Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
From Tangled to Serene
"Ngapain Lo berdua?" Tanya vahan menatap Mex dan Afghan
"Mau belajar lah..gak liat gue bawa buku segambreng gini?" Balas Afghan sambil meletakkan buku bukunya di lantai teras dengan gerakan yang cukup kasar
"Emang boleh?" Tanya vahan lagi
"Boleh.. soalnya besok kita juga gak sekolah karena di skors" tutur Mex
Vahan tampak terkejut "karena apa? Jangan jangan gara nyebat waktu itu?"
Mex mengangguk "iya.. sebelum pelajaran kita di panggil ke kantor. Terus ya..gitulah"
Vahan mengangguk santai. Karena menurut vahan itu memang sudah seharusnya "berapa Minggu?"
"Satu" balas Afghan dan mex serentak
Vahan menatap mereka dengan tatapan tidak suka "kenapa cuman seminggu?"
Afghan menyikut vahan "kok Lo gitu sih?"
Vahan mengendikkan bahunya "ya masa gue yang masalahnya cuman karena gak fokus di pelajaran hukuman nya sama sama kalian yang ngerokok"
Mex menimpali "soalnya sudah kelas tiga han. Kalo di skors terlalu lama ntar gak bisa ngikutin pelajaran"
Raut wajah vahan masih sama kusutnya "ya itu urusan Lo. Ngapain sekolah merduliin hal itu"
Mex menggaplok Vahan "lo kenapa dah? Kenapa Lo jadi Hiri dengki gini?"
Jawaban nya karena mood vahan sedang tidak baik-baik saja. Ia terus memikirkan billby yang ia pikir sedang marah dengan nya
"Ya iri lah" ungkap vahan jujur "kenapa dunia gak adil? Gak cuman di sekolah. Di rumah juga. Lo berdua pasti gak kena tampar kayak gue kan?"
Mex dan vahan terkikik Geli menatap vahan yang misuh misuh. Lalu Afghan mengelus pipi vahan yang di tampar Bram tadi "masih sakit hm?" Ucap Afghan lembut sambil menatap vahan
Vahan refleks menyingkirkan tangan Afghan dengan kasar "jijik banget sih Lo!"
Berbeda dengan vahan yang makin tidak mood. Afghan dan mex justru tertawa lepas
"Udahlah.. masuk aja Lo berdua. Gue mau belajar sendiri" usir vahan dengan wajah tidak selera hidup
Afghan memeluk lengan vahan sambil menggoyang-goyangkan nya "gak mau.. Afghan mau belajar sama Abang vahan" balas Afghan dengan nada manja
Plak!
Vahan memukul Afghan dengan kekuatan super. "minggir lo!"
Mex menengahi "gue liat liat Lo kayak lagi ada masalah"
"Gak ada" balas Vahan cuek
"Btw, Lo berdua dipanggil cuman karena masalah rokok?" Tanya vahan yang tiba tiba penasaran dengan kronologi dua temannya waktu di panggil ke ruang guru
"Gue jadi kesel! Pasti si billby yang Cepu kan?" Celetuk Afghan
"Jangan asal nuduh Lo!" Bantah vahan sewot
"Siapa lagi kalo bukan si bocil rese itu?" Afghan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Mas Vahan.. ini ada paket" tiba tiba satpam rumahnya datang sambil membawa paper bag
Vahan menatap si satpam dengan dahi yang mengerut "buat aku?"
Si satpam mengangguk pasti "iya.. ini tulisannya untuk vahan"
"Perasaan aku gak ada pesan apa apa deh" ucap vahan merasa bingung
Si satpam meletakkan paper bag tersebut di dekat vahan "udah coba di buka aja.. mungkin dari pacarnya atau siapa"
Vahan melotot "heh, saya gak punya pacar" tukas vahan cepat
"Saya bilang mung-kin" ujar si satpam dengan menekan kan kata 'mungkin'. Lalu kembali ke posko tempat kerjanya
"Coba buka coba buka" desak Afghan penasaran
"Ya ini juga mau dibuka kali. Sabar dikit Napa" vahan membalas dengan nada tinggi
"Lo kenapa dah? Menstruasi?" Interogasi Afghan bingung. Biasanya vahan itu minim ekspresi. Tapi, kali ini?
"Lo bener lagi ada masalah ya?" Timpal Mex
Vahan perlahan membuka paket misterius tersebut dengan dahi berkerut. Alih-alih hanya berisi makanan, di dalam paper bag itu terdapat sebua kotak pizza yang di atasnya terikat sebuah boneka beruang pintar berbulu cokelat dengan pita merah besar.
Vahan, Mex, dan Afghan sempat terdiam beberapa detik, menatap benda berbulu tersebut dengan pandangan bingung sekaligus heran karena tidak menyangka ada orang yang mengirimkan mainan malam-malam begini.
Sebelum tangan Vahan sempat menyentuh boneka tersebut, Mex dengan gerakan cepat langsung menyerobotnya dari atas kotak pizza.
Dengan wajah serius yang layaknya agen rahasia, Mex memutar-mutar boneka itu di depan matanya dan meraba-raba bulunya dengan penuh kecurigaan. "Bentar, Han, jangan dipegang dulu. Zaman sekarang bahaya, siapa tahu ini kiriman dari mata-mata sekolah atau musuh kita yang mau balas dendam. Gue mau ngecek dulu, barangkali di dalam mata boneka ini ada kamera tersembunyi, atau jangan-jangan... ada alat penyadap suaranya!" tuduh Mex sok tahu sembari menekan-nekan brutal tubuh boneka malang itu.
Afghan yang awalnya bingung langsung ikut condong ke depan, memperhatikan aksi paranoid Mex. "Emang iya? Coba raba-raba badannya, kali aja ada kabel."
Mex mengangguk setuju.
Aksi acak Mex yang menekan seluruh tubuh boneka itu justru tidak sengaja mengenai tombol pemutar rekamannya di bagian belakang. Detik berikutnya, sebuah suara feminim yang terdistorsi speaker mainan mendadak menggema memecah ketegangan Mex, vahan, dan Juga afghan di teras malam itu.
Setelah boneka itu selesai menuangkan seluruh
isi surat billby, Afghan menatap vahan dengan tatapan terkejut "dari billby. Baru aja kita gibahin. Berarti panjang umur tuh anak"
Mex juga langsung menatap vahan "dia minta maaf?"
Tiba tiba saja mood vahan yang awalnya seperti benang kusut tiba tiba jadi adem
jadi dia gak marah sama gue? Batin vahan tersenyum tipis. Sangat tipis sampai Mex dan afghan tidak menyadarinya
"Jadi bener tadi pagi Lo di injek sama billby? Tanya Afghan yang pasti sudah di beritahu oleh si Mex
"Mana hp?" Vahan menyodorkan tangannya
Mex dan Afghan tampak kesal.
"Mana hp?" Pinta vahan lagi. Tapi, kali ini agak sewot
"Gue gak bawa" balas Mex.
"Gue juga enggak. Orang mau belajar" timpal Afghan
Vahan menahan tangan Mex yang sedang membuka kotak pizza. "Dia minta pap. Jangan dimakan dulu"
"Halah..ribet Lo Han. Tinggal foto kardus sama surat nya juga cukup kali" ujar Mex
"Lagian ini pizza. Kalo dah dingin mozzarella nya gak molor" tambah laki-laki itu
"Kalo gue ambil hp ketahuan gak ya?" Tanya vahan
"Ketahuan" balas Mex asal. Ia meletakkan boneka tersebut di dekat vahan lalu mengambil satu potong pizza dan memakannya
Vahan hanya menatap tanpa melarang lagi.
"Lo gak mau?" Mex menatap Afghan
Afghan berekspresi jijik sambil menatap pizza yang Mex makan "ogah.. gue anti sama yang ber- billlby billby an"
Mex mengendikkan bahunya "padahal enak"
Vahan mengambil boneka dari billby lalu meletakkan boneka tersebut di pangkuannya. Lalu mulai memakan pizza buatan billby "ini lebih enak dari yang pertama. Soalnya masih anget"
Mex menatap Afghan "lo serius gak mau?" Mex mendekat kan pizza di tangannya ke penciuman Afghan agar temannya itu tergoda
"Lo ada masalah apa sama billby sih? Menurut gue dia anaknya lumayan baik" ucap vahan yang moodnya sudah berkali-kali lipat jauh lebih baik dari sebelumnya.
Moodnya yang awal seperti benang kusut berubah menjadi adem.
Entah bodoh apa gimana. Tiba tiba Afghan mengambil satu potong pizza dan memakannya "tiba tiba laper gue"
Mex menatap Afghan remeh "makanya gak usah sok sok an"
Lalu tiba-tiba muncul teriakan "INI YANG KATANYA BAKAL FOKUS BELAJAR HAH? INI BELAJAR ATAU PARTY?KALIAN MALAH PESEN PESEN MAKANAN. MANA HP KALIAN?" Ellie berkacak pinggang sambil menatap tiga bujang di depannya yang sedang menikmati sekotak pizza
"Kita gak beli ma.. ini dari pacarnya vahan" balas Afghan cepat "kita gak ada yang megang hp" lanjut Afghan sambil mengangkat tangannya
Vahan melotot "bukan. Ini.. ini dari temenku. Aku gak punya pacar"
Karena penasaran Ellie mendekat, lalu ikut duduk di lingkaran bujang bujang SMA ini "mama mau coba" perempuan itu mengambil satu potong yang ada di kotak lalu memakannya.
Ellie mengunyah dengan pelan. "Em..enak. ini beneran dari pacar kamu?"
Vahan langsung menggelengkan kepalanya "bukan. Aku gak punya pacar"
"Tapi, ini dari cewek?" Tanya ellie lagi "atas dasar apa malam malam begini ngirimin kamu makanan? Apa temen sekolah kamu?" Tanya ellie beruntun. Ia memang sangat penasaran. Ia pikir vahan tidak memiliki teman perempuan