Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Ketidaksenangan mulai muncul
Di kantor, aku berusaha fokus bekerja. Namun pikiranku terus kembali ke rumah.
"Bu Fitri?" Suara Nisa membuyarkan lamunanku.
"Eh Iya, Bu.."
"Kamu enggak apa-apa?" Tanya nya.
"Enggak bu, memang nya Kenapa?"
"Dari tadi salah input terus." Jawabnya dengan menunjuk ke layar komputer.
Aku pun melihat layar komputer. Benar saja. Beberapa angka yang ku ketik ternyata keliru.
"Maaf."
"Kamu lagi banyak pikiran ya?" Tanya nya lagi.
Aku tersenyum tipis. "Sedikit."
Nisa menepuk bahuku. "Kalau butuh teman cerita, bilang ya."
"Iya terima kasih." Aku merasa beruntung masih bertemu orang-orang baik di luar rumah.
Sore harinya, aku pulang tepat waktu. Begitu masuk rumah, kulihat Bu Mirna sedang duduk bersama tiga orang ibu-ibu tetangga. Aku langsung memberi salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku tersenyum sopan. "Permisi ya, Bu."
Baru saja aku hendak masuk ke kamar, Bu Mirna memanggilku.
"Fitri."
"Iya, Ma?"
"Coba buatkan teh sama gorengan buat tamu." Ucap Mertuaku.
"Iya, Ma."
Aku langsung menuju dapur. Aku membuatkan teh hangat, lalu menggoreng pisang dan tempe yang masih ada. Sekitar dua puluh menit kemudian, semuanya ku hidangkan.
"Silakan, Bu." Ucapku menyajikan masakan ku atas meja.
"Terima kasih." Jawab ibu-ibu itu.
Aku kembali ke dapur untuk mencuci peralatan. Namun tanpa sengaja, aku kembali mendengar percakapan mereka.
"Mir."
"Hmmm?"
"Menantumu rajin juga ya."
Bu Mirna tertawa kecil. "Rajin kalau ada orang saja."
Aku membeku.
"Hah? maksudnya?"
"Sekarang mah pintar cari muka. Kalau enggak disuruh ya tidur-tiduran di kamar."
Tanganku yang sedang mencuci gelas langsung berhenti. Air keran masih mengalir. Hatiku terasa perih.
Padahal... Sejak pulang tadi aku bahkan belum sempat duduk. Aku langsung membuatkan minuman untuk tamu. Tetapi di depan mereka... Aku tetap digambarkan sebagai menantu pemalas. Salah satu ibu-ibu berkata pelan.
"Sayang ya."
"Padahal kelihatannya baik."
"Iya. Makanya jangan lihat orang dari luarnya." Bu Mirna mertuaku menambahkan.
Air mataku hampir jatuh. Aku buru-buru membasuh wajah agar tidak ada yang melihatku menangis.
---
Malam harinya, tamu-tamu akhirnya pulang. Aku sedang menyapu teras ketika Bu Siska menghampiriku.
"Fitri."
"Iya, Bu?"
"Kamu jangan marah ya."
"Kenapa, Bu?" Ucapku.
"Saya cuma mau bilang...Kalau memang tinggal sama mertua itu ya harus lebih rajin." Ucap Bu Siska.
Aku tersenyum hambar.
"Iya, Bu." Jawabku pendek.
"Soalnya kasihan Bu Mirna. Apa-apa sendiri. Orang udah tua itu harusnya ya banyak istirahat." Ucap nya lagi.
Aku hanya tersenyum hambar. Setelah mengatakan itu, beliau lalu pergi. Aku hanya berdiri mematung. Aku tidak menjelaskan apa pun. Karena aku tahu... Sekeras apa pun aku membela diri... Orang akan lebih percaya pada cerita yang lebih dulu mereka dengar.
---
Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, aku masuk ke kamar. Mas Viyan sudah lebih dulu berbaring.
"Sayang."
"Iya, Mas?"
"Kamu kok lesu?"
Aku menggeleng. "Enggak kok."
Mas Viyan duduk lalu memegang kedua tanganku.
"Jangan bohong."
Tatapannya begitu tulus. Aku tak mampu lagi menahan semuanya. Air mataku akhirnya jatuh.
"Eh...Kenapa?" Mas Viyan langsung panik.
Aku mengusap pipiku. "Enggak apa-apa."
"Fitri. Cerita sama Mas." Bujuk Suamiku.
Aku menggeleng lagi. "Kalau aku cerita....aku takut Mas mengira aku sedang mengadu tentang Mama."
Mas Viyan terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
"Aku cuma capek, Mas. Capek kerja., Capek ngurus rumah, Capek... selalu dinilai buruk."
Mas Viyan memelukku erat. "Maaf."
"Bukan salah Mas."
"Maaf karena Mas belum bisa jadi suami yang benar-benar melindungi kamu." Ucap Mas Viyan mengusap punggung ku.
Aku menangis di pelukannya. Tanpa kami sadari...Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Bu Mirna melihat kami. Beliau tersenyum tipis. Lalu berbalik masuk ke kamarnya sambil berbisik pelan,
"Menangislah, Fitri. Semakin kamu menangis...semakin mudah Mama membuat Viyan percaya kalau kamu perempuan yang lemah dan suka menghasut suami."
Rencana Bu Mirna belum berhenti.
Justru...
Beliau sedang menyiapkan fitnah berikutnya yang akan membuat seluruh tetangga memandang Fitri dengan hina.
Bersambung..