Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai mati?
...#••...
“Nih."
Jay menyodorkan permen kapas berukuran besar berbentuk hati. "Buat si paling pecinta makanan manis,” katanya, lalu tersenyum lebar.
Perempuan itu mengambil permen kapas berwarna pink itu dengan mata berbinar. “Lucu~ beli di mana ini? Kok nggak bilang-bilang? Gue pengen—”
“Udah itu aja. Bentuknya sama semua kok.”
“Gue—”
“Mau naik permainan apa?”
Perempuan itu menatap Jay tanpa berkedip selama beberapa saat. Tatapannya seolah berkata, Serius? Gue belum selesai ngomong.
“Kenapa motong-motong omongan gue sih?” katanya dengan nada kesal.
Jay tak mempedulikan ekspresi kesal dari perempuan yang berbeda 8 tahun dari dirinya itu. Dengan santainya, ia merangkul pundak perempuan itu hingga tubuh keduanya saling berdempetan.
“Keras kepala banget sih jadi orang."
“Biarin, lah. Gue kan pengen liat pake mata kepala gue sendiri. Omongan orang tuh nggak bisa dipercaya!”
“Kasihan banget…”
Keduanya berjalan perlahan di antara kerumunan orang-orang di pasar malam pusat kota yang begitu ramai. Mereka sengaja datang malam Kamis karena mengira suasananya akan lebih sepi. Sayangnya, hampir semua orang di kota ini berpikiran sama.
“... Sebenarnya status kita apa, sih?” lanjut Jay sembari menatap perempuan yang lebih pendek darinya.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia masih sibuk mengunyah permen kapas, pandangannya berkelana ke segala arah.
“Anjir! Cepet banget abisnya.” Jay melihat permen kapas itu yang kini hanya menyisakan setengah bentuk hati. “Pantesan lo manis, ternyata karena suka yang manis-manis, ya?” katanya diakhiri tawa kecil.
"Anak SMA sekarang tuh kayaknya pada jago gombal, ya."
“Bukan gom—”
“Gerah!” perempuan itu melepaskan rangkulan Jay dari pundaknya. “Demen banget lo dempet-dempetan sama gue. Suka, ya?”
“Keliatan?”
“Sorry nih, ye. Gue nggak demen sama brondong.” Perempuan itu berkata santai lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Jay.
Jay mempercepat langkahnya hingga kini berdiri di hadapan perempuan itu.
“Naik bianglala, yuk?” Jay menunjuk roda besar yang berputar di langit malam, lampu-lampunya berkelap-kelip seperti kunang-kunang.
"Nggak mau, ah. Nggak seru!"
Jay malah menarik pergelangan tangan perempuan itu menuju wahana bianglala. “Sekali-kali ngikutin yang gue mau, kek,” katanya sambil menoleh pada perempuan di sampingnya.
Perempuan itu memasang ekspresi cemberut, tetapi di mata Jay, ekspresi itu justru terlihat sangat menggemaskan.
“Kak, beli tiketnya 2, ya,” kata Jay begitu mereka sampai di loket.
Setelah membayar, mereka berdiri di dekat wahana yang masih berputar, menunggu sampai giliran mereka tiba.
“Kenapa? Takut ketinggian, ya?” goda Jay sambil mendekatkan wajahnya pada perempuan itu.
Tangan perempuan itu langsung menoyor kening Jay agar menjauh.
“Bukan takut! Cuma ngapain naik wahana kayak burung yang dikurung di sangkar?"
"Buruan masuk." Jay mendorong tubuh perempuan itu lebih dulu ke dalam bianglala begitu wahana tersebut berhenti di depan mereka.
“Awas kejedot." Tangan Jay menahan kepala perempuan itu agar tidak terbentur besi wahana.
Kini keduanya sudah berada di ruang sempit itu, duduk berhadapan. Jay duduk dengan kaki sedikit terbuka, membuat kedua kaki perempuan itu berada di antara kedua kakinya.
“Nih, habisin.” Perempuan itu menyodorkan permen kapas yang tinggal setengah ke mulut Jay.
Tak banyak protes, Jay langsung melahapnya, sementara tangannya ikut menggenggam tangan perempuan yang masih memegang gagang permen kapas.
“Pegang sendiri, lah.” Perempuan itu berusaha melepaskan genggamannya, tetapi Jay justru menggenggamnya semakin erat.
Jay sengaja memperlambat gerakannya saat melahap permen kapas itu. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah perempuan di hadapannya.
Selama beberapa saat, keduanya saling bersitatap. Ada kekaguman yang begitu jelas dalam tatapan Jay, seolah matanya tak pernah bosan memandangi perempuan di hadapannya. Namun, perempuan itu hanya membalasnya dengan tatapan biasa.
“Kak,” Jay kembali bersuara setelah permen kapas itu habis.
Ia kembali bersandar dengan santai lalu membuka tutup botol air mineral. “Apa gue harus berterima kasih sama Papa?”
“Ya harus! Karena dia yang—”
“Bukan itu,” Jay menggeleng kecil begitu selesai minum. Tangannya kembali menutup botol air mineral.
“Kalau hari kamis sore itu Papa nggak ngajak gue ke gereja, mungkin gue nggak akan pernah ketemu sama lo, Kak.”
Kini Jay duduk tegak. Tatapannya tertuju pada wajah perempuan di hadapannya, penuh kekaguman yang tak pernah ia sembunyikan.
Kedua tangan Jay meraih kedua tangan perempuan itu dengan lembut. “Gue seneng bisa ketemu sama lo, Kak.”
Mata perempuan itu seketika berkaca-kaca. Bibirnya melengkung ke bawah, seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang memenuhi dadanya.
"So sweet banget," ujarnya.
Senyuman Jay semakin lebar. Ia bahkan terkekeh kecil melihat ekspresi perempuan itu.
Tangannya terangkat, hendak menarik perempuan itu ke dalam pelukan. Namun sebelum sempat melakukannya, bianglala perlahan berhenti di bawah.
Seorang petugas segera menghampiri dan membuka pintu wahana.
Jay hanya bisa menghela napas panjang. Melihat itu, perempuan tersebut tersenyum simpul.
“Mau naik permainan apa lagi?” tanya Jay begitu mereka sudah keluar dari bianglala.
“Mau pulang aja.”
“Nggak asik banget, anjir!” Protes Jay tak terima. “Baru juga naik 1 wahana. Kenapa sih? Tumben banget. Biasanya juga si paling bersemangat.”
“Vibes-nya nggak enak, ah.”
Alis Jay terangkat sebelah. Ia menatap perempuan itu bingung. Vibes apaan? Perasaan dari tadi biasa aja.
Belum sempat Jay bertanya lagi, tangan perempuan itu sudah lebih dulu menggenggam tangannya.
“Ayo kita pulang.”
Tak banyak protes, Jay hanya mengikuti.
Sesampainya di parkiran motor, perempuan itu mengajak Jay duduk di bangku samping area parkir. Suasananya cukup tenang, jauh dari keramaian pasar malam. Hanya lampu kekuningan di atas mereka yang menerangi tempat itu.
“Jay.”
Perempuan itu duduk menyamping menghadapnya dengan tatapan serius.
“Hm?”
“Sebelumnya, gue mau ngucapin terima kasih.” Suaranya terdengar lembut. “Makasih buat semuanya, Jay.” Ia tersenyum kecil.
“Gue juga seneng bisa ketemu sama lo. Dan mungkin…” Ia berhenti sejenak, seperti sedang mencari kata yang tepat. “Lo jadi salah satu anugerah dalam hidup gue.”
Perempuan itu menarik napas pelan. “Tapi maaf… gue nggak bisa bales perasaan lo.”
Mendengar kalimat terakhir, Jay tak langsung merespons. Selama beberapa saat, ia hanya memandangi wajah perempuan itu.
Ya. Selama 8 bulan kedekatan mereka, beberapa kali Jay sudah menyatakan bahwa dirinya jatuh cinta pada perempuan itu. Bahkan sejak pertama kali melihatnya menangis di gereja, Jay mengaku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dan jawaban perempuan itu selalu sama.
Jay hanya berpikir mungkin ia membutuhkan waktu. Mungkin perempuan itu ingin mengenalnya lebih lama. Mungkin suatu hari nanti, perasaannya akan berubah.
Ternyata… memang tidak akan pernah, ya?”
“Kenapa?” tanya Jay akhirnya dengan suara lirih. “Apa nggak ada… sedikit aja perasaan di hati lo ke gue?”
“Gue sayang sama lo, Jay. Tapi bukan sayang sebagai pasangan. Tapi lebih dari—”
“Apa?!” Nada suara Jay meninggi tanpa ia sadari.
“Hubungan sebagai pasangan bisa berakhir kapan aja. Tapi keluarga nggak begitu.” Perempuan itu menatap Jay lekat-lekat. “Seberantakan apa pun, sesakit apa pun, keluarga tetap keluarga.”
“Tapi gue bukan keluarga lo!”
“Bagi gue, lo itu adik. Seseorang yang paling berharga buat gue. Bahkan saking berharganya, gue selalu bersyukur karena Tuhan mempertemukan gue sama lo.”
“Tapi gue pengen lebih dari itu, Kak…” suara Jay memelas. “Kita coba aja—”
“Jay,” perempuan itu menggenggam tangannya. “Gue nggak mau hubungan kita jadi rusak. Kalau lo memang nggak sanggup, yaudah untuk sementara ini kita menjauh—”
“Ok fine!” Jay buru-buru memotong. “Kita sahabatan sampai mati! Nggak ada yang bisa misahin kita kecuali kematian.”
“Jangan berlebihan...”
Jay tak menjawab. Ia bergesee mendekat, lalu kedua tangannya merengkuh pinggang perempuan itu. Kepalanya bersandar di bahunya.
“Kok bisa sih lo nggak suka gue?” tanya lagi, kembali dengan nada santai. Atau mungkin, hanya berpura-pura. “Kurang apa sih gue di mata lo?”
“Lo nggak akan bilang suka kalau tahu masa lalu gue.”
“Semua orang punya masa lalu, Kak.”
Jay semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma dari pundak perempuan itu.
Perempuan itu menatap ekspresi sendu Jay. Tangannya perlahan merapikan rambutnya yang berantakan.
“Masa lalu gue lebih kelam dari siapapun. Saking kelamnya gue sampai benci sama diri gue sendiri karena itu.”
Tangannya kemudian turun, membelai pipi Jay dengan lembut.
“Lo pernah penasaran nggak, kenapa waktu itu gue bisa nangis sesenggukan?”
“Pernah, tapi gue nggak berani nanya. Biar lo aja yang cerita lebih dulu.” Jay tersenyum kecil. “Eh, ternyata setelah sekian lama akhirnya lo mau cerita juga.”
Perempuan itu tersenyum simpul, lalu melepaskan tangan Jay dari pinggangnya.
“Sambil cerita, kita jalan pulang, yuk."
Cup.
“Heh!” Perempuan itu langsung memegang pipinya yang baru saja dicium Jay.
“Ciuman persahabatan.” Kata Jay santai sambil berjalan lebih dulu menuju motornya.
“Kurang ajar!”
“Eh, salah.” Jay berhenti sejenak, menoleh sambil terkekeh. “Ciuman sayang seorang adik ke kakaknya.”
Setelah itu, ia langsung memakai helm.
Buk!
Kepala Jay seketika miring ke samping begitu perempuan itu memukulnya dengan botol.
“Sakit anjir!”
“Buruan maju!”
Perempuan itu langsung naik ke jok motor, tak memedulikan raut kesal Jay. “Pukulan sayang seorang kakak ke adiknya.” Ia tersenyum miring menatap Jay.
"Buset! Nggak mau kalah banget, cok,” dengus Jay, lalu naik ke atas jok motornya.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG