"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Perlindungan yang Terlambat
"Eh! Jangan, Papa! Jangan telepon Pak Marko!" Luna refleks merebut ponsel dari tangan Ardi dengan napas terengah.
Ardi dan Sinta tertegun melihat reaksi panik putri mereka. Ardi berkerut dahi, menatap Luna lekat-lekat. "Kenapa, Lun? Marko itu sahabat Papa. Biar dia panggil senior kamu itu besok. Jangan biarkan kamu dijahatin di sana."
"Jangan, Pa... tolong," bujuk Luna memelas, menggenggam ponsel ayahnya erat. "Kalau Papa campur tangan dan Pak Marko turun tangan, satu kantor bakal makin mikir kalau Luna ini anak manja yang cuma bisa ngadu. Luna mau hadapi Mbak Maya pakai cara Luna sendiri. Tolong percaya sama Luna, ya?"
Ardi menghela napas berat, menatap putrinya yang tampak gigih meski lelah. "Yaudah. Tapi kalau dia makin ngelunjak, Papa nggak akan tinggal diam."
"Iya, Pa. Makasih ya," bisik Luna lega.
***
Keesokan harinya di kantor, rencana Luna untuk menghadapi Maya secara elegan dihantam kenyataan fisik yang lemah. Karena terburu-buru takut terlambat, Luna tidak sempat sarapan di rumah.
"Aluna! Ini rekap tren penjualan semester lalu. Masukkan ke database utama sebelum jam dua siang," perintah Maya tanpa merasa bersalah, menumpukkan tiga map tebal di meja Luna tepat jam sembilan pagi.
"Mbak Maya, ini kan tugas mas Budi?" tanya Luna, menahan rasa perih di perutnya yang mulai melilit.
"Budi lagi bantu proyek eksternal. Kamu kan staf magang, kerjakan aja! Jangan banyak protes," cetus Maya dingin lalu berlalu.
Rania yang baru kembali dari divisi marketing melintas dan melihat tumpukan itu. "Gila si Maya! Lun, ayo istirahat makan siang dulu. Muka lu udah pucat banget itu!"
"Nggak bisa, Ran. Kalau ini nggak kelar jam dua, dia bakal laporkan gue ke Pak Doni," tolak Luna pelan, memegang perutnya yang makin melilit hebat. "Lu makan duluan aja."
Luna terus memaksakan diri menatap layar monitor. Rasa mual dan nyeri akibat maag yang kambuh mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Pukul satu siang, pandangan Luna mendadak kabur. Warna di layarnya berbayang, suara riuh ruangan perlahan menjauh, hingga akhirnya...
BRUK!
Tubuh Luna ambruk dari kursi, pingsan di lantai dingin divisi analisis data.
"Astaga! Aluna!" jerit Rania yang baru kembali dari kantin.
Ruangan mendadak heboh. Beberapa staf berkumpul mengelilingi Luna yang tak sadarkan diri dengan wajah sepucat kertas. Sementara di sudut lain, Maya hanya bersedekap dada dengan raut wajah acuh tak acuh.
"Alah, pingsan doang. Paling cuma cari perhatian," gumam Maya pelan, seolah tak merasa bersalah sedikit pun.
Pada saat yang sama, pintu lift VIP terbuka. Marko melangkah keluar bersama dua klien dari Jepang setelah makan siang bisnis. Begitu tamu-tamunya diantar ke luar, Rani menyambut Marko dengan wajah panik.
"Pak Marko! Di divisi analisis data ada heboh-heboh. Anak magang pingsan dan dibawa ke ruang medis," lapor Rani cepat.
Marko menghentikan langkahnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tak rasional. "Siapa yang pingsan?"
"Mbak Aluna, Pak. Katanya maag-nya kambuh parah karena belum makan dari pagi."
Tanpa mengucap sepatah kata pun, wajah Marko memerah padam. Pria itu berbalik dan melangkah lebar menuju divisi analisis data dengan aura intimidasi yang begitu pekat, membuat para karyawan yang berpapasan dengannya langsung mundur ketakutan.
Marko menerobos masuk ke ruangan analisis data. Langkah kakinya terhenti di depan meja kerja Luna. Di sana, tumpukan berkas setinggi gunung berserakan—berkas yang secara kasat mata bukan porsi pekerjaan staf magang.
"Siapa yang bertanggung jawab atas meja ini?" suara berat Marko menggema dingin di seluruh ruangan, memotong kasak-kusuk karyawan.
Pak Doni, supervisor divisi, mendekat dengan tubuh gemetar. "P-Pak Marko... itu meja Aluna. Dia pingsan tadi, Pak."
"Saya tanya, kenapa berkas audit tahunan divisi senior ada di meja pemagang?!" gertak Marko keras, menunjuk tumpukan berkas itu. Matanya yang tajam menatap satu per satu staf di ruangan itu hingga pandangannya mengunci Maya yang mendadak pucat pasi.
Marko memutar tubuhnya menatap Rani. "Rani! Panggil divisi HRD dan periksa CCTV divisi ini selama tiga hari terakhir. Siapa pun yang terbukti melempar tugas secara tak wajar ke Aluna... keluarkan surat pemutusan hubungan kerja hari ini juga!"
"B-Baik, Pak Marko!" jawab Rani panik.
Maya membeku di tempatnya, mendadak lemas melihat murkanya sang CEO yang terkenal tak pernah mencampuri urusan teknis staf bawahannya.
Marko melangkah cepat menuju ruang medis kantor. Di dalam, Luna baru saja siuman. Wajah gadis itu masih sangat pucat, dengan selang oksigen tipis di hidungnya.
Saat melihat Marko melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak begitu cemas dan napas memburu, Luna tertegun.
"Aluna..." panggil Marko pelan, suaranya yang biasa tegas kini terdengar bergetar. Pria itu mendekat ke tepi ranjang medis. "Kamu gimana? Mana yang sakit?"
Luna menatap mata Marko, melihat binar kepedulian yang sangat dalam di sana. Namun, mengingat penolakan tegas Marko tempo hari dan janjinya pada diri sendiri, Luna memilih mengendalikan emosinya.
"Saya nggak apa-apa, Pak Marko. Cuma maag biasa," jawab Luna dingin dan formal, berusaha duduk perlahan.
"Jangan bangun dulu," tahan Marko lembut, hendak menyentuh bahu Luna, namun Luna refleks menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
Jari-jemari Marko menggantung di udara. Dadanya mendadak terasa dihantam beban berat melihat penolakan halus dari gadis itu.
"Sanksi buat senior kamu sedang diproses," ujar Marko, mencoba menetralkan suaranya. "Sekarang kamu ikut saya ke ruangan saya. Saya minta dapur kantor siapkan bubur hangat."
"Terima kasih, Pak Marko. Tapi tidak usah," tolak Luna datar, menatap lurus ke depan. "Saya tidak mau ke ruangan Pak Marko. Saya bukan siapa-siapa di sini, tidak pantas dapat perlakuan khusus dari CEO."
Marko mengepalkan tangannya di samping paha. "Aluna, kamu baru pingsan—"
"Saya mau pulang saja, Pak," potong Luna cepat. "Dan saya bisa pulang sendiri naik taksi. Saya tidak mau diantar Pak Marko. Saya tidak mau jadi bahan gosip baru di kantor ini."
Marko membeku di tempatnya. Kalimat Luna yang begitu kaku dan menjaga jarak bagaikan benteng tinggi yang dipasang rapat-raharja. Rasa kecewa dan tidak rela yang luar biasa membakar dada Marko. Gadis yang biasanya selalu mencari perhatiannya, kini benar-benar menarik garis tegas di antara mereka.
"Baik... kalau itu mau kamu," bisik Marko parau, menatap Luna dengan sorot mata terluka yang tak bisa ia sembunyikan lagi. "Saya minta supir kantor yang antar kamu pulang. Kamu harus pulang lebih awal."
Luna tidak membalas, hanya mengangguk formal tanpa menatap wajah Marko.
Pukul tiga sore, sebuah mobil dinas kantor berhenti di depan rumah keluarga Raharja. Sinta yang sedang menyiram tanaman di halaman terkejut melihat Luna turun dari mobil dengan langkah gontai dan wajah sepucat kapas.
"Astaga, Aluna!" jerit Sinta panik, memburu putrinya dan merangkul tubuh Luna yang dingin. "Kamu kenapa, Sayang? Kok jam segini udah pulang? Muka kamu pucat banget!"
"Ibu..." cicit Luna lemah, bersandar pada bahu ibunya. "Luna pingsan di kantor tadi... maag Luna kambuh."
Sinta menuntun Luna masuk ke rumah dengan panik. "Ya Tuhan! Kan Ibu udah bilang jangan lewatkan makan! Ayo baring di kamar, Ibu panggilkan dokter keluarga sekarang!"
Di dalam kamarnya yang hangat, Luna berbaring pasrah. Tubuhnya memang sakit karena maag, namun hati dan pikirannya jauh lebih lelah. Bayangan raut wajah cemas Marko di ruang medis terus berputar di kepalanya.
Kenapa Om harus kelihatan secemas itu kalau memang Om nggak punya perasaan apa-apa sama saya? batin Luna lirih, memejamkan matanya rapat-rapat saat rasa panas merambat ke pelipisnya—tubuhnya mulai demam tinggi.