NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 – Sebelum Segalanya Berubah

“Takdir selalu datang diam-diam. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi aba-aba. Ia hanya mengubah hidup seseorang dalam sekejap.”

--

Sabtu pagi selalu memiliki suasana yang berbeda. Lalu lintas Jakarta tidak sepadat hari kerja, jalanan masih dipenuhi embun tipis yang perlahan menghilang bersama matahari yang mulai meninggi. Udara terasa lebih bersahabat, seolah memberi kesempatan bagi setiap orang untuk beristirahat sejenak dari ritme kota yang nyaris tak pernah berhenti bergerak.

Di rumah keluarga Maheswari, aroma bawang putih dan mentega memenuhi dapur kecil yang sejak pagi telah dipenuhi aktivitas. Hendra sedang sibuk membuat sarapan, meski hasil makanannya tidak pernah semewah restoran, kedua putrinya selalu mengatakan bahwa masakan ayah mereka memiliki rasa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Mungkin itu dikarenakan Hendra membubui masakannya dengan kasih sayang, atau mungkin karena sejak kepergian sang istri, pria setengah baya itu harus belajar memasak, bukan karena hobi, melainkan agar kedua putrinya tidak pernah merasa kehilangan rumah.

Alina berdiri di samping meja makan seraya mengiris buah. Sesekali ia akan membantu mengambil piring atau menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Di ruang keluarga, Keira tertawa kecil saat melihat Raka yang berkali-kali gagal membantu ayahnya untuk menghidupkan pemanggang roti.

“Ayah, sepertinya memang lebih aman kalau Raka bagian cuci piring saja.” Suara Raka tersebut disambut tawa kecil oleh Hendra. “Dari pada nanti rotinya benar-benar gosong, kan?” Ucap Raka lagi dan membuat Hendra menggeleng seraya tersenyum.

“Kamu ini. Baru dua kali pegang alat sudah menyerah.”

“Takut di marahi istri, ayah.” Raka menoleh seraya tersenyum lebar. “Bukti kalau aku suami yang bijaksana.” Ucapan itu membuat suasana rumah kembali dipenuhi gelak tawa.

Alina memperhatikan semuanya dalam diam, dan entah kenapa ia selalu senang saat melihat kakaknya tertawa seperti itu. Setelah sekian lama mengenal Raka, ia menyadari satu hal. Pria itu bukan seseorang yang pandai mengucapkan kata-kata romantis, namun ia selalu berhasil membuat Keira tersenyum. Bagi Alina, itu semua sudah lebih dari cukup.

Sarapan pagi berlangsung sederhana, tak ada pembicaraan yang berat di sela-selanya, mereka hanya saling bertukar cerita mengenai pekerjaan, rencana akhir pekan, dan beberapa hal kecil yang sering kali justru menjadi kenangan paling berharga.

Di sela percakapan, Hendra sempat menatap kedua putrinya bergantian. Tatapan seorang ayah yang diam-diam dipenuhi oleh rasa syukur. Keira telah menemukan seseorang yang mencintainya dengan baik. Sementara Alina, Hendra sudah menganggap Birendra bukan sekedar calon menantu. Pria itu sudah berulang kali membuktikan ketulusannya.

“Ibu kalian pasti sangat senang melihat kalian sekarang.” Batin Hendra.

--

Di sisi lain kota, Birendra telah berada di kantor lebih pagi dari biasanya. Gedung yang biasanya ramai kini masih tampang lengang, hanya beberapa petugas keamanan dan staff kebersihan yang terlihat berlalu-lalang di koridor.

Ia berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah tenang. Di dalam laci meja, sebuah kotak beludru biru masih tersimpan rapi. Birendra membukanya perlahan, kilau berlian kecil yang dikelilingi enam kelopak melati memantulkan cahaya matahari yang masuk dari balik jendela.

Untuk sesaat ia hanya memandangi cincin tersebut, bukan karena ia ragu, tetapi ia tengah membayangkan satu momen yang telah lama dinantikan. Birendra membayangkan Alina akan terkejut, bahkan mungkin menangis atau justru tertawa seraya mengatakan bahwa semuanya terlalu berlebihan.

Membayangkan berbagai kemungkinan sudah cukup membuat sudut bibirnya terangkat, hingga suara langkah kaki membuyarkan lamunannya. Celine muncul di ambang pintu seraya membawa dua gelas kopi.

“Ternyata benar.” Birendra mendongakkan kepalanya.

“Apa?”

“Kamu benar-benar datang lebih pagi hanya untuk melihat cincin itu.” Pernyataan Celine membuat Birendra terkekeh, ia sedikit malu karena gerak-geriknya diketahui oleh wanita itu.

“Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.”

Celine kemudian menyerahkan secangkir kopi kepada Birendra sebelum akhirnya ia ikut berdiri di dekat jendela. Jakarta terlihat tenang dari lantai tertinggi gedung itu. “Jadi kapan?” Tanya Celine penasaran, dan Birendra pun tampak menarik napasnya perlahan.

“Hari ini aku mau menemui pak Hendra.” Celine menoleh. “Kalau beliau mengizinkan, minggu depan aku ingin melamar Alina.” Tidak ada jawaban selain senyum hangat yang mengembang di wajah Celine saat itu.

Mendengar semua itu membuat Celine merasa lega, selama bertahun-tahun mengenal Birendra, baru kali ini ia melihat pria tersebut tampak begitu gugup menghadapi sesuatu. Bukan saat menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah atau saat membuka cabang perusahaan diluar negeri, tetapi ketika ia hendak meminta izin kepada seorang ayah untuk menikahi putrinya.

“Dia akan bahagia.” Suara Celine terdengar lirih dan langsung dibalas anggukkan oleh Birendra.

“Aku juga berharap begitu.”

Menjelang siang, Keira dan Raka berpamitan. Keduanya berencana menghabiskan dua hari dikawasan pegunungan yang berada di Puncak. Mereka pergi untuk bukan untuk bulan madu, namun hanya untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Sudah beberapa minggu terakhir Raka selalu disibukkan oleh proyek kantornya, sementara Keira merasa perlu mengajak suaminya menikmati waktu berdua sebelum keduanya kembali tenggelam dalam pekerjaan.

“Jaga kesehatan ya, Yah.” Tutur Keira seraya memeluk ayahnya dengan cukup lama.

“Kalian juga hati-hati.” Raka kemudian menyalami Hendra.

“Do’akan perjalanannya lancar, Yah. Mudah-mudahan setelah perjalanan ini kami bisa membawa kabar baik.” Ucap Raka usai menyalami ayah mertuanya. Hendra mengangguk pelan, kemudian Raka menoleh ke arah Alina. “Kamu jangan terlalu sibuk bekerja.” Alina terkekeh mendengar ucapan kakak iparnya.

“Pesan itu harusnya buat kak Raka. Bukannya kak Raka yang paling sering lembur?” Goda Alina yang membuat Keira menggeleng seraya tersenyum.

“Makanya aku paksa dia liburan.” Celetuk Keira dan semuanya tertawa kecil bersamaan.

Tak lama kemudian mobil mereka perlahan meninggalkan halaman rumah. Alina dan Hendra masih berdiri di teras, melambaikan tangan hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan.

Sore telah tiba, dan Birendra akhirnya tiba dirumah keluarga Maheswari. Di tangannya terdapat sebuah kotak berisi kue favorit Hendra. Birendra selalu datang membawa sesuatu ketika datang kesana. Baginya, bertamu dengan tangan kosong terasa kurang sopan.

Baru beberapa langkah memasuki halaman, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terkejut—Direktur Operasional. Birendra lekas menerima panggilan itu, ekspresinya perlahan berubah serius.

Dalam panggilan itu disampaikan bahwa telah terjadi masalah pada salah satu pengiriman berlian impor yang harus segera ditangani hari itu juga. Ia memejamkan matanya untuk sesaat, bukan karena kesal, tetapi ia kecewa, karena hari yang telah ia siapkan ternyata harus tertunda beberapa jam.

Usai menerima panggilan itu, Birendra memutuskan untuk bertemu dengan Hendra sejenak hanya untuk memberikan kue yang ia bawa, kemudian berpamitan dan meminta maaf karena belum sempat berbincang panjang, Birendra harus kembali menuju kantornya dan ia berjanji akan datang lagi malam harinya.

“Pekerjaan memang tidak bisa menunggu.” Birendra mengangguk. Namun entah kenapa saat mobilnya menjauh dari rumah itu, muncul perasaan yang sulit di jelaskan, seolah ada sesuatu yang sedang berusaha menghentikannya.

Malam mulai menyelimuti kota, lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Di jalan tol menuju puncak, mobil yang dikendarai Raka melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil terdengar alunan lagu lama kesukaan Keira. Wanita itu memiringkan sandaran kursinya seraya memandang langit malam dari balik jendela.

“Capek?” Raka melirik sekilas ke arah istrinya, namun Keira langsung menggeleng cepat.

“Aku cuma lagi bahagia.” Ucap Keira seraya tersenyum. Raka membalas senyuman itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Tangan Raka perlahan menggenggam jemari sang istri beberapa detik sebelum kembali memegang kemudi. Tidak ada kata-kata romantis maupun janji yang muluk yang diciptakan oleh Raka, hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka.

Di balik langit malam yang tampak begitu tenang, takdir selalu menulis satu halaman baru, halaman yang tak seorang pun ingin membacanya, dan di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul perlahan, menutupi cahaya bulan yang sejak tadi menemani perjalanan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!