"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
Amerta mengerutkan keningnya saat sebuah usikan cahaya yang hangat menembus celah gorden abu-abu arang dan menerpa kelopak matanya yang tertutup rapat. Ia melenguh pelan, menggerakkan jari-jemari tangannya yang semalam terasa kaku akibat menggenggam telapak tangan yang membara. Tubuhnya perlahan bergerak, mencoba meregangkan otot-ototnya yang anehnya tidak terasa kaku atau pegal sedikit pun, sebuah kejanggalan yang langsung mengusik kesadarannya.
Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya dari sisa-sisa kantuk yang berat, Amerta tersentak kaget. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit ruangan yang tinggi. Ia menyadari sebuah perubahan posisi yang drastis. Ia tidak lagi terduduk kaku di atas lantai marmer yang keras dengan kepala yang ditopang tidak nyaman di tepi sofa kulit.
Tubuhnya kini tengah berbaring dengan sangat nyaman di atas sofa kulit yang luas, empuk, dan hangat milik Mahesa. Seluruh tubuh mungilnya diselimuti oleh selembar selimut wol tebal yang luar biasa lembut, menguar aroma maskulin yang sangat pekat—campuran kayu cendana dan mint segar yang begitu ia kenali.
Amerta langsung terduduk tegak, membiarkan selimut wol itu merosot ke pangkuannya. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang lebih cepat saat ia melempar pandangannya ke sekeliling ruang kerja yang luas tersebut. Pemandangan di hadapannya tampak begitu rapi, seolah-olah tidak pernah terjadi drama semalam. Baskom air hangat, handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres, serta sisa mangkuk bubur yang digunakannya untuk menyuapi Mahesa semalam telah menghilang tanpa bekas. Ruangan itu kembali steril, dingin, dan kaku.
Di seberang ruangan, tepat di balik meja kerja jati yang besar dan kokoh, sesosok pria tegap sedang berdiri membelakanginya. Pria itu menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan taman samping rumah yang masih basah oleh sisa hujan semalam.
Laki-laki itu sudah berpakaian sangat rapi, siap untuk menghadapi dunia korporatnya yang kejam. Setelan jas formal tiga potong (three-piece suit) berwarna gelap yang mewah telah melekat sempurna di tubuh kekarnya, membingkai bahunya yang lebar dan tegap. Rambut indahnya yang semalam berantakan kini telah disisir klimis tanpa cela dengan gaya pomade yang tegas. Penampilannya begitu segar, bugar, dan penuh wibawa, seolah-olah gejala tifus, erangan kesakitan, dan demam tinggi yang membakar tubuhnya semalam hanyalah sebuah ilusi atau mimpi fiktif di dalam kepala Amerta.
Mendengar pergerakan kasar dan desis halus dari arah sofa kulit, Mahesa membalikkan tubuh tegapnya secara perlahan. Sepasang mata birunya yang sebiru laut luas langsung mengunci manik mata Amerta. Namun, tidak ada sisa-sisa kerapuhan atau binar penuh permohonan dari malam tadi. Mata itu kini kembali menatap Amerta dengan pandangan yang luar biasa datar, sedingin es kutub, dan sepenuhnya tidak peduli. Topeng angkuhnya telah terpasang kembali dengan sangat kokoh.
"Sudah bangun?" tanya Mahesa. Suaranya kembali bariton, dalam, berat, dan penuh dengan nada wibawa yang mengintimidasi ruangan. "Jika sudah, segera bersihkan dirimu. Kamar kerja ini harus disterilkan dan dirapikan kembali oleh pelayan."
Amerta mematung di tempatnya duduk, kedua tangannya meremas ujung selimut wol tebal di pangkuannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perubahan sikap yang begitu drastis, cepat, dan ekstrem ini selalu berhasil membuat kepalanya pening bukan main. Amerta menatap pria di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang campur aduk. Bagaimana bisa seseorang yang semalam meracau ketakutan dalam tidurnya, menggenggam tangannya begitu erat seolah enggan melepaskannya ke dalam kegelapan, kini menatapnya dengan pandangan sedingin itu? Mahesa menatapnya seolah-olah Amerta hanyalah sebutir debu pengganggu atau hama yang tidak sengaja mengotori ruang kerjanya.
Namun, saat Amerta membuka mulutnya, bersiap untuk membalas ucapan ketus dan tidak tahu terima kasih itu, sebuah sensasi aneh mendadak menjalar di sepanjang permukaan wajahnya. Kulit dahinya terasa sedikit hangat, kelopak matanya terasa luar biasa sensitif terhadap cahaya, dan ada rasa kebas yang samar namun teramat nyata di permukaan bilah bibirnya yang mungil.
Amerta refleks menaikkan jemari tangan kanannya yang gemetar. Ia menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan perasaan bingung yang luar biasa besar. Perasaan ini begitu ganjil dan asing. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang sangat hangat, tebal, dan penuh tekanan telah menempel di sana untuk waktu yang cukup lama di saat ia sedang terbuai dalam tidur lelapnya semalam.
Amerta menghentikan sentuhan jemarinya, lalu melemparkan pandangan menyelidik yang tajam ke arah Mahesa. Ia mencoba menembus dinding es di wajah tampan itu, mencari tahu apakah laki-laki itu telah melakukan sesuatu yang melanggar batas padanya di balik kegelapan dini hari tadi.
Mahesa yang menyadari arah pandangan menuntut dan gerakan tangan Amerta yang menyentuh bibir sama sekali tidak menunjukkan reaksi berarti. Rahang tegasnya tetap mengeras kaku, dan ekspresi di wajah tampannya tidak bergeser satu milimeter pun untuk menampilkan rasa bersalah. Ia melangkah tenang mendekati meja kerja jatinya, mengabaikan tatapan Amerta sepenuhnya, lalu menyambar tas dokumen kulit premium miliknya dengan gerakan tangan yang sangat konstan dan rapi.
"Jangan menatapku dengan pandangan aneh seperti itu," ucap Mahesa dingin tanpa sudi menolehkan kepalanya ke arah sofa. "Asisten pribadiku sudah mengirimkan surat izin resmi ke pihak kampusmu untuk hari ini, jadi kamu tidak perlu repot-repot memikirkan tugas kelompokmu. Tapi untuk besok dan seterusnya, pastikan kamu tidak menyusahkan orang rumah lagi dengan alasan konyol seperti mengurusku."
Kalimat yang keluar dari bibir tebal Mahesa itu terasa seperti tamparan udara dingin yang telak menghantam dada Amerta. Rasa kemanusiaan dan kehangatan yang sempat melunakkan dinding egonya semalam seketika mengeras kembali menjadi kebencian yang pekat. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu cara berterima kasih setelah Amerta mengorbankan waktu tidurnya semalaman penuh demi merawat tubuhnya yang sekarat.
"Aku juga tidak akan pernah sudi berada di ruangan kaku ini kalau bukan karena permintaan egois dan terpaksa dari Kakak sendiri semalam!" balas Amerta dengan nada suara ketus yang sedikit bergetar menahan luapan rasa kesal di dadanya. Ia sengaja menekankan kata 'Kakak' untuk membalas formalitas yang menjengkelkan itu.
Mahesa hanya mendengus meremehkan, sebuah respons vokal pendek yang sangat khas darinya, menegaskan kepada Amerta bahwa seluruh argumen dan kemarahan gadis itu sama sekali tidak memiliki bobot nilai penting bagi hidupnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pamit atau kalimat penutup, laki-laki tegap itu melangkah lebar keluar dari ruang kerja, meninggalkan suara ketukan sepatu pantofelnya yang tegas di atas lantai marmer dan deritan pintu ek besar yang menutup rapat dengan bunyi klik yang mengakhiri konfrontasi pagi itu.
Amerta mengembuskan napas panjang yang terasa begitu sesak di dalam dadanya, mencoba membuang sisa-sisa intimidasi yang ditinggalkan Mahesa di udara. Ia menyibak selimut wol tebal itu dengan kasar, menuruni kasur sofa, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi kecil bergaya minimalis mewah yang terletak di sudut dalam ruang kerja untuk membasuh wajahnya yang terasa lengket. Namun, begitu ia melangkah masuk dan berdiri tepat di depan cermin wastafel marmer yang bersih, langkah kaki Amerta mendadak terkunci rapat.
Di atas permukaan cermin yang jernih, Amerta menatap lurus ke arah pantulan wajahnya sendiri. Pipinya tampak sedikit merona kemerahan yang tidak biasa, dan kedua bilah bibir mungilnya terlihat sedikit lebih merah, bengkak, dan basah daripada biasanya setelah bangun tidur. Amerta mendekatkan wajahnya ke arah cermin, mencoba memeriksa tekstur kulit bibirnya yang masih terasa kebas.
Namun, di saat jarak wajahnya hanya tersisa beberapa sentimeter dari permukaan cermin, seutas benang halus beraroma sandalwood dan mint yang samar-samar namun teramat pekat tiba-tiba terhirup oleh indra penciumannya—aroma yang persis sama dengan napas dan wangi tubuh Mahesa saat mengurungnya di bawah kasur tempo hari.
Amerta mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Napasnya mendadak memburu cepat, dan jantungnya berdegup gila-gilaan seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya. Sebuah kecurigaan yang luar biasa liar, gelap, dan menakutkan mulai menyergap seluruh sudut pikirannya secara agresif.
Kehangatan di dahi, kelopak mata, dan rasa kebas yang nyata di bibirnya ini jelas bukanlah sekadar halusinasi atau bunga tidur dari tidurnya yang terlalu lelap semalam. Semua jejak fisik dan aroma ini adalah bukti otentik yang tak terbantahkan.
Amerta memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan karena rasa syok yang melumpuhkan logikanya. Apakah Mahesa... kakak tirinya yang terkenal sangat membenci dan mengabaikannya di siang hari... benar-benar telah masuk ke dalam teritorinya dan menyentuhnya di balik senyap malam?
Pertanyaan-pertanyaan mengerikan itu menggantung pekat di udara kamar mandi yang sunyi, mengunci Amerta dalam labirin misteri kegilaan yang semakin gelap dan berbahaya di dalam rumah baru yang megah ini.