NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Izin Keluar

"Mengapa kamu bisa berpisah dengan mantan suami kamu?"

Senyum di wajah Adira perlahan menghilang. Ia menundukkan pandangan, sementara jemarinya saling bertaut di depan tubuh.

"Karena pernikahan kami memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Tuan."

Areksa mengerutkan kening. "Karena dia selingkuh?"

"Iya."

Adira menarik napas panjang. "Dia mulai bermain judi online. Sering mabuk-mabukan, sampai akhirnya melakukan KDRT setiap kali saya tidak bisa memberinya uang."

Tatapan Areksa berubah serius. "Kenapa kamu mau menikah dengan laki-laki seperti itu?"

"Dulu dia tidak seperti itu, Tuan."

Adira tersenyum tipis, meski senyum itu terasa begitu pahit. "Dia laki-laki yang baik ketika kami pertama kali bertemu. Dia perhatian, bertanggung jawab, dan selalu berusaha membuat saya merasa aman."

Adira berhenti sejenak. "Sampai akhirnya dia di-PHK."

Areksa tetap diam mendengarkan. "Dia mencoba berbagai macam usaha, tapi selalu gagal. Dia mulai meminjam uang ke sana kemari untuk modal usaha. Bukannya membaik, keadaan justru semakin buruk."

Jemari Adira semakin erat menggenggam satu sama lain. "Dan ketika saya hamil, semuanya menjadi lebih parah. Dia menyalahkan anak yang saya kandung. Katanya, sejak saya hamil, hidup dan kariernya mulai hancur. Dia bahkan mengatakan kalau anak kami adalah penyebab semua masalah yang terjadi dalam hidupnya."

Rahang Areksa mengeras mendengar itu. "Laki-laki macam apa yang menyalahkan anaknya sendiri?"

Adira hanya tersenyum getir. "Saya juga sering bertanya begitu."

Areksa menatapnya lekat. "Dan kamu bertahan selama itu?"

"Saya bertahan karena saya masih berharap."

Adira menatap bunga mawar di hadapannya. "Saya pikir mungkin suatu hari dia akan berubah. Saya berharap dia bisa kembali menjadi laki-laki yang dulu saya kenal."

Ia menghela napas. "Tapi ternyata saya terlalu lama berharap pada seseorang yang sudah tidak ingin berubah."

"Dengan sisa tabungan yang saya punya, akhirnya saya datang ke sebuah kantor hukum. Saya mendengar ada pengacara yang terkenal sangat baik hati dan mau membantu orang-orang yang tidak mampu seperti saya."

Adira tersenyum samar. "Di sanalah saya bertemu Aruna."

Areksa ikut tersenyum kecil ketika mendengar nama istrinya. "Aruna memang seperti itu."

"Iya." Tatapan Adira melembut. "Dia bukan hanya membantu saya mengurus perceraian. Dia juga banyak membantu saya ketika saya sedang hamil."

Areksa mengangguk pelan. "Lalu... kenapa anak kamu meninggal?"

Pertanyaan itu membuat wajah Adira seketika berubah. Ia terdiam cukup lama.

"Dia lahir prematur, Tuan."

Suaranya mulai bergetar. "Ada gangguan pada pernapasannya sejak dia lahir. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi..."

Adira tidak sanggup melanjutkan. Bayangan putranya yang masih begitu kecil kembali memenuhi pikirannya.

Tubuh mungil yang bahkan belum sempat ia peluk cukup lama. Tangisan pertama yang hanya sebentar ia dengar.

Dan kemudian... keheningan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Adira sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Dan ya..." Suaranya tercekat. "Anak saya meninggal."

Areksa membeku. Ia baru menyadari bahwa pertanyaannya telah membuka luka yang masih begitu segar.

"Adira..."

Wanita itu buru-buru mengusap air matanya. "Maaf, Tuan."

"Jangan minta maaf." Areksa menggeleng pelan. "Saya yang minta maaf. Saya gak bermaksud membuat kamu sedih atau mengingat semuanya lagi."

Adira mengangguk kecil, tetapi air matanya masih terus jatuh.

Areksa hanya berdiri di sampingnya, tidak tau harus berkata apa.

Ia melihat Adira bukan hanya seorang babysitter yang merawat Aretha.

Ia melihat seorang wanita yang baru saja kehilangan anaknya, tetapi masih mampu memberikan kasih sayang kepada anak orang lain.

Dan entah mengapa, hal itu membuat pandangannya terhadap Adira berubah sedikit demi sedikit.

"Apakah Aruna yang menanam semua bunga ini, Tuan?" Tanya Adira untuk memecah keheningan sambil memandang hamparan bunga di taman dengan penuh kekaguman.

"Saya."

Adira langsung menoleh. "Tuan?"

Areksa terkekeh kecil melihat ekspresinya. "Iya. Waktu pertama kali saya mengenal Aruna, dia pernah bilang kalau dia menyukai bunga. Terutama mawar merah."

Tatapannya beralih pada deretan bunga mawar yang tumbuh rapi di sisi taman.

"Setelah kami menikah, saya yang menanam dan merawat semuanya."

Adira tersenyum tipis. "Jarang sekali ada laki-laki yang mau menanam bunga sebanyak ini."

Areksa ikut tersenyum. "Dulu saya memang sering merawatnya sendiri. Kalau sedang tidak sempat, saya minta ART untuk mengurusnya."

Ia menghela napas pelan. "Tapi setelah beberapa bulan menikah, saya baru sadar kalau Aruna hampir tidak pernah mengurus bunga-bunga ini."

Adira mengerutkan kening. "Padahal dulu dia menyukainya?"

"Iya." Areksa tersenyum samar.

"Saya juga gak tau kenapa. Mungkin dia memang sudah tidak menyukai bunga lagi."

Adira menatap bunga-bunga tersebut. "Sayang sekali."

"Hm."

Areksa kembali memandang taman. Namun ketika matanya berhenti pada satu bunga mawar merah, ekspresinya mendadak berubah.

Ada sebuah kenangan lama yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Seorang gadis kecil. Rambutnya sedikit berantakan. Ia berdiri di depannya sambil menggenggam setangkai mawar yang baru saja dipetik sembarangan. Tangannya terluka karena duri.

Areksa kecil saat itu panik dan langsung memarahinya. "Kenapa kamu petik pakai tangan?"

Gadis kecil itu hanya tertawa. "Aku suka mawar."

Areksa menggeleng pelan. Kenangan itu terasa begitu samar, tetapi anehnya semakin sering muncul sejak Adira datang ke rumahnya.

"Jarang sekali ada laki-laki yang mau menanam bunga-bunga sebanyak ini," ujar Adira lagi.

Areksa tersadar dari lamunannya. "Itu karena..."

Ucapannya terhenti. Ia menatap bunga mawar di hadapannya.

Dulu, ia menanam bunga-bunga itu karena Aruna.

Tetapi jauh sebelum Aruna, ada alasan lain yang bahkan sudah lama terkubur dalam ingatannya.

Seorang gadis kecil yang pernah mengatakan kepadanya bahwa ia sangat menyukai bunga mawar.

"Karena apa, Tuan?"

Areksa terdiam beberapa detik.

Lalu ia menggeleng kecil. "Hm... bukan apa-apa."

Adira hanya mengangguk, tidak memaksa.

Namun Areksa kembali menatapnya.

Entah mengapa, sejak Adira datang ke hidupnya, kenangan tentang gadis kecil itu semakin sering muncul.

Dan Areksa mulai bertanya-tanya... Jangan-jangan selama ini ada sesuatu yang sengaja dilupakan oleh ingatanku sendiri?

***

Sore perlahan berganti malam.

Setelah menyusui Aretha, Adira memastikan bayi itu benar-benar terlelap. Areksa kemudian menggendong putrinya dan membawanya kembali ke kamar.

Kini Aretha sudah mulai mengenal pola tidurnya. Ia tidak lagi sering terbangun tengah malam dan membuat semua orang ikut terjaga.

Setelah meletakkan Aretha dengan hati-hati di dalam boksnya, Areksa keluar dari kamar.

Di lorong, ia bertemu dengan Adira yang tampaknya sedang menunggunya.

"Maaf, Tuan."

Areksa menoleh. "Ada apa?"

Adira terlihat sedikit ragu. "Saya boleh izin keluar sebentar?"

"Keluar?"

"Iya, Tuan. Ada beberapa kebutuhan pribadi yang ingin saya beli."

"Oh, iya. Tentu saja."

Areksa kemudian teringat sesuatu. "Tunggu sebentar."

Ia mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan menyerahkannya kepada Adira.

"Saya malah lupa memberi kamu gaji."

Adira buru-buru menggeleng. "Tidak usah, Tuan. Saya masih punya uang."

Ia bahkan hendak mengembalikan uang tersebut. "Apalagi Tuan sudah berbaik hati membayar hutang mantan suami saya waktu itu. Saya sudah sangat berterima kasih."

Namun Areksa justru mengambil tangan Adira dan meletakkan uang tersebut di telapak tangannya.

"Gak apa-apa."

"Tapi, Tuan..."

"Saya ikhlas."

Areksa menatapnya serius. "Dan lagi, kehidupan yang kamu berikan untuk Aretha setiap hari juga gak sebanding dengan uang ini."

Tatapannya sekilas beralih ke pintu kamar Aretha. "Lihat saja dia sekarang. Tumbuh sehat dan gemoy."

Adira tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan."

Ia kemudian membungkukkan tubuhnya.

Areksa mengangguk. "Kamu mau pergi sendiri?"

"Iya, Tuan."

"Baiklah. Hati-hati."

"Iya, Tuan."

Adira kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu utama.

Areksa masih berdiri di tempatnya, memperhatikan kepergian wanita itu.

Entah kenapa, baru kali ini ia menyadari bahwa selama Adira tinggal di rumahnya, hampir tidak pernah sekali pun wanita itu meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.

Semua yang dilakukan Adira selalu berkaitan dengan Aretha.

Dan tanpa sadar, Areksa mulai merasa bahwa ia ingin tau lebih banyak tentang wanita itu.

***

Cukup jauh Adira harus berjalan dari kawasan perumahan Dirgantara menuju jalan utama tempat minimarket berada.

Setelah membeli beberapa kebutuhan pribadinya, Adira segera memasukkan semuanya ke dalam tas.

Ia melihat jam di ponselnya. Sudah cukup larut.

Adira tidak ingin Areksa atau siapa pun di rumah mencarinya, jadi ia segera berjalan pulang.

Namun, semakin jauh meninggalkan jalan utama, suasana kawasan perumahan mulai terasa sepi. Lampu jalan hanya menerangi beberapa bagian trotoar. Tidak banyak kendaraan yang melintas.

Adira mempercepat langkah.

Tiba-tiba, tiga orang laki-laki muncul dari sisi jalan dan menghalangi jalannya.

"Widih... ada cewek cantik."

"Iya, bening banget, buset."

Salah satu dari mereka menyeringai. "Bisa kali temenin kita."

Adira mundur selangkah. "Pergi kalian!"

Ia menepis kasar tangan salah satu laki-laki yang mencoba meraih lengannya.

"Jangan galak-galak banget dong, Neng."

Laki-laki itu tertawa. Tangannya kembali terulur, kali ini hendak menyentuh wajah Adira.

Adira langsung mundur.

Namun sebelum tangan itu berhasil menyentuhnya—

BUGH!

Sebuah tendangan keras menghantam tubuh laki-laki tersebut hingga ia terjungkal beberapa meter.

1
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!