NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Auri dan rekan-rekannya sudah kembali ke sekolah. Mereka akan bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Auri. Nampaknya gadis itu sedang tak mood menemui Siti dkk.

"Saya temani pulang?'' Awan menawarkan hal tersebut pada Auri. Mungkin karena ia melihat Auri tadi cukup emosi saat menghadapi orang-orang kaya itu.

"Tidak usah, terimakasih pak Awan'' tolak Auri.

"Sebagai orang yang lebih tua, saya menyarankan biar pak Awan menemani kamu sampai ke rumah.''

Auri menoleh pada rekannya yang sudah cukup berumur itu.

"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Maksud kami baik bu Auri. Emosi bu Auri belum stabil.''

"Saya tidak apa-apa bu Ine, terimakasih untuk perhatian kalian semua'' kata Auri mencoba untuk tersenyum.

Tak ada yang memaksa Auri lagi. Mau tak mau , mereka harus percaya jika Auri memang bisa memanage emosinya.

Awan yang tadi kekeuh ingin menemani pun, tidak lagi memaksa Auri. Lagi pula, ia tak punya alasan untuk itu. Arah rumah mereka berlawanan. Andai kata ia memaksa mengikuti Auri, tentu gadis itu akan curiga.

Satu persatu dari mereka pun bubar. Salah seorang rekan Auri melaporkan kejadian tadi pada kepsek yang memang sudah sepantasnya tahu. Di seberang sana, kepsek juga turut berpikir keras. Ia tak mau di salahkan sepenuhnya karena dirinya lah yang memang menandatangani surat persetujuan tersebut.

Auri mengenakan helm nya dan menaiki motor maticnya. Dengan sekali klakson, ia menyapa rekan lainnya untuk mendahului mereka semua.

.

.

.

"Om mau menginap di hotel?''

Estu tak langsung menjawab pertanyaan Candra. Lelaki itu masih memikirkan putrinya. Sudah belasan tahun, ia baru melihat gadis itu. Wajahnya belum berubah, hanya tampak jadi dewasa saja. Perpaduan wajahnya dan mantan istrinya lah yang membuat Esther terlihat begitu khas.

"Om?''

"Ah...iya, saya akan ke hotel di kota.''

"Eheum, di sini memang tidak ada hotel ya Om. Mungkin setelah proyek ini selesai, barangkali Om mau membuat hotel di sekitar sini? Saya dengar, ada beberapa tempat wisata yang ya...sekitar satu jam dari sini.''

Estu mengangguk pelan. Ia bisa saja membangun hotel meski bersamaan dengan pembangunan perumahan itu. Tapi yang ia pikirkan justru putrinya.

Ia baru tahu jika Esther tinggal di kabupaten ini. Selama bertahun-tahun, ia cukup mentransfer uang pada Aceng untuk biaya hidup juga pendidikan Esther.

Tak lama kemudian, sosok yang tak kalah berpengaruh bergabung dengan mereka. Mahesa tiba di sana yang memang sengaja ingin menemui si bungsu dan rekan bisnisnya.

"Papa? Kok ke sini?'' sapa Candra.

"Kenapa kamu terkejut papa di sini? Kamu melarang papa menginjakkan kaki di proyek papa sendiri?'' tanya Mahesa. Candra berdecak pelan.

"Apa kabar Estu?'' sapa Mahesa.

"Baik, saya baik Sa.''

"Tolong jangan kaget, hubungan antara bapak dan anak ini memang terjalin  buruk selama berkaitan dengan pekerjaan. Jadi jangan heran kalau calon penerus saya ini melebihi balita kekanak-kanakannya'' canda Mahesa.

Jika Estu tersenyum mendengar canda Mahesa, tidak dengan Candra. Wajahnya semakin di tekuk.

Rino datang membawa makan siang untuk bos-bosnya. Untung saja, ia membeli lebih. Dia tak tahu kalau big bos akan datang berkunjung.

Mereka melewati makan siang yang sudah terlanjur sore. Tapi mau bagaimana lagi. Restoran, kafe atau rumah makan cukup jauh dari sana.

"Papa pasti mau menginap di hotel kan? Mana mungkin mau di rumah kecil yang papa kontrakiin buat kami'' celetuk Candra. Mahesa tersenyum simpul.

"Rumah peninggalan om kamu itu, Ndra! Sebelum pindah ke Finlandia mereka sekeluarga tinggal di sana.''

Rino dan Candra saling melempar pandangan.

So...sebenarnya rumah itu sangat layak di sebut rumah meski belum ada apa-apanya di bandingkan dengan istana papanya.

"Masa iya rumah om Hendra kecil begitu?''

"Ya...dia memang sengaja membelinya dari keluarga istrinya. Wajar kalau rumahnya ngga sebesar yang di Jakarta.''

Estu dan Rino mendengarkan percakapan anak dan bapak itu tanpa ikut menyela sama sekali.

"Kurang-kurangi menghina dengan bahasa seperti itu. Kadang mulut kamu susah di kendalikan. Jangan sampai ada orang yang sakit hati karena omongan kamu yang menyebalkan dan meremehkan seperti itu. Takut tiba-tiba ada yang gampar nantinya!'' kata Mahesa panjang lebar.

Rino dan Estu menahan diri untuk tidak tertawa melihat wajah pias Candra.

Entahlah akan seperti apa reaksi Mahesa saat tahu putra bungsunya sudah mendapatkan stampel tangan dua kali dari gadis yang sama. Ya...karena memang mulut lemesnya itu.

"Ckkkk!'' Candra berdecak kesal. Papanya memang selalu memasang bendera permusuhan dengannya.

.

.

.

Auri langsung pulang ke rumah orang tuanya. Dia benar-benar bad mood saat ini. Pertemuan dengan papa kandungnya adalah hal yang tak pernah ia harapkan selama ini.

"Assalamualaikum'', Auri memberi salam ketika masuk ke rumah. Sayang kedua orang tuanya tidak ada. Mungkin abahnya masih di sawah. Entah dengan uminya, ikut ke sawah atau ada urusan lain.

Gadis itu langsung membuka hijabnya saat tiba di kamar. Melepas pakaian dinasnya dan membawanya ke belakang untuk di cuci besok.

Setelah mencuci tangan dan kakinya, ia pun memilih duduk di teras atas yang biasa di pakai bersantai.

Angin sepoi-sepoi membelai wajah ayunya. Cahaya matahari senja pun sudah tak terasa hangat. Hari ini ia sedang libur beribadah karena sedang halangan. Dan...Auri mungkin perlahan sedikit menyadari. Emosinya yang meledak-ledak mungkin juga karena PMS.

Wajah pria dewasa itu kembali tampak di bayangan matanya. Mata berkaca-kaca...!

Ah...tapi tidak ada kata haru, Auri justru  merasa muak!

Suara itu..suara yang pernah menenangkannya dulu, dulu sekali di saat ia mungkin belum terlalu mengingat semunya. Hanya ada kepingan-kepingan kecil yang beberapa kali melintas dalam ingatannya. Walaupun, umi dulu juga sering menceritakan tentang kedua orang tua kandungnya.

Di halaman, Salamah memarkirkan sepeda listriknya. Ia melihat roda dua Auri sudah terparkir di sana. Perempuan iu bergegas naik ke rumah panggungnya.

"Neng...neng tos uih?''

(sudah pulang)

Tapi tidak ada sahutan dari Auri. Salamah pun ke kamar Auri, gadis itu tidak ada. Pikir Salamah, Auri pasti di dapur. Tapi ternyata di dapur pun tidak ada. Dan ya...akhirnya perempuan tua itu menemukan Auri yang duduk di teras samping.

Teras yang menghadap langsung ke arah persawahan yang sangat luas. Dengan pelan, Salamah menghampiri putrinya. Ia tak mau mengejutkan Auri. Apalagi terlihat dengan jelas jika gadis itu sedang melamun.

"Neng?'' Salamah mengusap pelan bahu Auri. Gadis itu pun menoleh.

"Umi...'' panggilnya lirih. Salamah kembali mengusap bahu kecil itu dengan pelan dan penuh kasih sayang.

"Neng teh kenapa?''

Auri reflek memeluk Salamah dan menenggelamkan kepalanya di dada uminya. Tangan keriput itu pun mengusap kepala Auri dan sesekali merapikan rambut panjang gadis itu.

"Cerita sama umi, ada apa?''

Auri mengangkat kepalanya dan menatap mata tua yang ada di hadapannya.

"Dia ada di sini, umi!'' adu Auri. Salamah mengernyitkan alisnya.

"Dia? Dia siapa?'' tanya Salamah.

"Estu! Pangestu Aji Wibowo! Dia ada di sini umi. Neng tadi ketemu sama dia. Dia ngenalin Neng hiks-hiks-hiks''

Salamah kembali membawa Auri dalam dekapannya.

"Masih membencinya?''tanya Salamah. Auri mengangguk pelan.

"Apa tujuannya kemari untuk menemui kamu?''

Auri menggeleng.

"Ngga Mi. Neng rasa dia juga sudah lupa kalau pernah punya anak seperti Neng. Dia yang puny aproyek perumahan baru itu, umi.''

Salamah mengerti apa yang putrinya rasakan. Trauma dan rasa tak di inginkan pasti kembali memenuhi pemikirannya.

Salamah tak mengatakan apa-apa lagi. Ia biarkan Auri menumpahkan segala keluh kesah dan emosinya. Bukan kah jauh lebih bauik jika emosi itu di luapkan ?? Dari pada terus di pendam yang ada sakit jadinya.

Kedua perempuan beda usia saling berbpelukan dalam diam. Tak ada obroalan hingga akhirnya suara abah memecah keheningan itu.

"Kos teletubies ning pelukan kitu?'' tanya Aceng.

Auri dan Salamah melepas peluakan dan tersenyum tpis mendengar celetukkan Aceng. Biasanya Aceng akan berdebat kecil dengan putrinya, tapi kali ini Auri diam tak menanggapi candaannya. DAn feeling aceng, Auri sedang ada masalah.

Tapi masalahnya apa????

****

Terimakasih

1
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!