Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sisa hari itu berjalan seperti dalam gelembung waktu yang aneh bagi Cia.
Setelah insiden di lorong bersama Davin dan kemunculan Ren yang menghebohkan, Cia nyaris tidak bisa berkonsentrasi penuh saat melakukan visite pasien. Otaknya terus-menerus memutar ulang rekaman suara bariton suaminya yang menggema tegas, serta sensasi hangat dari telapak tangan Ren yang bertengger protektif di pinggangnya.
Bahkan Nayla, yang biasanya bawel, hanya menatap Cia dengan pandangan penuh selidik dari seberang meja nurse station tanpa berani bertanya macam-macam. Aura yang ditinggalkan sang Kapten tampaknya masih tersisa di sudut-sudut paviliun bedah.
Pukul lima sore, Cia akhirnya menempelkan ID card-nya pada mesin absensi. Jam kerjanya selesai. Ia melangkah keluar dari lobi rumah sakit dengan langkah gontai, merogoh ponsel di saku celananya untuk memesan ojek daring.
Namun, sebelum jarinya sempat mengetikkan alamat asrama, sebuah klakson pendek berbunyi di dekatnya.
Jeep Wrangler hitam yang sangat familier itu terparkir di bawah pohon rindang tak jauh dari pintu keluar. Kaca jendela penumpang perlahan turun, menampilkan wajah Ren dari balik kemudi. Pria itu sudah melepas baret hijaunya, rambut cepaknya sedikit berantakan tertiup angin sore.
"Masuk," perintah Ren, sesingkat dan sejelas biasanya.
Cia mengerjap, buru-buru memasukkan ponselnya dan berlari kecil menghampiri mobil. Begitu pintu ditutup dan AC mobil menyapu wajahnya yang berkeringat, Cia menghela napas lega.
"Kamu belum pulang dari tadi siang?" tanya Cia sambil memasang sabuk pengaman. Seingatnya, Ren bilang hanya ingin menjenguk Prada Yuda di ICU.
"Ada beberapa urusan administrasi dengan pihak rumah sakit yang harus diselesaikan untuk Yuda. Lagipula, jam pulangmu pukul lima, kan? Tanggung jika saya harus bolak-balik," jawab Ren tenang. Tangannya memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan kota yang mulai padat oleh jam pulang kerja.
Cia menatap profil samping suaminya. Rahang yang tegas, hidung mancung, dan tatapan mata yang selalu fokus ke depan. Rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke dadanya. Pria ini sudah bekerja keras seharian, mengurus anggotanya yang terluka, membela Cia di depan rekan kerjanya, dan sekarang... menjemputnya pulang.
Sementara Cia? Ia belum melakukan apa-apa sebagai istri.
"Mas Ren," panggil Cia pelan, nada suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
"Hm."
"Kita mampir ke swalayan depan asrama sebentar, ya? Aku mau beli bahan makanan. Aku... aku janji mau masak buat makan malam kita hari ini," ucap Cia dengan tekad bulat, meski dalam hati ia mulai merapal doa keselamatan untuk dapur rumah dinas mereka.
Ren menoleh sekilas, sebelah alisnya terangkat. "Kamu yakin?"
"Yakin!" seru Cia sedikit terlalu semangat, menutupi kegugupannya. "Aku udah cari resep sop ayam di YouTube tadi pas jam istirahat. Gampang kok, tinggal cemplung-cemplung aja."
Ujung bibir Ren berkedut samar menahan senyum. "Baiklah. Kalau dapur asrama sampai meledak, saya tahu siapa yang harus diinterogasi."
Tiga puluh menit kemudian, Cia berdiri mematung di dapur rumah dinas dengan celemek bermotif polkadot menempel di tubuhnya. Di depannya, talenan kayu menampilkan pemandangan yang mengenaskan: potongan wortel dengan ukuran yang sangat tidak proporsional, kentang yang dikupas terlalu tebal hingga dagingnya banyak terbuang, dan daun bawang yang dipotong layaknya rumput liar.
"Oke, Cia. Cuma motong ayam. Anggap aja ini bedah minor. Daging dan tulang. Sama aja," gumam Cia pada dirinya sendiri, mengangkat pisau daging yang terasa terlalu berat di tangannya.
Ia memegang sepotong dada ayam yang licin dan mencoba mengirisnya. Namun, karena ragu-ragu dan takut tangannya sendiri terpotong, pisaunya hanya menggores permukaan daging tanpa hasil yang jelas.
Cia mendesah frustrasi, bahunya merosot. Kenapa memegang pisau bedah scalpel ukuran 10 terasa jauh lebih mudah daripada memegang pisau dapur?
Tiba-tiba, aroma mint dan kayu pinus yang maskulin menyeruak di udara.
Sebuah dada bidang yang hangat menempel ringan di punggung Cia. Sebelum Cia sempat berteriak kaget, tangan kanan yang besar dan kokoh dengan jari-jari kasar namun presisi, menyelimuti tangan Cia yang sedang memegang gagang pisau. Tangan kiri yang lain menempel pada pinggiran meja dapur, mengurung Cia sepenuhnya di dalam kukungan tubuh pria itu.
Cia menahan napas. Jantungnya melompat dari dada, berdentum dengan ritme gila yang rasanya bisa terdengar hingga radius dua meter.
Ren berdiri tepat di belakangnya. Pria itu baru selesai mandi, hanya mengenakan kaus oblong putih bersih dan celana pendek selutut. Udara dingin dari sisa air mandinya bercampur dengan suhu tubuhnya yang hangat, menciptakan sensasi yang membuat kepala Cia pusing mendadak.
"Kamu memegang pisaunya terlalu kaku," suara bariton Ren berbisik rendah tepat di telinga kanan Cia, membuat bulu halus di tengkuk gadis itu meremang hebat.
Tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Cia, Ren membimbing tangan istrinya itu. Ia menekan punggung pisau dengan jari telunjuk, mengatur sudut mata pisau, dan dengan satu gerakan mulus... dada ayam itu terpotong sempurna.
"Gunakan berat pisaunya, bukan tenaga dari pergelangan tanganmu. Kalau kamu memotong dengan cara tadi, jarimu yang akan teriris duluan," instruksi Ren tenang. Pria itu kembali membimbing tangan Cia, memotong daging ayam itu menjadi bentuk dadu yang rapi dalam hitungan detik.
Cia sama sekali tidak memperhatikan potongan ayam itu. Otaknya korslet. Seluruh saraf di tubuhnya terfokus pada dada suaminya yang bergerak naik turun setiap kali pria itu bernapas, menempel erat di punggungnya. Bau sabun mandi, gesekan kain kaus Ren, dan hembusan napas yang menyapu telinganya membuat kaki Cia mendadak kehilangan fungsi tulang rawan.
"P-paham," cicit Cia parau. Tenggorokannya terasa kering kerontang.
Ren menghentikan gerakan tangannya. Ia menunduk sedikit, menatap profil samping wajah istrinya yang kini semerah kepiting rebus. Pria itu menyadari napas Cia yang tertahan dan bahunya yang menegang hebat.
Bukannya segera menyingkir, Ren justru membiarkan posisinya bertahan beberapa detik lebih lama. Sudut bibirnya menyunggingkan seringai tipis yang mematikan.
"Bagus," bisik Ren, kali ini suaranya mengandung nada serak yang disengaja. Ia perlahan melepaskan tangan Cia, menegakkan tubuhnya, dan mundur selangkah, memberikan kembali oksigen yang sedari tadi dirampasnya dari paru-paru Cia.
"Lanjutkan bedah minormu, Dokter Almeera. Saya tunggu hasilnya di meja makan," ucap Ren santai, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang tengah, meninggalkan Cia yang mematung dengan wajah panas dan dada kembang kempis.
Cia meletakkan pisaunya perlahan, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tamat riwayat gue. Bisa mati berdiri gue lama-lama di asrama ini.
Makan malam pertama yang dimasak Cia tidak meledakkan dapur, dan untungnya, tidak beracun. Meskipun wortelnya sedikit keras dan kuah sopnya agak hambar, Ren memakannya tanpa protes, bahkan menambah porsi nasi.
Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil. Di luar, hujan turun cukup deras, menciptakan melodi alami yang menyamarkan keheningan di dalam rumah.
"Mas," panggil Cia setelah meneguk air putihnya. Ia menatap Ren yang sedang merapikan piring kotor. "Makasih, ya."
Ren menghentikan gerakannya. "Untuk apa? Sup ini? Seharusnya saya yang berterima kasih karena kamu sudah mau belajar—"
"Bukan itu," sela Cia pelan. Ia menundukkan pandangannya ke arah jemarinya yang bertaut di atas pangkuan. "Makasih buat yang di rumah sakit tadi siang. Soal Davin."
Ren terdiam. Mata elangnya menatap lurus ke arah Cia, membaca segala keraguan dan rasa rentan yang coba disembunyikan gadis itu. Pria itu kembali duduk, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang kewajiban saya, Cia," ucap Ren. Nada suaranya datar, namun ada ketegasan absolut di sana. "Saat kita menandatangani buku nikah, saya mengambil alih seluruh tanggung jawab atas dirimu. Kehormatanmu adalah kehormatan saya. Tidak akan saya biarkan siapapun, apalagi bayangan dari masa lalumu, mengusik istri saya."
Dada Cia berdesir hangat. Kalimat itu tidak dihiasi kata cinta, tidak dibungkus dengan janji-janji manis yang melambung tinggi. Sangat realistis, kaku, dan khas militer. Namun, bagi Cia yang pernah hancur karena janji manis kosong, kalimat Ren adalah sauh terkuat yang pernah ia genggam.
"Dulu... aku takut banget bergantung sama orang lain," Cia mulai bercerita, suaranya nyaris seperti bisikan di antara rintik hujan. Ia memberanikan diri menatap mata Ren. "Karena setiap kali aku naruh harapan, aku selalu ditinggal. Aku takut perjodohan ini bakal berakhir sama. Aku takut kalau suatu saat nanti, baju lorengmu itu yang bakal jadi alasan kamu ninggalin aku."
Ren tidak langsung menjawab. Pria itu mengulurkan tangan kanannya melintasi meja, menyentuh pelan punggung tangan Cia yang terasa dingin. Ibu jari kasarnya mengusap pelan kulit istrinya, memberikan kehangatan yang menjalar hingga ke hati Cia.
"Saya seorang prajurit. Kematian adalah risiko operasi yang sudah saya terima sejak pertama kali mengucap sumpah," balas Ren, suaranya sangat tenang, seolah kematian hanyalah perkara rotasi tugas. "Tapi saya bukan pengecut yang lari dari tanggung jawab. Selama saya masih bernapas, tempat saya pulang adalah kamu."
Air mata tanpa sadar menggenang di pelupuk mata Cia. Ia tersenyum, sebuah senyuman lega yang membuat beban di pundaknya terasa ringan. "Janji?"
Ren tidak pernah mengumbar janji, namun malam itu, ia mengangguk. "Janji."
Tepat ketika suasana di antara mereka terasa begitu dekat dan intim, meruntuhkan sisa-sisa tembok kaku yang selama ini berdiri, suara dering telepon yang sangat nyaring memecah keheningan.
Nada dering khusus militer dari ponsel Ren yang tergeletak di atas meja ruang tengah.
Tangan Ren yang menggenggam tangan Cia seketika menegang. Atmosfer hangat di ruang makan itu menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh ketegangan yang familiar. Ren menarik tangannya, bangkit berdiri, dan melangkah cepat menuju ponselnya.
Cia menahan napas, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Adhyaksa di sini," jawab Ren dengan nada formalnya.
Hening sejenak. Mata Ren yang tadinya melembut kini kembali tajam, menyipit menatap kegelapan di luar jendela. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot di pelipisnya menonjol.
"Siap, Komandan. Posisi terakhir target terkonfirmasi? ... Siap. Kapan waktu pemberangkatan? ... Besok pagi jam 04.00. Mengerti. Saya akan memimpin tim Alfa."
Darah Cia berdesir dingin. Besok pagi? Tim Alfa?
Ren mematikan sambungan telepon. Ia berbalik, menatap Cia yang masih duduk terpaku di kursi meja makan dengan mata membulat. Wajah pria itu kembali menjadi Kapten Ren yang tidak tersentuh—dingin, fokus, dan mematikan.
"Mas..." panggil Cia, suaranya bergetar. "A-ada apa? Kamu mau pergi?"
Ren berjalan mendekat, berjongkok di samping kursi Cia hingga wajah mereka sejajar. Pria itu menatap Cia dalam-dalam, mencari cara terbaik untuk menyampaikan berita ini tanpa menghancurkan hati istrinya yang baru saja mulai terbuka.
Namun di dunia militer, kebenaran tidak pernah datang dengan bungkusan pita.
"Ada pergerakan kelompok separatis yang menyandera warga sipil di wilayah rawan," ucap Ren pelan, namun jelas. "Komando atas memerintahkan Batalyon kami untuk mengirimkan tim khusus. Satgas operasi."
Cia meremas celemek polkadotnya kuat-kuat. Napasnya mulai memburu. "Berapa lama?"
Ren terdiam selama dua detik, waktu yang terasa seperti keabadian bagi Cia.
"Sembilan bulan, Cia."
Dunia Cia seolah runtuh menimpanya. Sembilan bulan. Di daerah konflik. Di saat mereka baru saja menikah, baru saja mencoba mengenal satu sama lain, dan baru saja membuat sebuah janji untuk pulang.
"Besok jam empat pagi saya harus sudah berada di landasan udara," lanjut Ren, suaranya melembut, menyadari keputusasaan di wajah istrinya. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Cia yang perlahan kehilangan kehangatannya. "Waktu kita... hanya sampai subuh nanti."