NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: indah Mayaddah f

Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.

Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?

Baca selengkapnya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Janji di Antara Luka dan Keadilan

Langit malam tampak gelap tanpa bintang saat Anggita pulang dengan langkah terhuyung-huyung. Tubuhnya terasa dingin dan kotor, matanya kosong menatap aspal jalan, sementara di dadanya rasa sakit itu membakar perlahan. Sore tadi, ia pergi dengan senyum sambil membawa kotak kue pesanan namun ia kembali tanpa harapan, setelah mengalami pelecehan keji di tangan Arvin Teriaz, salah satu pewaris kerajaan bisnis Teriaz Group.

Di rumah yang sederhana itu, Nabila Azzahra sudah menunggu cemas. Begitu melihat sahabatnya muncul di ambang pintu dengan baju robek dan tatapan yang sudah tak lagi bersinar, Nabila langsung berlari memeluknya. Tak ada kata yang terucap dari mulut Anggita, hanya isak tangis yang tertahan, seolah seluruh kekuatannya telah direnggut paksa.

Nabila merawat sahabatnya dengan telaten, membersihkan luka fisiknya, namun ia tahu luka yang sesungguhnya ada di dalam jiwa. Keesokan harinya, mereka berdua berusaha mencari keadilan. Namun dinding kekuasaan Teriaz Group terlalu tinggi dan kokoh. Laporan polisi diabaikan, saksi mata tiba-tiba tak ada, dan bahkan ada orang yang datang mengancam: "Lupakan saja kejadian itu, kalau tidak kalian yang akan celaka."

Arvin Teriaz berjalan bebas di jalanan, tertawa dengan kemewahan ayahnya, seolah tak pernah berbuat salah. Sementara Anggita mengurung diri di kamar, menolak makan, menolak bicara, dan perlahan memudar seperti lilin yang habis apinya.

Hati Nabila hancur melihatnya. Ia tak akan membiarkan sahabatnya menderita sendirian, sementara pelakunya bersembunyi di balik tumpukan uang. Tapi melawan keluarga Teriaz sendirian sama saja dengan menantang badai dengan tangan kosong.

Hingga tiga hari kemudian, kondisi Anggita memburuk. Nabila segera membawanya ke klinik terdekat. Dokter yang bertugas di sana adalah Galen Teriaz.

Saat Galen memeriksa kondisi Anggita dan melihat bekas luka serta trauma yang tersembunyi, jantungnya mencelos. Ia sudah mendengar nama Arvin disebut dalam berbagai rumor kotor, tapi tak pernah menyangka sepupunya sendiri bisa bertindak sekeji ini pada gadis tak bersalah. Setelah memastikan Anggita beristirahat, Galen memanggil Nabila ke ruang kerjanya.

Ruangan itu hening, hanya terdengar detak jam dinding. Galen menatap Nabila dengan tatapan yang campur aduk, ada rasa malu, kemarahan, dan keteguhan.

"Kamu tahu siapa nama belakangku, kan?" Tanyanya pelan, memecah keheningan.

Nabila mengangguk kaku, tangannya terkepal erat di pangkuan.

"Kamu Galen Teriaz, Kamu saudara Arvin. Kenapa kamu memanggilku ke sini? Mau melarang kami untuk terus berjuang?" Ujar Nabila dengan mata berapi-rapi

Galen menggeleng kuat, lalu menghela napas panjang seolah membuang beban berat yang dipikulnya bertahun-tahun.

"Aku memang darah daging keluarga itu, tapi aku tak buta. Aku tahu betul bagaimana pamanku, Bram Teriaz, selalu menutupi segala kesalahan anaknya dengan cara yang kotor. Aku tahu Arvin sering berbuat semena-mena, dan diamku selama ini itu sama saja dengan aku ikut berbuat salah." Jawab Galen

Ia menatap lurus ke mata Nabila, suaranya mantap dan penuh kesungguhan.

"Aku tak bisa lagi membiarkan ketidak adilan ini terjadi di depan mataku, apa yang sudah dilakukan Arvin dan teman-temannya pada sahabatmu sangat salah dan dia harus bertanggung jawab. Aku akan membantumu, Nabila. Aku tahu celah keamanan di perusahaan itu, aku tahu siapa saja orang yang bisa diajak bicara, dan aku tahu di mana mereka menyembunyikan bukti. Mari kita bongkar semuanya bersama-sama, demi Anggita." Lanjut Galen degan sunguh-sungguh

Nabila terpana karena dia tak pernah menyangka, akan ada orang dari dalam lingkaran musuh yang justru berani berdiri di sisi mereka. Perlahan, air mata yang ditahannya akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kejadian mengerikan itu, ada secercah harapan yang menyentuh hatinya.

"Terima kasih, Dokter Galen, bantu aku menegakkan keadilan dan aku siap melakukan apa saja demi Anggita" ucap Nabila lirih namun tegas.

Malam itu, di bawah cahaya lampu klinik yang temaram sebuah kesepakatan berharga terjalin. Di satu sisi ada Nabila yang berjuang demi sahabatnya, di sisi lain ada Galen yang berani melawan keluarganya demi kebenaran. Bersama-sama, mereka bersiap melangkah masuk ke dalam sarang kekuasaan yang penuh bahaya.

*****

Beberapa minggu berlalu sejak kesepakatan itu terjalin. Waktu itu Nabila gunakan sebaik mungkin untuk mempersiapkan segalanya dengan mengubah penampilan, melatih cara bicara, mempelajari profil seluruh petinggi Teriaz Group, hingga menghafal peta setiap lantai gedung raksasa itu. Galen tak lelah membantunya, bahkan memberikan catatan rapi tentang siapa yang bisa dipercaya, siapa yang harus diwaspadai, dan kebiasaan-kebiasaan kecil Arvin yang tak banyak orang tahu.

"Jangan pernah tunjukkan bahwa kamu tahu lebih dari yang seharusnya diketahui staf baru," Pesan Galen saat terakhir kali mereka bertemu sebelum hari pertama kerja.

"Tampil biasa saja, tenang, dan sedikit tertutup. Itu cara terbaik agar kamu tidak dicurigai." Lanjut Galen

Pagi itu, langit tampak cerah tapi berbanding terbalik dengan jantung Nabila yang berdegup kencang saat berdiri di depan gedung pencakar langit markas Teriaz Group. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan, seolah menantang siapa saja yang berani melangkah masuk dengan niat lain selain tunduk pada kekuasaan mereka. Ia mengenakan kemeja putih bersih, rok selutut, dan sepatu pantofel sederhana. Wajahnya ia rias tipis, cukup untuk terlihat profesional namun tak mencolok. Di dalam tasnya, terselip foto kecil Anggita yang tersenyum lebar sebagai sumber kekuatannya.

“Demi kami Git, aku janji akan berjuang sampai mendapatkan keadilan” Batin Nabila

Langkah kakinya mantap saat melewati pintu putar otomatis, obi yang luas tampak megah namun dingin, dengan lantai marmer yang memantulkan bayangan orang-orang yang berjalan terburu-buru dengan pakaian bermerek. Semua orang di sini tampak sibuk mengejar waktu, seolah tak punya waktu sekadar menyapa. Nabila menuju meja resepsionis, menyampaikan tujuannya, lalu menunggu di ruang tunggu sebentar sebelum diantar ke bagian personalia.

Proses penyerahan berkas berjalan lancar berkat rekomendasi dari Galen, tak ada pertanyaan yang menjebak, dan tak lama kemudian ia resmi menjadi bagian dari tim administrasi data, posisi yang persis seperti yang diharapkannya lalu pekerjaannya dimulai. Nabila bekerja dengan sangat teliti, cekatan, dan tak banyak bicara. Ia menyadari bahwa kesunyian justru menjadi tameng terbaik, rekan kerjanya menilai gadis ini pendiam namun sangat mampu diandalkan, sehingga tak ada yang menyangka bahwa di balik layar komputernya, ia sedang memetakan jejak kejahatan yang tersembunyi di balik tumpukan angka dan dokumen.

Namun ujian pertamanya datang lebih cepat dari yang dibayangkan, saat jam istirahat siang tiba lorong kantor yang biasanya sibuk perlahan mulai sepi. Nabila berjalan menuju kantin untuk mengambil minum, ketika suara langkah kaki yang mantap dan berani terdengar mendekat. Suasana di sekitarnya seketika berubah hening. Para karyawan yang berpapasan langsung menyingkir ke pinggir lorong, menunduk hormat dengan tatapan yang bercampur rasa takut.

Itu Arvin Teriaz.

Ia berjalan dengan langkah santai namun penuh wibawa yang sombong, mengenakan jas mahal yang disesuaikan sempurna dengan tubuhnya. Wajahnya tampan, tapi matanya tajam dan dingin, seolah manusia lain hanyalah pion di permainannya. Saat ia lewat di dekat Nabila, langkahnya tiba-tiba berhenti lalu ia menoleh, menatap gadis itu dari ujung kaki hingga wajah.

Darah Nabila sempat berdesir hebat, di dadanya amarah dan ketakutan beradu keras, namun ia segera mengunci perasaannya rapat-rapat. Ia menundukkan kepala sedikit, memberikan senyum sopan yang datar, persis seperti yang dilatihnya.

"Kamu karyawan baru?" Tanya Arvin, suaranya rendah namun memerintah.

"Benar, Pak. Saya Nabila Azzahra, bagian administrasi data," Jawab Nabila tenang, meski tangannya di balik punggung mengepal erat.

"Kerjakan tugasmu dengan benar," ucapnya singkat, lalu berlalu begitu saja tanpa menunggu balasan.

Begitu sosoknya menghilang di ujung lorong, Nabila baru berani mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa lemas. Ia baru saja berdiri berhadapan dengan iblis yang telah menghancurkan masa depan sahabatnya, dan ia berhasil melakukannya tanpa terungkap.

*****

Siang harinya, di sudut paling sepi kantin yang hampir tak terlihat orang, Galen sudah menunggu sambil memegang dua gelas minuman. Begitu melihat Nabila, wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah khawatir.

"Kau bertemu Arvin, kan?" Bisik Galen saat Nabila duduk di hadapannya.

"Aku baru saja mendengar kabar itu, dia tidak menyakitimu atau menanyakan hal yang aneh?" Lanjut Galen

Nabila menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis yang melegakan.

"Dia hanya bertanya siapa saya, karena dia tidak mengenali saya. Dia sama sekali tidak menyadari siapa yang berdiri di hadapannya." Jawab Nabila

Mnedengar itu Galen menghela napas lega, tangannya secara refleks menyentuh punggung tangan Nabila yang tergeletak di meja. Sentuhan itu hangat, dan membuat ketegangan yang menyelimuti hati gadis itu perlahan luruh.

"Itu kabar baik," Ucap Galen lembut, matanya menatap tulus.

"Tapi mulai sekarang jangan pernah merasa aman, dia sangat cerdik dan curiga pada hal baru. Setiap gerak-gerikmu harus sangat hati-hati, aku akan selalu ada di dekatmu untuk mengawasi tapi kamu sendiri yang harus menjaga sikapmu" Tambah Galen

Nabila menatap mata Galen lama, di tengah dunia yang penuh kemunafikan dan kejahatan seperti keluarga Teriaz. Laki-laki inilah satu-satunya tempat ia bisa bersandar, rasa percaya yang awalnya dibangun atas dasar tujuan yang sama, kini perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dan hangat.

"Terima kasih sudah ada di sini bersamaku," Ujar Nabila pelan.

Galen tersenyum lembut.

"Kita berjuang bersama, ingat? Kau tidak sendirian" Balas Galen tersenyum

Di meja lain yang agak jauh, seorang pria berjas hitam memperhatikan mereka diam-diam sambil memutar segelas kopi. Ia adalah pengawas keamanan pribadi Bram Teriaz, yang tugasnya memantau setiap gerak-gerik siapa saja yang dekat dengan Galen maupun Arvin. Hari ini, ia mencatat satu hal baru: ada hubungan yang tak biasa antara dokter Galen dan staf baru bernama Nabila.

1
Ilfa Yarni
itu orang ga ada kapok2nya ya lagian polisi knp diam aja klo tau orang yg didalam sel merencakan kejahatan yg barublg
Ilfa Yarni
aduh Galen jgn lengah Bram duluan beraksi tuh
Rima Rismawati
Lanjut thor makin seru ceritanya 🙏🏻😊
indah Mayaddah f: Di tunggu ya kak 🙏😊
total 1 replies
Rima Rismawati
Ternyata bu RT dan kedua orang tua Nabila kocak juga 🤣
Rima Rismawati
Ada ya keluarga seperti itu, kepada saudara kandungnya sendiri 😡
Ilfa Yarni
seru jg ceritanya sebuah kluarga yg memperebutkan harta warisan
indah Mayaddah f: Terima kasih 🙏
total 1 replies
Rima Rismawati
Nkvel aru thor
indah Mayaddah f: Iya kak, semoga suka ya 🙏
total 1 replies
indah Mayaddah f
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!