Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh
Suara Elvio terdengar menggema di ruangan besar itu. Ia berdiri dengan raut wajah panik di ujung pintu masuk. Mendekati Aruna dengan cepat bahkan sampai memeluk tubuh kecilnya dengan cara berlutut untuk menyamakan tinggi mereka.
"Astaga! Kau membuat Ayah ketakutan saat tak juga kembali dari toilet," ucap Elvio dengan suara pelan tapi ia bisa mendengar ada nada lega terselip di sana.
Apa Elvio benar-benar mencemaskannya? Itu bukan pura-pura hanya karena ada Mahesa bersama mereka, kan?
"Maaf, Tuan. Saya lalai menjaga Nona," ucap Amanda si pengawal yang bertugas menjaga Aruna. Hal itu membuat Aruna meringis lagi, jangan sampai wanita itu kena hukuman karena ulahnya.
"Maaf, Ayah. Ketika dari toilet aku penasaran dengan tempat ini jadi memutuskan untuk melihat-lihat sebentar. Aku bahkan tak sadar berpisah dengan Amanda, jadi itu bukan salahnya," jelasnya sembari melirik Amanda sang pengawal yang berdiri di belakang Elvio. Amanda nampak kaget mendengar ucapan Aruna dan tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasih.
Elvio menghela nafas dan melepas pelukannya pelan, "Lain kali jangan berkeliaran di tempat asing sendirian. Jika tersesat kenapa tidak menelpon Ayah saja, hm?"
"Aku tidak membawa ponselku," jawab Aruna jujur. Dia memang jarang membawa benda itu. Lagipula untuk apa? Tidak ada yang perlu ia hubungi dan tak akan ada yang menghubunginya kecuali Ganesha atau mungkin Baskara. Jadi Aruna lebih sering meninggalkan ponselnya di dalam kamar begitu saja.
"Ponsel itu penting, sayang. Mulai sekarang kau harus terus membawanya, oke?"
Aruna mengangguk saja, "Baiklah."
Pria tampan yang berusia tak muda lagi itu berdiri dan menoleh ke arah Mahesa yang sedari tadi hanya diam saja.
"Dan kau adalah?" tanyanya sembari melihat Mahesa. Tadi sempat melihat Aruna bercengkrama dengan anak itu.
"Ah, dia teman sekolahku. Namanya Mahesa Gavin Alvarendra, Ayah," ucap Aruna cepat.
Sebelah alis Elvio naik, "Alvarendra? Kau putera Azlan?"
Aruna mengerjap tak mengerti dan menatap Mahesa serta Elvio bergantian, jangan bilang Elvio mengenal Ayah Mahesa.
Mahesa mengangguk pelan, "Iya, Tuan."
"Pantas saja aku merasa tak asing denganmu. Bagaimana kabar ayahmu? Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya," tanya Elvio lagi.
"Ayah baik-baik saja dan saat ini sedang berada di Paris," jawab Mahesa kalem.
Mendengar jawaban Mahesa membuat Elvio mengangguk pelan, namun raut wajahnya menunjukkan ketidak pedulian. Lalu untuk apa bertanya?
"Bagaimana kau bisa disini?"
Nah, pertanyaan ini terdengar biasa saja tapi Aruna tahu apa maksud Elvio. Ia seperti bertanya "Kenapa kau bersama dengan puteriku?!" Siapa pun yang mengenal Elvio pasti sudah paham karakter pria itu.
"Ayah, tadi aku yang berkeliaran dan tiba di tempat ini. Saat aku tiba, Mahesa sedang bermain ice skating sendirian. Jadi aku memutuskan bergabung dengannya karena terlihat menyenangkan, "jawab Aruna cepat dengan sedikit mengarang pertemuan mereka. Ia hanya tak mau Mahesa terkena masalah karena dirinya.
"Benarkah begitu?" tanya Elvio tapi sembari melihat ke arah Mahesa.
"Ya, Tuan meski tak sepenuhnya benar. Aku belum mulai bermain dan mendapati Aruna di sekitar sini. Ia terlihat tertarik dengan skating jadi aku mengajaknya,"
Aruna mendesis dan menatap Mahesa tajam, kenapa harus berkata sejujur itu? Kenapa tidak mengiyakan saja alasannya tadi? Sementara Mahesa yang di tatap menatap Aruna seolah mengatakan "Apa? Kenapa melihatku begitu?"
Sedangkan Elvio mengangguk lagi kemudian melihat ke arah Aruna, "Kenapa tidak katakan jika ingin belajar ice skating? Ayah bisa mengajarimu lebih baik dari siapa pun," ucap Elvio dengan menekan ucapan terakhir.
Itu artinya ia tak memerlukan Mahesa untuk mengajari Aruna bermain ice skating.
Astaga, kekanakkan sekali, sih.
"Aku tak ingin menyusahkanmu, Ayah. Lagipula Mahesa cukup baik mengajarku, kok."
"Bukankah tadi kau jatuh? Kalau itu ayah, kau tak mungkin jatuh, sayang," ujarnya lagi kali ini dengan nada sombong.
Sial!
Elvio umur berapa, sih?! Kenapa ia seperti anak kecil yang mencoba mempertahankan mainnya? Padahal Mahesa terlihat biasa saja, anak itu bahkan tidak—
"Saya akui itu kelalaian saya, Tuan. Tapi, Aruna cukup bermain dengan baik tadi. Ia jatuh karena kaget mendengar suara pengawal itu yang menggema. Itu wajar. Bukankah jatuh tanda bahwa Aruna sudah berlatih dengan keras dan baik?" Mahesa menjawab dengan santai juga senyuman tipis.
Aruna sampai melotot ke arahnya, tak menyangka bahwa Mahesa akan menjawab selugas itu tanpa takut sama sekali. Apa anak itu lupa jika usianya baru 10 tahun?
Ucapan Mahesa membuat Elvio terganggu, ia berbalik menghadapnya dengan aura mengintimidasi yang kuat. Sebenarnya cukup kuat membuat anak 10 tahun seperti Mahesa ketakutan. Tapi anak itu bahkan tidak bereaksi sama sekali.
Wow!
"Tapi seharusnya kau bisa meminimalisir kejadian seperti itu jika kau pemain yang baik. Iya, kan?"
Mahesa tersenyum, "Ya, anda benar. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa Aruna sudah bisa bermain dengan baik tanpa jatuh. Pengecualian yang tadi karena ia KAGET," Mahesa menekan kata terakhir cukupa kuat sembari menatap Elvio.
Jika begini terus, mereka takkan berhenti beradu argumen tentang siapa yang lebih baik dalam hal ice skating. Kenapa pula Elvioharus mencari ribut dengan anak berusia 10 tahun?
"Ayah, bisa kita kembali sekarang? Aku lapar," potong Aruna cepat.
Elvio menoleh dan menatap Aruna, "Baiklah. Ayo, sayang. Kau mau makan apa?" tanyanya sembari menggendong tubuh kecil anak itu dan berlalu begitu saja. Namun, ia sempat berhenti dan melihat ke arah Mahesa.
"Ngomong-ngomong terima kasih sudah menemani puteriku hingga ia tak bosan. Katakan pada ayahmu, aku akan berkunjung kapan-kapan," ucapnya lalu pergi. Sedangkan Aruna yang berada di gendongannya melihat ke arah Mahesa dan tersenyum sambil melambai kecil.
"Sampai bertemu di sekolah, Mahesa"
Tak di sangka Mahesa—yang selalu berwajah datar dan dingin—membalas dengan senyuman lebih lebar, "Tentu, Una!"
Mahesa sialan! Apa maksudnya memanggilnya begitu?! Bagaimana jika—
Langkah kaki Elvio berhenti tiba-tiba. Pria itu tahu yang memanggil Aruna begitu hanya Ganesha karena mereka teman dekat. Tapi kenapa Mahesa juga?
"Una?" suara Elvio terdengar begitu rendah dengan sebelah alis naik. Menatap Aruna seperti meminta penjelasan.
"Una! Aku selalu di perpustakaan jika kau butuh bantuanku. Aku pergi ya! Bye, Una!" teriak Mahesa lagi dengan nada ceria lalu pergi begitu saja mengabaikan Elvio yang sudah seperti ingin memakan seseorang hidup-hidup.
Mahesa benar-benar sialan!
"Ayah pikir panggilan itu hanya khusus untuk Ganesha, sayang. Atau ada yang ayah tak tahu?" tanya Elvio lagi.
Aruna tak bisa berkata apa pun karena memang itu panggilan khusus dari Ganesha untuknya. Ia bahkan tak mengijinkan Abas memanggilnya begitu, lalu kini Mahesa juga ikut-ikutan.
Tunggu.
Jika Elvio tahu bahwa bukan hanya Mahesa tapi juga Abaskara memanggilnya begitu .... Lalu apa yang akan terjadi?
"Aku yang mengijinkannya, Ayah. Mahesa selalu membantuku dalam hal belajar, jadi aku merasa kami sudah menjadi teman dekat," bohong Aruna.
"Begitukah? Tapi itu bukan alasan untuk memanggilmu se-intim itu. Kalian masih 10 tahun, Sayang."
Itu intinya!
Mereka masih 10 tahun lalu apa masalahnya?! Elvio saja yang membesar-besarkan sesuatu!
"Ayah tidak suka dengannya. Caranya berbicara seolah ia memilikimu!" desis Elvio kesal dan kembali berjalan.
Aruna sendiri hanya menghela nafas dengan tatapan datar. Padahal itu hanya pemikiran absurd Elvio saja. Ia tak mau meladeninya karena akan berbuntut tidak jelas.
"Ayah, aku ingin makan daging kalau boleh," kata Aruna tiba-tiba.
"Oh! Tentu saja boleh. Makan apa pun yang kau inginkan, sayang. Kau perlu menaikkan berat badanmu."
Setidaknya ia berhasil membuat Elvio lupa dengan Mahesa—
"Tapi Ayah tetap tidak menyukainya!"
— atau tidak.
Sial!