Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Seumur Hidup, Aku Tidak Akan Pernah Lembur
“Aku tidak akan pernah lembur!”
Tatapan Adrian berubah.
Dia tidak lagi berusaha menghindar. Saat rentetan tembakan berhenti sesaat, Adrian tiba-tiba bangkit dari balik tempat perlindungannya.
Tanpa sedikit pun melirik pria bertubuh raksasa itu, Adrian langsung melemparkan AK-47 yang sudah kehabisan peluru di tangannya seperti sebuah tombak. Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, senjata itu melesat lurus ke arah wajah sang raksasa.
“Grrh?”
Pria itu jelas tidak menyangka Adrian akan melakukan serangan dengan cara seperti itu.
Melihat AK-47 tua yang berputar cepat di udara, dia secara refleks memiringkan kepalanya.
Dan pada saat itulah, rentetan tembakan senapan mesin beratnya terhenti selama sepersekian detik.
Sekarang!
Tepat ketika pria itu memiringkan kepalanya untuk menghindari senjata yang melayang, Adrian bergerak.
Tubuhnya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busur, meluncur rendah di atas tanah.
Sandal jepitnya bergesekan dengan pasir hingga menimbulkan percikan kecil. Dalam sekejap, Adrian sudah menerobos ke bawah kaki pria raksasa itu dengan kecepatan yang sulit dipercaya.
Tubuh besar pria tersebut menutupi cahaya bulan dan melemparkan bayangan raksasa tepat di atas kepala Adrian.
Adrian bahkan tidak membuang waktu untuk melihat wajahnya.
Tangan kanannya bergerak secepat kilat, menarik pistol Glock 17 yang sebelumnya dia rampas dari salah satu anggota Black Mamba.
Tubuh Adrian meluncur melewati sela kedua kaki pria itu.
Moncong pistol terangkat dengan mantap dan langsung menempel di bawah dagu sang raksasa.
“Uang lembur, bayar dengan nyawamu saja.”
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan terdengar berturut-turut.
Senyum kejam di wajah pria raksasa itu seketika membeku.
Kepalanya terhentak ke belakang akibat hantaman peluru. Tubuhnya yang sebesar gunung itu kemudian kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam pasir dengan suara berat.
Brak!
Debu beterbangan ke segala arah.
Dunia mendadak sunyi.
Adrian perlahan bangkit dan menepuk-nepuk pasir yang menempel di tubuhnya.
Dia kemudian berjalan menuju jasad yang masih sedikit bergerak itu, membungkuk, lalu dengan mudah mengangkat senapan mesin berat enam laras yang begitu besar tersebut.
Kekuatan yang diberikan Serum Super Dasar membuat benda seberat itu terasa seperti mainan besar di tangannya.
Adrian dengan terampil mengangkat sabuk amunisi yang menjuntai di tanah, melemparkannya ke bahu, lalu mengaitkannya.
Dia berbalik.
Tatapan dinginnya menyapu para anggota Black Mamba yang mulai bermunculan dari balik tempat perlindungan. Wajah mereka dipenuhi ketakutan.
“Sekarang waktunya mengantar kalian ke alam baka secara langsung.”
Setelah mengucapkan itu, Adrian tidak lagi ragu.
Dia membawa senapan mesin enam laras tersebut dan berjalan lebar menuju bangunan gudang dua lantai yang berada di bagian paling dalam kompleks.
Di sanalah pusat komando sekaligus gudang persenjataan Black Mamba berada.
Dan di sanalah pula dia akan melakukan absensi terakhir sebelum pulang kerja.
Brak!
Adrian tidak repot-repot menggunakan pintu.
Dia langsung menendang pintu besi tebal gudang itu hingga roboh ke dalam, menghasilkan suara dentuman yang mengguncang seluruh bangunan.
Pemandangan di balik pintu membuat langkah Adrian terhenti sejenak.
Di dalamnya berdiri setidaknya empat puluh hingga lima puluh anggota Black Mamba yang lengkap bersenjata.
Mereka tampaknya sedang mengadakan semacam pertemuan. Namun sekarang, seluruh perhatian mereka tertuju pada sosok di pintu masuk.
Seorang pemuda yang mengenakan celana pendek dan sandal jepit.
Sambil membawa senapan mesin enam laras yang seharusnya membutuhkan kendaraan untuk menopangnya.
Hening singkat.
Kemudian—
Klik! Klik! Klik!
Puluhan senjata langsung diarahkan kepada Adrian.
Empat puluh hingga lima puluh anggota Black Mamba yang tadi terlihat terkejut, seketika berubah menjadi buas.
“Tembak dia!”
Seorang pria yang tampaknya merupakan pemimpin mereka berteriak dalam bahasa Arab.
Klik!
Pengaman puluhan senapan AK dibuka secara bersamaan.
Moncong-moncong senjata itu mengarah kepada sosok Adrian yang berdiri seorang diri di ambang pintu, siap mencabik tubuhnya dalam hitungan detik.
Namun Adrian sama sekali tidak berniat memberi mereka kesempatan.
Menghadapi tembakan sebanyak itu, dia bahkan tidak berkedip.
Senapan mesin enam laras yang beratnya lebih dari lima puluh kilogram itu tetap stabil hanya dengan satu tangannya.
Kekuatan mengerikan dari Serum Super Dasar membuat senjata mematikan tersebut terasa ringan di tangannya.
Adrian menyeringai.
Dia memperlihatkan deretan giginya yang putih, kemudian bergumam pelan, cukup untuk didengar dirinya sendiri.
“Semoga Dewa Gatling memberkatiku. Enam laras, enam jalan menuju ketenangan…”
Detik berikutnya—
Adrian menarik pelatuk.
BRRRRRRRR—!!
Gudang itu seolah berhenti bergerak.
Tidak ada lagi teriakan.
Tidak ada makian.
Tidak ada suara lain yang terdengar jelas.
Yang tersisa hanyalah raungan logam yang menggelegar, seperti suara neraka yang sedang mengaum dan menelan seluruh ruangan.
Enam laras berputar liar digerakkan oleh motor, sementara kilatan api dari moncong senjata menerangi gudang yang berubah menjadi lautan kekacauan.
Peluru-peluru yang melesat tidak lagi terasa seperti sekadar tembakan.
Itu adalah badai baja yang tidak mungkin dihentikan.
Beberapa anggota Black Mamba yang berdiri di barisan depan bahkan tidak sempat bereaksi sebelum tubuh mereka dihantam rentetan peluru.
Mereka terlempar ke belakang satu demi satu.
Dinding logam gudang dihujani bekas tembakan, sementara selongsong peluru berjatuhan dan berserakan di lantai.
Ekspresi Adrian sama sekali tidak berubah.
Lengannya tetap stabil seperti mesin presisi.
Dia mengarahkan senapan mesin itu dari kiri ke kanan dengan gerakan perlahan dan merata.
Tidak ada emosi di matanya.
Seolah-olah dia bukan sedang menghabisi musuh, melainkan sedang melakukan pekerjaan membosankan yang sudah diulang ribuan kali.
“AAAAHHH!”
Akhirnya, anggota Black Mamba yang berada di barisan belakang mulai tersadar dari keterkejutan.
Mereka panik.
Sebagian menjatuhkan senjata dan berusaha melarikan diri.
Namun gudang sempit itu tidak memberi mereka ruang untuk kabur.
Rentetan peluru mengejar mereka dari belakang.
Satu demi satu tubuh mereka jatuh ke lantai.
Kehidupan manusia tampak begitu murah di hadapan kekuatan yang begitu brutal.
Kurang dari satu menit kemudian—
“Wuuung…”
Putaran senapan mesin perlahan melambat.
Kemudian berhenti sepenuhnya.
Raungan yang sebelumnya memenuhi gudang mendadak lenyap.
Kesunyian kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini, kesunyian itu terasa jauh lebih mencekam.
Tidak ada seorang pun yang masih mampu berdiri.
Adrian menjatuhkan senapan mesin enam laras yang larasnya sudah memerah karena panas.
Bruk.
Senjata berat itu menghantam lantai.
Adrian kemudian menepuk debu yang menempel di kausnya dengan santai, seolah-olah baru saja selesai melakukan olahraga pagi.
Setelah itu, dia mengambil ponsel tiruan buatan dalam negeri dari saku celana pendeknya.
Layar menyala.
Cahaya biru redup menerangi wajah mudanya.
Waktu yang tertera di layar menunjukkan:
23:55.
Adrian mengangguk puas.
“Bagus. Beres sebelum tengah malam.”
Dia menyimpan kembali ponselnya.
“Lembur? Tidak mungkin.”
“Seumur hidup, aku tidak akan pernah lembur.”
Adrian bersenandung kecil sambil melangkah pergi.
Sandal jepitnya menginjak lantai gudang yang berantakan, menimbulkan suara langkah yang pelan.
Dia melewati berbagai jasad yang berserakan dan terus berjalan menuju bagian terdalam gudang.
“Selanjutnya…”
Senyum muncul di wajah Adrian.
“Waktunya menghitung hasil rampasan.”