Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Sang Malaikat
“Hantu gedung opera?”
Aku menatap Raoul dengan penuh minat.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
Raoul tersenyum tipis, “Aku memiliki beberapa... sumber informasi.”
Ia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat.
“Informasi dari orang dalam.”
“Orang dalam?”
“Rahasia terbaik sekalipun pada akhirnya akan menemukan jalan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.”
Ia mengangkat bahu.
“Terlebih lagi, seseorang tampaknya sengaja ingin memberitahuku tentang hal ini.”
Aku semakin bingung.
“Namun mengapa kau menyelidikinya?”
Raoul terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kakakku yang menyerahkan persoalan ini kepadaku.”
Ia menghela napas.
“Awalnya aku mengira dia hanya mencari alasan agar aku tetap berada di Paris.”
“Bukankah kau akan pergi ke Antartika?”
“Seharusnya.”
Ada sedikit kekesalan dalam suaranya.
“Aku bahkan sempat marah kepadanya.”
Ia tersenyum getir, “Dia tidak mengerti mengapa aku begitu ingin pergi. Baginya, urusan ini hanyalah gangguan kecil.”
Raoul menatapku, “Tetapi semakin banyak yang kuketahui, semakin aku menyadari bahwa masalahnya jauh lebih besar.”
Ia menghela napas panjang, “Orang-orang di gedung opera ini hidup dalam ketakutan.”
Aku menunduk.
“Terima kasih sudah datang.”
Aku tersenyum kecil, “Namun kurasa hantu semacam itu tidak cukup menarik untuk seseorang sepertimu.”
Raoul langsung menggeleng, “Tidak, Christine.”
Ia menatapku dengan serius.
“Kau salah memahami maksudku.”
“Aku mengaku, pada awalnya semua ini terdengar konyol.”
Ia tertawa kecil.
“Di setiap tempat terkenal selalu ada cerita tentang hantu. Kastel tua, rumah bangsawan, gereja, bahkan teater. Aku mengira gedung opera ini tidak berbeda.”
“Tetapi?”
“Tetapi aku mulai mencari tahu.”
Wajahnya menjadi lebih serius.
“Dan semakin banyak informasi yang kudapatkan, semakin aku sadar bahwa semuanya tidak sesederhana yang kukira.”
Ia menundukkan kepala, “Aku terlalu sombong.”
Aku diam mendengarkannya.
“Kematian Joseph membuatku menyadari betapa bodohnya aku.”
Tangannya mengepal perlahan.
“Aku menganggap semua cerita tentang Phantom sebagai takhayul. Aku bahkan menertawakan ketakutan orang-orang.”
Ia menghela napas, “Tetapi sekarang aku tidak bisa lagi melakukan itu.”
Raoul tampak gelisah.
Ia mengulurkan tangannya kepadaku, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya dan menurunkannya kembali.
Aku tersenyum lembut.
“Ini bukan sepenuhnya salahmu.”
Aku menatapnya.
“Sejujurnya, aku sendiri masih sulit menerima keberadaan Phantom.”
Aku tertawa kecil, “Bahkan setelah melihat sosok itu dengan mataku sendiri, sebagian diriku masih mencari alasan agar semuanya masuk akal.”
Raoul tersenyum.
“Jadi kita sama.”
“Kurasa begitu.”
Aku menundukkan kepala.
“Maaf karena tadi aku mengatakan sesuatu yang tidak sopan kepadamu.”
Aku mengangkat wajah.
“Kita baru saja bertemu kembali setelah bertahun-tahun. Mungkin aku hanya masih terkejut karena begitu banyak hal telah berubah.”
Raoul mengangguk, “Aku mengerti, Christine.”
Tatapannya menjadi lembut.
“Aku tahu bagaimana rasa takut dapat membawa seseorang pada keputusasaan.”
Ia menatapku cukup lama.
“Tapi percayalah kepadaku.”
Suaranya terdengar tegas.
“Aku tidak akan tinggal diam.”
“Aku akan mencari tahu siapa Phantom sebenarnya.”
Sebelum aku sempat menjawab—
Tok. Tok. Tok.
Ketukan terdengar dari pintu.
“Christine?”
Aku segera mengenali suara itu.
“Meg?”
“Bolehkah aku masuk?”
“Tentu saja. Silakan.”
Pintu terbuka. Meg masuk sambil membawa beberapa pakaian.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian berdua.”
Ia melihat Raoul, “Aku hanya lupa membawa kostummu, Christine.”
Raoul segera berdiri.
“Tidak apa-apa, Nona.”
Ia membungkuk sopan.
“Aku juga baru saja hendak pergi.”
Ia mengambil sarung tangannya, “Aku memiliki janji dengan manajer.”
Kemudian ia menoleh kepadaku.
“Senang sekali akhirnya bisa berbicara denganmu lagi, Christine.”
Aku tersenyum.
“Aku juga.”
“Kita harus bertemu lagi.”
“Tentu.”
Raoul membungkuk sekali lagi. Kemudian ia berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas kepadaku.
Tatapan kami bertemu.
Ia tersenyum.
Lalu pintu tertutup perlahan di belakangnya. Aku memandangi pintu itu beberapa saat.
“Christine.”
Suara Meg membuatku tersadar.
“Hm?”
“Aku tahu seharusnya aku tidak bertanya.” Ia meletakkan kostum di atas meja.
“Tapi aku tidak bisa menahannya.”
Aku mengerutkan kening, “Menanyakan apa?”
Meg menatapku dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
“Apa lagi?”
Ia tersenyum nakal.
“Bagaimana kau bisa berkenalan dengan Viscount Chagny?”
Aku terdiam.
“Viscount... Chagny?”
Meg mengangkat alis.
“Raoul.”
Aku menatapnya.
“Raoul adalah seorang Viscount?”
Meg tertawa kecil.
“Jangan berpura-pura tidak tahu.”
“Aku sungguh tidak tahu!”
Meg menatapku beberapa saat.
“Kalian terlihat cukup dekat.”
Aku menggeleng.
“Raoul dan aku berteman sejak kecil.”
Aku menghela napas, “Aku bahkan tidak tahu keluarganya sekarang memiliki gelar bangsawan.”
Meg duduk.
“Christine, kakaknya adalah Pangeran Chagny.”
Aku terdiam.
“Pangeran?”
“Ya.”
Ia melanjutkan.
“Keluarga Chagny merupakan salah satu keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh.”
Ia menunjuk ke arah pintu.
“Kakaknya juga merupakan salah satu pendukung penting gedung opera.”
Aku tidak segera menjawab.
Keluarga Chagny...
Aku teringat ucapan Raoul.
Kakakku yang menyerahkan kasus ini kepadaku.
Aku perlahan memahami sesuatu.
(Jadi begitu...)
(Tidak heran Raoul mengetahui begitu banyak rahasia mengenai Phantom.)
(Keluarganya memang memiliki hubungan dengan gedung opera.)
Meg berdiri.
“Baiklah, aku harus mengganti kostum sekarang.”
Ia mengambil pakaiannya.
“Besok kau harus menceritakan semuanya kepadaku.”
“Meg, tunggu—”
Namun ia sudah berjalan menuju pintu.
“Jangan beritahu siapa pun tentang ini!”
Pintu tertutup sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku menghela napas.
“Meg...”
Aku menatap pintu yang baru saja tertutup.
Saat mengangkat kepala, aku hanya sempat melihat ujung roknya yang putih seperti salju menghilang di balik lorong.
Aku menggeleng, “Dia benar-benar tidak pernah berubah.”
Aku tersenyum kecil.
Namun kemudian—
“Sepertinya kau mendapatkan seorang teman baru.”
Aku membeku.
Suara itu.
Suara yang begitu kukenal.
Aku perlahan menoleh ke arah cermin.
“Malaikat Musik...”
Suaraku bergetar.
“Kau mengejutkanku.”
Tidak ada seorang pun di belakangku.
Hanya bayanganku sendiri.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
“Kau tidak menantikan percakapan denganku?”
Nada suaranya berbeda. Ada sesuatu yang dingin di dalamnya.
“Aku tidak pernah menerima sambutan seperti yang kau berikan kepada teman barumu.”
Aku mengerutkan kening.
“Malaikat...”
“Sepertinya aku datang pada waktu yang salah.”
Aku segera menggeleng.
“Tidak.”
“Kau terlihat sangat senang berbicara dengannya.”
“Tidak seperti itu.”
“Benarkah?”
Aku menatap cermin.
“Aku selalu menunggu untuk berbicara denganmu.”
“Setiap hari.”
Suaranya terdengar semakin dingin, “Ah... begitu.”
Ada jeda panjang, “Mungkin aku seharusnya tidak datang tanpa pemberitahuan seperti yang dia lakukan.”
Aku mengerutkan kening, “Apa maksudmu?”
“Temanmu memiliki kedudukan tinggi.”
Nada suaranya terdengar getir.
“Kurasa orang seperti itu memang pantas mendapatkan toleransi yang lebih besar.”
Aku menggeleng, “Jangan bicara seperti itu.”
“Mungkin kau mulai bosan dengan persahabatanku.”
“Tidak!” Aku langsung menjawab.
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
“Kalau begitu mungkin aku yang harus belajar menjaga perasaanku sendiri.”
Suara itu semakin jauh.
“Aku seharusnya tidak mengharapkan terlalu banyak darimu.”
Aku merasa panik, “Malaikat Musik, jangan.”
Aku mendekati cermin.
“Tolong jangan katakan seperti itu.”
Tidak ada jawaban.
“Malaikat?”
Aku menyentuh permukaan kaca.
“Apakah kau marah kepadaku?”
Aku menatap bayanganku sendiri.
“Kalau aku melakukan sesuatu yang salah, katakan kepadaku.”
Aku menelan ludah.
“Aku akan memperbaikinya.”
Hening.
Aku merasa semakin cemas.
“Tolong jangan marah padaku.”
Akhirnya suaranya terdengar, “Benarkah?”
Aku mengangguk meskipun ia tidak dapat melihatku.
“Ya.”
“Kalau begitu...”
Ia berhenti.
“Bernyanyilah untukku, Christine.”
Aku terdiam.
“Bernyanyilah.”
Nada suaranya menjadi lembut.
“Cara seseorang bernyanyi mengungkapkan segala sesuatu tentang dirinya.”
Aku menarik napas.
“Lagu-laguku selalu kupersembahkan untukmu.”
Aku memejamkan mata.
“Kau adalah guruku.”
Suaraku bergetar.
“Jangan pernah meragukan kesetiaanku kepadamu.”
Hening.
Malaikat Musik tidak menjawab.
Namun aku tahu ia masih berada di sana.
Menungguku.
Aku berdiri di depan cermin.
Kemudian mulai bernyanyi.
Nada pertama keluar dengan perlahan.
Namun suaraku gemetar.
Aku tidak tahu apakah karena gugup atau karena takut.
Biasanya, ketika aku bernyanyi untuknya, suara itu akan membimbingku.
Ia akan menyanyikan nada-nada berikutnya.
Ia akan mengoreksi kesalahanku dengan sabar.
Ia akan membuatku merasa seolah-olah aku tidak sendirian.
Namun malam ini berbeda.
Tidak ada suara yang menyertaiku.
Tidak ada bimbingan.
Tidak ada pujian.
Hanya keheningan.
Aku terus bernyanyi.
Satu bait.
Dua bait.
Aku berusaha menjaga suaraku agar tetap stabil.
Namun ketakutan perlahan memenuhi dadaku.
Apakah dia benar-benar marah?
Aku ingin berhenti.
Aku ingin bertanya.
Namun aku tidak berani.
Bagaimana jika aku berhenti bernyanyi dan dia pergi?
Bagaimana jika setelah malam ini dia tidak pernah berbicara kepadaku lagi?
Aku memejamkan mata lebih erat.
Aku terus bernyanyi.
Suara yang keluar dari bibirku perlahan menjadi lebih kuat, meskipun air mata mulai menggenang di sudut mataku.
Aku tidak tahu berapa lama aku bernyanyi.
Aku hanya tahu satu hal.
Aku takut kehilangan Malaikat Musik.
Karena di dunia yang terasa asing ini...
dialah satu-satunya sosok yang selama ini selalu membuatku merasa tidak sendirian.
aku takut bahwa suatu hari nanti, dia akan meninggalkanku.