Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *33
Ucapan Mang Mamat membuat Mbok Yah terdiam seketika. Sepertinya, dia sedang memikirkan segala sesuatu yang mungkin bisa terjadi. Sebuah kemungkinan besar yang pasti akan menunjukkan hasil baik.
"Mm ... Ibuk akan cari Non Aulia secepatnya."
"Cari? Mau cari di mana, Buk? Orang kita gak tahu Non Aulia-nya ada di mana. Mau menghubungi ke desa, Den Zihan tidak mengizinkan kita melakukan hal itu. Karena dia tidak ingin orang desa tahu apa yang sudah terjadi dengan kehidupannya saat ini."
"Iya, Ibuk ingat akan larangan Den Zihan. Tapi, Ibuk akan tetap menghubungi ke desa. Namun, dengan cara Ibuk sendiri," ucap Mbok Yah dengan senyum lebar di bibir beserta tatapan yang penuh dengan keyakinan.
Begitulah pada akhirnya Mbok Yah memutuskan untuk mencoba keberuntungan. Dia menyamar menjadi seseorang dari kota tempat Aulia tinggal saat kuliah. Dan, dalam pembicaraan lewat telepon itu, dia bisa tahu kalau Aulia tidak ada di desa saat ini. Orang tua Aulia mengatakan kalau Aulia sedang berada di rumah suaminya. Tapi si Mbok hanya meminta alamat tempat tinggal Aulia yang ada di kota tersebut. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Bunda Aulia pun langsung mengatakan alamat lengkap kakaknya yang ada di kota tersebut.
Berbekalkan alamat itu, Mbok Yah langsung berangkat ke kota sebelah keesokan harinya. Demi Zihan yang sudah ia anggap sebagai anak, kesulitan apapun akan ia tempuh dengan lapang dada.
Beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya Mbok Yah tiba di rumah Tante Aulia. Karena belum terlalu paham keadaan kota sebelah, dia pun butuh waktu yang lebih lama dari waktu yang Aulia butuhkan. Berangkat pagi-pagi lagi, sampainya hampir sore. Tapi, si Mbok masih penuh semangat karena berharap, apa yang ia lakukan kali ini berhasil.
"Ya Tuhan, tolonglah saya." Mbok Yah bicara sambil memandang rumah mewah yang ada di hadapannya. "Jangan buat usaha saya sia-sia. Buatlah Non Aulia ada di sini. Dan yang paling penting, biarkan ia bersedia ikut saya pulang ke rumah Den Zihan kembali. Kasihan Den Zihan, Tuhan."
Ketika bel ia bunyikan, suara yang ia harapkan langsung terdengar dari dalam rumah itu. Harapan Mbok Yah semakin membesar meskipun ia tidak tahu apakah keberuntungan akan berpihak padanya atau tidak.
Pintu terbuka, wajah yang ia harapkan pun langsung terlihat dengan jelas. Tapi sepertinya, wajah itu sedang sangat kaget ketika melihat si Mbok yang ada di depannya. Orang yang sama sekali tak pernah ia pikirkan kedatangannya.
"Mbok Yah!"
"Non Aulia. Syukurlah, Non ada di sini. Mbok sangat khawatir akan keadaan Non Aulia, Non."
"Mbok, kenapa bisa sampai ke sini? Dari mana Mbok tahu aku ada di sini?" Dengan wajah yang masih kaget, Aulia terus menghujani si Mbok dengan banyak pertanyaan tanpa mengajak si Mbok masuk terlebih dahulu.
Namun, belum sempat Mbok Yah menjawab apa yang Aulia tanyakan, seseorang tiba-tiba datang dari belakang Aulia. Orang itupun langsung mengalihkan perhatian keduanya.
"Siapa, Li?"
"Tante."
"Siapa sih? Kok gak diajak masuk, Aulia?"
"Eh, iy— iya. Maafkan aku, Mbok. Karena terlalu kaget dengan kedatangan Mbok, aku jadi lupa mempersilahkan Mbok masuk terlebih dahulu."
"Gak papa, Non. Mbok maklum."
"Ah, iya. Ayo masuk, Mbok!"
"Mm ... Tante, ini Mbok Yah. Orang yang sudah merawat ... Kak Zihan sejak kecil." Aulia agak keberatan menyebutkan nama Zihan barusan. Rasa itu terlihat dengan sangat jelas.
Tante yang tahu akan apa yang Aulia rasakan, langsung mengalihkan pembicaraan mereka dengan cepat. Dia mengajak Mbok Yah masuk dengan ramah. Lalu, mengobrol dengan hangat bersama Mbok Yah.
Beberapa saat mengobrol, akhirnya si Mbok langsung menyinggung soal keadaan Zihan saat ini. "Non Aulia, bisakah Non Aulia pulang sebentar? Keadaan Den Zihan sedang sangat memprihatinkan saat ini. Dia .... "
"Tapi, Mbok. Aku .... "
"Aulia, dengarkan dulu apa yang ingin Mbok Yah katakan. Jangan potong ucapan orang yang lebih tua, Nak. Tidak baik."
"Iya, Tante. Maaf, aku hanya belum siap untuk pulang."
"Tapi keadaan Den Zihan sangat buruk sekarang, Non. Sangat-sangat mengkhawatirkan."
Baru juga si Mbok mau menceritakan perihal keadaan Zihan, ponsel si Mbok pun langsung berdering yang menandakan kalau ada panggilan yang masuk. Dengan sopan, si Mbok meminta izin menunda pembicaraan.
Saat ia melihat layar ponselnya, di sana tertera nama sang suami. Dengan cepat si Mbok menjawab panggilan itu.
"Ya, Pak. Ada apa? Aku udah tiba di rumah tantenya Non Aulia nih. Maaf belum sempat ngasih tahu kalau aku sudah .... "
"Buk! Den Zihan masuk rumah sakit sekarang. Kondisinya sangat tidak baik-baik saja."
"Apa!?" Seketika, wajah panik langsung terukir di wajah Mbok Yah yang awalnya sedikit bahagia karena telah diterima dengan baik di rumah tantenya Aulia. Lalu, panggilan itu berakhir dengan wajah sedih dan panik yang masih terlihat sangat jelas.
Tentu saja Aulia dan tantenya ikut merasakan apa yang Mbok Yah rasakan. Tapi, mereka masih belum tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Apa yang terjadi, Mbok?" Aulia berucap cepat.
Bukannya menjawab, si Mbok malah memegang tangan Aulia dengan erat. Dengan air mata yang mengalir perlahan, si Mbok menatap Aulia penuh harap. Tatapan yang membuat Aulia dan tantenya semakin merasa kebingungan lagi.
"Mbok mohon, Non. Pulanglah ke rumah bersama Mbok. Den Zihan sedang tidak baik-baik saja sekarang. Keadaan Den Zihan semakin memprihatinkan. Kesehatannya semakin memburuk. Dan saat ini, dia sedang berada di rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang drop seketika."
"Ap— apa?" Aulia cukup kaget akan apa yang baru saja Mbok Yah katakan.
"Iya. Non tahu, bukan? Den Zihan bertahan hidup karena obat-obatan yang ia konsumsi. Tapi setelah Non Aulia pergi, Den Zihan tidak mau menelan satu pun obat, Non. Bahkan, dia yang dilarang kena angin malam saja tidak ia hiraukan lagi setelah kepergian Non Aulia. Den Zihan malah setiap malam berada di taman hingga larut malam. Karena itu, dia sekarang langsung drop."
"Non, Mbok mohon ... lihatlah keadaan Den Zihan. Dia sangat mengharapkan kedatangan Non Aulia kembali. Jangan siksa dia, Non. Meskipun dia punya salah yang besar sama Non Aulia, tapi tolong, jangan hukum dia seperti ini. Ini lebih buruk dari saat dia tahu kalau dia tidak bisa berjalan lagi dengan kakinya. Dia sangat tidak sanggup hidup tanpa Non Aulia."