sikapnya. Bagaimanapun juga kamu yang membuat Medisya trauma seperti itu," pesan Abraham dibalas anggukan kecil dari Alvian.

###

Alvian memandang Medisya yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Keheningan terjadi karena dari banyaknya orang yang menemani perempuan itu memilih diam.

Melihat Medisya tidak berdaya seperti ini membuat rasa bersalah muncul di hati Alvian. Ia tidak pernah membayangkan akan menyakiti seseorang sampai separah ini.

Namun di sisi lain Alvian merasa kecewa pada Medisya. Perempuan itu menolak niat baiknya dan malam meminta bantuan Senja untuk menjemputnya pulang. Tidakkah Medisya tau bahwa sikapnya itu melukai harga diri Alvian sebagai seorang suami?

Beruntung karena kesalahpahaman ini berhasil diselesaikan dengan baik. Jika tidak, adik Medisya pasti akan terus memojokan Alvian dengan sindiran frontalnya.

"Jika butuh sesuatu katakan saja," ucap Alvian memecah keheningan. Jujur saja, ia tidak suka berada di tengah-tengah kecanggungan seperti ini.

"Haus," lirih Medisya tanpa mau menatap Alvian.

Tangan Alvian bergerak meraih gelas di atas nakas dan membantu Medisya meminumnya. Tentu saja perhatiannya itu tidak luput dari tatapan keluarga mereka.

"Jika kalian mau, kalian bisa tinggal di rumah kami."

Perkataan Haris mampu membuat Medisya menatap ayahnya dengan sedikit binar di matanya.

"Apa boleh?" Tanyanya antusias.

"Tanyakan itu pada suami kamu," balas Haris membuat Medisya terdiam seketika. Ia menatap Alvian sejenak kemudian menunduk kembali saat netra mereka bertemu.

Medisya tau, Alvian tidak mungkin mau menerima tawaran Haris.

Tapi siapa sangka sikap Medisya yang seperti itu mampu membuat Alvian menurunkan egonya.

"Kami akan ke sana setelah Medisya keluar dari sini," ucap Alvian membuat orangtuanya tersenyum kecil.

Berbeda dengan Medisya yang menegang di tempatnya. Perempuan itu menatap Senja. Seperti memastikan pendengarannya salah atau tidak. Dan anggukan kepala Senja membuat Medisya merasa sedikit tenang. Namun ia masih enggan menatap Alvian.

"Lebih baik sekarang kamu istirahat, Sya. Kami akan pulang. Lagian sudah ada Alvian yang menjaga kamu," ucap Melinda kemudian melirik Abraham. Mengisyaratkan bahwa mereka harus pergi dari sana.

Haris dan Senja juga pamit. Meninggalkan Raga yang masih setia duduk di sofa.

"Kamu mau menginap di sini?" Tanya Alvian datar. Ia masih kesal pada Raga karena sampai sekarang perutnya masih sakit.

Sebenarnya Raga tidak ingin meninggalkan Medisya dengan Alvian. Tapi ia sadar bahwa mereka sudah menikah. Lagi pula Alvian tidak begitu buruk. Hanya sifatnya saja yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa canggung.

Ia bangkit lalu mendekati kakaknya itu. "Aku pulang ya, kak. Kalau ada apa-apa hubungin aku aja," ucapnya sembari melirik Alvian sinis.

Kini tinggal Medisya dan Alvian yang ada di dalam ruangan besar itu. Medisya tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan Alvian terus menatap istrinya itu dengan sangat intens.

"Medisya," sebut Alvian pelan sembari menghela nafasnya. "Apa kamu tau jika aku sedang berusaha untuk menerima keadaan ini?"

Meskipun Medisya hanya diam, tetapi Alvian yakin perempuan itu mendengarkannya.

"Pernikahan ini memang terjadi karena kesalahan. Tapi aku tidak akan mempermainkannya. Dan sikap kamu yang seperti ini membuat harga diriku sebagai seorang suami terluka. Bagaimana bisa kamu menolak bantuanku dan malah meminta bantuan orang tuamu, hmm?"

"Maaf."

Hanya kata itu yang berhasil Medisya ucapkan. Siang tadi Senja juga sudah mengatakan bahwa Alvian mungkin tersinggung dengan perbuatannya. Dan sekarang Alvian mengatakan itu langsung padanya. Perasaan bersalah Medisya sedikit tergugah saat ini.

###

1
Thie Adeck Rhina
walaupun dadakan tp CEO org kaya masa ksih mahar cm 10gr. stidak nya 100gr donk wkwkwkwk
@ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Nur Elza
bgus bngt dr awl itu bnr mencengkam tp bgus alurnya
Norparida Ariyani
Aku tidak suka dengan cara Alvian memperlakukan Medisya.
Mesri Simarmata
lebay medisya
Rindi Yuliani
ok bagus
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
up lg thor udh setahun fakum😒😒
Rinada Eka
udah mau 1 thn ngga ada kbrnya??
Hayah18😉
lanjut dong Thor 😊
Sunsun Sun
menyebalkan🙏🙏
Sriyeni
lanjut thor
Fika Azizah
next kaklp
Delaa Mohd
lnjutyy
Nitha Sulistia
Jijik ih..
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
ini novel bagus ceritanya menarik sayang uthor nya kayanya kurang semangan ngelanjutinya😢😢😢
Kadek Ariani
sudah tamat atau belum sih ceritanya??? kok lama banget gak upnya?
Desii Endang Wangi
up secepat nya dongs thor
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
Ludia Seni
koq blom d up jg sch thor
Nitha Sulistia
Nyimak..
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!