'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Keluarga Nelson
...~•Happy Reading•~...
Hati Nelson lega melihat reaksi penyambutan Tine padanya. Sinyal persaudaraan terasa menembus udara pagi yang dingin. Nelson jadi santai dan lepas berinteraksi dengan Tine yang tetap menganggapnya kakak.
"Coba lihat kelakuanmu pagi-pagi. Berani mengomel orang."
"Tadi kaget diteriaki Kakek, Kak. Karna gak berani marahi Kakek, ya, orangnya saja dimarahi. Untung Kak Nel bukan orang." Tine berkata sambil mengangkat 2 jari menyimpang di depan dada.
"Oh, jadi aku apa, kalau bukan orang?"
"Kak Nel, kan, kakakku yang ..." Tine tidak meneruskan, tapi tersenyum senang.
"Anak perempuan bangun siang, rejeki bisa dipatok ayam jago." Nelson bersikap galak. Kakek Samy jadi lega dan senang melihat kedua cucu tertuanya bisa akur, bercanda akrab dan hangat, rumahnya jadi ramai.
"Astegaaa... Mengapa kalau lagi ngomel, tampan kakak ngalahin sinar pagi? Bikin silauuu..." Teriak Tine girang dan hendak berlari, tapi tersandung dan hampir jatuh.
"Tuh, tuh, lihat. Makanya, kalau lagi loading, tunggu sampai 100 %, baru lari. Nanti wajah cantikmu dicium tanah basah, ilermu berwarna coklat." Nelson jadi meledek adik sepupuh yang menerimanya dengan baik.
"Aku cantik, Kak? Makasiiii...." Tine berlagak seperti seorang putri. "Padahal tadi aku mau bergaya dan peluk Kak Nel, malah hampir terjun dengan muka ke..." Tine tidak melanjutkan, tapi jadi tersenyum malu.
"Ikat rambutmu. Jangan sampai rambutmu ikut menyambutku di dalam teh." Nelson kembali meledek Tine yang coba merapikan rambut dari wajahnya.
"Tunggu ya, Kak. Tungguuu... Ikatan rambutku ketinggalan di mimpi. " Tine mengangkat tangan dengan riang dan semangat. "Kakek juga, ya. Aku bikinkan sarapan yang biasa." Kakek Samy hanya menggeleng senang melihat cucu-cucunya.
"Gak usah bikin sarapan buat Kakek, Tine. Minuman saja. Aku bawa sarapan." Teriak Nelson yang melihat Tine berlari masuk. Tine mengangkat jari sebagai tanda OK, tanpa menengok.
Nelson mengeluarkan nasi goreng buatan Mamanya, lalu letakan di atas Zebo. "Buat kau saja." Kakek Samy menolak sarapan bersama. Kedatangan Nelson yang tiba-tiba sudah membuatnya kenyang.
"Aku cuma sarapan sedikit buat syarat, Kek. Mau tinggal tempat buat durian." Nelson menepuk pinggiran perut, seakan mengecek tempat kosong. Kemudian dia mengeluarkan peralatan makan yang dibawa dan letakan di atas wadah berisi sarapan.
"Jadi sekarang Tine sudah tinggal sama Kakek?" Bisik Nelson.
"Iya. Dia mau tinggal di sini temani Kakek."
"Baguslah. Jadi Kakek gak sendiri. Papa Mama akan senang dengar ini." Nelson berkata dengan riang, sebab Papanya kadang memikirkan kondisi Kakeknya yang sendiri, setelah ditinggal Nenek. Dia sering mendengar pembicaraan orang tuanya sambil menonton. 'Apa Kakek diurus dengan baik oleh Om Ridho dan istrinya.'
"Pekerjaan Papamu, bagaimana, Nel?" Tanya Kakek Samy, pelan dan cendrung berbisik.
"Puji Tuhan. Baik, Kek." Nelson menjawab cepat. "Tapi di mana duriannya, Kek? Apa gak ada yang jatuh hari ini?" Nelson bertanya untuk menghindari percakapan tentang Papanya. Dia tidak mau membangkitkan rasa kangen Kakek Samy yang pekat pada Papanya.
"Sebentar lagi dibawa Om dan Tantemu. Itu mereka sudah datang." Kakek Samy menunjuk ke arah dua orang yang berjalan dari arah hutan.
"Waaah. Banyak banget, Kek. Aku boleh minta sama Om atau beli, Kek?" Nelson merasa tidak enak pada Omnya, kalau makan gratis.
"Hari ini giliran punya Kakek, jadi kau bisa makan sepuasnya. Tadi Kakek cuma bantu kumpul, mereka yang bawa pulang." Kakek Samy menjelaskan. "Nanti Kakek pilih buah yang paling enak buatmu."
"Emang rejeki itu gak ke mana, kalau sudah jadi milik. T'rima kasih, Kek." Nelson memeluk lengan kakeknya.
"Kakek lagi kotor. Nanti kau gatal." Kakek Samy melepaskan tangan Nelson, agar Omnya tidak berpikir negatif atas kedatangannya yang tiba-tiba. Trauma masa lalu tentang pertengkaran kedua anaknya masih membekas di hati Kakek Samy.
Om Ridho dan istrinya terkejut melihat Nelson sedang berbicara akrab dengan Kakek Samy. "Nelson, kau datang makan durian?" Tanya Pak Ridho langsung, tanpa menyapa lebih dulu. Karena mereka tidak menyangka Nelson datang sepagi itu ke gunung.
Tapi saat meletakan dua ikatan durian di tanah, mereka melihat motor yang diparkir dekat tempat penampungan kayu. Berbagai pertanyaan muncul di benak istri Pak Ridho yang meletakan durian tanpa menyapa Nelson. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa curiga atas kedatangan Nelson yang tiba-tiba dan mengira Pak Esra bersamanya.
Nelson menyadari gelagat dan sikap kurang menyenangkan Om Tantenya, tapi dia tidak memasukan ke hati. "Pagi Om, Tante. Nel gak tahu lagi musim durian. Ini datang mohon dukungan doa Kakek, mau ujian skripsi." Nelson menjaga sikap sebagaimana yang dipesan Papanya.
"Loh, tadi tidak bilang buat Kakek kalau mau ujian." Kakeknya protes, tapi hatinya senang mendengar prestasi cucu tertuanya.
"Aku belum sempat bilang karna Tine sudah ngagetin dengan rambutnya, Kek." Nelson coba bercanda, untuk mencairkan suasana yang mulai membeku.
Bu Ridho jadi menatap Nelson. "Ada apa dengan rambut Tine?" Tanyanya serius dan ketus, membuat Nelson tidak enak dan jadi serba salah.
"Gak, Tante. Cuma bercanda." Ucap Nelson sambil mencari kata yang cocok untuk kondisi itu, tapi tidak ditemukan. "Semoga dia sudah temukan ikatannya. Tadi katanya, ketinggalan di mimpi." Nelson bersikap sopan dan coba bercanda lagi. Tapi wajah Bu Ridho tidak berubah, ketus dan kaku.
"Ayo, mari minum. Ini aku sudah bikin minuman buat semua." Tine membawa teko dan gelas di nampan.
"Kau baru bangun, Tine?" Mama Tine bertanya saat melihat rambut Tine belum disisir dan diikat begitu saja dengan rambut. Dia jadi mengerti maksud Nelson tentang rambut Tine. Hal itu membangkitkan emosinya yang sudah gatal, minta digaruk dengan mengomel.
Tine tidak menjawab Mamanya, karena sudah tahu akan ada gelombang pertanyaan lain yang menyusul. Jadi dia langsung menuang teh ke gelas yang dibawa. "Kak Nel, minum dulu. Abis dag dig dug naik dengan motor ke sini." Tine menyebut nama Nelson, agar Mamanya bisa menahan hati untuk memarahinya.
"Tenangkan dengan yang manis ini, semanis yang bikin." Tine melanjutkan lagi.
Namun justru emosi Mamanya naik level. "Pasti kau abis begadang." Tuduh Mamanya.
"Kakek ijin dia pergi pacaran?" Mama Tine jadi menuduh Kakek Samy dan melototi Tine yang baru selesai menuang teh.
"Mama apa sih, curigaan mulu. Emang begadang cuma karna pacaran?" Tine jadi membalas Mamanya, tanpa melihat Nelson.
Tine jadi kesal dan emosi melihat sikap Mamanya yang tidak menganggap Nelson. Padahal Nelson baru datang, setelah menghilang sangat lama. Dia berharap dengan datangnya Nelson adanya rekonsiliasi keluarga terjadi.
Nelson tetap diam melihat sikap Mama Tine yang berani terhadap Kakek Samy. Dia jadi mengerti mengapa Papanya mengingatkan dia untuk tidak memasukan ke hati kata-kata yang tidak menyenangkan dari Om dan Tantenya.
Jika ke Mertua saja berani memarahi, apa lagi dia hanya ponakan, anak dari orang yang dibenci dan tidak diharapkan kedatangannya ke tempat itu. Nelson jadi pasang kuda-kuda hadapi Mama Tine.
...~•••~...
...~•○♡○•~...