NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Menumpahkan Segalanya

​Dekapan Kareen terasa begitu hangat di tengah dinginnya hujan Bandung yang tak kunjung reda. Hawa dingin malam yang merasuk hingga ke tulang seolah menguap seketika begitu tubuh kami saling bersentuhan. Dalam pelukan itu, pertahananku yang sudah ku bangun bertahun-tahun dengan dinding keangkuhan dan rasa serba sanggup benar-benar hancur tanpa sisa. Air mata yang selama belasan tahun ini ku tahan mati-matian akhirnya menetes, membasahi kain kemeja krem yang dikenakan wanita di hadapanku ini.

​Sambil terisak pelan, kata-kata yang selama ini terkunci rapat di dasar hatiku yang paling gelap meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. Suaraku yang biasanya dingin, tegas, dan penuh kendali kini terdengar serak, bergetar, dan begitu rapuh di dekat telinganya.

​"Semuanya hancur sejak aku umur sepuluh tahun ..." bisikku lirih di antara deru napas yang memburu. "Ayah dan Ibu bercerai. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau peduli pada nasib kami. Tak lama setelah aku mandiri dan sudah bekerja, Ibu sakit-sakitan lalu meninggal dunia ... meninggalkan aku dan Rayan yang masih kecil tanpa peninggalan apa pun."

​Aku merasakan usapan lembut jemari Kareen di punggungku, sebuah gerakan teratur dan penuh kesabaran yang perlahan memberiku ruang untuk terus bernapas dan memuntahkan seluruh sesak yang membelenggu dadaku.

​"Sejak hari itu, aku tahu tidak ada lagi tempat untuk bersandar di dunia ini," lanjut dengan tangis yang makin tak terbendung. "Aku harus tumbuh cepat. Aku terpaksa jadi kakak sekaligus orang tua buat Rayan. Aku kerja apa saja, menahan lapar, jualan apa pun asal kami bisa makan dan bayar kontrakan. Sampai akhirnya aku pindah ke Jakarta, aku berhasil beli motor matic dari hasil peras keringat sendiri. Aku pikir ... akhirnya aku bisa berdikari. Aku pikir akhirnya aku berhasil menata hidup."

​Aku mengepalkan tangan kuat-kuat di balik punggung Kareen, mengingat kembali rasa dingin malam kelam yang paling membekas dan selalu menghantuiku dalam wujud keputusasaan.

​"Tapi dunia sebercanda itu. Belum ada empat bulan, motor itu hilang dicuri di parkiran pabrik tempatku bekerja. Lenyap begitu saja," tangisku pecah lagi, membiarkan pertahananku runtuh total. "Malam itu aku jalan kaki empat kilometer menuju rumah sambil menahan tangis, berpikir kenapa tiap kali aku merasa sedikit saja berhasil, dunia langsung merampasnya kembali tanpa sisa? Kenapa aku tidak pernah diizinkan bahagia sedikit saja?"

​Kareen tidak memotong percakapanku sedikit pun. Ia hanya makin mempererat dekapannya, menyalurkan rasa aman dan kehangatan yang tak pernah kurasakan dari orang lain seumur hidupku. Tidak ada penghakiman dalam keheningannya, hanya penerimaan yang tulus.

​"Di depan Rayan, aku tidak pernah boleh terlihat rapuh," sambung ku dengan suara yang hampir habis dan tenggorokan yang menyempit. "Aku harus selalu kelihatan kuat, selalu punya jawaban, selalu punya uang. Karena kalau aku hancur, Rayan mau bersandar ke siapa lagi? Aku takut setengah mati kalau sampai tidak sanggup menjaga dia."

​Suasana hening sejenak. Hanya terdengar deru hujan deras yang menghantam atap kafe di luar dan desis nafasku yang belum teratur. Kareen mengelus pelan belakang kepalaku, lalu merenggangkan pelukan sedikit untuk menatap mataku yang sembap dan basah oleh air mata.

​"Kamu sudah berjuang luar biasa jauh, Reno," ucap Kareen, suaranya bergetar menahan haru sambil usapannya yang lembut menyapu sisa air mata di pipiku. "Tapi kamu tidak harus terus berpura-pura jadi pahlawan yang tidak bisa terluka. Menjadi rapuh di depan orang yang tepat itu bukan tanda lemah ... itu tanda kalau kamu cuma manusia biasa yang juga butuh istirahat."

​Malam itu, di bawah guyuran hujan kota asing ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku membiarkan dinding tebal dalam diriku runtuh sepenuhnya dan membiarkan lukaku ditenangkan oleh orang lain.

​

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!