Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Suasana di dalam kamar rawat Jovan masih terasa tegang.
Nyonya Marcella menatap Jovan dengan wajah penuh kekecewaan, sementara Tuan Marcelino berdiri diam di sampingnya. Darren sendiri tetap berada di dekat adiknya, seolah ingin memastikan tidak ada seorang pun yang kembali menyudutkan Jovan dalam kondisi seperti ini.
"Aku tidak datang ke sini untuk mendengar pembelaan," ujar Marcelino akhirnya. "Aku hanya ingin tahu satu hal. Apakah benar kau yang menabrak pria itu?"
Jovan menundukkan kepalanya.
"Iya, Daddy."
"Dan pria itu meninggal?"
Jovan mengangguk pelan.
"Iya."
Marcella mendengus.
"Lihat? Bahkan dia mengaku sendiri."
Darren langsung menatap ibunya.
"Dia memang menabraknya, Mom. Tapi penyebab kecelakaan itu sedang kami selidiki."
Marcelino mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?"
"Ada zat psikoaktif ditemukan dalam tubuhnya Jovan. Rem mobilnya juga mengalami kerusakan yang mencurigakan."
Jovan mengangkat wajahnya. "Kak Darren benar." Ia menarik napas panjang.
"Sebelum kecelakaan, aku merasa tubuhku aneh. Kepala ku pusing dan pandangan ku kabur. Setelah itu rem mobil nggak berfungsi."
Marcelino terdiam.
"Apakah kau yakin?"
"Aku yakin, Daddy."
Jovan mengepalkan tangannya.
"Aku memang sering balapan dan mungkin terlihat ceroboh. Tapi aku nggak akan pernah sengaja menabrak orang."
Darren mengangguk.
"Karena itu aku akan mencari tahu siapa yang menjebak mu."
Marcella masih terlihat tidak percaya.
"Dan kalau ternyata memang dia yang bersalah?"
Darren menatapnya tenang.
"Kalau terbukti bersalah, dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, Mom."
Jovan terdiam.
"Tapi kalau dia dijebak, maka pelakunya juga harus bertanggung jawab."
Marcelino menghela napas panjang.
"Baik. Selidiki sampai semuanya jelas."
Darren mengangguk. "Aku akan melakukannya."
Beberapa jam kemudian, Darren kembali ke ruang penyelidikan.
Beberapa layar monitor menampilkan rekaman CCTV dari malam kecelakaan.
Seorang petugas menghampirinya.
"Pak, kami sudah mendapatkan rekaman tambahan dari diskotik."
Darren langsung mendekat.
"Bagian mana?"
"Rekaman dari pintu belakang dan area parkir."
Video pun diputar.
Terlihat Jovan memasuki diskotik bersama Acong.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang mengenakan seragam pelayan mendekati meja mereka.
Darren memperhatikan gerakannya.
"Perbesar."
Gambar akhirnya diperbesar. Wanita itu terlihat mengambil gelas Jovan sesaat ketika pria tersebut sedang berbicara dengan Acong. Tangannya bergerak cepat.
Kemudian ia mengembalikan gelas tersebut ke tempat semula.
Darren langsung berkata,
"Itu dia."
Petugas mengangguk.
"Kami sudah mencari identitasnya. Namanya Siska. Dia bekerja sebagai pelayan di diskotik tersebut."
"Sudah ditemukan?"
"Belum, Pak. Setelah kejadian itu, dia tidak masuk kerja lagi."
Darren menyipitkan matanya.
"Berarti dia melarikan diri."
"Sepertinya begitu."
"Temukan dia."
"Siap, Pak."
Darren kemudian meminta rekaman area parkir ditampilkan. Beberapa menit kemudian, sosok pria bertubuh atletis muncul di layar.
Pria itu berjalan mendekati mobil Jovan.
Ia memastikan keadaan sekitar sebelum berjongkok di dekat kendaraan.
Darren memperhatikan setiap gerakannya.
"Berhenti."
Rekaman dihentikan.
"Perbesar."
Petugas mencoba memperjelas gambar di layar monitor.
Namun wajah pria tersebut masih tertutup topi.
Darren menghela napas.
"Ambil semua rekaman dari jalan keluar parkiran."
"Baik, Pak."
Darren menunjuk layar. "Dia datang menggunakan kendaraan?"
"Masih kami telusuri."
"Periksa nomor kendaraan yang terlihat di sekitar lokasi."
"Siap."
Darren bersandar di kursi.
pelakunya ada dua orang. Seorang wanita memasukkan zat ke minuman Jovan. Seorang pria merusak mobilnya.
Keduanya menghilang setelah menjalankan tugas masing-masing.
Darren bergumam,
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Di rumah kontrakan keluarga Riki, suasana duka masih menyelimuti seluruh ruangan.
Serina duduk di sampingnya Farel yang tertidur karena kelelahan.
Di tangannya masih tergenggam foto pernikahannya bersama Riki. Empat tahun.
Begitu banyak kenangan yang mereka lalui bersama. Dan semuanya berakhir hanya dalam satu malam. Serina mengusap foto tersebut.
"Mas Riki..." Suaranya bergetar. "Kenapa harus secepat ini?" Air matanya kembali jatuh.
Farel yang tertidur bergerak kecil.
"Bunda..."
Serina segera mengusap rambut putranya.
"Iya, Sayang."
"Ayah pulang?"
Serina terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak sanggup mengatakan kenyataan kepada anak sekecil itu.
"Ayah sudah tenang, Sayang."
Farel membuka matanya sebentar.
"Farel kangen Ayah."
Serina memeluk putranya.
"Bunda juga."
Sementara itu, Darren menerima telepon dari salah satu anggotanya.
"Pak, kami menemukan sesuatu."
Darren langsung berdiri.
"Apa?"
"Mobil yang digunakan pria mencurigakan itu terekam kamera jalan. Nomornya terlihat sebagian."
Darren tersenyum tipis. "Bagus. Kirim rekamannya kepadaku."
"Siap."
Darren menatap layar ponselnya. Kasus ini mulai memiliki titik terang.
Namun ia tahu, menemukan pelaku bukanlah akhir dari semuanya.
Masih ada Serina. Masih ada Farel.
Dan ada satu kenyataan yang harus dihadapi Jovan.
Pria itu mungkin tidak sengaja menyebabkan kematian Riki, tetapi hidup seorang wanita dan anak kecil telah berubah selamanya karena kecelakaan tersebut.
Darren menghela napas.
"Jovan..."
Ia menatap kosong ke depan.
"Bagaimana kau akan bertanggung jawab setelah semuanya terungkap?"
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.
Namun Darren yakin, cepat atau lambat, takdir akan kembali mempertemukan Jovan dengan Serina.
Dan kali ini, pertemuan mereka tidak akan terjadi sebagai korban dan pelaku.
Melainkan sebagai dua orang yang sama-sama sedang berusaha menghadapi luka yang ditinggalkan malam kelam tersebut.
*
*
Malam semakin larut, tetapi Darren masih berada di ruang penyelidikan.
Di hadapannya, beberapa rekaman CCTV telah terpampang di layar. Rekaman pelayan wanita yang memasukkan sesuatu ke dalam gelas Jovan, kemudian sosok pria bertubuh atletis yang terlihat mengutak-atik mobil Jovan di area parkiran.
Darren menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Ini bukan kebetulan."
Iptu Darma mengangguk.
"Berarti ada seseorang yang merencanakan semuanya dari awal."
"Benar."
Darren kembali memperhatikan rekaman tersebut.
"Pelayan itu hanya menjalankan perintah. Begitu juga pria di parkiran."
Ia menunjuk layar.
"Aku ingin tahu siapa yang memberi mereka perintah."
"Siap, Pak."
Di tempat lain, sebuah apartemen mewah di Jakarta.
Seorang wanita berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong.
Namanya Jesika. Di tangannya terdapat sebuah foto Jovan yang telah diremas hingga kusut.
"Kenapa kau menolak ku, Jovan?"
Suara Jesika bergetar.
"Aku sudah melakukan semuanya untukmu."
Ia tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar ganjil.
"Aku bahkan rela menunggu."
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria bertubuh atletis masuk.
"Jesika."
Wanita itu menoleh.
"Gio..."
Gio berjalan mendekatinya. "Semuanya sudah berjalan sesuai rencana."
Jesika tersenyum.
"Jovan masih hidup?"
"Masih."
Senyum Jesika perlahan menghilang.
"Sayang sekali."
Gio menatap adiknya.
"Jangan khawatir. Kariernya tetap akan hancur."
Jesika menggenggam foto Jovan lebih erat.
"Aku ingin dia kehilangan semuanya."
"Dia akan kehilangan semuanya."ucap
Gio tersenyum tipis. "Balapan, sponsor, nama baik, bahkan kepercayaan keluarganya."
Jesika terdiam. Kemudian seorang wanita muda keluar dari kamar lain.
"Sudah selesai?"
Gio menoleh.
"Jenika." Jenika berjalan mendekat.
"Aku sudah memastikan orang yang kita bayar tidak akan membuka mulut."
Jesika tersenyum puas.
"Bagus."
Jenika menatap kakaknya.
"Tapi aku masih tidak mengerti. Kenapa harus sampai membuat kecelakaan?"
Jesika langsung menatap tajam.
"Karena dia harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu."
Gio menghela napas. "Jesika..."
"Aku mencintainya!" Suara Jesika meninggi.
"Tapi dia justru memilih menolak ku!" Matanya mulai berkaca-kaca. "Dia mempermalukan ku di depan banyak orang. Sejak hari itu, hidupku hancur."
Jenika terdiam. Kemudian Gio mendekati adiknya.
"Kau sudah cukup menderita. Sekarang biarkan kami membantumu."
Jesika tersenyum tipis.
"Jovan akan tahu bagaimana rasanya kehilangan."
Sementara itu, Darren terus menggali informasi mengenai masa lalu Jovan.
Ia meminta anak buahnya memeriksa orang-orang yang memiliki hubungan dengan adiknya, terutama mereka yang pernah berselisih atau memiliki motif untuk menghancurkan kariernya.
Tidak lama kemudian, sebuah nama muncul.
Jesika.
Darren membaca laporan tersebut dengan saksama.
"Siapa wanita ini?"
Iptu Darma menjawab,
"Dia pernah dekat dengan Jovan."
"Seberapa dekat?"
"Menurut informasi, Jesika pernah menyatakan perasaan kepada Jovan."
Darren mengangkat alis.
"Lalu?"
"Jovan menolaknya."
Darren terdiam.
"Sejak saat itu?"
"Hubungan mereka memburuk. Jesika disebut mengalami gangguan emosional setelah penolakan tersebut."
Darren menatap foto Jesika yang terlampir dalam laporan.
"Periksa keberadaannya."
"Siap."
Darren kemudian menunjuk nama lain.
"Gio dan Jenika."
"Saudara kandung Jesika."
"Benar."
Darren menghela napas.
"Jangan hanya periksa Jesika. Cari tahu hubungan Gio dan Jenika dengan Jovan."
Iptu Darma mengangguk.
"Baik, Pak."
Darren kembali melihat rekaman pria misterius di parkiran. Sosok itu terlihat memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan Gio. Namun, Darren belum memiliki bukti yang cukup.
"Kita jangan gegabah." Darren lalu berdiri.
"Kalau mereka memang terlibat, aku ingin mereka tertangkap dengan bukti yang tidak terbantahkan."
Di apartemen, Jesika kembali menatap foto Jovan.
"Sebentar lagi kau akan kehilangan semuanya."
Gio berdiri di belakangnya.
"Dan setelah kariernya hancur, apa yang akan kau lakukan?"
Jesika tersenyum samar.
"Aku belum selesai."
Jenika mengernyit.
"Belum selesai?"
Jesika menatap foto tersebut.
"Jovan harus tahu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menolak cintaku dan kemudian hidup bahagia."
Gio terdiam.
Sementara Jenika mulai merasa khawatir.
"Jesika, jangan sampai rencana ini berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk."
Jesika menoleh.
"Sudah terlambat."
Senyumnya kembali muncul.
"Permainan ini sudah dimulai."
Di tempat lain, Darren menutup berkas penyelidikannya. Kini ia memiliki satu nama yang patut dicurigai.
Jesika.
Namun, Darren belum tahu bahwa wanita itu tidak bekerja sendirian.
Dan di balik rencana menghancurkan Jovan, ada dua orang yang siap melakukan apa saja demi membantu Jesika.
Gio dan Jenika.
Sementara Jovan sendiri masih terbaring di rumah sakit, belum menyadari bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa Riki hanyalah awal dari sebuah konspirasi besar yang sengaja dirancang untuk menghancurkan kehidupannya.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭