Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Seketika amarah Samuel pun mengebu-gebu ketika melihat Naya yang baru saja kembali ke hotel. Samuel berdiri dan kemudian menunggu Naya tiba di hadapan nya.
"Mampus dia terlihat sangat marah," Batin Naya.
"Masuk," ucap Samuel kepada Naya yang saat ini baru saja tiba di hadapan nya dengan wajah yang menunduk karena takut.
"Tuan muda aku mohon jangan marah dulu, bagaimana jika anda dengarkan dulu penjelasan nona muda," tutur Azka yang khawatir jika Samuel akan ngamuk dan main tangan kepada Naya.
"Kau kembali lah ke kamar mu, urusan dia, biar aku yang mengurus nya," jawab Samuel yang sudah tidak tahan untuk mengomeli Naya.
"Tapi tuan ..." tidak sempat meneruskan kalimatnya, tatapan Samuel membuat Azka tidak berani membantah.
Azka pun akhirnya melangkah kan kaki nya pergi dari sana, menuju kamar nya, dengan harapan Samuel tidak akan memukul Naya.
"Masuk!" ucap Samuel membuka pintu kamar untuk menyuruh Naya masuk ke dalam.
"Tu ... Tuan, ak ... Aku," ucap Naya gugup, dia bahkan bingung bagaimana dia bisa lolos dari amukan singa itu selanjutnya.
"Masuk! Apa kau tuli?!" bentak Samuel tidak peduli apa yang akan di jelaskan oleh Naya kepada nya.
Naya yang ketakutan memilih untuk diam saja dan kemudian bergegas masuk ke dalam kamar.
Setelah Naya masuk ke dalam kamar, Samuel pun menutup dan mengunci pintu kamar tersebut. Hal ini membuat Naya yang melihat nya merasa ngeri dan berfikir Samuel akan memukulinya.
"Jangan, aku mohon jangan marah, aku hanya membantu Kakek-kakek itu," ucap Naya yang kemudian berlari cepat dan bersembunyi di balik sofa.
Sementara Samuel yang melihat nya seketika bingung dan mengernyitkan alisnya. Dia bahkan belum marah-marah, Naya malah sudah sangat takut.
Samuel pun berjalan menghampiri Naya yang kini berusaha untuk menghindari dirinya di balik sofa.
"Keluar atau aku akan menyeret mu, aku bisa lebih marah dari ini jika kau bersembunyi," ucap Samuel menatap Naya sambil memasukkan dua tangan ke saku celana nya.
Sejujurnya dia sangat kesal dengan Naya, namun entah kenapa rasanya dia tidak bisa marah melihat tingkah Naya yang seperti anak-anak berusia lima tahun yang takut di marahi sampai mencari tempat untuk bersembunyi.
Naya yang mendengar itu pun dengan gemetar keluar dari persembunyiannya dan kemudian berdiri di hadapan Samuel dengan menundukkan kepala.
"Tadi pagi aku bertemu seorang kakek yang jatuh di depan kamar nya, jadi aku menolong nya, dan dia mengajak ku untuk sarapan bersama, lalu setelah itu dia meminta ku untuk menemaninya jalan-jalan ke pantai yang berada tidak jauh dari sini," jelas Naya seadanya saja.
"Ck, sangat baik hati ya, sarapan dan menemani Kakek-kakek pergi jalan-jalan, lalu mengapa kau tidak memakan makanan yang sudah aku siapkan di atas nakas? Mengapa kau malah makan di luar sana?" tanya Samuel terlihat marah dan mulai meninggikan nada suara nya.
"Aku, aku alergi kepiting, bagaimana bisa aku makan nasi goreng kepiting?" jawab Naya.
Untuk kali ini Naya bicara dengan menatap wajah Samuel. Sementara Samuel yang mendengar nya sedikit kaget karena dia tidak tau nasi goreng yang dia siapkan untuk sarapan Naya ternyata nasi goreng kepiting dan dia baru tau Naya alergi kepiting.
"Terserah kau saja, baik lah kalau kau alergi dengan nasi nya dan sudah memberikan alasan yang tepat, sekarang cepat mandi, setelah itu aku dan Azka akan keluar jalan-jalan jika kau tidak mau ikut tinggal saja di sini," ucap Samuel yang kemudian berjalan menuju kasur dan duduk untuk melepas lelah dan lega karena melihat Naya sudah kembali dengan kondisi baik-baik saja.
"Aku tidak akan tinggal, hotel ini mengerikan jika sendirian apalagi malam-malam begini," jawab Naya lagi. Ia segera mengambil handuk dan pakaian ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu Samuel tidak mempedulikan nya, dia hanya berbaring rasa lelahnya membuat dia lapar.
"Aku sampai lupa kalau aku belum makan, cuma karena mengkhawatirkan perempuan bodoh itu, tapi mengapa aku merasa lega melihat dia baik-baik saja? Mengapa aku tidak berharap dia di culik saja?" batin Samuel lagi.
Bisa-bisa nya Samuel berharap seperti itu padahal sama sekali tidak ingin Naya terluka. Jelas-jelas perasaan itu ada, tapi malah berusaha menepis nya.
Tidak butuh waktu lama, Naya pun akhirnya selesai mandi.
Satu jam pun berlalu
"Sudah siap?" tanya Samuel.
"Sudah," jawab Naya.
"Ayo!" ucap Samuel mengambil ponsel nya dan berjalan membuka pintu kamar.
Malam ini mereka berniat untuk jalan-jalan di kota X karena besok lusa mereka sudah akan kembali.
Azka sudah menunggu mereka di dalam mobil, tidak butuh waktu lama Naya dan Samuel pun kini tiba dan langsung masuk ke dalam mobil yang akan di kendarai oleh Azka.
"Kita akan ke mana?" tanya Naya kebingungan sambil menatap Samuel yang kini duduk di samping nya.
"Kau pikir kau saja yang bisa jalan-jalan ke pantai? Kami tidak ingin? Ayo Azka cepat sebelum malam semakin larut," jelas Samuel sambil mengencangkan sabuk pengaman nya.
"Apa ke pantai? Astaga," kesal Naya karena dirinya baru kembali dari pantai tadi sore dan sekarang malah di bawa pergi lagi ke tempat yang sama, ini benar-benar melelahkan.
Azka yang selalu menuruti ucapan Samuel pun bergegas menyalakan mesin mobil nya dan kemudian melaju meninggalkan hotel.
Namun di tengah perjalanan, Naya kebingungan karena ternyata mereka tidak datang ke pantai yang ada di dekatnya hotel, melainkan melewati nya begitu saja.
"Lah, bukan kah pantai nya sudah lewat?" tanya Naya menunjuk ke arah pantai.
"Bukan pantai yang itu yang di maksud tuan muda nona, di kota ini masih ada banyak pantai yang bahkan jauh lebih indah dari pantai itu dan hanya enak di kunjungi bila malam hari," jelas Azka sambil fokus menyetir mobil.
"Hah?"
Naya tak habis pikir dengan jawaban Samuel barusan, hal ini membuat dia kaget dan tercengang.
"Apa? Mengapa kau menatap?" ucap Samuel yang kemudian memalingkan wajahnya tak mau Naya sampai menatap wajah nya apalagi mengajak nya bicara.
Jujur saja Samuel masih kesal atas perbuatan Naya yang sudah membuat dirinya lelah hari ini.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit dengan suasana hening, mereka pun akhirnya tiba di sebuah pantai, seperti yang di katakan oleh Azka, pengunjung pantai cukup lah ramai dan pantai tersebut terlihat sangat indah di malam hari dengan angin yang bertiup kencang serta suara ombak yang menyapu tepian pantai.
Samuel yang sudah lelah dengan segala beban pikiran dan pekerjaan nya merasa lega ketika akhirnya dia bisa melihat suasana pantai yang mampu mengubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik.
"Wahhh, ini sangat indah," ucap Naya turun dari mobil sambil mengagumi keindahan pantai.
"Tuan muda, seperti nya nona muda lebih bersemangat daripada kita," ujar Azka yang juga ikut turun dari mobil.
"Ikuti dia, jangan sampai dia hilang lagi," perintah Samuel saat melihat Naya semakin jauh dan menikmati suasana pantai yang seperti menghipnotis para pengunjung.
"Mengapa bukan tuan muda saja?" tanya Azka sambil cengar-cengir tidak enak jika harus berduaan dengan Naya lagi.
"Aku?"
Samuel malah kebingungan dengan ucapan Azka barusan.
"Iya, suaminya kan tuan muda, bukan aku," ucap Azka tak habis pikir dengan jalan pikiran sang bos.
"Siapa bilang dia istri ku," ketus Samuel.
Namun meskipun dia berkata seperti itu, Samuel tetap mengikuti Naya dari belakang dan meninggalkan Azka.
"Mulut nya tidak mau mengakui, tapi hatinya berbeda, benar-benar tuan muda yang tidak bisa di tebak," ucap Azka sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu.
"Wahh, baru kali ini aku datang ke pantai malam-malam dan bisa melihat langsung ombak yang menyapu tepian pantai," ucap Naya sambil memainkan air yang ada di tepi pantai dengan kaki nya.
"Jangan terlalu jauh ke sana bodoh, apa kau tidak lihat ombak begitu kuat? Sudah di kasih mata masih saja tidak di gunakan dengan benar," geram Samuel sambil memegang kuat lengan Naya dan menarik nya jauh dari pinggiran pantai.
"Aduh, aduh tuan muda, sakit," keluh Naya sambil memegang lengan nya yang di cengkram kuat oleh Samuel barusan.
"Sudah cukup, jangan merepotkan aku lagi, seharusnya aku tidak membawa mu,"
"Maaf kan aku, aku tidak akan merepotkan lagi, aku akan pergi ke Azka untuk menunggu anda bersantai sampai waktunya pulang,"
Setelah mengatakan itu Naya yang merasa bersalah hendak berlalu meninggalkan Samuel.
Namun siapa sangka tiba-tiba Samuel menahan nya dengan memegang pergelangan tangan nya.
"Aku tidak menyuruh mu untuk berduaan dengan Azka, kau masih ingat kan? Jaga nama baik ku," ucap Samuel seperti biasa dengan tatapan dingin nya.
Naya menundukkan kepalanya, dia serba salah dengan tingkah Samuel yang sangat membencinya namun tidak ingin Naya jauh-jauh darinya.
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Naya dengan tatapan sendu nya.
"Jalan di samping ku, jangan dekat-dekat dengan tepi pantai, ombak sangat kuat," ucap Samuel yang kemudian berjalan menyusuri pantai, dia terlihat sedikit ingin menghindari keramaian pantai.
Naya pun dengan patuh mengikuti instruksi dari Samuel, dia berjalan di samping Samuel dengan kepala tertunduk. Rasanya sangat bahagia jika mereka bisa lebih akrab dari ini, itu lah yang di pikirkan Naya saat ini.
Beberapa meter berjalan, kini suasana pun terasa sedikit lebih sunyi dan hanya ada mereka berdua di sana.
"Tuan, kita akan ke mana?" tanya Naya berhenti melangkah dan menoleh menatap Samuel.
"Terserah kaki ku saja," jawab Samuel singkat.
Mendengar itu Naya pun kembali melangkah, dan mereka pun kembali saling diam untuk beberapa menit.
"Dari mana kau mendapatkan gantungan kunci boneka babi itu?"
Hal yang tidak di duga oleh Naya kini malah secara tiba-tiba keluar dari mulut Samuel. Dia tidak menyangka Samuel akan sangat penasaran dengan gantungan kunci boneka babi milik nya.
Bersambung ....
🤣❤️