Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menantinya
Bel rumah yang berbunyi pantang menyerah membuat Alena mau tidak mau akhirnya turun dari atas ranjangnya. Ia baru memejamkan mata beberapa jam, dan ingin rasanya ia memaki orang yang sudah menganggu tidurnya. Tapi mengingat hanya Megan dan Pollux yang mengetahui rumahnya, ia menahan lidah agar tidak mengumpat.
Berdiri di depan pintu, Alena tanpa sadar merapikan rambutnya dan di detik berikutnya ia kembali mengacak rambut yang sudah ia rapikan tadi. “Apa yang kulakukan?” Alena membuka pintu, dan terkejut melihat penampakan Megan yang jauh dari kata baik-baik saja.
“Astaga, apa yang terjadi denganmu?” Alena menuntunnya masuk dan membantunya duduk.
Megan sesegukan membuat Alena panik. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia pun akhirnya mengambil segelas air. “Minumlah,” Alena duduk di sampingnya sembari mengusap lengan Megan.
Megan meminum air yang diberikan oleh Alena. Menarik napas panjang, Megan menoleh ke samping. “Bolehkah aku meminjam pakaianmu?”
Alena mengangguk dengan segera, “Tentu saja, tapi sebelumnya bersihkan dirimu terlebih dahulu,” Alena berdiri, begitu pun dengan Megan. Alena pun membawa Megan ke dalam kamarnya.
“Aku bisa memakai kamar mandi yang di bawah,” Megan merasa sungkan dan tidak enak hati.
“Kerannya rusak.” Alena beralasan.
“Kau berbohong,”
“Ya,” aku Alena sembari tersenyum. “Tidak usah sungkan, aku akan menunggumu di sini,” Alena duduk di atas ranjang.
Megan pun akhirnya mengikuti kemauan Alena. Di kamar mandi ia menghabiskan waktu lebih dari 15 menit. Otaknya bekerja, bagaimana nanti ia akan menghadapi kemarahan Pollux yang sudah berani merusak foto pernikahan yang sepertinya hanya satu-satunya.
“Airnya sangat segar,” ucapan Megan membuat Alena mengalihkan tatapannya dari ponsel.
Alena berdiri, ia tersenyum lalu berjalan ke arah lemari pakaiannya. “Kau butuh pakaian dalam?”
Alena menggeleng, “Pakaian dalamku tidak basah, syukurlah. Jika tidak, aku dalam masalah, ukuran kita berbeda,” Megan melirik dada Alena yang membuat wanita itu tergelak.
“Ya, sepertinya begitu. Punyaku terlihat datar, mungkin cuma segini,” Alena mengepalkan sebelah tangannya.
Megan mengangguk setuju, “Tepatnya sebesar telur ayam,”
“Itu terlalu kecil, mungkin telur angsa,” Alena memegang kedua dadanya yang membuat Megan tergelak. “Tapi milikmu juga tidak cukup besar.”
Megan menunduk, mengintip di balik jubah mandi yang ia kenakan. “Tapi setidaknya lebih besar dari punyamu,” dan keduanya pun kompak menertawakan kekonyolan mereka, dan Megan bisa melupakan ksedihan dan kecemasannya untuk sesaat.
“Aku tidak memiliki banyak baju, kuharap ada yang bisa kau kenakan, dan sepertinya aku memang butuh belanja.” Alena mengeluarkan isi lemarinya yang memang tidak seberapa, dan masalah baru pun muncul. Pakaian si kaki panjang dan si kaki kurang panjang jelas berbeda ukuran.
Mencoba beberapa pakaian Alena, semuanya terlihat tidak pas, ada saja hal yang menggelikan yang mereka tertawakan. Dress Alena bahkan hanya sebatas menutupi bokongnya, dan tidak mungkin ia memakai dress disaat ia harus bekerja di rumah Pollux.
“Hanya tinggal ini,” Alena mengangkat sebuah hot pant. “Aku membelinya satu bulan yang lalu dan belum pernah mengenakannya.” Alena memberikannya yang langsung diterima oleh Megan.
“Sebelumnya aku tidak pernah mengenakan jeans pendek seperti ini.” Megan terlihat meragu.
“Jika tidak nyaman dengan itu, mungkin kau bisa memakai piyama milikku. Ukurannya tidak usah diragukan.” Saran Alena dan kembali mengeluarkan koleksi piyamanya dari berbagai corak dan gambar-gambar lucu yang menggemaskan.
“Sepertinya tidak ada pilihan, aku harus mencoba ini,” Megan memutuskan untuk memakai hot pant yang dipadukan dengan tank top hitam kedodoran. Megan melihat penampilannya, dan tidak yakin untuk menemui Pollux dengan pakaian yang ia kenakan.
“Tidak buruk untuk wanita single yang tinggal sendirian. Pakaian santai yang cukup nyaman,” celetukan Alena membuatnya menoleh menatap wanita itu. Ia menjauh dari cermin setelah mengikat rambutnya dengan asal.
“Ya, nyaman jika tidak bertemu seseorang.” Megan duduk di samping Alena. “Jika kau ingin belanja, aku tidak keberatan untuk menemanimu.” Megan menawarkan diri, dan tentu saja ia tidak akan lupa untuk mempromosikan butik milik Paula.
“Bagaimana jika akhir pekan?” Alena menyambutnya dengan sangat antusias. Megan mengangguk menyetujui. Pembicaraan berlangsung ke hal lain, dan bahkan mereka memasak bersama dua bungkus mie instan. Megan juga tidak lupa meminta resep rahasia nasi goreng buatan Alena. Ia akan mempelajarinya dan suatu waktu akan menyajikannya di hadapan Pollux.
Mengingat Pollux, Megan melirik jam tangannya. Tidak terasa mereka bergosip lebih dari 2 jam lamanya. “Sepertinya aku harus melanjutkan pekerjaanku,” Megan berdiri, membawa piring kotor mereka untuk dicuci. “Sepertinya dia juga sudah pergi bekerja,” Megan bergumam.
“Siapa?” tanya Alena yang ikut membantu Megan membilas piring mereka.
“Tetanggamu.” Jawab Megan dengan tarikan napas berat.
“Baguslah. Aku juga ingin mengembalikan mobilnya,” Alena mengeringkan tangannya begitu juga dengan Megan. Keduanya pun ke luar dan naik ke dalam mobil yang sebenarnya milik Pax.
“Hanya lima langkah, tapi kenapa kita harus naik mobil?’ Megan terkikik geli.
“Karena mobil ini harus dikembalikan ke pemiliknya. Aku tidak keberatan jika kau ingin berjalan-jalan keliling komplek.”
Megan menolak dengan menggelengkan kepalanya, “Aku sangat ingin, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku.”
“Baiklah, kenakan sabuk pengamanmu, Nona.” Alena mengerling jenaka.
Hanya beberapa detik mereka sudah sampai. Megan turun terlebih dahulu sementara Alena masih harus memarkirkan mobil mewah milik Pax.
Megan mendorong pintu, dan terkejut begitu mendapati Pollux yang sudah berdiri di hadapannya dengan pakaian santai. Pria itu tidak pergi bekerja.
“Bagaimana bisa kau datang bersama Pax?” Pollux melirikkan matanya ke luar lalu menatap Megan dari atas sampai bawah. “Dan kau berkeliaran di hadapannya dengan mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini?” percayalah semua itu diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi. “Aku bertanya-tanya ke mana kau membersihkan dirimu, dan kejutan, kau datang bersama kembaranku.”
“Pax? Di mana dia?” Megan mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Demi Tuhan, Megan. Pakaianmu membuatku tidak nyaman,” Pollux membuka baju yang ia kenakan dan memasangkannya di tubuh Megan, dan hasilnya, kaos pria itu bahkan berhasil menutupi hot pant yang dikenakan oleh Megan.
Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Megan tidak mendengar dengan jelas apa sebenarnya yang dikatakan oleh Pollux. Terkejut dengan perlakuan Pollux, matanya kini dimanjakan dengan pemandangan tubuh indah pria itu.
Glek.
Megan menelan ludahnya susah payah, apa pria itu tidak tahu bahwa bertelanjang dada di hadapan seorang wanita bisa menghancurkan moral wanita itu sendiri. Megan membatin.
“Alena,” panggilan Pollux menyadarkan kedua wanita itu dari keterkejutan yang mereka alami dalam konteks yang berbeda.
“Kenapa kau berdiri di sana?”
Alena mendekat dengan wajah masam membuat dahi Pollux mengernyit bingung.
“Kau sudah lama berdiri di sana?” tanya Pollux.
“Sejak kau memasangkan pakaian ke tubuh Megan.” Alena menarik tangan Pollux dan memberikan kunci mobil milik saudaranya. “Dasar buaya darat!” Alena menyunggingkan bibir atasnya lalu berbalik.
“Sepertinya aku harus pindah, aku butuh bantuanmu lagi, Meg.” Pollux dan Megan kompak mengernyitkan dahi mendengar penuturan Alena.
"Hm, aku pergi dulu." Alena menepuk bahu Megan sembari tersenyum.
"Terima kasih, Alena. Aku akan mencuci bajumu dan mengembalikannya dengan segera."
Alena hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Untuk akhir pekan, aku menantikannya." ujar Megan kembali, dan lagi Alena membalasnya dengan sebuah anggukan sembari tersenyum.
"Tentu saja, aku juga menantikannya."