Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Pukulan Pertama
Malam pertama kiamat belum selesai.
Tapi rekan kedua sudah muncul.
Hendry menurunkan teropong dari matanya. Di timur Cluster Pondok Indah, pria besar itu kembali mengayunkan tinju. Satu zombie terhantam di pelipis, tubuhnya berputar, lalu jatuh tanpa bangun lagi. Tidak ada parang. Tidak ada pistol. Tidak ada teknik indah.
Hanya satu pukulan.
Kasar.
Berat.
Efektif.
Bagus Santoso.
Di kehidupan sebelumnya, nama itu tidak masuk legenda besar seperti Raja, Ratu Laut, atau para penguasa level tinggi. Bagus tidak pandai bicara, tidak punya ambisi, tidak suka tampil. Namun di antara semua orang yang pernah berdiri di sisi Hendry, pria itu termasuk sedikit yang tidak pernah mengkhianati.
Orang seperti itu lebih langka daripada Kristal tinggi.
Hendry memasukkan teropong ke Ruang Dimensi.
"Ayo."
Raja berdiri. Ia masih menjaga jarak dua langkah di belakang Hendry, tetapi ekornya yang tadi diam kini sedikit terangkat. Mungkin karena melihat pertempuran. Mungkin karena bau bakso masih melekat di halaman.
Mereka bergerak ke timur lewat jalur kecil di belakang rumah. Jalan cluster sudah berubah menjadi lorong mayat. Mobil-mobil menabrak pagar, pintu rumah terbuka, sandal anak-anak tertinggal di aspal. Beberapa zombie masih memukul kaca mobil, tidak mengerti mengapa makanan di dalam tidak bisa keluar.
Hendry tidak membuang waktu membersihkan semuanya.
Ia memilih jalur.
Raja memilih target yang terlalu dekat.
Saat seekor zombie perempuan menerjang dari balik SUV, Raja melesat lebih dulu. Thunder Tail menyapu lututnya. Hendry menebas kepala zombie itu sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Koordinasi mereka mulai terbentuk tanpa perlu banyak kata.
Di depan rumah bercat krem, pria besar itu akhirnya melihat mereka.
Ia berdiri di tengah jalan dengan napas berat. Kaosnya robek di bahu. Buku jarinya berdarah, tetapi bukan karena digigit. Lebih karena terlalu sering menghantam tulang. Tubuhnya tinggi dan lebar, kulit sawo matang, wajahnya polos namun matanya waspada.
Di dekat kakinya ada empat mayat zombie dengan kepala hancur.
Bagus mengangkat kedua tinjunya lagi.
"Berhenti di situ!" suaranya parau. "Kalian manusia atau... yang lain?"
Raja menggeram pelan.
Hendry mengangkat tangan kosong. Parang masuk ke Ruang Dimensi dalam satu gerakan halus.
"Manusia. Untuk sekarang."
Bagus mengerutkan kening. "Untuk sekarang?"
"Hari ini banyak orang berubah. Aku tidak mau janji terlalu jauh."
Bagus tampak tidak tahu harus tersinggung atau setuju. Matanya turun ke Raja.
"Anjing itu... punya listrik."
"Dia juga punya selera makan mahal."
Raja menoleh tajam ke Hendry.
Bagus berkedip. Dalam situasi normal, kalimat itu mungkin lucu. Di sekitar mayat dan darah, ia hanya terdengar aneh. Tapi keanehan kecil itu justru menurunkan ketegangan satu tingkat.
"Nama kamu Bagus Santoso," kata Hendry.
Wajah Bagus langsung berubah.
"Siapa lu?"
"Hendry Wijaya."
"Gue nggak nanya nama doang. Kenapa lu tahu nama gue?"
Hendry menunjuk rumah di belakang Bagus. "Ada stiker proyek renovasi di kaca mobil itu. PT Santoso Mandiri. Kamu pakai seragam kerja yang sama di pinggang. Dan tadi kamu dipanggil 'Gus' oleh orang di dalam rumah sebelum dia berubah."
Bagus menoleh cepat ke arah rumah.
Di dalam ruang tamu, ada mayat zombie tua dengan kepala pecah. Mungkin orang yang ia maksud. Mungkin keluarga pemilik rumah. Mata Bagus menggelap.
Penjelasan Hendry hanya setengah benar.
Setengah lagi berasal dari masa depan.
Bagus tidak perlu tahu.
"Lu mau apa?" tanya Bagus.
"Menawarkan makanan, air bersih, dan tempat yang lebih aman."
Bagus tertawa sekali, pendek dan kasar. "Di hari begini, orang nawarin makanan biasanya mau ambil ginjal."
"Ginjalmu tidak terlalu berguna buatku."
"Oh ya? Apa yang berguna?"
Hendry menatap tinju berdarah Bagus. "Kamu."
Bagus diam.
Jujur terlalu langsung kadang lebih mencurigakan daripada kebohongan. Hendry tahu itu. Maka ia tidak memaksa.
Ia membuka Ruang Dimensi dan mengeluarkan panci kecil stainless, beras matang, rendang daging sapi, air mineral, dan kompor portable. Semuanya muncul di atas kap mobil yang terbalik di pinggir jalan.
Mata Bagus membesar.
Bukan karena kemampuan ruang.
Karena aroma rendang.
Dunia baru berusia kurang dari dua hari, tetapi bau daging berbumbu yang panas sudah terasa seperti benda dari kehidupan lain.
"Bro..." Bagus lupa menjaga tinjunya. "Itu rendang beneran?"
"Beneran."
"Di hari kiamat?"
"Justru karena hari kiamat."
Bagus menelan ludah.
Raja duduk di samping Hendry dengan ekspresi sangat serius, seolah ikut menjaga panci dari pencuri. Padahal kuah bakso tadi masih jelas di bulunya.
Hendry mengambil piring plastik, menaruh nasi dan rendang, lalu mendorongnya ke arah Bagus.
"Makan. Kalau aku mau bunuh kamu, aku tidak perlu buang rendang."
Itu logika yang sangat masuk akal.
Bagus menerimanya.
Ia makan dengan cepat pada tiga suapan pertama, lalu melambat, seolah sadar ini bukan makanan yang pantas dihabiskan tanpa hormat. Wajahnya berubah. Dari curiga, menjadi bingung, menjadi hampir marah karena tubuhnya baru sadar betapa lapar dan takut ia sejak kemarin.
"Kenapa lu siap banget?" tanya Bagus pelan.
"Aku percaya dunia bisa berubah kapan saja."
"Jawaban jelek."
"Tapi benar."
Bagus menatap Hendry lama, lalu melihat Raja yang sedang menjilat sisa daging dari mangkuk kecil. "Anjing lu makan lebih enak dari manusia di luar sana."
"Dia kerja."
Raja mengangkat kepala, seolah setuju.
Setelah makan, Hendry mulai bicara soal tubuh Bagus.
"Kekuatanmu baru bangun. Jangan pukul kepala terus."
Bagus mengerutkan kening. "Kenapa? Mati kan mereka?"
"Tanganmu juga bisa hancur. Zombie level rendah masih lunak, tapi tulang tetap tulang. Pukul lutut untuk jatuhkan. Siku untuk dorong. Kalau kepala, pakai sudut, bukan tenaga mentah."
Bagus menatap buku jarinya yang robek.
"Lu petarung?"
"Pernah belajar."
"Belajar di mana?"
"Tempat yang mahal."
Neraka dua belas tahun memang mahal.
Mereka tidak punya waktu untuk pelajaran panjang. Tiga zombie muncul dari arah gang kecil, tertarik bau makanan dan suara. Hendry tidak bergerak lebih dulu.
"Coba," katanya.
Bagus menatapnya. "Coba?"
"Lutut kiri. Dorong dada. Pukul pelipis dari samping. Jangan adu kepala."
Zombie pertama menerjang.
Bagus bergerak kaku, tetapi mengikuti. Tendangan rendah menghantam lutut zombie. Tubuh itu roboh. Bagus memukul pelipisnya dari samping.
KRAK.
Kepala zombie pecah lebih bersih daripada sebelumnya.
Bagus menatap tinjunya, terkejut oleh hasilnya sendiri.
Raja sudah melesat ke zombie kedua, Thunder Tail menyapu kaki. Hendry menebas zombie ketiga dengan parang, lalu mengeluarkan pisau taktis untuk mengambil Kristal dari dahi mayat.
"Lihat?" kata Hendry. "Lebih hemat tenaga."
Bagus menatap Hendry dengan mata yang berbeda.
Bukan percaya penuh.
Belum.
Tetapi ia mulai melihat seseorang yang tahu cara bertahan hidup.
Mereka membersihkan area timur cluster sampai malam. Bagus di depan sebagai pemukul berat. Raja menyapu kaki dan mengganggu gerak. Hendry mengarahkan, menebas kepala, mengambil Kristal, dan sesekali mengeluarkan air atau kain dari Ruang Dimensi.
Taktik kecil terbentuk.
Bagus membuat zombie jatuh.
Raja membuat zombie gagal bangun.
Hendry menyelesaikan dan mengambil hasil.
Tidak indah.
Tapi cepat.
Setelah zombie terakhir di dekat gerbang timur tumbang, Bagus duduk di trotoar dengan napas berat. Keringat dan darah zombie menempel di wajahnya. Namun matanya lebih hidup daripada saat pertama ditemukan.
"Berapa banyak yang masih ada?" tanyanya.
"Di cluster ini? Puluhan. Mungkin lebih. Di Jakarta? Jutaan."
Bagus mengusap wajah. "Mantap. Baru hari kedua udah kayak neraka."
"Ini belum neraka. Ini pintu masuk."
Bagus menatapnya. "Lu selalu ngomong serem begini?"
"Biasanya lebih buruk."
Untuk pertama kalinya, Bagus tertawa pendek.
Malam itu, Hendry membawa Bagus kembali ke villa.
Di dapur belakang, ia mengeluarkan nasi panas dan rendang lagi. Kali ini porsinya lebih besar. Bagus memandangi piring itu seperti orang melihat mukjizat.
Raja duduk di sebelah meja, menatap mangkuknya sendiri dengan sangat serius.
Hendry meletakkan air mineral di depan Bagus.
"Aku butuh orang yang bisa dipercaya," katanya. "Orang yang kuat, tapi tidak banyak omong kosong. Kamu bisa pergi setelah makan. Aku tidak akan menahan. Tapi kalau ikut, aturan pertama sederhana: jangan berkhianat."
Bagus mengunyah pelan.
Ia melihat keluar jendela, ke arah jalan gelap yang penuh mayat.
Lalu ia melihat piring rendang.
Lalu melihat Hendry.
"Bro," katanya akhirnya, suara beratnya menjadi mantap, "lu kasih gue rendang di hari kiamat."
Hendry menunggu.
Bagus menepuk dadanya sendiri.
"Gue ikut lu sampai mati."
Kalimat itu tidak mewah.
Tidak ada sumpah darah.
Tidak ada drama.
Justru karena itu, Hendry percaya.
Ia mengangguk. "Bagus. Mulai sekarang, kamu jaga bagian depan. Raja jaga halaman. Aku jaga rencana."
Raja menggonggong sekali, entah setuju atau protes karena mendapat bagian halaman.
Bagus menatap Raja. "Dia ngerti?"
"Lebih dari kebanyakan manusia."
"Oke. Gue nggak mau ribut sama anjing listrik."
Raja tampak puas.
Hendry baru hendak membagi jadwal jaga ketika dari arah selatan Cluster Pondok Indah terdengar jeritan perempuan.
Jeritan itu disusul ledakan kecil.
BUUM!
Cahaya api naik sebentar di balik deretan rumah.
Raja langsung berdiri.
Bagus menjatuhkan sendok.
Hendry menoleh ke arah selatan, matanya menyipit.
Api.
Awakener lain.
Di kehidupan sebelumnya, ada dua saudari di cluster ini yang seharusnya tidak mati malam ini.
Hendry mengambil parang dari Ruang Dimensi.
"Istirahat selesai."