NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL10

SIAPA JELITA? 2

Ruangan kembali hening. Romi tidak berani mengangkat kepalanya. Ia memilih menunggu apa pun yang akan dikatakan Hannah, meski dalam hati ia sudah menyiapkan diri untuk menerima kemarahan istrinya.

Hannah pun tidak langsung berbicara. Tatapannya masih tertuju pada kartu nama yang sejak tadi berada di tangannya. Dadanya dipenuhi berbagai macam perasaan. Ada kecewa karena Romi memilih memendam semuanya sendirian. Ada cemburu yang sulit ia pungkiri karena, untuk sesaat, perempuan lain sempat mengetahui luka suaminya lebih dulu daripada dirinya. Namun di saat yang sama, ia juga tahu bahwa semua itu bukan bermula dari niat Romi mengkhianatinya. Suaminya hanya sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya hingga kehilangan arah.

Keheningan itu berlangsung cukup lama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani memecahnya. Sampai akhirnya Hannah menarik napas pelan dan meletakkan kartu nama itu di atas meja.

"Aku percaya sama Mas."

Suaranya terdengar lirih, tetapi cukup membuat Romi perlahan mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, mata mereka kembali bertemu.

"Aku percaya kalau Mas nggak punya hubungan apa-apa sama Jelita."

Sorot mata Romi sedikit berubah. Ada secercah kelegaan yang muncul di wajahnya. Namun sebelum perasaan itu sempat tumbuh, Hannah kembali melanjutkan ucapannya.

"Tapi bukan itu yang bikin aku kecewa."

Raut wajah Romi kembali menegang.

"Yang bikin aku kecewa..." Hannah berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang paling tepat. "Ternyata waktu Mas lagi hancur, ada orang lain yang lebih dulu tahu isi hati Mas daripada aku."

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam Romi jauh lebih keras daripada bentakan.

"Aku ini istri Mas." Mata Hannah mulai berkaca-kaca. "Harusnya aku yang pertama tahu kalau Mas lagi sesakit itu. Harusnya aku yang pertama denger semua keluh kesah Mas. Bukan orang lain."

Romi kembali menundukkan kepalanya.

"Na..."

Namun Hannah menggeleng pelan.

"Mas dengar aku dulu."

Romi terdiam.

"Aku nggak marah karena Mas ngobrol sama perempuan."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Hannah, tetapi ia tetap memaksa dirinya berbicara dengan tenang.

"Kalau memang waktu itu kebetulan ketemu, lalu ngobrol sebentar karena sama-sama lagi dapat hasil yang buruk, aku masih bisa ngerti."

Ia menarik napas panjang.

"Yang nggak bisa langsung aku terima... kenapa Mas merasa harus menanggung semuanya sendirian."

Romi menggenggam kedua tangannya semakin erat.

"Apa selama ini aku kelihatan nggak bisa diajak susah?"

Pertanyaan itu membuat Romi buru-buru menggeleng.

"Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

"Aku..."

Romi menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya berkata lirih, "Aku cuma nggak mau kamu ikut kepikiran."

Hannah tersenyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Mas tahu nggak?" bisiknya pelan. "Justru karena Mas nggak cerita, aku jadi lebih kepikiran."

Romi terdiam.

"Kalau dari awal Mas cerita, mungkin aku memang bakal sedih."

"Tapi sedihnya kita tanggung berdua."

"Bukan kayak sekarang."

Hannah menatap lurus ke arah suaminya.

"Sekarang aku bukan cuma sedih karena hasil pemeriksaan itu."

"Tapi aku juga sedih karena ternyata suamiku memilih diam."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan.

Romi merasa setiap kalimat yang keluar dari mulut Hannah seperti sedang memperlihatkan kesalahannya satu per satu.

"Aku tahu..." lanjut Hannah pelan. "Mas pasti malu."

"Aku tahu harga diri Mas sebagai laki-laki pasti terpukul."

"Aku juga tahu rasanya pasti berat."

"Tapi Mas..."

Suara Hannah mulai bergetar.

"Aku ini istri Mas."

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Romi terasa semakin sesak.

"Aku nikah sama Mas bukan cuma buat nemenin waktu Mas lagi senang."

"Bukan juga cuma buat berbagi tawa."

"Aku nikah sama Mas supaya kita bisa saling menopang kalau salah satu dari kita jatuh."

Air mata Hannah akhirnya menetes.

"Kalau Mas jatuh..."

Ia mengusap pipinya yang basah.

"...aku juga pasti ikut jatuh."

"Kalau Mas nangis..."

Suaranya mulai pecah.

"...aku juga ikut nangis."

"Kalau Mas merasa gagal..."

Hannah menunduk beberapa saat sebelum melanjutkan.

"...aku juga ikut ngerasain sakitnya."

Romi memejamkan mata kuat-kuat.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa diamnya selama ini justru melukai Hannah sedalam itu.

"Aku nggak butuh Mas selalu kelihatan kuat di depan aku."

Hannah kembali menatapnya.

"Aku cuma butuh Mas percaya kalau aku cukup kuat buat nemenin Mas."

Kalimat itu membuat pertahanan Romi runtuh sepenuhnya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.

"Maaf..."

Suara itu nyaris tidak terdengar.

"Maaf, Na."

Romi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Aku benar-benar nggak pernah kepikiran kalau diamku malah bikin kamu sesakit ini."

Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar lebih mirip tangisan.

"Aku kira... kalau aku simpan semuanya sendiri, kamu bisa tetap tenang."

Hannah menggeleng.

"Justru aku nggak pernah tenang kalau Mas berubah."

Keheningan kembali jatuh di antara mereka, lebih berat dari sebelumnya.

Romi mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka kembali bertemu. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar melihat luka yang selama ini tanpa sadar ia tinggalkan di hati perempuan yang paling ia cintai. Melihat penyesalan yang begitu jelas di mata suaminya, Hannah tak lagi sanggup menahan seluruh perasaan yang sejak tadi ia pendam.

Air mata Hannah akhirnya jatuh tanpa bisa lagi ia tahan.

"Mas salah."

Romi memejamkan mata rapat.

"Kalau Mas hancur, aku juga pasti ikut hancur. Kalau Mas nangis, aku juga ikut nangis. Kalau Mas merasa gagal... aku juga ikut ngerasain sakitnya."

Kalimat terakhir itu terdengar begitu lirih hingga nyaris tidak terdengar. Hannah buru-buru mengusap pipinya yang basah, tetapi semakin ia berusaha menahan diri, dadanya justru semakin sesak.

"Kita ini suami istri, Mas. Waktu kita memutuskan menikah, kita juga sepakat buat jalan bareng. Berarti apa pun yang Mas rasain seharusnya juga jadi bagian yang aku rasain. Aku nggak pernah minta Mas kelihatan kuat terus di depan aku."

Romi masih menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Aku cuma takut..." ucapnya pelan.

Hannah mengangkat wajahnya.

"Takut apa?"

"Takut kamu makin sedih."

"Sementara waktu itu aku sendiri aja udah nggak tahu harus gimana. Aku ngerasa gagal jadi laki-laki. Aku ngerasa udah ngecewain kamu. Rasanya setiap kali lihat wajah kamu, yang kepikiran cuma satu..." Romi berhenti beberapa saat. Tenggorokannya terasa tercekat. "...aku nggak bisa ngasih kamu anak."

Suasana kembali hening. Hannah menggigit bibirnya pelan. Dadanya kembali terasa sesak mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut suaminya. Selama ini Romi memang tidak pernah benar-benar mengucapkannya, tetapi malam ini semua luka yang selama ini dipendam akhirnya terbuka begitu saja.

"Makanya waktu ketemu Jelita di rumah sakit, Mas cuma ngerasa... akhirnya ada orang yang ngerti perasaan itu tanpa Mas harus jelasin panjang lebar. Bukan karena dia perempuan. Tapi karena dia juga lagi ada di posisi yang sama. Kalau waktu itu yang duduk di sana laki-laki dengan cerita yang sama, mungkin Mas juga bakal ngobrol sama dia."

Hannah memandangi wajah suaminya cukup lama. Ia percaya. Tatapan mata Romi tidak menunjukkan sedikit pun kebohongan. Justru yang ia lihat hanyalah seorang laki-laki yang sejak hari itu terus berusaha berdamai dengan rasa gagal yang menghancurkan harga dirinya. Namun tetap saja, kepercayaan itu tidak otomatis menghapus rasa kecewa yang telanjur tumbuh di dalam hatinya.

Hannah menarik napas pelan, berusaha menata suaranya.

"Aku kecewa karena Mas milih nanggung semuanya sendirian. Padahal selama ini aku selalu mikir, apa pun yang terjadi, kita bakal hadapi berdua."

Air mata kembali mengalir di pipi Hannah.

“Kita punya beban yang sama… namun bedanya, Mas malah cerita ke orang lain lebih dulu, sementara aku sama sekali nggak tahu.”

Kalimat itu membuat Romi memejamkan mata lagi. Tidak ada satu pun pembelaan yang sanggup ia berikan. Karena semua yang dikatakan Hannah adalah kenyataan.

1
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
uhen: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!