Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ruangan batu kuno itu kini dipenuhi oleh bau anyir darah yang sangat menyengat. Dua Iblis Bayangan yang tersisa menatap Yang Zhen layaknya menatap dewa kematian yang turun ke bumi.
"Tolong... ampuni kami!" ratap pembunuh kedua dengan air mata membasahi topengnya. "Kami hanya menjalankan perintah dari Patriark Zhao!"
Yang Zhen berjalan santai menghampiri pembunuh yang sedang menangis itu.
"Menangis di saat bekerja itu sangat tidak profesional, Tuan Pembunuh." ucap Yang Zhen lembut.
Jleb!
Tangan Yang Zhen menembus dada pembunuh kedua itu dengan mudahnya seperti menembus sebongkah tahu. Jantung pembunuh itu hancur seketika, dan tubuhnya jatuh terkulai tak bernyawa di atas lantai batu.
Kini hanya tersisa sang pemimpin Iblis Bayangan yang gemetar hebat hingga gigi-giginya saling bergemeretak. Balok es yang membekukan kakinya membuat ia tidak bisa melarikan diri ke mana pun.
"Sekarang tinggal kita berdua, Ketua Iblis." sapa Yang Zhen sambil membersihkan darah di tangannya. "Aku punya beberapa pertanyaan kecil untukmu."
"Jika aku memberitahumu segalanya, apakah kau akan melepaskanku?" tawar pemimpin itu dengan napas tersengal.
"Tentu saja." Yang Zhen tersenyum hangat layaknya seorang malaikat pelindung. "Aku adalah pemuda yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran."
Su Lin memutar bola matanya mendengar kebohongan paling tidak masuk akal abad ini. Gadis itu tahu persis bahwa Yang Zhen tidak akan membiarkan satu pun musuhnya bernapas untuk melihat matahari esok pagi.
"Katakan padaku, selain mengirim kalian, apa rencana lain yang sedang disiapkan rubah tua Zhao Tian?" tanya Yang Zhen memulai interogasi.
"Patriark Zhao sedang menggalang kekuatan dengan Asosiasi Alkemis melalui Lu Feng." jawab pemimpin itu cepat. "Lu Feng berjanji akan meracuni makanan Presiden Gu bulan depan agar ia bisa naik jabatan."
"Oh? Si idiot Lu Feng itu rupanya punya nyali juga untuk meracuni gurunya sendiri." gumam Yang Zhen sambil mengelus dagunya santai.
"Ada lagi yang lain?" desak Yang Zhen dengan tatapan menyipit tajam.
"Hanya itu yang aku tahu, aku bersumpah!" teriak pemimpin Iblis Bayangan panik. "Tolong lepaskan aku sekarang sesuai janjimu!"
"Baiklah, aku akan melepaskanmu dari rasa takutmu." ucap Yang Zhen santai.
Wush!
Bilah air yang sangat tipis tercipta di ujung jari Yang Zhen dan melesat memotong leher pemimpin pembunuh itu. Kepala sang pemimpin terlepas dari tubuhnya dan menggelinding jatuh ke lantai dengan mata membelalak lebar.
"Kau sudah berjanji akan melepaskannya tadi." komentar Su Lin datar melihat kekejaman pemuda di depannya.
"Aku memang melepaskannya, tapi dari penderitaan duniawi, Nona Su." kilah Yang Zhen dengan wajah tanpa dosa. "Aku ini sangat baik hati, bukan?"
Wang Hao yang bersembunyi di balik altar hanya bisa menelan ludah melihat sahabatnya membantai tiga orang tanpa berkedip. Ia bersumpah dalam hati untuk tidak pernah membuat Yang Zhen marah seumur hidupnya.
Yang Zhen melangkah melewati tiga mayat itu dan berdiri tepat di depan altar batu. Relik Jantung Bumi berwarna kuning kecoklatan itu masih melayang pelan, memancarkan aura kuno yang sangat kuat.
"Hao, jaga pintu masuk lorong dan berteriaklah jika kau melihat ada yang mendekat." perintah Yang Zhen membagi tugas.
"Su Lin, duduklah di dekatku dan serap sisa-sisa energi elemen es di ruangan ini." lanjut Yang Zhen. "Suhu ruangan ini sangat cocok untuk memperkuat pondasi angin musim dinginmu."
"Kau mau menyerap relik itu sekarang?" tanya Su Lin sedikit terkejut. "Menyerap energi murni membutuhkan waktu berhari-hari, kita tidak punya waktu selama itu."
"Orang bodoh mungkin butuh berhari-hari, tapi aku hanya butuh waktu seperti kecepatan anak panah melesat." jawab Yang Zhen arogan.
Tanpa ragu sedikit pun, Yang Zhen mengulurkan tangannya dan menggenggam Relik Jantung Bumi tersebut. Begitu kulitnya bersentuhan dengan relik kuno itu, sebuah getaran hebat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Yang Zhen segera duduk bersila di depan altar dan menutup matanya rapat-rapat. Di dalam Dantiannya, Gulungan Dewa Naga merespons kedatangan energi elemen tanah dengan sangat beringas.
Cahaya keemasan memancar dari balik baju Yang Zhen, membentuk ukiran sisik naga yang perlahan berubah menjadi warna coklat keemasan.
'Energi yang sangat padat dan keras.' batin Yang Zhen menahan rasa sakit saat urat nadinya dipaksa melebar. 'Tidak heran elemen ini disebut sebagai pertahanan mutlak.'
Gulungan kuno itu berputar cepat, menghisap energi Relik Jantung Bumi bagaikan lubang hitam yang rakus. Kotoran-kotoran di dalam energi relik itu langsung dimurnikan, menyisakan Qi tanah yang sangat bersih dan murni.
Krak!
Suara retakan terdengar jelas dari dalam tubuh Yang Zhen. Batas kultivasinya kembali hancur, membawanya melesat menembus Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Enam dalam hitungan menit.
Namun energi dari relik itu sama sekali belum habis terserap. Energi itu terus mengalir deras, memadat di dasar Dantiannya dan membentuk sebuah simbol gunung kecil tepat di sebelah simbol air.
Bum! Bum!
Getaran hebat mulai terasa di seluruh penjuru reruntuhan kuno, membuat debu-debu berjatuhan dari langit-langit.
"Zhen! Ruangan ini mau runtuh!" teriak Wang Hao panik sambil memeluk kepalanya sendiri.
Su Lin membuka matanya dari meditasi dan menatap Yang Zhen dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Dia tidak hanya menyerapnya, tapi dia memaksa energi kuno itu tunduk sepenuhnya padanya." gumam Su Lin takjub.
Krak!
Satu lagi batas ranah hancur di dalam tubuh pemuda ajaib tersebut. Kultivasi Yang Zhen kini resmi menapak kokoh di Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Tujuh.
Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, ia telah melompat dari murid sampah Tingkat Satu menjadi ahli beladiri elit Tingkat Tujuh. Jika rahasia ini terbongkar ke dunia luar, seluruh kekaisaran pasti akan memburunya untuk dibedah.
Cahaya coklat keemasan di dada Yang Zhen perlahan meredup dan menghilang. Yang Zhen membuka matanya secara perlahan, menampakkan kilatan cahaya kuning redup di pupil matanya yang hitam pekat.
Ia mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lantai batu granit di bawahnya.
Krak krak krak.
Lantai batu yang keras itu tiba-tiba melunak seperti lumpur hisap di sekitar pergelangan tangannya.
"Elemen Tanah telah bangkit sepenuhnya." ucap Yang Zhen tersenyum puas.
Dengan elemen ini, ia tidak hanya bisa menciptakan dinding pertahanan yang tak tertembus, tapi juga bisa memanipulasi gravitasi di sekitarnya dalam skala kecil.
Jika digabungkan dengan elemen air miliknya, Yang Zhen bisa menciptakan teknik mematikan yang tak bisa ditebak oleh siapa pun.
"Zhen, kau sudah selesai?!" tanya Wang Hao memastikan gempa kecil itu sudah berhenti.
"Sudah, dan rasanya sangat menyegarkan." jawab Yang Zhen sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya.
Otot-otot di tubuhnya kini terlihat lebih padat dan keras, memancarkan daya tahan layaknya batu karang di lautan. Su Lin berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat, menatap Yang Zhen dari atas sampai bawah.
"Kultivasimu melompat lagi." ucap Su Lin dengan nada setengah iri setengah takjub. "Kau benar-benar bukan manusia biasa."
"Tentu saja aku hanya manusia biasa, Nona Su." Yang Zhen kembali tersenyum jahil. "Jika kau tidak percaya, kau boleh menyentuh dadaku yang bidang ini untuk memastikannya."
"Mati sana!" Su Lin mendengus kesal dan segera memutar badannya berjalan menuju pintu keluar.
Yang Zhen tertawa lepas melihat reaksi lucu dari dewi akademi yang selalu kaku itu.
"Ayo kita susul rombongan Tuan Muda Chen Fei." ajak Yang Zhen kepada Wang Hao. "Mereka pasti sedang kebingungan menghadapi jebakan di lorong tengah sekarang."
Ia sengaja meninggalkan ketiga mayat pembunuh bayaran itu di sana sebagai hiasan reruntuhan. Tujuan utamanya datang ke tempat ini telah tercapai dengan sangat sempurna.
Kini saatnya ia kembali ke kota dan memulai pertunjukan penutup untuk menghancurkan Keluarga Zhao beserta pion-pion bodoh mereka. Namun sebelum itu, ia harus memastikan Chen Fei mendapatkan pedang pusakanya agar aliansi militer mereka terjalin permanen.
'Kita akan melihat apakah Tuan Muda Chen itu layak untuk menerima sedikit bantuanku lagi.' batin Yang Zhen menyeringai tipis.
Malam ini, sejarah Hutan Kabut Kematian telah ditulis ulang oleh seorang ahli strategi licik dari masa depan.