Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Keduanya langsung melotot mendengar perkataan Ardi barusan terutama sang ibu.
"Kamu mengusir ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu, mau jadi anak durhaka kamu, ha!!". Bentak sang ibu dengan keras.
Wajahnya memerah menahan emosinya karena anak lelaki kebanggaannya ini bisa berbicara seperti itu padanya.
""Iya nih kakak, masa kasar begitu sama kami, kami ini keluarga kakak".
Mendengar perkataan keduanya Ardi menghela nafas kasar, nafasnya memburu dan menatap mereka berdua dengan jengkel.
"Makanya jangan bicara seenaknya, aku ini sedang banyak masalah dan pikiran bukannya kalian menenangkan malah membuat keributan padaku, keluar kalian berdua aku mau istirahat ".
Ardi mendorong keduanya keluar dari kamar itu karena kesal, dia tidak mau membentak mereka lagi.
"Ibu belum selesai bicara Ardi, jangan keterlaluan kamu". Sungut sang ibu tidak mau keluar.
Ardi yang sangat kesal akhirnya mendorong kasar mereka berdua keluar dari kamarnya.
"Berhentilah bertingkah jika kalian semua masih mau tinggal disini dan mendapatkan uangku, aku sedang pusing dan tidak mau diganggu".
Ardi langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya agar keduanya tidak masuk kedalam kamarnya, dia butuh istirahat untuk menjernihkan kepalanya yang banyak pikiran itu
"Dasar berisik, aku sedang pusing mereka malah menambah beban kepalaku".
Sedangkan diluar keduanya bersungut-sungut karena Ardi mengusir mereka seperti itu.
"Kakakmu itu sudah keterlaluan, bisa-bisanya dia mengusir kita seperti itu".
"Bagaimana ini Bu, jika kak Rania beneran mengusir kak Ardi itu artinya kita tidak bisa untuk tinggal dirumahnya lagi, aku aku mobilku". Rengeknya pelan.
Dia menggoyangkan tangan sang ibu dengan manja karena kesal setengah mati.
"Ibu juga tidak tahu, ibu juga pusing, tapi kita harus melakukan sesuatu supaya tidak terus berlanjut".
Mereka bergegas keluar dari rumah menggunakan taksi untuk kerumah Rania untuk membuat perhitungan tapi sesampainya disana mereka hanya bisa turun digerbang karena para security mencegat mereka.
"Kami ingin masuk dan bertemu dengan Rania, kenapa kalian mencegat kamis seperti ini". Sungut Ningsih dengan sangat kesal.
"Iya kamu ini ibu mertua dan ipar kak Rania, kalian kedua tidka berhak melarang kami".
Para security yang memang mengenal mereka sengaja menghadang mereka karena perintah Rania kepada mereka.
"Kalian memang telah diboikot dari sini, kami sudah diperintahkan secara resmi untuk melarang kalian semua masuk, jadi kami tidak akan membiarkan kalian mengganggu dirumah ibu Rania". Jawabnya pelan.
Mendengar hal itu keduanya meradang kemudian menunjuk security itu dengan tidak sopan,.
"Rania tidak mungkin bicara seperti itu, kami ini keluarga satu-satunya yang dia miliki, dia tidak mungkin seperti itu".
Mereka menggeleng pelan, tapi tetap tidak mempersiapkan mereka masuk.
"Tidak mungkin".
"Silahkan pulang, jangan memaksa kami bersikap kasar pada kalian, tolong kerja samanya".
Keduanya berusaha mendorong security dengan kasar tapi mereka tidak bergeming sama sekali
"Tidak akan, kami tidak akan pulang sebelum ketemu Rania, kalian tidak akan bisa melarang ku". Bentaknya dengan kasar mendorong mereka sekuat tenaga tapi tidak berhasil
Para security yang tidak punya pilihan lain selain bertindak kasar pun akhirnya mendorong mereka berdua Dnegan keras.
"Pergilah, sekalipun kalian menginap didepan sini kami tidak akan membiarkan kalian masuk jadi jangan buat kesabaran kami habis". Bentaknya.
Mereka akhirnya pulang dengan tangan kosong sedangkan Ardi hanya berdiam dikamarnya
Keesokan harinya Ardi yang masih bekerja walau suasana hatinya sedang tidak baik, teman-temannya kemarin menghinanya karena mereka pikir dirinya tidak bisa membayar dan menguras banyak tabungannya belum lagi dia dihina dan diusir mentah-mentah oleh satpam kompleks mereka dan yang menyuruhnya adalah istrinya sendiri.
"Ada surat untukmu Ardi". Ucap salah satu temannya menyodorkan amplop berwarna coklat itu.
Ardi hanya diam kemudian mengambil amplop itu tanpa melihatnya , dia masih fokus pada pekerjaannya dan tidak memperdulikan temannya itu.
Sang teman hanya menghela nafas, dia tahu sikap Ardi seperti itu karena mereka kemarin menghinanya,
"Ardi kamu baik-baik saja?". Tanyanya berusaha perhatian.
Ardi tidak menjawab apapun tapi menatap orang didepannya itu dengan tatapan dingin seolah mengatakan dirinya tidak ingin diganggu.
Karena mendapatkan respon seperti itu akhirnya orang itu menghela nafas dan pergi dari hadapan Ardi.
Dia melihat arah jam yang ternyata sudah jam makan siang, dia melirik amplop yang tadinya tidak dia hiraukan sama sekali kemudian mengambilnya dan akhirnya membukanya.
Dia tertegun sejenak kemudian rahangnya mengeras karena dirinya mendapatkan surat dari pengadilan agama dari Rania tentang perceraian.
"Sialan Rania, ternyata dia bergerak cepat untuk bercerai dariku, aku tidak akan setuju, aku tidak mau kehilangannya".
Dia bergegas mengambil handphonenya dan menelpon Rania tapi kembali lagi hanya suara operator yang dia terima, dia yakin Rania sudah memblokir namanya.
"Sial sekali". Umpatnya dengan kasar.
Saat pulang kerumah ibunya membawa 3 koper besarnya, dia di marahi habis-habisan dan dipaksa untuk kembali ketempat Rania, dia bahkan sempat mengancam ibunya jika selalu ikut campur, dia akan mengusirnya .
Dia hanya bisa melakukan hal itu karena ibunya selalu berusaha menekan dirinya tanpa pernah tahu apa yang dia inginkan.
Dia bergegas keluar dari kantor menuju rumah sakit Rania, dia yakin wanita itu akan masuk kerja hari ini.
sesampainya disana, suster yang bagian administrasi biasanya ramah padanya akhirnya tidak mengatakan apapun padanya, dia hanya menjawab jika Rania dalam meja operasi sekarang dan tidak bisa ditemui.
Ardi mengacak rambutnya dengan kasar, semua upaya yang dia lakukan menemui jalan buntu, Rania betul-betul menutup semua akses dirinya untuk bertemu dengannya.
Dia kembali kekantornya dengan perasaan sangat kesal setengah mati.
"Kamu baik-baik saja Ardi, sejak tadi kami perhatikan wajahmu muram sekali?". Tanya salah satu dari mereka melihat Ardi lewat
Ardi menghentikan langkahnya kemudian menatap mereka dingin.
"Tidak perlu mengajakku berbicara, bukankah saya hanya orang miskin menurut kalian sampai kalian kemaren menghina saya karena pikir tidak bisa bayar?". Jawabnya dingin.
"Ya ampun Ardi masih dipikir aja, kami minta maaf deh". Ucap mereka dengan santai.
"Maaf kalian sudah basi". Dengusnya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang mematung mendengar nya.
"Dia kenapa sih, aneh banget padahal kita sudah minta maaf tapi dia masih aja membahas persoalan kemaren".
"Iya nih, nyebelin banget kayak orang apa saja dia itu". Sungutnya tidak terima.
"Ya sudahlah, kita juga salah karena memperlakukan Ardi seperti itu ,lagian dia pasti sangat malu karena kita mempermalukan dia kemaren".
"Biarin aja dia, lagian sudah lewat juga".
mereka kembali ketempat kerja mereka masing-masing karena harus bekerja dan tidak mendapatkan tanggapan dari Ardi.
"Aku harus mencari cara agar bisa bertemu Rania sebelum persidangan itu terjadi".