When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Deru Salju di Celah Tebing
Hari ketiga perjalanan menuju tanah Utara terasa bagaikan mimpi buruk yang merayap perlahan.
Langit biru segar ibu kota telah lama lenyap, berganti hamparan awan kelabu tebal yang menggantung rendah.
Di luar jendela kereta, pemandangan pepohonan hijau berubah menjadi jajaran pinus meranggas yang tertutup lapisan es tipis, memutih sejauh mata memandang.
Di dalam kabin kereta yang berguncang keras mengikuti lekuk jalanan berbatu yang makin menanjak, Evelyn meringkuk di bawah tumpukan selimut.
Sensasi dingin di wilayah perbatasan ini begitu ganas, menembus celah-celah kayu dan menyerang tubuhnya tanpa ampun.
Setiap kali roda kereta menggilas batu raksasa atau lubang es, tubuh Evelyn terguncang hebat, memicu rasa sakit yang menusuk tajam dari pinggang hingga ke dasar dadanya.
Uhuk! UHUK!
Evelyn terbatuk lagi, tubuhnya melengkung menahan nyeri yang membakar paru-parunya.
Sapu tangan di genggamannya kini dipenuhi noda merah pekat yang kian mengering.
"Nona... tolong usahakan minum air hangat ini sedikit saja," bisik Lisa, pelayan muda yang diperintahkan ikutan mengawal.
Jemari Lisa gemetar hebat saat menyodorkan cangkir dari kotak pemanas sihir.
Matanya sembap, menatap cemas pada Evelyn yang tampak begitu ringkih dan rapuh di balik tumpukan selimut.
Evelyn membuka matanya yang berat dengan perlahan.. Dengan tangan gemetar yang tak bertenaga, ia mencoba meraih cangkir itu.
"T-terima kasih, Lisa..." cicit Evelyn, suaranya hampir tak terdengar.
Belum sempat bibirnya menyentuh tepi cangkir, sebuah guncangan dahsyat menghantam kereta!
DUAK!
Kereta miring tajam ke kiri! Cangkir terlepas dari genggaman Lisa, tumpah membasahi lantai kereta, sementara Evelyn terlempar ke samping, membentur dinding kayu kereta dengan keras!
"Aakh!" jerit Evelyn tertahan, rasa sakit di dadanya membuat pandangannya mendadak gelap gulita selama beberapa detik.
"Nona!" jerit Lisa histeris, buru-buru merangkak dan menahan tubuh Evelyn agar tidak terguling makin jauh.
Di luar kabin, suara lolongan angin badai mendadak meledak dengan keganasan yang luar biasa!
Suara pekikan kuda jantan yang panik bercampur dengan teriakan serak Komandan Vanes menembus badai.
"TAHAN TALI KEKANGNYA! TAHAN!" teriak Vanes di tengah gemuruh salju yang menderu-deru. "RODA DEPAN KIRI TERPEROSOK KE CERUK ES! JANGAN BIARKAN KERETA TERSERET KE JURANG!"
Kereta kuda itu kini berhenti, dalam posisi miring yang berbahaya di tepi jalanan tebing perbatasan.
Badai salju pertama yang datang jauh lebih cepat dari perkiraan telah menghantam rombongan mereka secara mendadak.
Butiran salju tajam bagaikan pecahan kaca menderu menghantam dinding kereta, membuat suhu di dalam kabin merosot tajam dalam hitungan detik.
Pintu kereta terdorong terbuka sedikit dengan kasar. Udara es yang sangat dingin langsung menyembur masuk, memadamkan pendar hangat dari batu sihir pemanas di sudut ruangan seketika!
Komandan Vanes menyusupkan kepalanya yang tertutup mantel salju, wajahnya yang garang dipenuhi lapisan es di bagian alis dan kumisnya.
"Nona Evelyn! Anda tidak apa-apa?!" tanya Vane dengan napas tersengal-sengal, matanya liar memindai keadaan kabin.
Evelyn bersandar pada dada Lisa, mencoba mendudukkan dirinya kembali. "V-Vanes... apa yang terjadi di luar?"
"Badai salju es melintasi Celah Lembah Tengkorak lebih cepat dua hari dari ramalan cuaca, Nona!" seru Vanes dengan nada panik yang jarang sekali keluar dari mulut prajurit veteran itu.
"Roda depan kereta kita terperosok ke dalam retakan batu es yang dalam. Kuda-kuda ketakutan karena badai makin ganas, dan jarak pandang di luar sekarang benar-benar nol!"
Vanes mengusap lapisan es di wajahnya dengan kasar. "Dokter Tristan di kereta belakang tersangkut sekitar lima ratus meter di bawah tebing. Kereta mereka tidak bisa maju karena ada longsoran es kecil yang menutup jalanan! Kita terjebak di sini, Nona!"
Lisa menjerit ketakutan, meremas mantel Evelyn. "Gimana ini, Komandan?! Nona Evelyn demam tinggi! Kalau kita bertahan di dalam kereta yang miring dan dingin ini tanpa perapian... Nona bisa membeku!"
Evelyn memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang mulai melayang. Hawa dingin yang menyusup ke paru-parunya rasanya seperti menelan jarum es yang tajam.
Dadanya begitu sesak, setiap helaan napas adalah perjuangan mati-matian.
Namun, otak Kirana di dalam tubuhnya menolak untuk panik. Panik hanya mempercepat detak jantung dan membuang oksigen yang makin tipis.
"Vanes..." panggil Evelyn, tangannya terulur meraih kerah mantel Vane.
"Berapa jarak kita dari pos perbatasan terdepan milik Obsidian?"
Vanes tersentak, terkejut dengan ketenangan menakutkan yang dipancarkan gadis yang sedang kritis di depannya itu.
"Menurut peta... pos pertahanan luar Benteng Winterfell ada di balik bukit batu ini, Nona. Sekitar satu atau dua mil dari sini," terang Vane cepat. "Tapi tempat itu adalah wilayah militer ketat Obsidian! Pria-pria zirah hitam di sana tidak bakal segan melepaskan anak panah pada siapa pun yang mendekat tanpa izin resmi!"
"Bagus..." bisik Evelyn, bibirnya yang pucat mengukir sebuah senyuman tipis. "Itu artinya... bantuan cuma sejengkal dari sini."
"N-Nona Maksud Anda gimana?!" tanya Vanes membelalakkan mata.
Evelyn terbatuk pelan, menyapu sisa darah di bibirnya dengan punggung sarung tangannya.
"Bakar... bakar flare sihir darurat milik Pasukan Shadow ke udara sekarang juga."
Vanes melotot tak percaya. "Flare darurat?! Tapi Nona, kalau kita menyalakan flare sihir berwarna merah itu di perbatasan Utara, pasukan panah Obsidian bakal menganggap ini sebagai serangan atau penerobosan musuh! Mereka bisa mengepung kita dengan senjata lengkap!"
"Memang itu tujuannya, Vanes..." bisik Evelyn.
"Biarkan mereka mengepung kita... karena cuma mereka satu-satunya yang punya alat pengeruk es dan tempat perlindungan hangat buat menyelamatkan kita dari badai ini."
Vanes membeku di tempat, benar-benar syok melihat keberanian gila putri Rosenberg ini. Di saat orang lain bakal bersembunyi dari pasukan Obsidian yang terkenal kejam, Evelyn justru sengaja memancing mereka datang ke lokasi kecelakaan!
"Tapi Nona... kalau mereka tidak mau dengar penjelasan kita dan langsung menawan kita sebagai penyusup—"
"Mereka tidak bakal berani menyentuh kita..." sela Evelyn tegas. "Lepaskan lambang penyamaran Asteria... tunjukkan stempel resmi keluarga Rosenberg dan surat perjanjian rahasia itu pada komandan pos mereka. Bilang pada mereka... kalau Putri Evelyn von Rosenberg mati membeku di tanah mereka malam ini... seluruh pasokan kristal Luminite buat wilayah Utara bakal dibakar habis oleh Julian besok pagi."
Vanes menahan napas, pria itu tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Lakukan sekarang, Vanes!" perintah Evelyn seraya terbatuk lagi. "Sebelum kita semua benar-benar jadi patung es di tebing ini!"
"Siap, Nona!" seru Vanes tegas. Prajurit itu menarik badannya keluar.
Di luar, Evelyn bisa mendengar langkah-langkah kaki berat para pengawal yang bersusah payah merayap di atas salju tebal. Beberapa detik kemudian…
DOR! SRRRR!
Sebuah dentuman nyaring terdengar menembus deru angin badai.
Cahaya merah pekat merekah terang di langit malam yang gelap, menerangi butiran-butiran salju yang menderu liar di atas tebing.
Flare sihir darurat Rosenberg telah membubung tinggi, memancarkan sinyal bahaya sekaligus tantangan terbuka tepat di atas wilayah perbatasan Obsidian.
Di dalam kabin kereta, suhu merosot tajam dengan cepat. Lisa terus menangis seraya memeluk tubuh Evelyn yang kian menggigil hebat.
Bintik-bintik es mulai terbentuk di ujung-ujung helai rambut Evelyn.
Evelyn memeluk kotak pemanas sihir yang energinya kian redup di pangkuannya. Rasa sakit di dadanya kini menjalar ke seluruh persendian tubuhnya.
Rasanya seolah-olah seluruh alur mananya sedang dibekukan secara paksa dari dalam.
Dingin... dingin banget… batin Evelyn, matanya makin berat untuk terbuka.
Gambaran kehidupan masa lalunya sebagai Kirana yang kelelahan di meja kerja kantor, bercampur aduk dengan memori Evelyn yang terbaring lemah di atas ranjangnya.
Ia telah melangkah sangat jauh dari skenario novel asli.
"Aku nggak bakal mati di sini..." bisik Evelyn pada dirinya sendiri. "Aku yang memegang alur cerita ini... bukan badai sialan ini..."
Kesadarannya mulai meredup perlahan.
Namun tepat sebelum matanya tertutup sepenuhnya…
Suara derap langkah kaki kuda-kuda jantan dalam jumlah besar menembus gemuruh angin badai!
Suara benturan zirah besi yang berat, denting pedang yang ditarik dari sarungnya, dan teriakan-teriakan berwibawa khas prajurit elit Utara menggema di sekeliling kereta yang terperosok!
"DIAM DI TEMPAT! KEPUNG KERETA TANPA LAMBANG ITU!" teriak sebuah suara bariton yang asing dan tegas menembus badai.
Pintu kereta kuda mendadak dihantam dan terdorong terbuka lebar dari luar!
Serbuan angin es bercampur salju tebal menyembur masuk, sosok-sosok jangkung berzirah besi hitam berlambang serigala es kini berdiri mengelilingi pintu kabin yang miring.
Obor-obor sihir berwarna biru menyala terang, menerangi interior kereta yang mengenaskan.
Lisa menjerit ketakutan, meringkuk di sudut.
Di ambang pintu kereta, seorang ksatria tinggi besar berpangkat kapten dari Pasukan Obsidian menatap ke dalam kabin dengan pedang terhunus.
Namun, matanya seketika membelalak kaget saat cahaya obor menerangi sosok gadis berambut perak yang terkulai lemah di antara selimut.
Wajah gadis itu begitu pucat pasi bagai mayat, bibirnya membiru, namun di tangannya yang terkulai dingin... tergeletak sebuah stempel emas berukir lambang Rosenberg dan sebuah stempel kayu berukir bunga Aster.
"K-Kapten..." bisik salah satu prajurit Obsidian di belakangnya dengan suara bergetar tak percaya. "Gadis ini... ini Putri Evelyn von Rosenberg! Gadis yang dicari oleh Lord Cassian!"
Kapten pasukan itu buru-buru menyarungkan pedangnya, wajah garangnya seketika dipenuhi kepanikan.
Ia menyadari sepenuhnya konsekuensi bencana politik luar biasa yang bakal terjadi jika putri tunggal keluarga Rosenberg mati di tanah kekuasaan mereka!
"AMBIL SELIMUT PEMANAS SEKARANG!" teriak Kapten Obsidian itu dengan suara melengking di tengah badai. "EVAKUASI KERETA INI! Bawa putri ini ke Benteng Winterfell SECEPATNYA! Kalau dia sampai mengembuskan napas terakhir... Lord Cassian bakal menguliti kita semua hidup-hidup!"
Prajurit-prajurit berzirah hitam itu buru-buru maju, dengan hati-hati, mengangkat tubuh dingin Evelyn dari dalam kabin kereta yang rusak, membalutnya dengan mantel bulu serigala tebal milik pasukan mereka, lalu membawanya melesat menembus teror badai salju menuju benteng utama.
Di tengah kesadarannya yang samar-samar dan melayang, Evelyn merasakan tubuhnya diangkat dan dipindahkan ke dalam dekapan hawa hangat yang membungkusnya.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang membiru sebelum kegelapan merengkuh dirinya sepenuhnya.
semangat nulisnya 💪