Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Enam Menit Menuruni Tangga
"Aku tidak berani..." Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Di luar... orang akan melihat aku..."
Margaret tidak menariknya paksa.
Di tangga sempit antara lantai empat dan lantai tiga, Sophie duduk memeluk pagar besi seperti pagar itu satu-satunya benda yang bisa mencegah dunia menelannya. Napasnya pendek-pendek. Masker kain menutupi separuh wajahnya, tetapi matanya yang terbuka lebar memperlihatkan ketakutan yang tidak bisa ditutup apa pun.
Jason berdiri beberapa anak tangga di bawah, tubuhnya menahan lorong. Bella berjongkok di belakang Sophie, kedua tangannya mengepal di pangkuan, menahan diri agar tidak sembarangan menyentuh.
"Sophie," kata Margaret pelan. "Kita tidak turun sekaligus. Satu anak tangga saja."
Sophie menggeleng.
"Kalau ada orang melihat?"
"Mereka akan melihat aku dulu."
Sophie menatapnya.
Margaret membuka telapak tangan. "Ci Margaret berdiri di depanmu. Jason di depan tangga. Bella di belakangmu. Tidak ada mata yang boleh menyakitimu."
Itu bukan janji yang sepenuhnya masuk akal. Mata orang tidak bisa ditutup satu per satu. Bisik-bisik tidak bisa dicekik sebelum keluar. Tetapi bagi Sophie malam itu, janji tidak perlu sempurna. Ia hanya perlu cukup kuat untuk membuat kakinya bergerak.
Satu anak tangga.
Lalu satu lagi.
Sophie turun dengan mata hampir tertutup. Setiap kali kakinya menyentuh lantai, tubuhnya bergetar seperti sedang menginjak bara. Margaret menghitung dalam hati, bukan untuk mendesak, melainkan agar ia sendiri tidak hancur.
Satu menit.
Dua menit.
Di lantai tiga, pintu salah satu unit terbuka sedikit. Jason langsung menoleh dengan tatapan begitu tajam sampai pintu itu menutup lagi.
"Tidak ada apa-apa," katanya.
Sophie mencengkeram tangan Margaret lebih kuat.
"Aku masih di sini," bisik Margaret.
Tiga menit.
Empat menit.
Di lantai dua, Sophie berhenti lagi. Lututnya hampir menyerah. Bella mengeluarkan suara kecil, tetapi segera menutup mulut.
"Tidak apa-apa," kata Margaret. "Kalau capek, duduk."
Sophie menggeleng. Air matanya jatuh ke masker.
"Aku mau keluar," bisiknya, begitu pelan sampai hampir tertelan napas.
Margaret menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis.
"Kalau begitu kita lanjut."
Lima menit.
Enam menit.
Saat kaki Sophie menyentuh lantai dasar, tidak ada petir, tidak ada orang berteriak, tidak ada dunia runtuh.
Hanya udara malam Ungaran yang lembap, bau tanah basah, dan suara jangkrik dari selokan.
Sophie berdiri kaku di pintu keluar bangunan. Ia tidak berani mengangkat wajah. Tetapi ia sudah keluar.
Bella menangis diam-diam.
Jason memalingkan muka, pura-pura melihat jalan.
Margaret memegang tangan Sophie lebih erat.
"Kamu lihat? Dunia masih di tempatnya. Yang salah bukan kamu."
Sophie tidak menjawab, tetapi jarinya bergerak membalas genggaman Margaret.
Mereka tidak kembali ke rumah Susan. Margaret membawa mereka langsung ke Polsek Ungaran. Jalan malam itu sepi. Jason berjalan paling depan, seolah siapa pun yang muncul akan ia tabrak duluan. Bella berjalan di sisi Sophie, cukup dekat untuk menemani, cukup jauh agar Sophie tetap punya ruang.
Di Polsek, lampu neon membuat wajah semua orang tampak pucat.
Petugas jaga awalnya mengira mereka datang karena keributan biasa. Tetapi ketika Margaret menyebut nama Brian, Susan, dan keadaan Sophie, wajahnya berubah serius.
"Ini laporan kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan, Pak," kata Margaret, suaranya jelas. "Anak ini tujuh belas tahun. Ibunya membiarkan laki-laki bukan keluarga keluar masuk rumah. Anak ini ketakutan sampai tidak berani keluar kamar."
Petugas itu menatap Sophie dengan hati-hati. "Adik bisa cerita?"
Sophie langsung mundur setengah langkah.
Margaret mengangkat tangan. "Jangan paksa. Tulis dulu laporan awal. Dia akan bicara pelan-pelan."
Petugas itu, mungkin karena melihat cara Sophie gemetar, mengangguk. Ia memanggil seorang polisi perempuan dari ruangan belakang. Perempuan itu datang membawa kursi dan segelas air hangat.
"Duduk di sini saja," katanya lembut. "Tidak apa-apa. Tidak ada yang marah."
Sophie duduk, tetapi kedua tangannya tetap menggenggam ujung jaket.
Proses laporan berjalan lambat.
Margaret menjelaskan apa yang ia tahu. Jason memberi keterangan tentang Brian yang berada di rumah dan mabuk. Bella hanya bicara ketika ditanya, tetapi suaranya stabil. Sophie beberapa kali tampak seperti akan pecah. Saat nama Susan disebut, ia menutup telinga dan tubuhnya membungkuk.
"Berhenti dulu," kata Margaret.
Polisi perempuan itu menyingkirkan kertas sebentar. "Boleh. Kita pelan-pelan."
Hampir satu jam kemudian, laporan awal selesai.
Di bagian tanda tangan korban, Sophie menatap pulpen seperti benda itu lebih berat daripada batu.
"Sophie," Margaret berjongkok di sampingnya. "Kalau kamu tanda tangan, bukan berarti kamu harus langsung kuat. Itu hanya berarti kamu mengatakan: yang mereka lakukan salah."
Bibit suara keluar dari tenggorokan Sophie.
"Kalau Mama marah?"
"Biar dia marah pada Ci Margaret."
"Kalau Brian datang?"
Jason, yang berdiri di belakang, berkata datar, "Dia harus lewat aku dulu."
Untuk pertama kalinya, mata Sophie bergerak ke arah Jason. Hanya sebentar. Lalu ia menatap kertas lagi.
Tangannya gemetar saat memegang pulpen.
Garis pertama tanda tangannya hampir patah.
Tetapi ia menulis.
Sophie Tan.
Setelah itu, Margaret membawa mereka ke penginapan kecil dekat terminal. Tidak ada yang benar-benar tidur. Sophie duduk di sudut ranjang, punggung menempel dinding, mata terbuka sampai subuh. Margaret duduk di lantai di sampingnya, tidak memaksa ia berbaring.
Pagi harinya, mereka membeli empat tiket bus ke Semarang.
Rp 35.000 per orang.
Margaret membayar tanpa menawar. Sophie duduk dekat jendela, tetapi tirainya ia tarik hampir tertutup. Tubuhnya masih terbungkus jaket. Masker tetap menutupi wajah.
Saat bus mulai bergerak, Margaret berkata, "Kalau kamu mau, lihat sedikit saja."
Sophie menggeleng.
"Tidak apa-apa. Tirai juga boleh tetap tertutup."
Beberapa menit berlalu.
Lalu, sangat pelan, Sophie membuka tirai selebar dua jari.
Di kursi seberang lorong, seorang Ama tua membawa keranjang sayur. Perempuan tua itu melihat Sophie, lalu tersenyum kecil dan mengangguk sopan sebelum kembali menatap jalan.
Sophie membeku.
Margaret tidak bergerak.
Sophie menunggu. Tidak ada tawa. Tidak ada bisikan. Tidak ada mata yang menelanjangi.
Hanya senyum kecil seorang asing.
"Ci Margaret," bisiknya.
"Hm?"
"Dia melihat aku..."
Margaret menoleh perlahan.
Sophie masih menatap tirai yang terbuka sedikit.
"Seperti melihat orang normal."
Dada Margaret terasa ditusuk dan dihangatkan bersamaan.
"Karena kamu memang orang normal," katanya. "Yang tidak normal adalah orang yang menyakitimu."
Sophie tidak menjawab. Tetapi tirai itu tidak ia tutup lagi.
Menjelang siang, mereka tiba di Perumahan Bukit Indah.
Margaret baru turun dari angkot terakhir ketika melihat sebuah motor asing parkir di depan rumah Lim. Mesin motor itu sudah dingin, berarti tamunya datang cukup lama.
Vanessa muncul dari balik pintu, wajahnya tegang. Begitu melihat Sophie yang berdiri menunduk di samping Margaret, ia sempat terkejut, tetapi tidak berani bertanya.
"Mama," bisik Vanessa. "Papa-nya Livia datang. Robert. Katanya mau bicara soal Jason."
Margaret menatap motor asing itu, lalu rumahnya sendiri.
"Wajahnya?"
Vanessa menelan ludah.
"Tidak bagus."