Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Menghabiskan Waktu Bersama
Setelah berpamitan kepada semuanya, mobil yang ditumpangi keluarga kecil itu kembali melaju meninggalkan sekolah tersebut. Niatnya, malam ini mereka akan langsung berjalan-jalan untuk merayakan kemenangan Jun-seok.
Itulah sebabnya mereka memilih pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Setelah semuanya selesai, mereka kembali berangkat. Tujuan pertama mereka adalah sebuah restoran karena sejak siang mereka belum sempat makan. Sore itu, mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran terkenal di daerah Nonhyeon-dong, Gangnam-gu.
“Daddy, setelah makan kita langsung lihat akuarium besar itu, ya?” tanya Jun-seok kepada Junho yang fokus menyetir.
Nala yang duduk di sampingnya hanya diam dengan kedua tangan yang terkepal ringan di atas pangkuan, sementara pandangannya lurus ke depan. Sejak tadi ia memang lebih banyak diam karena Junho pun masih mendiamkannya.
Tidak ada pertengkaran maupun percakapan yang perlu ditahan karena jarak yang terasa begitu nyata di antara mereka, meskipun duduk berdampingan dalam ruang yang sama.
Mereka sama-sama berusaha terlihat baik-baik saja di depan Jun-seok.
“Iya, sayang. Tapi kita perlu makan dulu,” ucap Junho tenang.
“Yeay!” Jun-seok langsung berjingkrak kecil di kursi belakang. Tubuhnya bergerak antusias, membuat piala yang tadi diletakkan di sampingnya hampir bergeser.
Mobil itu melaju mulus membelah jalanan Gangnam yang mulai diselimuti cahaya senja. Gedung-gedung tinggi memantulkan rona keemasan, sementara lalu lintas bergerak teratur, seolah kota itu telah lama menghafal iramanya sendiri.
Junho menyetir dengan tenang satu tangannya mantap di kemudi, sementara tangan yang lain sesekali bergerak kecil mengikuti alunan musik instrumental yang mengalun pelan di dalam kabin.
Di kursi sampingnya, Nala tetap diam sesekali ia melirik ke luar jendela, membiarkan pemandangan kota yang bergerak perlahan mengisi pandangannya. Pantulan wajahnya samar terlihat pada kaca, tetapi ekspresinya tetap sulit dibaca.
“Daddy tahu kalau aku tadi sebenarnya bisa menang lebih cepat,” suara Jun-seok terdengar antusias dari kursi belakang. Junho tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Mm? Tapi kamu memilih cara yang lebih adil,” jawab Junho.
Jun-seok mengangguk kuat.
“Iya. Karena menang cepat, tetapi curang itu tidak keren. Kan, Mommy?” tanyanya membuat Nala menoleh sedikit ke belakang, lalu tersenyum lembut.
“Dan itu keputusan yang bagus,” ucapnya pelan.
Jun-seok langsung membusungkan dada.
“Kan, Daddy? Mommy juga bilang aku benar,” katanya, membuat Junho tertawa kecil.
“Sepertinya hari ini kamu mendapat banyak pembenaran,” ujar Junho sambil terkekeh pelan.
“Aku memang pantas,” jawab Jun-seok ringan, lalu tertawa sendiri.
Nala kembali menatap ke depan, seharian itu dia hanya mendengarkan dan selalu mendengarkan. Terkadang mengangguk pada saat yang tepat, tersenyum setiap kali Jun-seok menoleh kepadanya, dan menimpali seperlunya. Ia berusaha membuat perjalanan itu terasa seperti sore biasa bagi putranya.
Namun, di balik sikapnya yang tenang, tubuhnya terasa berat seolah-olah setiap lampu merah menjadi jeda yang terlalu panjang, sementara setiap tarikan napas mengingatkannya bahwa ia telah menghabiskan terlalu banyak tenaga hari ini; bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.
Restoran itu berdiri megah di sudut Nonhyeon-dong. Bangunannya didominasi lapisan kaca dengan interior futuristik yang bersih dan elegan. Begitu mereka turun dari mobil, seorang pelayan segera menyambut dengan senyum profesional.
“Selamat datang. Silakan ikut saya.”
Mereka kemudian duduk di sebuah meja dekat jendela besar. Kota terhampar di balik kaca, tampak seperti lukisan hidup yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.
Lampu kendaraan mulai menyala satu per satu ketika langit perlahan kehilangan warna senjanya dan Jun-seok nyaris tidak berhenti bicara.
“Daddy, aku mau yang sama seperti tadi siang, tetapi porsinya lebih besar,” pintanya.
Junho mengangkat alis.
“Kamu yakin bisa menghabiskannya?” tanyanya dengan senyum menggoda.
“Pasti,” jawab Jun-seok cepat, bahkan tanpa berpikir.
Nala tersenyum kecil melihat keyakinan putranya.
“Pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru,” ucapnya lembut.
Jun-seok mengangguk, meskipun begitu hidangan datang, ia tetap makan dengan lahap. Matanya berbinar setiap kali pelayan meletakkan piring baru di atas meja.
Junho memperhatikannya dengan sabar. Ia tertawa ketika Jun-seok bercerita, sesekali menimpali dengan komentar singkat, bahkan tanpa diminta mengambilkan dan memotongkan daging di piring anak itu.
Pemandangan sederhana itu membuat meja mereka terasa hangat, ya... Setidaknya bagi Jun-seok, sementara Nala hanya memperhatikan keduanya dalam diam, menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan di antara suara sendok, percakapan ringan, dan tawa kecil putranya.
“Daddy, setelah ini kita jadi, ya, pergi ke tempat ikan besar itu?” ujar Jun-seok sambil mengunyah. Ia mengingatkan kedua orang tuanya agar tidak lupa.
“Iya, tetapi ingat, di sana jangan berlari-lari seperti tadi,” jawab Junho tenang.
Jun-seok cemberut sebentar.
“Aku hanya ingin melihat lebih dekat,” katanya, membuat Junho mengangguk. Tatapannya sempat beralih kepada Nala yang sedang menyesap air perlahan.
“Boleh melihat, tetapi jangan berisik,” sahut Nala.
Jun-seok tertawa kecil.
“Mommy selalu tahu,” katanya bangga.
Nala ikut tersenyum, meskipun makanan di piringnya nyaris tidak berkurang. Tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Dia hanya sesekali menyentuh makanan dengan sendok, lalu kembali meletakkannya tanpa benar-benar berselera.
Ia tahu, malam ini bukan tentang dirinya saja, malam ini adalah tentang kemenangan kecil seorang anak dan tentang upaya dua orang dewasa mempertahankan sesuatu yang tampak utuh dari luar.
──☾⋆★⋆☾──
Setelah makan, mereka kembali ke mobil.
Kota kini sepenuhnya dikuasai malam. Lampu-lampu gedung menjulang di antara jalanan yang masih ramai, sementara pantulan cahaya kendaraan berkelebat di kaca mobil. Tujuan berikutnya adalah sebuah kompleks baru yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu ikon Seoul modern—sebuah akuarium generasi terbaru yang terintegrasi dengan pusat hiburan futuristik.
Bangunannya menyerupai kubah raksasa yang terbuat dari baja dan kaca. Panel-panel holografik di permukaannya menampilkan arus laut digital yang bergerak perlahan, seolah-olah gelombang sungguhan mengalir mengitari seluruh bangunan.
Begitu mereka memasuki terowongan transparan, mata Jun-seok langsung membesar.
“Daddy! Mommy! Lihat itu!” Ia berlari kecil beberapa langkah sebelum buru-buru memperlambat langkahnya setelah teringat peringatan Junho.
Di atas kepalanya, kawanan ikan bergerak melewati kaca tebal, tubuh mereka memantulkan cahaya biru yang lembut. Beberapa makhluk laut berukuran besar berenang perlahan di kejauhan, sementara bayangan mereka bergerak di sepanjang dinding terowongan.
Jun-seok mendongak dengan mulut sedikit terbuka.
“Wah... besar sekali!” Ia kemudian menoleh kepada kedua orang tuanya, matanya berbinar penuh kekaguman. “Daddy, yang itu lihat! Yang itu juga!”
Tangannya berpindah dari satu sisi ke sisi lain, tidak tahu harus menunjuk yang mana terlebih dahulu, melihat itu Nala tersenyum tipis saat melihat kegembiraan putranya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan sekolah, rasa berat di dadanya sedikit mengendur karena setidaknya malam ini, Jun-seok bahagia.
“Yang itu namanya apa?” tanyanya cepat.
Junho berhenti sejenak, mengikuti arah telunjuk putranya.
“Itu spesies laut dalam. Mereka hidup tanpa cahaya matahari,” kata Junho sembari memperhatikan ikan anglerfish yang berenang ke sana kemari di balik kaca.
Jun-seok menatapnya dengan kagum.
“Berarti kuat, ya?” tanyanya sambil sedikit mendekat kepada Junho.
“Bukan kuat, tetapi beradaptasi,” jawab Junho pelan.
“Tapi, Daddy, kenapa ikannya terlihat aneh dan menyeramkan?” tanyanya serius. Pandangannya tidak beranjak dari ikan yang memiliki semacam cahaya kecil di kepalanya.
“Karena dia hidup di laut yang gelap. Lampu di kepalanya itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi supaya dia bisa bertahan hidup,” jelas Junho pelan.
“Oh... jadi agar mereka bisa hidup,” balas Jun-seok sembari mengangguk.
“Iya. Kadang, yang kelihatan menyeramkan hanya sedang berusaha hidup,” jawab Junho.
Jun-seok terdiam sesaat matanya masih tertuju kepada ikan di balik kaca. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tetapi beberapa detik kemudian ia mengangguk kecil, seolah-olah baru saja memahami sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar alasan seekor ikan memiliki cahaya di kepalanya.
Nala berjalan sedikit di belakang mereka, setiap kali Jun-seok menoleh untuk memastikan ibunya masih ada, Nala selalu membalas dengan senyum kecil. Ia bahkan sesekali mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Namun, begitu perhatian anak itu kembali kepada ayahnya, senyum di wajah Nala perlahan menghilang. Pantulan cahaya biru dari akuarium jatuh di wajahnya, memperjelas lingkar lelah yang tidak sempat ia sembunyikan. Langkahnya mulai melambat, meskipun ia tetap berusaha mengikutinya.
Ia sangat bahagia saat melihat tawa Jun-seok yang begitu bebas malam itu. Namun, kebahagiaan itu berjalan berdampingan dengan kelelahan yang tidak lagi bisa sepenuhnya ia abaikan.
Sesekali Nala menarik napas dalam, berusaha mengusir rasa berat yang mulai memenuhi tubuhnya. Ia tidak ingin Jun-seok melihatnya kelelahan. Terlebih lagi, malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi putranya.
Saat mereka akhirnya duduk di bangku panjang dekat pintu keluar, Jun-seok bersandar di sisi ayahnya, kepalanya perlahan menyentuh lengan Junho, sementara matanya masih mengikuti cahaya biru yang bergerak di dalam akuarium.
“Daddy… setelah ini toko buku, ya,” gumamnya.
Junho mengusap rambut anak itu dengan gerakan lambat.
“Iya. Kita ke sana.”
Malam kian larut ketika mereka meninggalkan kompleks akuarium. Udara dingin menyusup pelan, menyapu sisa riuh yang tadi memenuhi langkah kecil Jun-seok. Cahaya gedung-gedung tinggi masih menyala terang, namun keramaian telah berubah menjadi kesibukan yang lebih teratur, lebih dewasa.
Jun-seok tertidur sebelum mereka benar-benar sampai ke area parkir. Kepalanya miring ke sisi jendela mobil, napasnya teratur, wajahnya damai dengan sisa antusiasme yang belum sepenuhnya pudar.
Padahal, beberapa menit sebelumnya, anak itu masih bersikeras ingin mampir ke toko buku di lantai bawah. Ia bahkan sempat menunjuk sebuah buku cerita terbaru dengan mata berbinar, seolah rasa kantuk tidak akan pernah mampu mengalahkan keinginannya.
Namun, tubuh kecil itu akhirnya kalah cepat dari kelelahan.
Mereka pun memutuskan untuk segera pulang.
Tak lama kemudian, Junho menghentikan mobil dan mematikan mesin dengan gerakan hati-hati. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan Jun-seok sejenak. Tatapannya melembut tanpa sadar ketika melihat wajah putranya yang tertidur pulas.
Perlahan, ia membuka pintu, lalu menggendong anak itu dengan cekatan, seolah telah menghafal berat tubuh dan ritme napasnya di luar kepala. Jun-seok bergerak sedikit dalam tidurnya, kemudian kembali tenang. Lengannya bahkan secara refleks melingkar lebih erat di leher ayahnya.
Nala turun setelahnya, dia tidak mendekat, tidak pula menawarkan bantuan. Ia hanya berjalan di belakang, menjaga jarak yang aman; cukup dekat untuk memastikan Jun-seok baik-baik saja, tetapi cukup jauh untuk tidak memasuki ruang yang jelas sedang dijaga Junho dengan diamnya.
Langkah Junho mantap, bahunya tegap menopang tubuh anak itu. Sementara Nala melangkah dengan ritme yang lebih pelan, tasnya tergantung rapi di bahu. Pandangannya tertuju pada punggung pria itu dan lengan kecil Jun-seok yang masih melingkar refleks di leher ayahnya.
Pemandangan itu seharusnya terasa biasa namun, entah mengapa, ada sesuatu yang terasa asing bagi Nala. Dulu, berjalan di belakang Junho seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Mereka pernah pulang bersama, berbicara tentang banyak hal, saling bertanya apakah Jun-seok sudah mengantuk, bahkan berebut siapa yang akan menggendong anak itu ketika ia mulai tertidur.
Sekarang, jarak beberapa langkah terasa seperti batas yang tidak tertulis. Tidak ada percakapan di antara mereka hanya suara langkah kaki di lantai parkiran dan desir angin malam yang dingin. Sesekali terdengar suara kendaraan lain yang melintas, tetapi setelah itu kembali sunyi.
Nala menundukkan pandangan sejenak, dia tahu diamnya Junho bukan sekadar kelelahan. Ia mengenali jeda itu—jeda yang biasanya muncul ketika sesuatu belum selesai, ketika emosi masih disimpan rapat dan belum menemukan bentuk untuk diucapkan.
Sesampainya di unit penthouse mereka, Junho langsung menuju kamar Jun-seok. Ia menurunkan tubuh kecil itu ke ranjang dengan kehati-hatian nyaris ritual. Selimut ditarik perlahan, sepatu dilepas, dan lampu kamar diredupkan semuanya dia lakukan tanpa suara, atau sekedar meminta bantuan.
Nala berdiri di ambang pintu menyaksikan semuanya dengan perasaan campur aduk antara hangat karena pemandangan itu, namun juga perih karena posisinya yang seolah hanya penonton dari sesuatu yang seharusnya ia miliki bersama.
Junho keluar dari kamar tanpa menoleh langkahnya melewati Nala begitu saja. Tidak ada teguran, maupun sindiran dia hanya melangkah dengan keheningan yang lebih tajam dari kata-kata apa pun.
Nala tetap berdiri di sana beberapa detik lebih lama menatap pintu kamar yang kini tertutup. Lalu ia menarik napas dalam, menegakkan bahunya, dan mengikuti langkah pria itu tetap pada jarak yang sama.
Saat masuk ke kamar, Junho langsung menuju kamar mandi. Nala memilih duduk di ujung ranjang, menunduk sejenak sambil mengusap lembut tumitnya yang memar karena tadi siang berjalan cukup jauh dengan heels yang cukup tinggi.
Sebenarnya, kaki Nala juga lecet. Namun, ia menahan rasa sakit itu sejak tadi siang, menyembunyikannya dari semua orang karena tidak ingin luka kecil tersebut menjadi alasan bagi Junho untuk kembali melarangnya.
Tak lama kemudian, Junho keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Rambutnya masih basah, beberapa tetes air jatuh membasahi lehernya. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu berbaring membelakangi Nala.
Nala menoleh sebentar ke arahnya, lalu menghela napas panjang.
Ia memilih pergi ke kamar mandi.
Di sana, di bawah aliran shower yang hangat, mata Nala mulai terasa panas. Rasa perih memenuhi pelupuknya hingga akhirnya bulir-bulir bening itu luruh tanpa mampu ia tahan lagi.
“Oppa selalu seperti itu. Kalau keinginanmu tidak kuturuti, kau akan marah. Aku lelah, harus selalu mengalah, lalu berpura-pura kalau aku tidak apa-apa.”
Tubuhnya perlahan merosot hingga bersandar pada dinding kamar mandi. Kedua tangannya memeluk tubuh sendiri, seolah berusaha menahan sesak yang sejak tadi ia pendam.
Nala menangis di sana, hanya kamar mandi yang selalu menjadi teman bagi dukanya selama belasan tahun pernikahannya. Tempat di mana ia bisa menjatuhkan air mata tanpa perlu khawatir ada yang melihat, tempat ia dapat mengakui rasa lelah yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik senyuman.
Bukan karena Nala tidak bahagia menikah dengan Junho. Ia mencintai pria itu, bahkan setelah belasan tahun berlalu. Namun, sifat Junho yang terkadang terlalu keras dan merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya membuat Nala beberapa kali merasa begitu kecil. Seolah keinginannya tidak pernah benar-benar memiliki ruang ketika berhadapan dengan keputusan pria itu.
Dan malam ini, untuk kesekian kalinya, Nala kembali memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia hanya ingin sekali didengarkan.
Setelah puas meluapkan segala yang selama ini ia pendam, Nala keluar dari kamar mandi. Ia mengambil baju tidur, kemudian menggantinya dengan gerakan yang terasa begitu lelah. Sebelum tidur, ia duduk di tepi ranjang dan mengoleskan salep pada kakinya yang lecet. Rasa perih kembali menyengat ketika salep menyentuh kulit yang terluka, tetapi Nala hanya meringis kecil dan tetap melanjutkannya.
Setelah selesai, ia naik ke atas ranjang. Junho sudah lebih dahulu berbaring di sana, tubuhnya membelakangi Nala.
“Maaf, aku memang salah,” ucap Nala lirih, entah kepada siapa.
Tidak ada jawaban selain dengung AC yang terdengar lembut di antara sunyi yang memenuhi ruangan. Nala memejamkan matanya, rasa lelah mengambil alih kesadarannya lebih cepat daripada yang ia sadari. Tidak butuh waktu lama hingga napasnya berubah teratur, menandakan ia telah terlelap.
Namun, setelah beberapa lama dalam keheningan, Junho perlahan membuka matanya. Sejak tadi, ia memang belum tidur. Ia hanya berpura-pura terlelap.
Junho bangun dengan hati-hati, lalu mengalihkan pandangannya pada kaki Nala yang berada di balik selimut. Salah satu kakinya sedikit terbuka, memperlihatkan bagian jari yang tampak kemerahan.
Junho menatapnya beberapa saat karena entah mengapa, rasa bersalah perlahan muncul di dalam dirinya. Mungkin tadi ia memang terlalu keras kepada Nala. Mungkin caranya menyampaikan kekhawatiran justru membuat istrinya merasa semakin terkekang.
Dengan hati-hati, Junho mengangkat sedikit kaki Nala agar tidak tertekan oleh selimut, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya sampai sebatas pinggang.
“Keras kepala sekali,” gumamnya pelan.
Sudut bibirnya bergerak tipis sebelum ia menundukkan wajah dan mengecup singkat kening istrinya.
Setelah itu, Junho kembali berbaring, dia menarik tubuh Nala perlahan mendekat, lalu memeluknya erat dari belakang. Tangannya melingkar di sekitar pinggang Nala, seolah ingin memastikan istrinya tetap berada dalam pelukannya meskipun malam itu mereka masih menyimpan perasaan masing-masing.
Malam itu, keduanya akhirnya terlelap dengan rasa kesal, sedih, dan kecewa mereka masing-masing.
Dua insan yang tengah berlayar di tengah lautan, berharap suatu hari nanti mereka segera menemukan sebuah pulau untuk berlabuh—tempat mereka dapat beristirahat setelah begitu banyak gelombang menghantam kapal yang mereka bangun bersama.
Namun, untuk sampai ke sana, mereka masih harus belajar bagaimana mempertahankan kapal itu agar tidak karam di tengah perjalanan.