NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 - Ritsleting yang Macet

Alarm dari ponsel Nami berdering nyaring tepat pukul enam pagi.

Nami tersentak bangun, mendapati dirinya masih meringkuk kaku di sudut kiri ranjang king size dengan selimut yang tergulung erat membungkus tubuhnya.

Ia segera menoleh ke arah kanan. Sisi kasur di sebelahnya sudah kosong, menyisakan bantal yang rapi dan guling pembatas bernilai denda lima puluh juta yang posisinya sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya semula.

Nami mengembuskan napas lega yang panjang, memegangi dadanya yang sempat berdegup kencang. Setidaknya, ia berhasil melewati malam pertama di bawah satu atap tanpa ada insiden yang mengerikan.

Dengan langkah gontai, Nami melangkah keluar dari kamar utama menuju area ruang tengah. Ia masih mengenakan baju rumahan seadanya—kaus longgar dan celana kulot katun tipis dengan rambut yang dicepol asal-asalan.

Baru dua langkah berjalan, langkah kaki Nami mendadak terhenti.

Di meja konter dapur bersih, Max sudah duduk dengan sangat rapi. Pria itu mengenakan kemeja berwarna biru gelap yang lengannya sudah digulung hingga sebatas siku.

Ia tampak sangat tenang, sebelah tangannya memegang cangkir berisi kopi hitam yang masih mengepul, sementara mata tajamnya fokus membaca sesuatu di layar tablet.

Tidak ada guratan lelah atau tanda-tanda mengantuk di wajahnya, sangat kontras dengan penampilan Nami yang acak-acakan khas muka bantal.

Max mendongak sekilas, menatap Nami dengan pandangan sedingin es sebelum kembali beralih pada tabletnya. "Kau sudah bangun. Segera bersihkan dirimu. Jam tujuh tepat desainer gaun pengantinnya akan tiba di sini."

Nami mendengus kesal, berjalan menuju dispenser untuk mengambil air putih. "Aku tahu. Tidak perlu mengingatkanku setiap jam."

Nami meneguk air putihnya dengan cepat, lalu teringat sesuatu yang mengganjal di benaknya sejak subuh tadi. Hari ini adalah hari Rabu, dan seharusnya ia sudah bersiap memakai jas putihnya untuk berangkat ke rumah sakit.

"Max, aku perlu bicara," kata Nami sambil melipat tangan di dada, bersandar pada konter dapur.

"Hari ini aku terpaksa mengambil izin darurat untuk tidak masuk dinas residen di rumah sakit. Mengajukan izin mendadak seperti ini taruhannya adalah tumpukan tugas tambahan dari konsulen yang bisa membuatku tidak tidur tiga hari tiga malam!"

Max meletakkan cangkir kopinya dengan ketukan perlahan di atas marmer. Ia menatap Nami lempeng tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Aku sudah meminta asistenku untuk mengurus dispensasi resmimu melalui jajaran direksi rumah sakit. Kau tidak akan mendapat sanksi atau tugas tambahan apa pun, Dokter Namira."

Nami tertegun, mulutnya sedikit terbuka. "Kau... menggunakan koneksi kekuasaanmu sampai ke direksi rumah sakit?"

"Itu cara paling logis untuk menghemat waktu," sahut Max kaku. "Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi. Aku tidak punya waktu untuk menunggumu menyelesaikan giliran jaga malam yang tidak ada habisnya itu. Sekarang, cepat mandi."

Nami hanya bisa menggeram tertahan di dalam hati. Kekuatan uang dan jaringan seorang Max Ezra Tanuwijaya benar-benar bisa membalikkan aturan rumah sakit yang seketat militer dalam sekejap mata.

Dengan langkah kesal, ia berjalan mengentakkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

Tepat pukul tujuh pagi, bel apartemen berbunyi pendek. Dua orang wanita paruh baya dengan gaya busana yang sangat eksentrik dan modis masuk membawa tiga buah gantungan baju besar yang dilapisi kain pelindung beludru hitam.

Pria di depan mereka—sang desainer utama yang bernama Ivan langsung heboh begitu melihat Max.

"Aduh, Tuan Max! Selamat pagi! Ini dia calon pengantin wanitanya?" seru Ivan dengan suara melengking heboh begitu melihat Nami keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah lebih rapi.

Ivan langsung mendekati Nami, memutari tubuh gadis itu dan mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki. "Cantik natural sekali! Kulitnya bagus, tapi sayang... kenapa tegang sekali badannya? Sayang, rileks sedikit, auranya seperti mau disuntik. Biasanya pengantin baru itu bawaannya mesra dan penuh binar cinta."

Wajah Nami mendadak kaku, ia tersenyum canggung yang dipaksakan. "Ah, saya hanya sedikit lelah."

Max yang berdiri tidak jauh dari mereka menyahut dengan nada suara datar tanpa ekspresi. "Dia seorang dokter, biasa menyuntik bukan disuntik. Badannya kaku karena kurang tidur. Tolong percepat proses fitting-nya."

Ivan mencibir kecil ke arah Max. "Tuan Max ini dari dulu tidak berubah ya, kaku sekali seperti robot. Ayo, Sayang, kita coba draf kasar gaun utamanya di ruang ganti."

Nami membawa salah satu gaun putih berbahan satin premium itu ke dalam ruang ganti yang terletak di sudut kamar utama. Proses memakai gaun pengantin berpotongan A-line itu memakan waktu hampir lima belas menit karena strukturnya yang cukup rumit.

Ketika pintu ruang ganti bergeser terbuka dan Nami melangkah keluar, suasana kamar utama yang tadinya bising oleh celotehan Ivan mendadak sunyi senyap.

Gaun putih itu melekat sempurna di tubuh ramping Nami. Potongannya yang elegan mengekspos garis bahu dan lehernya dengan indah, sementara bagian bawahnya menjuntai anggun menyentuh lantai marmer hitam.

Nami yang biasa tampil dengan jas dokter atau kaus oblong rumahan kini terlihat sangat berbeda—sangat menawan, anggun, dan memancarkan pesona yang kuat.

Max yang sejak tadi sibuk mengetik di tabletnya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria itu terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nami dengan pandangan yang tidak berkedip selama beberapa detik.

Ada kilat tipis yang melintas di sepasang mata elang pria itu, sebuah kekaguman spontan yang langsung coba ia tutupi dengan deheman pelan.

Nami yang ditatap seintens itu merasa seluruh wajahnya memanas. Atmosfer di dalam kamar berubah menjadi canggung luar biasa.

"Bagaimana, Tuan Max? Pilihan gaun dariku tidak pernah salah, kan?" goda Ivan sambil tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi klien VIP-nya itu.

Max berdehem sekali lagi, memutuskan kontak mata dari Nami dengan cepat dan kembali menatap layar tabletnya dengan raut wajah dingin yang kembali terpasang sempurna.

"Cukup bagus. Tidak perlu ada perubahan besar pada ukurannya."

Nami mendengus pelan. Memuji sedikit saja sepertinya bisa membuat lidahnya patah.

Setelah hampir satu jam melakukan pengukuran mendetail dan memastikan tidak ada bagian kain yang cacat, Ivan dan para asistennya sedang sibuk menyiapkan proses finishing terakhir.

Sementara Nami kembali ke dalam ruang ganti untuk melepaskan gaun berat tersebut.

Namun, saat tangannya bergerak ke belakang punggung untuk menurunkan ritsleting gaun, ritsleting logam kecil itu mendadak macet total tepat di tengah-tengah punggungnya.

Nami mencoba menariknya perlahan, lalu mencobanya lagi dengan sedikit sentakan, namun benda itu tetap tidak bergeming. Kain gaun pengantin itu menempel terlalu ketat, membuat ruang gerak lengannya sangat terbatas.

"Sial, kenapa harus macet di saat seperti ini sih?" bisik Nami panik, napasnya mulai terengah-engah karena posisi tangannya yang memutar ke belakang mulai terasa kram.

Tok, tok.

Pintu ruang ganti yang terbuat dari kayu tebal tiba-tiba diketuk dari luar. Suara berat Max terdengar dari balik pintu. "Namira, kenapa lama sekali? Aku punya kesibukan lain."

"Jangan masuk! Ritsleting belakangku macet!" seru Nami setengah berteriak dari dalam.

Klik.

Pintu ruang ganti justru bergeser terbuka tanpa permisi. Max melangkah masuk dengan santai, mengabaikan teriakan peringatan Nami. Nami langsung berbalik dengan panik, memeluk bagian depan gaunnya yang sedikit melonggar dan menatap Max dengan tatapan galak.

"Kau tuli ya? Aku bilang jangan masuk!" bentak Nami dengan wajah memerah sempurna.

Max tidak memedulikan kemarahan Nami. Pria itu berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka di dalam ruang ganti yang sempit itu hingga Nami bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang tajam.

Max membalikkan tubuh Nami dengan memegang kedua bahunya perlahan, memaksa punggung Nami yang terbuka setengah kini menghadap ke arahnya.

"Jangan bergerak," perintah Max, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin tepat di dekat telinga Nami.

"Kalau kau terus memberontak, kainnya bisa robek dan kulitmu akan lecet. Aku tidak mau penampilanmu di altar hari Jumat nanti cacat karena luka goresan."

Nami langsung membeku seketika, menahan napasnya dalam-dalam. Kulit punggungnya yang sensitif mendadak meremang hebat saat merasakan sentuhan jari-jari tangan Max yang dingin mulai bergerak perlahan memperbaiki posisi ritsleting logam yang macet.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!