NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.NIKAH WASIAT

Malam peluncuran ekspansi Mahendra Group di hotel bintang lima malam itu menyajikan kemewahan yang sempurna. Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya pada ratusan gelas sampanye yang berdenting. Namun, di tengah hiruk-pikuk tawa sopan para pengusaha papan atas, pejabat pemerintah, dan pesohor tanah air, Abiyasa Mahendra berdiri di sudut ruang dengan ekspresi tak tersentuh.

​Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, Abiyasa bukan sekadar penerus; ia adalah penguasa baru. Jas hitam yang dijahit khusus membalut tubuh tegapnya dengan presisi tanpa cela. Wajahnya yang tegas, dipadu dengan rahang kokoh dan tatapan mata tajam berwarna cokelat gelap, memancarkan aura dominasi yang sukar ditandingi. Bagi dunia bisnis, Abiyasa adalah lambang efisiensi total: rasional, dingin, dan sama sekali tak memiliki ruang untuk kesalahan—apalagi emosi.

​"Rapat direksi besok dimajukan pukul tujuh pagi, Pak," bisik sekertaris pribadinya, Hendra, yang berdiri tepat setengah langkah di belakangnya.

"Persiapan akuisisi saham anak perusahaan di Singapura sudah delapan puluh persen."

​Abiyasa menyedot sisa minuman di gelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari aula. "Jadikan seratus persen sebelum rapat dimulai. Aku tidak suka mendengar kata 'hampir'."

​"Baik, Pak."

​Bagi Abiyasa, hidup adalah deretan angka, kalkulasi risiko, dan garis batas yang jelas. Cinta, hubungan sentimental, dan pernikahan hanyalah variabel yang mengganggu ketertiban. Ia telah merancang masa depannya hingga sepuluh tahun ke depan: memperluas imperium Mahendra Group, menguasai pasar Asia Tenggara, dan memilih pasangan dari kalangan berpengaruh yang mengerti batas profesionalisme ketika saatnya tiba.

​Ia tidak pernah menduga bahwa seluruh rencana presisi yang dibangunya dengan susah payah akan dihancurkan oleh sebuah dokumen bertinta emas dan tanda tangan seorang pria tua yang ia hormati melebihi siapa pun: almarhum kakeknya, Suryo Mahendra.

​Tiga minggu lalu, surat wasiat almarhum Kakek Suryo dibacakan. Syarat utama untuk mempertahankan posisi Abiyasa sebagai Chief Executive Officer (CEO) sekaligus pemegang saham pengendali Mahendra Group bukan pencapaian omzet atau akuisisi perusahaan baru. Syaratnya cuma satu: menyunting seorang gadis bernama Nadira Kirana.

​Gadis yang bahkan belum genap berusia sembilan belas tahun. Gadis yang status resminya di mata negara dan masyarakat masih merupakan seorang siswi SMA tingkat akhir.

​Suara bel istirahat menggelegar di sepanjang koridor SMA Garuda Mulia, merobek keheningan kelas 12 IPA 2. Dalam hitungan detik, suasana riuh khas remaja memenuhi ruangan. Di barisan ketiga dekat jendela, seorang gadis berseragam putih-abu-abu tampak menghela napas panjang, lalu menjatuhkan dahi pasrah ke atas tumpukan buku kalkulus.

​Nadira Kirana mengacak rambut panjangnya yang diikat asal-asalan. Rok abu-abunya yang sedikit mengkerut dan sepatu kets putihnya yang pudar menegaskan statusnya sebagai remaja biasa—bukan putri konglomerat, bukan pula bintang sekolah. Ia adalah Nadira: ceria, agak ceroboh, pecinta boba, dan impian terbesarnya saat ini hanyalah lulus Ujian Nasional serta diterima di jurusan Seni Rupa universitas negeri pilihan.

​"Nad! Kamu kenapa, sih? Dari tadi pagi melamun terus," tanya Sheila, sahabat karibnya, sambil menepuk bahu Nadira dan duduk di tepi meja.

"Ujian kalkulus tadi emang susah, tapi muka kamu udah kayak mau dihukum mati."

​Nadira mengangkat kepalanya perlahan, memandangi Sheila dengan tatapan lesu dan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Mana mungkin ia bisa bercerita? Mana mungkin ia bisa jujur bahwa pikirannya sama sekali tidak dipenuhi oleh rumus kalkulus, melainkan oleh sebuah gaun pengantin putih yang sudah tergantung rias di kamarnya?

​bagaimanakah cara menjelaskan kepada teman-temannya bahwa seminggu lagi ia tidak akan sekadar memikirkan tugas sekolah, melainkan harus tinggal satu atap dengan seorang pria dewasa bertubuh jangkung yang raut wajahnya lebih menyeramkan daripada Kepala Sekolah mereka?

​"Aku... cuma kurang tidur, Sheil," kilih Nadira pelan, mencoba mengulas senyum terbaiknya meski bibirnya terasa kaku. "Banyak pikiran aja soal... pendaftaran kuliah."

​"Halah, tenang aja kali. Kita kan bisa belajar bareng nanti," hibur Sheila seraya menarik tangan Nadira. "Yuk ke kantin! Hari ini ada bakso pak Kumis, kamu yang bayar es tehnya ya!"

​Nadira tertawa kecil, mengikuti langkah sahabatnya. Namun, di dalam hatinya, sebuah ganjalan besar meremas dada. Ia teringat percakapan malam itu di meja makan rumahnya—sebuah rumah sederhana yang menyimpan hutang budi mendalam pada keluarga Mahendra.

​Kakek Nadira adalah almarhum sahabat karib Suryo Mahendra, seorang mantan prajurit yang pernah menyelamatkan nyawa pendiri Mahendra Group tersebut. Janji di masa lalu yang diikat oleh dua tetua kini dibebankan penuh ke atas pundak Nadira dan Abiyasa. Ketika almarhum Kakek Suryo jatuh sakit parah bulan lalu, janji perjodohan itu resmi ditagih sebagai permintaan terakhir sebelum beliau menutup mata.

​Ibunda Nadira menangis malam itu, memohon agar Nadira mau menerima perjodohan ini demi menghormati amanat almarhum kakek dan menyelamatkan kehormatan keluarga. Nadira yang polos dan sangat mencintai ibunya tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk pelan, tanpa benar-benar memahami betapa besarnya jurang yang bakal melompati kehidupannya.

​Prosesi pernikahan itu berlangsung dalam kerahasiaan yang amat ketat. Tidak ada pesta megah di ballroom hotel, tidak ada sorot kamera media, dan tidak ada ribuan karangan bunga yang memadati halaman. Atas permintaan mutlak Abiyasa, akad nikah digelar secara tertutup di kediaman pribadi keluarga Mahendra, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan saksi-saksi terpercaya.

​Abiyasa duduk di depan penghulu dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Jas fomalnya tampak kontras dengan suasana ruangan yang sunyi. Ia mengucap kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas, lancar, tegas, dan dingin—seolah-olah sedang menandatangani kontrak akuisisi lahan senilai miliaran rupiah.

​Di sampingnya, Nadira duduk membeku dalam balutan kebaya putih sederhana. Tangan kecilnya yang memegang bunga mawar terasa gemetar.

Ketika diminta mencium tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya, Nadira bisa merasakan aroma parfum woody dan maskulin yang mahal menyengat indra penciumannya, terasa begitu asing dan menakutkan. Kulit tangan Abiyasa terasa hangat namun kokoh, sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang sedingin es.

​Saat tatapan mata mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah sah menjadi suami istri, Abiyasa tidak memberikan senyuman manis atau tatapan teduh. Ia hanya menatap Nadira datar, dari ujung rambut hingga ujung kaki—sebuah tatapan menilai yang membuat Nadira merasa kerdil dan salah tempat.

​"Ingat janji kita," bisik Abiyasa sangat pelan saat mereka berdiri untuk bersalaman dengan orang tua, suara bass-nya yang berat menggelegar hanya untuk pendengaran Nadira. "Di luar rumah ini, kamu hanyalah siswa SMA biasa. Jangan pernah sebut namaku, jangan pernah sebut hubungan ini pada siapa pun. Pernikahan ini hanya di atas kertas."

​Nadira menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia hanya mampu mengangguk kaku.

​Malam pertama mereka tidak dihiasi oleh romantisme seperti di dalam novel-novel picisan yang sering dibaca teman-teman sekolah Nadira.

​Griya Tawang (penthouse) milik Abiyasa yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit pusat kota terasa sangat luas, mewah, namun mati. Interior berkonsep minimalis modern dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca tebal membuat tempat itu lebih mirip museum seni futuristik daripada sebuah rumah tinggal.

​Nadira berdiri canggung di tengah ruang tamu yang luasnya hampir sama dengan tiga kali luas rumah sederhananya. Ia masih mengenakan piyama kaos longgar bergambar kartun dan membawa tas punggung sekolahnya yang berisi buku-buku pelajaran besok.

​Abiyasa keluar dari kamar utama dengan mengenakan kemeja santai yang lengan panjangnya digulung hingga ke siku, menampilkan lengan kekar dan jam tangan mewahnya. Ia membawa sebuah berkas tebal di tangan kirinya dan meletakkannya di atas meja kaca di depan Nadira.

​"Duduk," perintah Abiyasa pendek.

​Nadira dengan patuh duduk di ujung sofa kulit, melipat kedua tangannya di atas pangkuan.

​"Ini adalah peraturan selama kita tinggal bersama," ujar Abiyasa tanpa basa-basi, membuka lembaran kertas tersebut. "Kamar kamu ada di sebelah kiri koridor. Kamar saya di sebelah kanan. Kamu tidak diperbolehkan masuk ke kamar saya atau ruang kerja saya tanpa izin."

​Nadira menyimak dengan mata membulat.

​"Kedua," lanjut Abiyasa dengan suara datar tanpa emosi. "Jadwal kamu adalah sekolah. Jadwal saya adalah mengurus perusahaan. Saya tidak akan mencampuri urusan sekolahmu, dan kamu sama sekali tidak boleh mencampuri urusan bisnis saya. Di sekolah, kamu bukan bagian dari keluarga Mahendra."

​"T-tapi... kalau ada teman atau guru yang tanya kenapa saya pindah alamat—"

​"Gunakan alasan rumah kerabat," potong Abiyasa cepat, menatap mata Nadira tajam. "Saya sudah mengatur supir untuk mengantar dan menjemput kamu. Tapi pengantaran hanya sampai dua blok sebelum gerbang sekolahmu. Saya tidak ingin ada desas-desus atau mobil Mahendra Group terlihat di area SMA Garuda Mulia."

​Nadira meremas pinggiran bajunya. Keputusasaan dan kekesalan mulai bertumpuk di dadanya. Pria di hadapannya ini sama sekali tidak memperlakukannya sebagai seorang manusia atau istri, melainkan sebagai sebuah masalah operasional yang harus dimanajemen dengan ketat.

​"Ketiga," Abiyasa menatap Nadira lurus-lurus. "Pernikahan ini berlangsung sampai kamu lulus sekolah dan situasi saham perusahaan stabil. Setelah itu, kita akan mencari jalan keluar yang paling efisien tanpa merugikan pihak mana pun. Paham?"

​Kalimat terakhir itu meluncur begitu mudah dari mulut Abiyasa. Sebuah batas tegas yang menandakan bahwa keberadaan Nadira di hidupnya hanyalah sebuah penundaan sementara.

​Nadira menatap pria di depannya. Ada rasa takut, namun di balik kepolosannya, gadis itu juga memiliki ketegaran. Ia menarik napas dalam-dalam, mengangguk tegas sambil menatap balik mata tajam sang CEO.

​"Paham, Pak Abiyasa," jawab Nadira dengan penekanan pada kata 'Pak', sengaja menyindir sikap formal pria tersebut. "Saya juga tidak berniat mengganggu hidup Anda. Saya cuma mau menyelesaikan sekolah saya dengan tenang."

​Abiyasa sedikit menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan keberanian tersembunyi yang ditunjukkan oleh gadis muda di hadapannya. Namun ekspresi itu menghilang secepat ia muncul, kembali digantikan oleh topeng dinginnya.

​"Bagus kalau kamu mengerti. Sekarang masuk kamar dan tidur. Besok kamu harus sekolah."

​Abiyasa berbalik menuju ruang kerjanya, meninggalkan Nadira yang berdiri sendirian di tengah ruangan megah yang dingin.

​Nadira melangkah masuk ke kamarnya yang luas, mematikan lampu, dan berdiri di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian. Di balik keindahan cahaya kota itu, Nadira menyadari satu hal: kehidupannya yang santai sebagai remaja telah berakhir malam ini.

​Ia kini terjebak di dalam sebuah sangkar emas bersama seorang pria asing yang berhati es.

Sebuah ikatan pernikahan tanpa cinta yang harus ia jalani di bawah bayang-bayang rahasia besar, sementara besok pagi, ia masih harus pura-pura menjadi siswi SMA biasa yang memikirkan tugas matematika dan ulangan harian.

​Prolog kehidupan barunya telah dimulai, dan tak ada satu pun dari mereka yang tahu, apakah ikatan ini akan hancur berantakan atau justru mengubah takdir mereka berdua selamanya.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!