NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Arka mengurus sendiri semua administrasi keluar rumah sakit. Saat ia kembali ke kamar, hari sudah mendekati sore. Yulia sedang melipat beberapa pakaian ayahnya ke dalam tas, sementara Pak Mahendra duduk di kursi roda dengan wajah masih lemah, tetapi jauh lebih hidup dibanding kemarin.

"Semua beres," kata Arka sambil menyerahkan dokumen. "Kita pulang."

Yulia menerima berkas itu dengan kedua tangan. "Uang rumah sakit dan uang untuk Raka... aku akan mengembalikan semuanya."

"Nanti."

"Arka, itu Rp300 juta."

"Aku tahu. Aku yang melemparnya."

Yulia menatapnya, lalu tidak bisa menahan senyum kecil. Setelah dua hari penuh rasa takut, kalimat Arka yang seenaknya justru membuat dadanya sedikit longgar.

Mereka membawa Pak Mahendra kembali ke apartemen kecil Yulia. Tempat itu tidak mewah, tetapi bersih. Ada rak buku lama, meja makan kayu, dan foto Yulia bersama ayahnya di dinding. Setelah semua kekacauan di rumah sakit, ruangan sederhana itu terasa seperti pelabuhan sementara.

Arka membantu memapah Pak Mahendra ke kamar. Yulia membetulkan bantal, menyiapkan air hangat, lalu menutup pintu kamar dengan pelan setelah ayahnya tidur.

Ketika ia keluar, wajahnya terlihat lelah sampai hampir transparan.

"Kamu juga istirahat," kata Arka.

"Aku masak dulu."

"Kamu baru saja hampir diseret Bima."

"Justru karena itu aku ingin masak." Yulia mengikat rambutnya asal. "Kalau aku hanya duduk, pikiranku akan kembali ke sana."

Arka akhirnya ikut ke dapur.

Dapur Yulia sempit. Dua orang berdiri di dalamnya saja sudah membuat siku mudah bersentuhan. Arka memotong bawang, sementara Yulia menumis bumbu. Aroma bawang, cabai, dan kecap memenuhi ruangan. Sesekali bahu mereka bersenggolan, dan Yulia selalu sedikit kaku sebelum pura-pura sibuk mengaduk wajan.

Saat Yulia membungkuk mengambil botol kecap di rak bawah, celana jinsnya mengikuti lekuk tubuhnya dengan terlalu jelas. Tangan Arka yang memegang pisau berhenti sebentar.

"Arka, bawangnya..."

Yulia menoleh dan menangkap tatapannya.

Udara dapur langsung berubah.

Arka pura-pura melihat talenan. "Bawangnya agak keras."

Yulia menatap bawang yang sudah tercincang halus, lalu tertawa kecil. "Kamu masih suka panik seperti murid dulu."

"Dulu aku tidak pernah melihat guru mengambil kecap seperti itu."

Wajah Yulia memerah. "Jangan kurang ajar."

"Aku cuma jawab."

"Jawabanmu yang kurang ajar."

Makan malamnya sederhana: ayam kecap, tumis kangkung, telur dadar, dan sup bening untuk Pak Mahendra. Arka makan dengan lahap. Yulia awalnya hanya mengambil sedikit, tetapi melihat Arka terus memuji masakannya, ia akhirnya ikut tersenyum.

"Kalau kamu selalu memuji seperti ini, aku bisa salah paham," kata Yulia.

"Salah paham apa?"

"Bahwa masakanku benar-benar enak."

"Memang enak."

Pak Mahendra yang duduk di kursi roda menghela napas. "Yulia sejak kecil pandai masak. Sayang hidupnya jatuh ke tangan laki-laki seperti Raka."

Suasana meja langsung canggung.

Arka melirik Pak Mahendra. Pria tua itu memang baru sadar dari koma, tetapi kemampuan merusak suasana makan tampaknya masih sehat.

Setelah makan, Pak Mahendra kembali ke kamar. Yulia membereskan meja, lalu duduk di sofa. Baru beberapa menit, wajahnya tiba-tiba pucat. Ia menekan perut bawah dengan tangan, napasnya menahan sakit.

"Kenapa?" Arka langsung mendekat.

"Tidak apa-apa. Biasanya begini."

"Nyeri haid?"

Yulia menatapnya, malu bercampur kesal. "Kamu sekarang bicara hal seperti itu dengan mantan gurumu?"

"Kalau mantan guruku sakit, iya."

Arka memegang nadi Yulia. Aliran qi di tubuhnya dingin dan tersumbat di bagian bawah perut. Bukan penyakit besar, tetapi cukup menyiksa jika datang setiap bulan.

"Aku bisa bantu pijat. Pakai aliran panas untuk melancarkan darah."

Yulia langsung ingat malam di mobil. Wajahnya semakin merah. "Di perut?"

"Di perut."

"Kalau kamu sengaja mengambil kesempatan..."

"Kamu boleh potong utangku dari Rp300 juta."

Yulia tertawa pelan, lalu berbaring di sofa. Ia menarik ujung kaus sedikit ke atas, cukup untuk memperlihatkan perut putih yang tegang oleh nyeri. Arka duduk di sampingnya, menaruh telapak tangan di bawah pusar, lalu menyalurkan qi perlahan.

Tubuh Yulia awalnya kaku. Namun panas dari telapak Arka segera meresap, membuat rasa nyeri yang menusuk berubah menjadi hangat yang nyaman. Napasnya melembut. Suara kecil lolos dari bibirnya sebelum sempat ditahan.

Ia langsung memalingkan wajah.

"Lebih baik?" tanya Arka.

"Jangan tanya dengan tangan masih di situ."

"Kalau dilepas, sakit lagi."

Yulia tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir, tetapi tubuhnya tidak menolak. Tangan Arka bergerak pelan mengikuti titik yang dibutuhkan. Tidak liar, tidak terburu-buru, namun jarak mereka terlalu dekat untuk disebut biasa.

"Kamu bilang kontrakanmu mau habis?" tanya Yulia tiba-tiba.

"Iya. Anak pemilik rumah mau menikah."

"Pindah ke sini saja."

Tangan Arka berhenti.

Yulia membuka mata. Wajahnya merah, tetapi ucapannya tidak ditarik kembali. "Ada kamar kosong. Ayah juga butuh orang yang bisa dipercaya di dekatnya. Aku belum bisa membayarmu. Setidaknya kamu tidak perlu sewa."

"Kamu yakin?"

"Kamu sudah melihat hidupku paling berantakan. Apa lagi yang perlu kusembunyikan?"

Arka menatapnya. Ada malu di wajah Yulia, tetapi juga keberanian yang pelan-pelan tumbuh.

"Baik. Besok aku bawa barang."

Yulia menutup mata. Rasa sakitnya mereda, digantikan rasa kantuk yang hangat. Sebelum benar-benar tidur, ia bergumam, "Terima kasih, Arka."

Arka menarik selimut tipis dan menutup tubuhnya.

Ponsel di meja bergetar.

Nama kontak di layar membuat Arka hampir tertawa.

`Binatang Tidak Berguna`.

Raka.

Arka membawa ponsel ke balkon dan menjawab.

"Yulia! Jangan kira semua selesai karena uang itu!" suara Raka langsung meledak. "Rp300 juta itu cuma pokoknya. Bunga, denda, kerugian mental, semuanya belum dihitung!"

Arka mendengarkan sampai suara Raka habis.

"Selesai?"

Sisi lain telepon sunyi. "Arka? Kenapa ponsel Yulia ada di kamu?"

"Yulia capek. Dia baru tidur."

"Tidur?" suara Raka langsung naik. "Di mana? Kalian satu rumah?"

"Besok aku pindah ke sini."

Raka memaki panjang. Arka langsung memutus sambungan, memblokir nomornya, lalu mengembalikan ponsel ke meja.

Di sofa, Yulia tidur tenang.

Arka mematikan lampu ruang tamu, menyisakan cahaya kecil dari dapur. Malam itu, apartemen kecil itu masih penuh masalah, tetapi untuk beberapa jam ke depan, tidak ada Raka, tidak ada Bima, dan tidak ada orang yang bisa menyeret Yulia keluar dari rumahnya sendiri.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!