Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWA DI TENGAH HARI
Siang berikutnya, Bandung sudah rapi. Kali ini dia mengenakan kaus berkerah. Walaupun masih tampak kusut, setidaknya kali ini dia tidak memakai sandal jepit. Sepatu kasual sudah membungkus kakinya, sementara kacamata hitam tetap nangkring di kepalanya.
Dia bersiul-siul sambil memutar-mutarkan kunci mobil di telunjuknya. Kemudian dia segera naik ke mobil dan menginjak pedal gas.
Ferrari merah itu pun melesat, meraung-raung di jalanan, sebelum akhirnya kembali menepi di depan tukang es krim.
Ibu-ibu yang sedang berkerumun dari kejauhan mendengar suara mobil Bandung. Mereka saling berbisik.
“Itu kayaknya suara mobil ayahnya Oreo, tuh.”
Salah seorang ibu langsung menghampiri tukang es krim.
“Bang, hari ini kira-kira kita dapat jatah es krim lagi nggak?”
“Wah, si Mpok ini. Jangan tanya ke gue. Kan juragannya bukan gue.”
“Ya, tapi lu juga mau, kan, kalau ada traktiran lagi?”
“Si Mpok tahu aja. Itu yang gue tunggu-tunggu.”
Setelah mematikan mesin, Bandung turun dan melangkah santai. Dia menghampiri tukang es krim sambil melambaikan tangan kepada ibu-ibu yang sedang berkerumun.
“Bang, biasa, ya?”
Beberapa ibu langsung mendekati Bandung. Mereka menggoda Bandung yang duduk santai di atas bangku plastik.
“Hari ini ada traktiran lagi nggak, Bang?”
“Harusnya sih ada, Mpok. Tapi gajiannya belum kelihatan.”
“ah sih abang bisa aja. Kemarin perasaan yang bayarin si Oreo, deh.”
“Ya masa gue mau malak Oreo mulu, mPok?”
Tak berapa lama kemudian, bel sekolah pun berbunyi. Tampak anak-anak berhamburan keluar dari gerbang sekolah.
Dari kejauhan, Bandung melihat Oreo berjalan bersama seorang wanita. Bandung tampak tersenyum melihat mereka.
Wanita itu sudah sangat dia kenal.
Luna berjalan di belakang Oreo sambil menenteng tas di pundaknya. Ketika melihat Bandung berdiri di depan tukang es krim, Luna tampak ragu-ragu. Dia sempat menghentikan langkahnya.
Namun, Oreo menoleh dan segera memanggilnya.
“Bu Guru, ayo! Katanya minta traktiran es krim!”
“Eh, tapi itu... anu... kayaknya nggak jadi aja deh, Oreo.”
“Kok nggak jadi? Kenapa sih, Bu?”
“Pasti gara-gara duda kusut itu, ya?”
“Eh, bukan... bukan kok.”
Bandung yang melihat Luna berdiri di seberang jalan segera menghampirinya.
Namun, sesampainya di hadapan Luna, hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya.
“Hai...”
Luna tertunduk malu-malu. Dia mengangkat tangan kanannya dengan ragu.
“Hai...”
Setelah itu, mereka kembali terdiam.
Bandung menoleh ke kanan dan ke kiri. Sesekali dia mendongak ke langit, lalu menggaruk kepalanya. Tangannya kemudian berpindah menggaruk-garuk kumis tipis di atas bibirnya.
Luna menyatukan jemarinya di depan paha. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak kecil ke kanan dan ke kiri. Dia berusaha menahan senyum, tetapi tetap saja sudut bibirnya terangkat.
Oreo yang melihat keduanya hanya berdiri tanpa berbicara mulai merasa gemas.
“Es krim... es krim... es krim... es krim!”
Oreo meneriakkan kata-kata itu sambil mengelilingi keduanya.
Bandung dan Luna sama-sama tersenyum.
Namun, setelah itu mereka kembali terdiam.
Bandung mencoba membuka suara.
“Lo udah pulang?”
Luna mengangguk sebentar, kemudian kembali menundukkan wajahnya.
“Iya...”
Hanya dua kata itulah yang keluar dari mulut mereka. Setelah itu, mereka kembali terdiam.
Gelagat mereka pun tak lepas dari pengawasan ibu-ibu yang sedang berkerumun. Kicauan mereka segera terdengar.
“Bu Luna! Awas ada kontainer!”
Luna spontan meloncat ke trotoar.
Bandung pun segera melompat membelakangi Luna dan merentangkan tangannya seolah-olah ingin melindunginya.
Tawa ibu-ibu pun langsung pecah dan membuat suasana menjadi ramai.
Oreo yang melihat ekspresi keduanya segera tertawa sambil memegangi perut.
“Oalah... ternyata kontainer yang bisa menyatukan kalian!”
Luna kembali menundukkan wajahnya, sementara Bandung segera memakai kacamatanya.
“Bukan kontainer, tapi panasnya nggak ketulungan.”
Setelah itu, Bandung mengajak Luna ke tukang es krim.
“Luna, makan es krim, yuk.”
“Apa?”
“Lo mau es krim?”
Luna melirik ke arah ibu-ibu yang sedang berkerumun. Dia masih ragu untuk menjawab pertanyaan Bandung.
“Boleh, deh.”
Oreo pun tersenyum. Kemudian dia berlari menghampiri tukang es krim.
“Mang, pinjam bangku plastiknya, ya.”
“Sok atuh, Jang.”
Sesampainya Bandung dan Luna di tukang es krim, ibu-ibu kembali ramai membumbui mereka.
“Wah, ternyata ini bos pemilik Ferrarinya, ya?”
Ibu-ibu yang lain ikut menambahkan.
“Oh, jadi bos ayahnya Oreo adalah Bu Luna?”
Gosip hangat pun semakin berkembang.
“Bu Luna, ayahnya Oreo ini royal banget, loh. Kemarin kita ditraktir es krim sama ketoprak dan siomay.”
Luna mendengar celotehan ibu-ibu itu. Dia tidak merasa heran, tetapi entah kenapa tiba-tiba ada kehangatan yang muncul di dalam hatinya.
Kali ini Oreo mencoba mencairkan suasana.
“Ibu-ibu yang mau es krim, yang mau ketoprak, yang mau siomay, segera pesan! Tapi wajib dibungkus dan segera pulang!”
Mendengar seruan Oreo, ibu-ibu itu langsung bersorak.
“Horeee!”
Mereka pun segera berkerumun memesan makanan.
Salah seorang ibu menyerahkan es krim, siomay, dan ketoprak kepada Luna dan Bandung.
“Bu Luna, ayahnya Oreo, kalian duluan aja, ya. Takut nggak kebagian kayak kemarin.”
Kali ini Luna sudah mulai merasa santai. Dia menerima makanan yang diserahkan ibu itu sambil tersenyum.
“Makasih, ya, Ibu-Ibu.”
“Terima kasihnya sama ayahnya Oreo, Bu Luna. Dia yang jadi juragannya di sini.”
Bandung menunjuk wajahnya sendiri.
“Lho, kok gue? Gue aja minta dibeliin sama Oreo.”
Namun, Oreo berlagak seperti seorang pahlawan bagi ayahnya.
“Tenang, Ayah. Gue nggak bakal biarin Ayah sampai jual harga diri cuma buat beliin es krim untuk Bu Luna.”
“Wah, kata-kata lu keren sekali, Oreo.”
Luna mulai mencoba mengakrabkan dirinya dengan para ibu dan teman-teman Bandung.
Sesaat kemudian, ibu-ibu itu pun berpamitan karena anak-anak mereka satu per satu sudah keluar dari sekolah. Mereka harus segera menjemput anak masing-masing dan meninggalkan Bandung serta Luna.
“Bu, kita pamit dulu, ya. Hati-hati, jangan sampai digigit sama ayahnya Oreo.”
“Wih, mpok lu kira gue ini kucing garong? Main gigit sembarangan.”
Luna tertawa.
Tanpa dia sadari, tawanya begitu lepas dan ceria.
Bandung pun tanpa sadar memperhatikan wajah Luna. Tawa natural perempuan itu membuat Bandung menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya.
“Luna, hari ini lu sibuk nggak?”
“Ada apa, Bandung?”
“Lo mau ikut gue nggak?”
“Ke mana?”
“Ke markas Boril, Deden, dan kawan-kawan.”
Namun, belum sempat Luna mengiyakan, Boril dan Deden melintas mengendarai skateboard mereka.
Melihat Bandung, Luna, dan Oreo, mereka segera menghampiri.
Boril membuka percakapan.
“Halo, kakak ipar.”
“Halo, Bang Bandung. Hari ini jadi ke basecamp, nggak?”
“Iya. Nanti gue bawain guru baru buat kalian.”
Boril dan Deden langsung menatap ke arah Luna.
Luna yang tidak mengetahui rencana Bandung menunjuk wajahnya sendiri.
“Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu?”
“Kakak ipar yakin mau ngajar kita baca tulis?”
Luna menoleh ke arah Bandung. Tatapannya seolah ingin bertanya tentang rencana yang sudah dibuat Bandung.
Namun, Bandung segera menganggukkan kepalanya.
“Boleh. Gue coba dulu, ya.”
Boril dan Deden pun melakukan tos.
Setelah membayar makanan, Luna dan Bandung segera naik ke Ferrari, sementara Oreo berjalan meninggalkan mereka.
Luna memanggil Oreo.
“Lo mau ke mana, Oreo?”
Namun, Jessica keburu menjemput Oreo menggunakan sepeda motor.
Mereka melambaikan tangan dan segera berbalik meninggalkan Bandung dan Luna.
Matahari pun semakin tinggi di atas kepala mereka, membuat siang terasa semakin terik. Namun, entah kenapa, suasana hari itu justru terasa sejuk.