Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Sejak malam itu—sejak Alexander Kingsley mengatakan sebuah kalimat yang begitu sederhana namun menghunjam, "Aku sangat suka melihatmu tersenyum, Aurora." —Aurora Quinn tidak bisa lagi menghentikan laju pikirannya sendiri.
Bahkan sampai keesokan paginya. Saat ia sedang duduk mendengarkan materi kuliah di dalam kelas, saat ia sedang sibuk melayani pelanggan di kafe, bahkan hingga saat ia sedang berbaring di atas ranjang mencoba memejamkan mata untuk tidur. Kalimat pendek itu terus saja terngiang-ngiang dan berputar tanpa permisi di dalam kepalanya.
Dan hal yang paling membuat Aurora merasa kesal pada dirinya sendiri adalah... ia sangat menyukai sensasi hangat yang ditinggalkan oleh ucapan pria itu.
---
Sementara itu, di sisi lain area kampus Hudson University.
Alexander juga sedang mengalami gejolak emosi yang sama persis. Ia duduk melamun di salah satu bangku kantin, membuat Ryan Walker yang duduk di hadapannya sampai harus menghela napas panjang berulang kali karena diabaikan.
"Aku menyerah, Alex," ujar Ryan tiba-tiba memecah keheningan sembari meletakkan sendoknya dengan pasrah.
Alexander perlahan mengangkat kepalanya, menatap sang sahabat dengan tatapan kosong. "Ada apa lagi?" tanya Alexander bingung.
Ryan menunjuk tepat ke arah wajah Alexander dengan gemas. "Kamu," tuduh Ryan ketus.
"Aku kenapa?" tanya Alexander mengernyitkan alisnya.
"Kamu sudah senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas selama lima menit penuh, tahu," cibir Ryan blak-blakan.
Alexander tersentak, lalu ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Melihat reaksi tak biasa itu, Ryan langsung tertawa terbahak-bahak. "Sudahlah, akui saja sekarang," desak Ryan menyenggol lengan sahabatnya.
"Mengakui apa maksudmu?" tanya Alexander berpura-pura tidak mengerti.
"Akui kalau kamu memang sudah benar-benar menyukai Aurora," tebak Ryan penuh penekanan.
Alexander terdiam seribu bahasa. Biasanya, ia akan langsung menyangkal tuduhan itu dengan ketus. Biasanya, ia juga akan langsung mengalihkan topik pembicaraan ke urusan bisnis atau kuliah. Namun kali ini, tidak ada satu pun bantahan yang keluar dari belahan bibirnya.
Mata Ryan langsung membelalak sempurna melihat kebisuan itu. "Tunggu dulu," potong Ryan mendadak tegang.
Alexander menghela napas panjang, memberikan konfirmasi tersirat atas keterdiamannya.
Seketika itu juga Ryan langsung berdiri dari kursinya dengan heboh akibat rasa syok yang luar biasa. "KAMU BENARAN SUKA SAMA DIA?!" seru Ryan histeris.
"Pelankan suaramu, Ryan!" tegur Alexander tajam sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang mendadak menoleh ke arah mereka.
Ryan buru-buru duduk kembali di kursinya, namun ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa tidak percaya yang amat sangat. "Astaga, ini luar biasa," gumam Ryan takjub.
Alexander tertawa kecil melihat reaksi berlebihan dari sahabatnya. "Sebenarnya apa yang membuatmu sampai begitu terkejut seperti ini?" tanya Alexander heran.
Ryan menatap lekat-lekat mata Alexander. "Tentu saja aku syok. Karena selama bertahun-tahun aku mengenalmu, seorang Alexander Kingsley tidak pernah sekali pun mengejar atau memikirkan seorang wanita sampai seperti ini," tutur Ryan jujur.
Alexander kembali terdiam dan memilih untuk tidak menjawab. Sebab ia tahu, apa yang dikatakan Ryan adalah sebuah kebenaran mutlak. Aurora Quinn adalah wanita pertama yang berhasil mengusik ketenangannya, dan mungkin... akan menjadi satu-satunya wanita yang mengunci hatinya.
---
Sore harinya.
Aurora sedang sibuk membereskan sisa cangkir di atas meja kafe ketika ponsel di dalam saku celemeknya bergetar nyaring menandakan sebuah pesan masuk.
Alexander:
"Bisa keluar sebentar?"
Aurora mengernyitkan dahinya bingung melihat pesan singkat tersebut.
Aurora:
"Kenapa tiba-tiba menyuruhku keluar?"
Balasan dari Alexander kembali datang dalam hitungan detik.
Alexander:
"Aku sudah ada di luar kafenya."
Aurora sentak menolehkan pandangannya ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Dan benar saja, di trotoar seberang jalan, tampak Alexander sedang berdiri tegap sembari melambaikan tangan ke arahnya dengan senyuman tipis.
Aurora langsung menghela napas panjang melihat kegigihan pria itu. "Pria ini benar-benar nggak bisa diam ya sehari saja," gumam Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya, namun sudut bibirnya tetap mengulas senyuman tipis.
---
Lima menit kemudian, setelah meminta izin sebentar kepada rekan kerjanya, Aurora sudah berjalan berdampingan bersama Alexander menyusuri jalanan taman kampus yang mulai sepi.
"Jadi, ada hal apa?" tanya Aurora melirik pria di sampingnya itu. "Apa ada hal yang mendesak sampai kamu harus menyuruhku keluar di jam kerja begini, Alex?"
Alexander memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai sebelum menjawab, "Aku cuma ingin bertemu dan melihat wajahmu saja, kok."
Aurora langsung kehilangan kata-katanya mendengar jawaban itu. Langkah kakinya sempat goyah. Pria di sampingnya ini memang terkadang bisa menjadi sosok yang terlalu jujur dan blak-blakan hingga sering kali membuat pertahanan hatinya runtuh seketika.
Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk bersama di salah satu bangku taman kampus. Hari sudah mulai beranjak sore, dan embusan angin musim gugur bertiup pelan menerpa helai rambut mereka. Untuk beberapa saat, keheningan yang menenangkan menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang membuka suara, sampai akhirnya Alexander memutus keheningan itu dengan nada suara yang berubah berat.
"Aurora," panggil Alexander lembut.
"Hm? Iya, ada apa?" sahut Aurora menolehkan kepalanya.
"Aku mau menanyakan suatu hal kepadamu," ujar Alexander tampak menatapnya dengan raut wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
Perubahan ekspresi itu tak pelak membuat Aurora ikut merasa gugup di tempatnya duduk. "Tanya saja, ada apa?" tanya Aurora mencoba terdengar santai.
"Menurut pendapatmu..." Alexander menggantungkan kalimatnya sejenak, tampak menimbang kata-kata.
"Menurutku apa?" tanya Aurora menuntut kelanjutan kalimat.
"Bagaimana jika ada seseorang yang terus-menerus memikirkan satu orang yang sama di setiap harinya?" tanya Alexander dengan pandangan mata yang terkunci pada wajah Aurora.
Aurora tertegun. "Lalu?" tanya Aurora lirih.
"Orang itu selalu ingin bertemu, dan selalu merasa bahwa hari-harinya yang melelahkan mendadak berubah menjadi jauh lebih baik hanya karena kehadiran satu orang tersebut," lanjut Alexander lagi.
Suasana di sekitar taman mendadak terasa begitu hening dan sakral. Aurora tidak bodoh; ia mulai bisa menebak dengan sangat jelas ke mana arah pembicaraan personal ini akan bermuara. Detak jantungnya kini mulai berpacu di atas batas normal.
Alexander memutar tubuhnya menghadap penuh ke arah Aurora. Tatapannya begitu dalam, lembut, dan sarat akan kesungguhan yang teramat sangat. "Menurutmu, perasaan seperti itu dinamakan apa, Aurora?" tanya Alexander menuntut jawaban.
Aurora menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Padahal ia tahu persis apa jawabannya, namun rasa gugup yang mendera seluruh tubuhnya membuat tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Itu... hal seperti itu..." Aurora menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya. "Itu namanya dia sedang menyukai seseorang, Alex."
Mendengar jawaban itu, seulas senyuman kecil yang sangat menawan terbit di wajah Alexander. Lalu, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan matanya dari manik mata Aurora, ia berkata, "Kalau begitu, aku rasa sekarang aku sedang berada dalam masalah besar."
Aurora membeku di tempatnya duduk. "Hah? Masalah apa maksudmu?" tanya Aurora bingung.
Alexander tertawa pelan mendengarnya. Namun kali ini, ada nada yang berbeda yang terselip di dalam suara tawanya—terdengar jauh lebih tulus, hangat, dan nyata. Pria itu tampaknya telah benar-benar memutuskan untuk berhenti bersembunyi dari perasaannya sendiri.
"Aurora," panggil Alexander lagi, suaranya melembut.
Jantung Aurora kini sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi ritme debarannya. "I-iya?" sahut Aurora terbata-bata.
Alexander menatap lurus tepat ke dalam manik mata Aurora, meruntuhkan seluruh jarak yang ada. "Aku menyukaimu."
Deg.
Dunia di sekitar Aurora seolah-olah berhenti berputar di detik itu juga. Suara bising embusan angin, suara obrolan mahasiswa yang berlalu-lalang di kejauhan—semuanya mendadak lenyap tanpa bekas dari pendengarannya. Yang tersisa di dunia ini sekarang hanyalah dirinya dan sosok Alexander Kingsley, pria kasta atas yang kini sedang menatapnya dengan binar perasaan cinta yang tidak bisa lagi disembunyikan.
"Aku sudah menyukaimu sejak lama, Aurora," aku Alexander mempertegas kalimatnya.
Aurora terkelu, sama sekali tidak bisa membalas atau memproduksi satu kata pun untuk menjawabnya. Pikirannya mendadak kosong melongpong, sementara dadanya terasa begitu berisik oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup sangat kencang.
Alexander tersenyum tipis melihat keterpakuannya. "Aku tahu pengakuan ini terkesan sangat mendadak bagimu," ucap Alexander memaklumi.
Aurora masih tetap memilih untuk bungkam, meremas ujung celemeknya dengan gugup.
"Tapi aku juga tidak mau membuang-buang waktu dan menunggu terlalu lama lagi untuk mengatakannya kepadamu," lanjut Alexander dengan nada suara penuh tekad.
Aurora buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rona merah yang kini sudah menjalar hebat di kedua belah pipinya. Dan reaksi menggemaskan itu justru membuat senyuman di wajah tampan Alexander terukir semakin lebar. Sebab untuk pertama kalinya, ia melihat seorang Aurora Quinn yang terkenal tangguh bisa bertekuk lutut dan salah tingkah akibat ulahnya.
"Aku tidak sedang meminta jawabanmu saat ini juga, Aurora," ucap Alexander sembari perlahan bangkit berdiri dari bangku taman.
Aurora ikut mengangkat kepalanya kembali, menatap sosok tinggi pria itu yang kini menjulang di depannya. "Lalu?" tanya Aurora lirih.
"Tapi aku akan tetap menunggumu sampai kamu siap memberikan jawaban itu," ujar Alexander penuh kesabaran. Lalu, tepat sebelum ia melangkah membalikkan tubuhnya untuk pergi, Alexander menatapnya sekali lagi dan berbisik pelan, "Karena aku benar-benar serius tentang hubungan kita, Aurora Quinn."
Setelah menjatuhkan kalimat pengakuan yang teramat manis itu, Alexander berjalan melangkah pergi meninggalkannya begitu saja di taman.
Sementara itu, Aurora masih tetap duduk terpaku di atas bangku taman dengan dada yang bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya yang keras dan penuh perjuangan, ada seseorang yang berhasil membuatnya merasa begitu berharga dan diinginkan sebagai seorang wanita.
Dan orang itu... adalah seorang Alexander Kingsley.