"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu
"Kamu sangat menyebalkan, Alka. Masa ndak boleh beli dan makan es klim ini Azula. Nanti kalau Azula ngeces gimana lho?" rengek Azura pada Arka yang ada di sampingnya. Tangannya menggoyangkan lengan Arka karena kesal.
"Tahu ndak ka..."
"Ndak tahu. Alka ndak tahu apa-apa," sela Arka membuat Azura sebal.
"Azula belum selesai, Alka. Nyambel aja sih," ucap Azura sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Nyambel pakai cabe belapa?" tanya Arka sambil berkacak pinggang.
Celatus kilo. Bial bibilnya Alka melah melona,
Saat ini Arka dan Azura tengah berjalan pulang dari supermarket. Tadi mereka diminta untuk membeli minyak goreng dan mie oleh Ariska. Namun Azura ingin meminta es krim dan akan membayarnya sendiri jika Arka tidak membelikannya. Arka menolak membelikan dan memberikan walaupun Azura yang bayar. Pasalnya kemarin Azura sempat demam dan radang tenggorokan. Arka tidak mau Azura yang sakit karena sangat rewel.
Walaupun Azura kesal dengan Arka tapi gadis cilik itu tidak mau menjauh. Dia hanya mengomel saja sambil menggenggam erat lengan tangan Arka. Apalagi mereka harus melewati jalan raya yang lumayan ramai. Arka menganggap bahwa omelan Azura ini sudah seperti radio rusak.
Tin... Tin...
Tin... Tin...
"Belisik ya, mentang-mentang naik mobil." seru Azura saat sebuah mobil terus membunyikan klakson dari arah belakang mereka. Padahal mereka sudah ada di pinggir jalan, tidak menghalangi.
"Minggir sana dulu. Saya mau bicara," seru seorang laki-laki setelah membuka kaca mobilnya.
"Om mau culik kami ya? Daging kita ndak enak dimakan. Kami juga makannya banyak. Mending culik aja sapi biar bisa dibuat sate dan tongseng," seru Arka mengusir seorang laki-laki agar tidak mendekati keduanya. Bahkan Arka langsung menarik tangan Azura agar gadis itu bisa bersembunyi di belakangnya.
"Kabul aja ayo, Alka." bisik Azura pada Arka.
"Ompong, kamu peluk pelutku lho. Kalau kabul, bagaimana calanya kita lali? Belasa gendong tuyul Alka ini," ucap Arka membuat Azura hanya bisa cengengesan.
Arka kesal dengan Azura yang malah menempelinya seperti ingin digendong. Padahal Arka memintanya untuk bersembunyi biasa di belakangnya saja. Sudah ditegur, tapi Azura tetap tidak melepaskan pelukannya dari Arka. Padahal mereka sudah ada di pinggir jalan, tapi bisa-bisanya ada seseorang yang membawa mobil memepetkan kendaraannya pada keduanya. Bahkan berulangkali menyembunyikan klakson dan terlihat seorang laki-laki dewasa memakai kacamata berwarna hitam berada di dalamnya.
Cittt...
"Sebentar, saya hanya ingin tanya." ucap laki-laki dewasa itu setelah menghentikan mobilnya di depan Arka dan Azura.
"Ndak usah tanya-tanya, kaya waltawan aja." ceplos Azura sambil memelototkan matanya di balik punggung Arka.
"Bukan begitu maksud Om. Saya mau tanya apakah kamu itu yang bernama Arka?" tanya laki-laki dewasa itu sambil menunjuk ke arah Arka. Laki-laki itu juga keluar dari dalam mobil.
"Bukan," jawab Arka dengan acuh. Mencoba biasa saja walaupun sedikit ketar-ketir.
"Tidak mungkin. Saya tahu kalau kamu itu Arka. Anaknya Tuan Frans, kan? Saya Carlo, asisten dari Tuan Frans." ucap laki-laki dewasa yang tak lain adalah Carlo.
"Wajah kamu sangat mirip dengan Tuan Frans," lanjutnya.
Arka sudah mengenal siapa Carlo karena berhasil mencari semua informasi mengenai Frans. Tadi dia pura-pura saja tidak tahu. Sedangkan Carlo, dia sudah mengetahui tentang Arka yang kemungkinan mengenal Frans dan dirinya. Apalagi Carlo sudah diberitahu tentang Arka yang pintar meretas. Carlo menemui Arka atas suruhan dari Frans. Jika Frans yang menemui, sudah dapat dipastikan kalau orangtuanya akan memarahinya. Arka menghela nafasnya pelan, malas sekali berurusan dengan hal seperti ini.
"Telus kenapa kalau Alka anaknya Tuan false?" tanya Arka dengan raut wajah juteknya.
"Tuan Frans, bukan false namanya. Itu Papa anda, Tuan kecil Arka." ucap Carlo sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Suka-suka Alka dong. Kok lepot banget sih jadi olang," Bukan Arka yang marah, tapi Azura.
"Kamu siapa sih? Pengasuhnya Tuan kecil Arka ya?" tanya Carlo menatap Azura dengan intens.
"Sembalangan. Mana ada Azula ini..."
"Tuan Carlo, saya minta anda untuk pergi dari sini. Kami diperintahkan Tuan Bayu untuk tidak mengijinkan siapapun menemui Tuan Arka," sela seorang pengawal Papa Bayu yang diminta untuk menjaga Arka.
Carlo menghela nafasnya kasar. Ternyata Arka dijaga oleh pengawal Papa Bayu. Padahal Carlo pikir semua pengawal juga ikut pulang bersama Papa Bayu dan Mama Anisa. Frans juga sama sekali tak memberitahu adanya pengawal yang menjaga Arka. Bahkan Carlo pun sedari tadi tak merasakan adanya kehadiran pengawal. Arka menghela nafasnya lega saat mendengar adanya pengawal dari Papa Bayu. Walaupun dia pintar meretas, tapi jika melawan orang dewasa juga belum mampu. Apalagi dia tidak mempunyai senjata yang digunakan untuk jaga diri.
"Sebentar, Bang Thomas. Saya hanya ingin memberikan ini kepada Tuan kecil Arka," ucap Carlo sambil mengambil sebuah kartu ATM milik Frans untuk diberikan pada Arka.
"Ini dari Papa anda, Tuan kecil Arka. Katanya untuk jajan sama Mamanya," lanjutnya.
"Ambil aja, Alka. Habis itu usil dia," bisik Azura pelan tapi masih terdengar oleh Carlo dan pengawal Papa Bayu.
"Mau nyogok ya? Bial Alka kasih ijin beltemu Mama," seru Arka dengan tatapan menyelidik.
"Saya nggak tahu, Tuan kecil. Saya kan hanya disuruh sama Papa anda," ucap Carlo yang kebingungan mencari alasan.
"Nih... Alka balikin. Bilang aja sama Bosmu itu, Alka duitnya sudah banyak. Ndak pelu dikasih kaltu begini, bisa ambil sendili kalau mau uang dali Bosmu itu." ceplos Arka membuat Carlo menepuk dahinya pelan.
Arka mengembalikan kartu berwarna hitam itu kepada Carlo kemudian menggandeng tangan Azura untuk pergi. Carlo lupa kalau Arka bisa mengambil uang perusahaan tanpa harus diberikan sebuah kartu. Padahal dia tadi sudah diberitahu oleh Frans bahwa yang mengambil uang seratus ribu dari rekening perusahaan itu adalah Arka. Namun anehnya Frans, sudah tahu anaknya bisa mengambil uang sendiri tapi malah masih diberikan kartu.
"Terus gunanya aku ke sini jauh-jauh tuh apa? Tuan Frans kan juga udah tahu kalau anaknya bisa ambil uang sendiri tanpa kartu," ucap Carlo sambil menghela nafasnya kasar.
"Habis-habisin bensin saja," lanjutnya menggerutu.
"Anggap saja lagi jalan-jalan, Carlo. Daripada lihat Bosmu yang lagi stress mikirin perusahaan, mending juga jalan ke luar kota. Siapa tahu dapat jodoh," ucap Thomas, pengawal Tuan Bayu yang ditugaskan menjaga Arka.
"Bang, punya kaca di rumah kan? Ingat ya, Abang juga jomblo. Abang sering kerja di luar kota, tapi sampai sekarang juga masih jomblo." ledek Carlo dengan tatapan sinisnya. Jika sedang berinteraksi seperti ini, mereka tampak santai. Berbeda ketika sedang menjalankan tugas.
Sialan...
Brumm... Brumm...
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣