NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Nyonya Santoso

Gerakan tangan Nadia yang menyentuh perutnya itu, sekecil apa pun, tidak luput dari pandangan tajam Nyonya Ardila. Mata wanita itu menyipit perlahan, sorot matanya berubah dari dingin menjadi penuh kecurigaan yang semakin menguat. Ia menatap lekat-lekat wajah Nadia, mencoba membaca setiap ekspresi yang tersembunyi di balik lapisan riasan yang hari ini terlihat lebih tebal dari biasanya.

"Kenapa diam saja?" tanya Nyonya Ardila lagi, mendesak, suaranya terdengar lebih rendah namun lebih menusuk dari sebelumnya. "Saya tanya kenapa kamu memegang perutmu? Apakah kamu sakit? Atau... ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan pada kami?"

Jantung Nadia berdegup kencang seolah ingin meledak. Ia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam sambil berpikir keras mencari jawaban yang aman. Jika ia menjawab jujur sekarang, apa yang akan terjadi? Wanita di hadapannya ini adalah ibunya Aga, pemegang kendali kekuasaan yang tidak akan ragu mengambil langkah apa pun demi menjaga nama baik keluarga. Namun jika ia berbohong terlalu jelas, kecurigaan wanita paruh baya itu justru akan semakin besar.

"Saya... saya hanya merasa sedikit mual, Nyonya," jawab Nadia dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski jemarinya terasa dingin dan berkeringat. "Ini biasa terjadi, mungkin karena saya sedikit lelah setelah seharian bekerja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Nyonya Ardila tidak langsung percaya. Ia tetap menatap Nadia dalam waktu lama, seolah sedang menimbang apakah gadis itu sedang berkata jujur atau menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar. Perlahan, ia kembali bersandar pada sandaran sofa, namun tatapannya tetap tidak lepas dari Nadia.

"Kelelahan?" ulangnya dengan nada meragukan. "Kalau hanya lelah atau capek, tidak akan membuatmu terlihat begitu berhati-hati dengan tubuhmu, dan tidak akan membuatmu terlihat semakin pucat meski sudah ditutupi riasan. Dengarkan aku baik-baik, Nadia. Aku tidak suka dibohongi. Jika kamu menyembunyikan sesuatu yang bisa merusak masa depan anakku, kamu tidak akan hanya menghadapi aku saja, tapi juga seluruh kekuatan keluarga Santoso. Dan percayalah, itu bukan sesuatu yang kamu inginkan."

Nadia menunduk dalam, menggigit bibirnya hingga terasa sedikit perih. Ia tahu ia sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa menentukan nasibnya dan masa depan anaknya. Ia mengingat pesan dokter, mengingat janjinya untuk melindungi nyawa kecil di dalam rahimnya dengan segala cara. Maka, ia harus tetap tenang, tidak boleh panik, dan tidak boleh memberikan celah sedikit pun bagi mereka untuk mencurigai hal yang sebenarnya.

"Saya tidak berbohong, Nyonya," jawab Nadia dengan tegas namun tetap sopan. "Saya hanya karyawan biasa yang ingin bekerja dengan jujur dan menghidupi diri sendiri. Saya tahu batas tempat saya berdiri, dan saya tidak akan pernah melanggarnya. Saya tidak punya niat buruk apa pun terhadap Pak Aga atau keluarga Anda. Saya hanya meminta kesempatan untuk hidup tenang, tanpa diganggu atau dipaksa pergi dengan cara yang tidak baik."

Nyonya Ardila terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia melihat ketegasan di mata Nadia, sesuatu yang tidak ia duga akan dimiliki oleh gadis yang dianggapnya lemah dan tidak berdaya. Namun ketegasan itu justru membuatnya semakin waspada.

"Baiklah, untuk saat ini aku percaya pada kata-katamu," ucapnya kemudian, namun Nadia tahu bahwa nada bicara wanita itu tetap tidak menunjukkan rasa percaya sepenuhnya. "Ingat satu hal, Nadia. Pengawasan terhadapmu tidak akan berhenti. Mulai hari ini, setiap gerak-gerikmu akan semakin diawasi. Jika aku mendengar kabar bahwa kamu masih berusaha mendekati Aga, atau... jika aku menemukan bukti bahwa kamu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya bagi keluarga kami, maka permintaan baik ini akan berubah menjadi tindakan yang jauh lebih keras. Kamu tidak akan punya tempat lagi di kota ini, bahkan mungkin di seluruh provinsi atau negara ini."

Nyonya Ardila menunjuk kembali amplop tebal yang masih tergeletak di atas meja.

"Ambillah ini sebagai tanda kesopanan terakhirku. Gunakanlah untuk kebutuhanmu. Jika kamu menolaknya, itu hanya akan membuatku semakin curiga apa yang sebenarnya kamu inginkan. Jangan membuat dirimu terlihat terlalu mulia dan suci, Nadia. Di dunia ini, semuanya punya harga. Ambil dan pergi dengan tenang, atau tolak dan hadapi risikonya."

Nadia menatap amplop itu dengan pandangan yang bimbang. Ia tidak ingin menerima uang itu, karena rasanya seperti harga diri dan kebahagiaannya sedang dibeli dengan sejumlah lembaran kertas. Namun ia sadar, jika ia menolak secara mentah-mentah, Nyonya Ardila justru akan semakin yakin bahwa ia menyimpan maksud tersembunyi. Demi keamanan dirinya dan anaknya, ia harus menerima dengan cara yang tidak mempermalukan dirinya sendiri.

Dengan tangan yang gemetar, Nadia mengulurkan tangannya, mengambil amplop itu dengan hati-hati tanpa menyentuh jari Nyonya Ardila. Ia meletakkannya di pangkuannya, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

"Terima kasih, Nyonya. Saya akan menggunakannya dengan bijak. Dan saya berjanji, saya tidak akan pernah mengganggu kehidupan Pak Aga lagi. Saya akan menjaga jarak sejauh mungkin, dan jika saya sudah menemukan tempat baru, saya akan segera pergi dari sini seperti yang Anda harpkan."

Nyonya Ardila mengangguk pelan, seolah merasa sedikit lega mendengar jawaban itu, meski rasa curiganya masih belum hilang sepenuhnya.

"Bagus. Sekarang kamu boleh pergi. Mario akan mengantarmu keluar. Dan ingat janjimu, Nadia. Jangan sampai kamu membuatku menyesal telah bicara denganmu dengan cara yang baik ini."

Nadia berdiri perlahan, menundukkan kepala sebagai tanda hormat terakhir, lalu melangkah mundur sedikit sebelum berbalik menuju pintu. Begitu ia membuka pintu dan melihat Mario yang sudah menunggu di luar, rasa lega yang bercampur dengan ketakutan kembali menyelimuti hatinya.

Saat berjalan menyusuri lorong menuju lift, tangannya mencengkeram erat amplop itu di dalam tasnya, sementara tangan lainnya kembali menyentuh perutnya dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang.

'Kita berhasil melewatinya kali ini, Nak,' bisiknya dalam hati dengan air mata yang akhirnya mulai menetes perlahan. 'Tapi perjuangan kita baru saja dimulai. Kita harus tetap bersembunyi, tetap kuat, dan menjaga rahasia ini sampai kapan pun. Mama tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita, apa pun yang terjadi.'

Namun Nadia tidak tahu, di balik pintu ruang tamu itu, Nyonya Ardila masih duduk diam dengan pandangan yang jauh dan penuh kecurigaan. Wanita itu tahu, sesuatu pasti sedang disembunyikan gadis itu. Dan ia tidak akan beristirahat sampai ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang ditutupi Nadia, sebelum hal itu menjadi ancaman nyata bagi masa depan putranya.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!