NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : Kalah Telak di Depan Api Unggun

    Sesampainya bus di area parkir Bumi Perkemahan, hawa dingin pegunungan dan aroma khas pohon pinus langsung menyambut seluruh rombongan kelas XI IPS 2. Langkah-langkah kaki yang pegal akibat perjalanan berjam-jam mulai berhamburan turun. Panitia dari Ambalan Pramuka langsung mengarahkan semua siswa untuk meluruskan otot terlebih dahulu di lapangan rumput sebelum menuju area tapak kemah.

​"Aduh, pinggang gue kayak mau copot!" seru Ferdi memutar-mutar pinggulnya ke kiri dan ke kanan secara dramatis.

​"Semua aja copot, Di. Muka lo sekalian," sahut Kevin sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.

​Setelah sesi peregangan singkat selesai dan instruksi pembagian kapling tenda dibacakan oleh Farhan, empat sekawan itu langsung mengode satu sama lain.

​"Khaf, kabur sebentar yuk ke belakang. Asam nih mulut gue," bisik Ferdi sambil memamerkan sebungkus rokok di balik saku celananya.

​Khafi melirik ke arah lapangan tempat anak-anak cewek mulai mengangkuti pasak, lalu mengangguk tipis. "Ya udah, sebentar aja. Nanti dicariin panitia."

​Mereka berempat pun lantas menghilang menuju area rindang di balik deretan kamar mandi untuk nyebat santai.

​Sekitar lima belas menit kemudian, begitu balik ke area tapak kemah Tenda 4, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar kacau. Bukannya tenda berdiri kokoh, empat cewek di depannya—Kiara, Neona, Maya, dan Sisil—justru sedang berdebat heboh melingkari tumpukan kain terpal dan tiang alumunium yang saling tumpang tindih.

​Suara cewek-cewek itu bersahut-sahutan, sibuk memprotes segalanya menggunakan mulut ketimbang tangan.

​"Tuh kan, Ona! Kata gue juga apa, tiang yang ini tuh ditaruhnya di ujung sana, bukan di tengah!" cerocos Kiara gemas, tangannya menunjuk-nunjuk besi tiang dengan muka cemberut. "Masa ujungnya melengkung begitu sih, ini pasti ketukar!"

​"Dih, Kia! Tadi Sisil yang bilang tiang panjang ini buat tengah!" bela Neona tak mau kalah, memegang ujung tali tiang sambil berkacak pinggang. "Gue mah cuma ngikutin panduan kertasnya ya! Mana gambarnya kecil banget lagi, kusam, kagak kelihatan mana ujung mana pangkal!"

​"Ya lagian kertas panduannya juga aneh banget!" timpal Sisil sambil ngipas-ngipas mukanya pakai buku saku Pramuka. "Mana pasaknya cuma dapet enam biji lagi! Ini kalau angin kencang dikit, tenda kita terbang sampai ke puncak gunung gimana coba?!"

​"Udah gitu tanahnya keras banget lagi, dijegal pakai batu aja nggak mau nancep tuh besi!" pangkas Maya frustrasi, menendang pelan pasak besi yang tergeletak di rumput. "Pegel banget tangan gue, kuku gue bisa patah semua ini mah kalau begini caranya!"

​Kiara mendesah berat, mengacak rambutnya yang agak berantakan dan keluar dari cepolan. "Nyesel gue nggak bawa palu dari rumah. Tau gitu gue suruh Bi Yanti bawain palu sekalian di dalam tas!"

​Dari jarak beberapa meter, Geng Anak Pojokan yang baru kembali hanya bisa berdiri menonton pertunjukan komedi gratis itu. Pandu dan Ferdi sampai menepuk jidat sambil tertawa tanpa suara, sementara Khafi cuma menggeleng-gelengkan kepala mendengar kerepotan para cewek yang hebohnya melebihi panitia kemping.

​"Buset dah, itu mau bangun tenda apa mau demo buruh? Berisik amat," kekeh Kevin menggeleng heran, ia menghampiri Neona seraya terus mengejeknya.

​"Ngebangun kagak, ngomelnya udah dapet lima babak," sahut Ferdi sambil terkekeh geli akan tingkah keempat teman sekelasnya.

​Khafi menggelengkan kepalanya lagi, lalu melangkah maju mendekati kerumunan cewek-cewek yang makin frustrasi itu. Tangannya melilit tali tenda yang berantakan di tanah.

​"Ngebangun tenda tuh pakai tangan, Ara, bukan pakai mulut," potong Khafi santai, memutus perdebatan panas empat cewek itu seketika.

​Kiara mendongak, mendelik tajam ke arah Khafi. "Dih, dari mana aja lo pada?! Orang dari tadi kesusahan juga, malah pada ngilang!"

​"Biasa, urusan negara," sahut Pandu santai sambil memungut pasak besi yang ditendang Maya tadi. "Udah, udah, mundur kalian para ratu. Daripada kuku patah terus pingsan di sini, biar anak cowok yang beresin."

​"Awas aja kalau nggak kokoh ya!" ancam Neona, tapi tetap memundurkan langkahnya bersama Sisil dan Maya dengan nada lega.

​Tanpa perlu banyak komando, empat sekawan itu langsung membagi tugas. Ferdi dan Kevin memegang tiang penyangga utama, Pandu menarik tali pancang, sementara Khafi mengambil batu besar di dekat pohon pinus. Dengan gerakan yang luwes dan terbiasa, Khafi menancapkan pasak besi ke tanah keras pakai pukulan batu yang mantap.

Tuk! Tuk! Tuk!

​Kiara berdiri bersedekap dada di samping tenda, memperhatikan cara kerja Khafi. Gerakan lengan cowok itu terlihat cekatan, urat-urat di tangannya sedikit menonjol saat menarik tali tenda agar membentang kencang dan presisi.

​"Nih, liat," kata Khafi menepuk-nepuk kain tenda Tenda 4 cewek yang kini sudah berdiri tegak, kokoh, dan rapi. Ia menatap Kiara sambil menyunggingkan senyum tipis yang memancing kekesalan. "Beres kan? Nggak pakai drama kuku patah segala."

​"Yaaa... lumayan lah," gumam Grizelle gengsi, berusaha menahan rasa kagumnya. "Thanks ..." Ucapnya dengan raut enggan.

​"Sama-sama, Kuntil, nggak ada yang gratis tapi ya!" sahut Khafi menepuk singkat ujung topi pelindung panas yang dipakai Kiara sebelum berbalik.

​Empat cowok itu pun langsung berpindah ke kapling Tenda 4 cowok yang posisinya persis bersebelahan, mulai mendirikan tempat tinggal mereka sendiri sambil diiringi gelak tawa dan candaan khas tongkrongan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Menjelang sore, langit di atas Bumi Perkemahan mulai berubah jingga keunguan. Hawa dingin pegunungan perlahan merayap, membawa embun tipis yang membikin tengkuk merinding.

​Farhan dan panitia Ambalan Pramuka membagi tugas persiapan Malam Keakraban lewat pengumuman singkat di tengah lapangan. Semua kelompok dari masing-masing dapat pembagian tugas yang lumayan menyita tenaga. Ada yang dikirim untuk mengangkut jeriken air dari sumber mata air, ada juga yang diminta menyusun tempat duduk di sekitar tapak api unggun, ada pula yang disuruh mengambil ranting di sekitaran hutan untuk api unggun.

​Kiara sendiri kebagian tugas mencari ranting dan kayu bakar kering di sekitar pinggiran hutan pinus. Dengan membawa karung goni kecil di tangan, ia melangkah menjauhi keriuhan lapangan. Suasana di bawah rindangnya pohon-pohon tinggi itu terasa sangat sepi, hanya ada suara gesekan daun yang diterpa angin sore.

​Saat Kiara membungkuk untuk memungut sepotong dahan kering di dekat akar pohon besar, langkah kaki yang menginjak ranting patah terdengar tepat di belakangnya.

​"Nanti kalau ketukar sama akar basah kaya gitu, rantingnya nggak bakal nyala, Kuntil,"

​Kiara tersentak kaget. Jantungnya serasa meloncat naik ke tenggorokan. Ia berdiri tegak dengan cepat, berbalik menatap Khafi yang sedang bersedekap dada di dekat pohon pinus. Cowok itu berdiri santai memakai jaket parka khaki-nya, menatap Kiara dengan raut wajah datar tanpa dosa.

​"Bisa nggak sih kalau datang itu ngomong dulu?" tegur Kiara pelan, memegang dadanya untuk menetralkan napas. "Bikin kaget aja."

​Khafi tidak langsung menjawab. Ia cuma melirik karung goni di tangan Kiara yang isinya baru beberapa potong kayu kecil.

​"Lo jalannya lambat amat," kata Khafi santai. Ia melangkah mendekat, lalu membungkuk memungut beberapa dahan kayu tebal yang berserakan di tanah. "Jam segini ranting di tepi udah habis diambil anak-anak lain. Kalau cuma ngandelin kayu kecil begitu, api unggunnya bakal padam sebelum acara mulai."

​Kiara memicingkan mata, memperhatikan pergerakan Khafi yang malah sibuk mengumpulkan kayu untuknya."Ngapain lo di sini? Bukannya lo dapet bagian ngangkut jeriken?"

​"Tukeran," sahut Khafi pendek, tanpa menghentikan tangannya yang lihai memilah kayu kering. "Si Ferdi ogah nyari kayu, katanya ribet."

​"Terus lo mau-mau aja?"

​Khafi mendongak sebentar, menatap mata Kiara dengan pandangan datar yang sulit ditebak, sebelum kembali melemparkan seikat dahan tebal ke dalam karung goni Kiara.

​"Daripada lo kelamaan di sini terus hilang pas acara," alih Khafi datar. Tone suaranya teratur, tidak menunjukkan tanda-tanda peduli berlebihan, tapi kentara sekali gengsinya. "Lagian panitia bakal heboh kalau ada yang belum balik sebelum maghrib."

​Kiara mendengus pelan, menatap tumpukan kayu di karungnya yang mendadak terisi penuh hanya dalam waktu beberapa menit. Ada sedikit rasa lega yang muncul, tapi gengsinya membuat Kiara tetap memasang wajah cuek.

​"Gue juga tau cara milih kayu yang bener. Enggak usah sok paling paham," balas Kiara sambil menarik tali karung goninya.

​"Paham dari mananya?" cetus Khafi santai, menatap remeh ke arah kayu-kayu pilihan Kiara sebelumnya. "Ranting lapuk berminyak begini lo bilang bener? Yang ada ntar bukan nyala, malah asapnya doang yang bikin pengap satu lapangan."

​"Ya kan tadi belum selesai milihnya! Lagian repot amat, tinggal dibakar ini!" semprot Kiara tidak mau kalah.

​"Tinggal dibakar mata lo melotot," sahut Khafi dingin, bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyum remeh. "Panitia Ambalan nangis liat pola pikir lo."

​"Dih, berisik banget mulut lo!" desis Kiara. Ia mencoba meraih tali karung goni berbobot berat yang kini sudah berpindah ke tangan Khafi. "Siniin! Biar gue bawa sendiri!"

​Khafi mengangkat karung itu lebih tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Kiara dengan gerakan yang kelewat santai. Matanya melirik Kiara dari atas ke bawah. "Tangan sekecil ranting gitu mau bawa beban segini? Jangan sok kuat. Entar patah, nyusahin gue lagi disuruh gendong balik ke kapling."

​"Siapa juga yang minta digendong?!" pekik Kiara pelan, mukanya mendadak terasa hangat bercampur kesal. "Gue bisa bawa sendiri ya, Khafi!"

​"Gak usah banyak gaya, Ara," potong Khafi datar. Ia menjinjing karung goni itu di atas bahu kirinya, lalu berbalik dan melangkah duluan membelakangi Kiara. "Mulut lo dari tadi jalan mulu, tapi kaki lo nggak gerak. Mau nginep di hutan?"

​"Lo tuh yang bikin lama gara-gara ngajak debat!" omel Kiara sambil menyamakan langkah kakinya yang agak keteteran di belakang Khafi.

​Langkah Kiara makin dipercepat karena kesal setengah mati. Namun, nasib sial seolah memang sengaja bersekongkol dengannya sore itu. Saat melewati jalur semak yang agak menurun, tali sepatu kanan Kiara yang longgar mengait di akar pohon.

​Creeek!

​Bukan cuma badannya yang hampir oleng ke depan, tapi ujung sepatunya malah menancap pas di kubangan tanah basah berembun yang kenyal. Ketika ia mencoba menarik kakinya dengan paksa, kakinya terangkat tapi sepatunya justru tertinggal menancap di dalam lumpur.

​"Aduh! Astaga!" ringis Kiara frustrasi.

​Khafi yang berjalan santai di depannya mendadak berhenti, lalu berbalik. Bukannya membantu duluan, cowok itu malah menatap kaki Kiara yang cuma terbalut kaus kaki putih—kini sudah terendam tanah basah—lalu mengamati sepatu yang tertanam di lumpur.

​"Lo lagi menanam sepatu apa gimana, Kuntil?" celetuk Khafi tanpa dosa karena dia merasa gemas oleh tingkah Kiara.

​"Khafi! Bukannya dibantu malah ngejekin!" omel Kiara sambil berusaha menyeimbangkan badannya dengan bertumpu pada satu kaki.

​Khafi menarik napas pendek, melangkah mendekat lalu menarik tali ransel goni di bahunya. "Pegang bahu gue."

​"Gak usah!" gengsi Kiara, mencoba membungkuk sendiri. Tapi gerakan buru-burunya justru membuat lengannya menyenggol ranting pohon pinus di sampingnya.

​Sreeek!

​Ranting tebal itu bergoyang keras dan menumpahkan tumpukan serbuk daun kering bercampur debu tepat ke atas kepala dan bahu Kiara.

​Kiara memejamkan mata rapat-rapat, meniupkan napas ke atas untuk mengusir daun kering yang hinggap di hidungnya. Kaki nyungsep di lumpur, kaus kaki kotor, dan kepala penuh daun kering. Lengkap sudah penderitaannya sore ini.

​Khafi yang melihat pemandangan tragis tapi menggelikan itu sempat tertegun sejenak, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat tinggi dan agak gemetar. Ia mendengus pelan, berusaha keras menahan tawa agar tidak meledak di depan muka Kiara yang sudah terlipat tiga dan kusut.

​Tanpa banyak bicara lagi, Khafi meraih pergelangan tangan Kiara, menahannya agak kencang agar cewek itu tidak jatuh. Tangannya yang satu lagi dengan santai membungkuk, menarik sepatu Kiara keluar dari lumpur basah dalam sekali hentakan, lalu menaruhnya tepat di dekat kaki Kiara.

​Dengan telaten—meski wajahnya tetap dipasang datar—jemari Khafi terulur merapikan dan mengibas ranting serta daun-daun kering yang mengotori rambut dan puncak kepala Kiara yang saat ini sedang dicepol.

​Kiara yang masih sibuk menahan napas karena malu campur emosi, menatap dada tegap Khafi yang berdiri begitu dekat dengannya. Niat hati ingin berterima kasih karena dibantu, tapi begitu matanya mendongak dan melihat kilat jenaka di mata Khafi yang seolah sedang mengejek kemalangannya, emosi Kiara langsung naik lagi ke ubun-ubun.

​"Gara-gara lo nih jalan lewat sini!" semprot Kiara sambil menghentakkan kakinya yang baru masuk ke dalam sepatu.

​Langkah kaki mereka pun berlanjut membelah semak-semak kering menuju area lapangan yang mulai terang oleh lampu tembak panitia. Karung goni berisi kayu tebal di bahu Khafi tampak sama sekali tidak membebani jalannya, sementara Kiara berjalan di sampingnya sambil terus menggerutu pelan.

​"Nggak di kelas, nggak di jalan, nggak di hutan... kenapa sih gue kalau ketemu lo apes mulu?!" semprot Kiara akhirnya, meluapkan kekesalannya yang sudah mencapai puncak.

​Khafi mendadak menghentikan langkahnya tepat di bawah naungan pohon pinus terakhir sebelum masuk ke area terang lapangan.

​Kiara yang ikut terhenti otomatis menoleh, mendongak menatap Khafi yang berdiri lebih tinggi darinya.

​Khafi menyandarkan sebelah tangannya di batang pohon, memiringkan kepalanya sedikit. Cowok itu menatap lurus ke dalam mata Kiara dengan raut wajah yang tetap datar dan tenang, tapi ada kilat yang sangat dalam di sudut matanya.

​"Daripada ketemunya bikin jatuh cinta mulu, pilih mana?" sahut Khafi pelan, suaranya terdengar begitu santai tapi telak.

​Deg.

​Kiara seketika terpaku. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan lidahnya seperti terkelu. Kata-kata balasan tajam yang sudah siap di ujung lidahnya menguap begitu saja. Di bawah pendar redup langit sore, tatapan mata Khafi tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda berlebihan seperti biasanya. Cuma ada Khafi yang menatapnya dalam, membuat dadanya berdesir hebat tak beraturan.

​Khafi yang melihat perubahan raut wajah Kiara dan ujung telinganya yang mendadak memerah merona, perlahan menegakkan kembali tubuhnya. Sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyum tipis, samar, dan sangat gengsi.

​"Jalan, Kuntil. Malah melamun," celetuk Khafi dingin, memecah kecanggungan tegang itu begitu saja lalu melangkah duluan memasuki area lapangan.

​Kiara memegangi dadanya yang berdegup kencang, membuang napas kasar untuk menetralkan rasa gugupnya. "Dasar Khafi gila..." bisik Kiara pada dirinya sendiri dengan pipi yang masih terasa hangat, sebelum akhirnya buru-buru menyusul langkah cowok itu dari belakang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

.

     ​Malam Keakraban (Makrab) gabungan seluruh angkatan Kelas XI di Bumi Perkemahan berlangsung sangat meriah. Api unggun raksasa di tengah lapangan membumbung tinggi, menyemburkan percikan bunga api ke udara malam yang makin pekat. Asap beraroma kayu bakar bercampur udara dingin pegunungan yang menusuk tulang, dikelilingi ratusan murid yang duduk melingkar per kelas di atas terpal dan tikar.

​Suara Farhan sebagai Pradana Pramuka menggema lewat toa. "Oke, perhatian seluruh angkatan kelas sebelas! Karena tadi sore kalian sudah diperas tenaganya, sekarang waktunya hiburan! Setiap kelas wajib menampilkan satu persembahan mendadak di tengah lapangan. Bebas mau tampil apa aja! Kita kasih waktu diskusi lima menit dari sekarang!"

​Seketika lapangan bergemuruh riuh. Di barisan XI IPS 2, Rian selaku Ketua Murid (KM) langsung berdiri di tengah-tengah lingkaran kelompoknya, memasang raut muka panik.

​"Woy, dengerin dulu! Tolong ya warga IPS Dua jangan bikin malu di depan kelas lain!" seru Rian sambil menepuk-nepuk tangannya. "Ada yang punya bakat nggak di sini? Baca puisi kek, pantun kek, atau sulap?"

​"Ferdi suruh stand up comedy aja, Tam! Kan dia suka melawak!" celoteh salah satu murid.

​"Mbung ah! Garing yang ada dinorak-norakin kelas sebelah!" sahut Ferdi cepat.

​Di tengah kebingungan itu, Neona yang duduk di sebelah Kiara mendadak menyikut lengan sahabatnya keras-keras. "Eh, Rian! Kia aja suruh nyanyi! Suaranya bagus banget, waktu itu pernah nyanyi pas kita nugas bareng di rumahnya!"

​Kiara membelalakkan mata, refleks membungkam mulut Neona. "Apaan sih, Na! Ngaco lo ya, nggak mau!"

​"Lah, beneran, Kia! Daripada kelas kita nggak tampil apa-apa terus disuruh push up sama panitia?!" desak Neona heboh.

​Khafi yang duduk bersandar di barisan cowok—agak jauh di seberang Kiara—langsung mendengus geli. Cowok itu melipat tangan di dada, memajukan badannya sedikit dengan tatapan meremehkan yang amat sangat tajam.

​"Nggak usah ngaco deh lo, Na," celetuk Khafi bersuara nyaring, sengaja bikin seisi kelas fokus ke arahnya. "Si Kuntil mana bisa nyanyi? Yang ada suara dia cuma kedengeran kayak bebek kecekik. Mau ditaro di mana muka kelas kita di depan IPS sama MIPA?"

​"Dih! Khafi ngeselin banget mulutnya!" semprot Kiara mendelik tajam, matanya berkilat emosi.

​"Lah, emang bener kan?" lanjut Khafi makin menjadi-jadi, menyunggingkan senyum remehnya yang paling memancing emosi. "Gue yang tiap hari denger dia ngomel aja pusing, apalagi disuruh denger dia nyanyi di depan ratusan orang. Mending si Fathir aja yang pantun, daripada gendang telinga orang se-angkatan jebol."

​Kiara yang tadinya bener-bener menolak keras, langsung terbakar gengsi akibat ledekan Khafi yang kelewat pedas. Ia melepaskan pegangannya dari bahu Neona, lalu berdiri tegak di depan Rian dengan muka merah padam.

​"Gue aja yang maju." tegas Kiara lantang. Matanya melayangkan tatapan membunuh ke arah Khafi. "Liat aja lo nanti, Khaf. Awas kalau lo sampai ikut tepuk tangan!"

​Khafi cuma terkekeh pelan tanpa dosa, menaikkan kedua alisnya seolah menantang. "Oke, gue tonton dari sini. Awas kalau suara lo fals, gue orang pertama yang bakal ngetawain paling kencang."

​"Siip! Kiara penyelamat kelas!" Rian berseru lega, lalu menunjuk Bimo. "Bim, bawa gitar lo, iringi Si Kia!" tunjuknya otomatis pada Bimo yang memang bisa main gitar.

    ​Kiara melangkah menuju tengah lapangan, di depan kobaran api unggun besar yang menerangi seluruh angkatan XI. Awalnya, lututnya agak gemetar karena ditatap ratusan mata dari kelas-kelas lain. Tapi bayangan muka ngeselin Khafi yang sedang bersandar santai di seberang sana langsung membakar keberaniannya.

​Bimo mulai memetik gitar akustiknya, memainkan nada awal lagu pop balad yang cukup populer.

​Kiara menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu mulai menyanyikan bait pertama.

​Suara lembut, jernih, dan penuh penjiwaan meluncur mulus dari tenggorokannya. Seketika, keriuhan bisik-bisik ratusan murid di lapangan perlahan surut. Suara Kiara yang bernyanyi akustik di tengah hembusan angin malam pegunungan benar-benar terdengar cantik dan memukau. Tidak ada nada yang meleset, bahkan teknik vokalnya terdengar sangat rapi untuk ukuran anak sekolah yang tidak pernah pamer bakat.

​Di barisan XI IPS 2, Khafi yang tadinya duduk dengan posisi santai sambil bersedekap dada, mendadak membeku.

​Kedua tangannya perlahan terlepas dari dada. Sudut bibirnya yang tadinya siap menyemburkan tawa ejekan seketika terkunci rapat. Matanya membelalak tipis, tak berkedip menatap sosok Kiara yang berdiri percaya diri di balik pendar oranye api unggun. Khafi beneran tidak tau kalau cewek yang tiap hari dia usilin dan dia panggil 'Kuntil' itu punya suara seindah ini.

​Di sekelilingnya, anak-anak kelas lain mulai berbisik kagum.

"Anjir, cewek IPS Dua suaranya cakep banget!"

"Bening woy!"

"Siapa tuh namanya?"

​Mendengar bisikan-bisikan cowok dari kelas lain yang mulai memperhatikan Kiara, raut wajah Khafi yang tadinya terpana perlahan berubah. Alisnya berkali-kali menukik tipis. Ada rasa tidak terima yang terselip entah dari mana saat melihat cewek itu jadi pusat perhatian se-angkatan.

​Saat lagu berakhir dengan nada tinggi yang mulus, tepuk tangan dan sorak-sorai heboh meledak di seluruh lapangan Bumi Perkemahan.

​Kiara tersenyum lega, membungkuk pelan, lalu melangkah kembali ke barisan kelasnya dengan kepala tegak. Pas melintas tepat di depan barisan Khafi, Kiara menghentikan langkahnya sebentar, berkacak pinggang sambil melayangkan senyum kemenangan yang sangat puas.

​"Gimana, Khaf? Suara bebek kecekik, kan?" cibir Kiara penuh rasa sombong. "Katanya mau ngetawain paling kencang? Mana?"

​Khafi membuang mukanya ke arah kobaran api unggun, berusaha keras menyembunyikan keterpakuannya dan telinganya yang mendadak memerah. Ia mendengus pelan, memasang kembali raut wajah sok jual mahalnya.

​"Dih, pede amat lo," sahut Khafi dingin, walau nada suaranya tak selantang tadi. "Bimo tuh yang gitarnya jago, makanya suara lo ketolong dikit. Kalau gitarnya kagak ada, tetep aja pas-pasan."

​"Alasan lo! Kelihatan banget lo pasti terpana kan sama suara gue?!" tembak Kiara puas.

​"Siapa yang terpana? nggak ada," elak Khafi cepat, matanya melirik Grizelle dari atas ke bawah sebelum berbisik ketus tapi pelan. "Lagian ngapain sih nyanyi pake penghayatan segala? Bikin cowok-cowok kelas sebelah pada sesak napas liat lo. Ngeselin."

​Kiara tertegun sejenak mendengar gerutuan terakhir Khafi yang terdengar agak beda, tapi sebelum sempat membalas, Neona sudah menarik tangannya heboh untuk merayakan keberhasilan penampilan mereka.

​Khafi kembali bersandar di tikarnya, menatap punggung Kiara yang menjauh sambil mengacak rambut belakangnya sendiri dengan kesal.

Malam itu, egonya bener-bener kalah telak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!