Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Nona hamil?" Kaget Sari.
*****
Akila mengangguk, air matanya tak bisa berhenti untuk tidak keluar lagi.
"Bagaimana ini?" Tanya Akila dengan lelah.
Kembali Sari memeluk Akila, dengan lembut Sari mengusap puncak kepala Akila.
"Nona harus tenang dan Nona harus berpikir lebih jernih. Jangan sakiti diri Nona. Kita sudah berhasil lepas dari Tuan William." Ucap Sari begitu lembut berucap tanpa menghentikan usapan di kepala Akila.
Akila tak lagi terisak walau air mata tetap saja jatuh dari matanya.
"Aku harus apa Sari? Aku tak mau mengandung benih dari pria sejahat William, dia pria menakutkan dan menjijikan. Dia adalah pria yang begitu kejam." Ucap Akila.
Sari tersenyum begitu hangat.
"Saya percaya bahwa Nona adalah wanita yang kuat." Ucapan Sari mampu membuat Akila terdiam dalam pelukan itu.
---
Sejak mengetahui kehamilan itu Akila mulai mengurung diri, sudah satu hari full ia tak keluar dari kamar membuat Sari cemas.
Yang lapar itu sudah pasti bukan hanya Akila karena ada bayi dalam perut Akila pun juga perlu nutrisi yang berasal dari Akila.
Ketukan pintu membuat Akila yang duduk di ranjang menatap ke arah pintu.
"Nona Akila, saya bawa makanan untuk Nona. Jika malam ini Nona tak mau makan, nanti Nona akan sakit. Tolong buka pintunya Nona, saya cemas." Ucap Sari dengan nada penuh harap.
Akila menunduk, tangannya dengan gemetar mengusap perut miliknya.
"Aku egois sekali. Padahal bayi ini tak pernah memohon untuk ada di dalam perutku. Dia makhluk tanpa dosa." Gumam Akila tak berhenti menatap perutnya.
Bagi Akila, tidak diinginkan itu sangat menyakitkan. Dan Akila tak mau memiliki sifat membenci bayi yang bahkan berasal dari darah dagingnya sendiri walaupun William ambil bagian didalamnya.
Akila tersenyum kecil, ia berusaha sedikit tegar menghadapi kenyataan yang ada.
Ia merasa dirinya sangat egois jika membenci calon bayinya itu, kehamilan bukanlah hal yang salah dan Akila sadar untuk itu. Jika dia hamil maka bukan hak ia menghukum calon bayi itu.
"Maafkan Mommy." Ucap Akila mengusap perutnya.
Akila turun dari ranjang itu lalu membuka pintu kamarnya.
Sari bernafas lega saat melihat Akila mau membuka pintu itu.
"Aku akan makan malam Sari, ayo kita makan bersama." Ajak Akila.
Sari tersenyum melihat Akila menampilkan wajah yang sedikit bersemangat.
"Baik Nona." Balas Sari.
'Aku salah jika menyalahkan calon bayiku, aku berjanji akan tetap melahirkan bayi ini sekalipun hanya seorang diri membesarkannya nanti. Bayi ini hanya milikku, bukan William.' ucap Akila membatin seraya menatap banyak makanan yang tersusun di atas meja.
Akila tak menahan diri lagi, ia makan dengan lahap tanpa mau membuat calon bayi di perutnya ikut kelaparan karena ulah Akila.
'Aku tak akan stress, aku tak mau mempengaruhi kandunganku. Bayi ini harus terlahir dengan sehat, karena aku akan merawatnya dengan baik.' ucap Akila membatin.
Akila mau menjadi sosok Mommy yang baik bagi Anaknya kelak.
---
Kota X - Markas William
Rahang tegasnya tampak mengeras, tangannya terkepal dan tatapannya sangat dingin usai mendengar ucapan seorang pria yang ada di hadapannya itu.
"Apa kau bilang?" Tanya nya, ada nada kemarahan disana.
Pria itu menunduk takut.
"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tak bisa menemukan Nona Akila. Semuanya..."
"Tutup mulutmu! Dia hanya wanita lemah dan tidak berdaya sama sekali, apa setahun lebih ini bukan waktu yang lama bagimu untuk mencari keberadaannya? Aku mau itu wanita kembali padaku lagi!" Tegasnya.
Dia adalah William.
William dipenuhi amarah, ia menatap bawahannya dengan benci. Sudah setahun ini dia menggila berharap Akila tahu diri dan kembali tapi wanita itu sungguh hilang entah kemana.
Akila sungguh hilang secara total tanpa jejak.
William kini melangkah mendekati pria itu lalu mencengkram kuat pakaiannya.
"Kau sungguh tidak berguna!" Ucap William.
Pria itu meringis saat tubuhnya ditendang dengan sangat kuat, tak hanya sampai disitu saja... William melayangkan beberapa pukulan di wajah pria itu.
William melampiaskan amarahnya, darah mulai keluar dari hidung dan mulut pria itu. Ia tak melawan karena sadar bahwa ia hanya bawahan William saja.
Hingga pintu terbuka, ada Reno yang muncul.
Reno terkejut, pantas saja diruangan itu terdengar keributan.
"Tuan, Tuan. Kendalikan emosimu Tuan, memukulinya tak akan membuat Nona Akila kembali datang lagi." Ucap Reno.
William langsung berhenti, kepalanya terangkat menatap wajah Reno membuat Reno seketika sadar bahwa ia baru saja sangat berani berucap pada Tuannya itu.
"Barusan kau mengatakan apa? Apa kau punya informasi mengenai Akila hingga berani berucap seperti itu padaku? Jika kau tidak punya sama sekali, maka tutup saja mulutmu itu Reno!" Ucap William seraya bangkit dari posisinya.
Tubuh Reno gemetar, tangannya mengambil sesuatu lalu memberikan surat pada William.
"Sa-saya baru saja menemukan ini di kamar yang pernah Nona Akila tempati. Hari ini Tuan meminta pelayan membersihkan kamar itu setelah sekian lama." Ucap Reno.
Reno tak membaca apapun, ia langsung memberikannya pada William.
William mendudukkan bokong miliknya di meja kerjanya.
"Kalian keluar dari ruangan ku." Ucap William.
Reno dan pria itu bergegas keluar.
Seperginya dua orang itu, kini William menatap surat kertas itu.
Ia membukanya lalu melihat ukiran tangan disana. Ada rangkaian kata yang tercipta.
---
[Isi Surat Akila]
"William Hartawan, kau iblis yang menakutkan! Jika kelak aku terlahir di dunia ini kembali, aku berharap tak memiliki urusan apapun denganmu. Aku membenci pikiranku karena pernah menganggap kau sosok yang baik. Ternyata kau pria yang kejam dan menakutkan! Kau penghancur hidupku! Kau perusak harapanku! Kau adalah pria paling menjijikkan yang pernah aku temui!"
"Dasar pria bodoh! Kau begitu mudah dimanipulasi oleh kebencianmu sendiri! Kau tak pernah bertanya, tak pernah mendengar, kau hanya menghakimi! Dan kau menghancurkan hidupku atas dasar kebencian yang kau ciptakan sendiri!"
"Asal kau tahu William, aku bukan pembunuh! Aku tidak pernah membunuh Aunty Natalie! Aku menolongnya! Aku membantunya keluar dari mobil itu! Tapi kau terlalu buta untuk melihat kebenaran!"
"Aku benci dirimu! Aku benci setiap sentuhanmu! Aku benci setiap detik yang aku habiskan di dekatmu! Kau telah mengambil segalanya dariku—kehormatanku, kebahagiaanku, dan harapanku! Dan untuk apa? Untuk balas dendam yang bahkan tidak kau tahu apakah benar!"
"Aku harap kita tidak pernah bertemu di masa depan atau kapanpun itu. Aku lebih memilih mati daripada harus bertemu denganmu lagi. Aunty Natalie orang yang baik, terlalu disayangkan jika dia memiliki putra sekejam dan sebodoh dirimu!"
[Akhir Isi Surat]
Tangan William terkepal, merasakan dari ketulusan setiap isi rangkaian kata Akila. Terlebih mengapa Akila menyebut Natalie dengan sebutan Aunty? Itu mengusik William.
William terdiam sejenak, matanya bahkan terpejam.
"Kalau bukan kau yang mengemudi, kenapa kau enggan mengatakan siapa yang membunuh Mommy ku? Harusnya katakan itu padaku bodoh! Jika kau tak kembali kepadaku, maka aku akan terus menuduhmu sampai selamanya Akila! Kau bertanggung jawab atas kematian Mommyku." Ucap William.
Tangan terkepal itu sampai memutih karena ia menahan amarahnya yang hendak membuncah.
---
Pintu ruangan diketuk lagi. Reno masuk dengan wajah pucat dan ekspresi yang berbeda dari biasanya.
"Tuan..." ucap Reno ragu.
"APA LAGI?!" bentak William frustasi.
Reno menelan ludahnya susah payah. Ia memegang sebuah tablet yang berisi laporan penting.
"Tuan, tim investigasi yang Tuan tugaskan untuk mencari gadis misterius dari hotel malam itu... mereka akhirnya menemukan identitasnya." Ucap Reno dengan hati-hati.
William langsung menegang. Matanya menyipit tajam.
"Siapa?" Tanya William dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Reno menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang akan mengubah segalanya.
"Gadis itu adalah... Nona Akila Georgina, Tuan."
William terdiam. Tubuhnya membeku. Matanya membulat sempurna.
"Apa?" bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.
Reno melanjutkan dengan suara gemetar. "Tim kami menemukan rekaman CCTV dari hotel malam itu. Wajahnya sama persis dengan Nona Akila. Dan setelah kami selidiki lebih lanjut, Nona Akila adalah gadis yang Tuan temui di bar malam itu. Dia mabuk dan salah masuk ke mobil Tuan. Dia tidak sengaja berada di sana. Dan yang lebih penting..."
Reno berhenti sejenak, menatap William dengan tatapan penuh makna.
"Kami menemukan fakta bahwa Nona Akila adalah gadis yang benar-benar baik. Sepanjang penyelidikan kami, tidak ada satu pun catatan buruk tentang dirinya. Dia korban, Tuan. Bukan pelaku."
William terdiam. Dunianya terasa berputar.
Akila... adalah gadis misterius itu.
Gadis yang mengganggu pikirannya selama setahun lebih.
Gadis yang tubuhnya terasa begitu familiar di bawahnya.
Gadis yang—
William menutup matanya, merasakan kepalanya berdenyut hebat.
Bersambung
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .