NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10• Dua Gelas, Dua Hati..?

Koper hitam itu terbuka lebar di atas ranjang.

Naya melipat kemeja Arkan satu per satu, memasukkannya ke dalam koper. Gerakannya rapi, seperti biasa. Tapi ujung jarinya dingin. Di kepalanya, nama “ Dewi” masih menggantung, belum berani ia sentuh.

Arkan berdiri di belakangnya, memasukkan dasi ke saku koper.

“Nay,” panggilnya pelan.

Naya menoleh. Arkan langsung menariknya ke dalam pelukan. Kencang. Lama. Dagunya bertumpu di kepala Naya.

“Tungguin aku pulang, ya,” bisiknya di telinga Naya. Suaranya rendah, nyaris pecah. “Aku sayang kamu.”

Ciuman Arkan mendarat di kening Naya. Panas, menahan. Terlalu lama untuk sekadar pamitan kerja. Seolah ia ingin menambal semua malam pulang mabuk dan wangi parfum asing dengan satu sentuhan ini.

Naya memejamkan mata. Dadanya sesak. Ia ingin percaya. Tapi bibir Arkan yang mengucap “aku sayang kamu” terasa terlalu manis untuk ditelan mentah-mentah.

“Jaga diri di sana, Mas,” jawabnya lirih. Ia tidak bilang “aku juga sayang kamu”. Kata itu nyangkut di tenggorokan.

Dari ambang pintu, Ibu Desy berdiri. Wajahnya muram. Untuk pertama kalinya, bukan nada perintah yang keluar dari mulutnya.

“Baru nikah udah ditugasin keluar kota sebulan,” gumamnya pelan. “Mama nggak tega nak.”

Arkan menoleh, tersenyum kecil ke ibunya. “Sebulan doang, Ma. Cepet kok.”

Tapi Naya tau, sebulan bisa jadi waktu yang cukup untuk mengubah banyak hal. Dan koper yang baru saja ia tutup itu terdengar seperti bunyi pintu yang perlahan mengunci dirinya sendiri.

Mobil Arkan baru saja keluar dari pagar.

Naya balik ke kamar. Napasnya masih berat bekas pelukan tadi. Matanya menyapu ranjang yang berantakan, lalu berhenti di gantungan baju. Jas abu-abu Arkan masih di sana. Tertinggal.

“Mas...” gumamnya pelan.

Ia ambil jas itu, baru sadar noda di kerah belum hilang. Belum dicuci. Naya bawa jas itu ke kamar mandi, mau rendam dulu sebelum masuk mesin.

Tangannya masuk ke saku dalam. Ada kertas kecil. Kusut.

Ia buka. Bon kafe.

Tanggalnya empat hari lalu. Pukul 21.00. Pas. dihari itu Arkan pulang jam satu malam. Dengan bau alkohol dan parfum perempuan menempel di bajunya.

Isinya 2 Bir Dingin, 2 Tiramisu Cake.

Tangan Naya berhenti. Air keran masih mengalir, tapi ia tidak dengar. Jam 21.00. Dua gelas. Dua porsi.

Meeting berdua?

Bon itu bergetar di genggamannya. Dadanya naik turun. Tiba-tiba bau deterjen menusuk hidung, bercampur dengan bayangan Arkan malam itu langkah goyah, kemeja kusut, wangi asing.

Naya memejamkan mata. Jas itu masih menetes di tangannya. Tapi yang lebih basah adalah pikirannya, tenggelam di angka 21.00 yang terus berputar.

......................

Ditempat lain, Pintu kaca kafe itu berdenting pelan saat Arkan mendorongnya.

Surabaya siang itu panas, tapi AC kafe dingin menusuk. Arkan melepas kacamata hitamnya. Matanya langsung mencari ke sudut dekat jendela.

Dewi sudah di sana. Rambutnya dikuncir, laptop terbuka, map berisi kuesioner bertumpuk di meja. Begitu lihat Arkan, senyumnya langsung melebar. Senyum lega, seperti orang yang baru menemukan pelampung di tengah laut.

“Mas, makasih ya udah dateng,” katanya cepat. Suaranya masih ada sisa gugup. “Aku kira kamu batal dateng”

Arkan duduk di depan Dewi. Ia letakkan tas laptopnya.

“Aku cuti sebulan,” jawabnya. “Kerjaan aku bisa aku bawa. Lagian kamu baru masuk kerja langsung disuruh keluar kota sendirian. Gila.”

Dewi tertawa kecil, tapi matanya masih berkaca. “Aku takut, Mas. Tim aku masih di Jakarta. Survei konsumen di kota baru, aku nggak kenal siapa-siapa di sini.”

Dewi mendorong segelas es teh ke arah Arkan. “Aku pesenin kamu dulu. Kamu pasti haus abis naik pesawat.”

Lalu ia menatap Arkan, nadanya pelan, nyaris berbisik.

“Mas, istri kamu gak marah kan, aku ngajak kamu nemenin aku begini?”

Arkan diam sebentar. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja.

“Nggak,” jawabnya singkat. “Aku bilang ini urusan kerja.”

Di kepalanya, ia mengulang kalimat itu lagi. Urusan kerja. Urusan kerja.

Tapi di luar jendela, matahari Surabaya terlalu terang. Dan di dalam dadanya, rasa bersalah mulai mengendap, pelan, seperti gula yang larut di es teh.

......................

Sore itu Surabaya mendung.

Bara jalan pelan di trotoar daerah Darmo. Ia baru saja turun dari Gojek. Teman lamanya ngundang makan di kafe dekat sini. Katanya kangen, mau ngobrolin kerjaan freelance.

Langkah Bara terhenti. Di seberang jalan, ada perempuan dengan map tebal di tangan. Rambut dikuncir. Wajahnya familiar.

Dewi.

Dadanya Bara langsung sesak. Ia kenal banget wajah itu. Lima tahun lalu, Dewi hampir jadi kakak iparnya. Hampir jadi bagian dari keluarga mereka. Dewi dan Arkan dulu dekat banget, sampai semua orang ngira mereka bakal nikah. Tapi Dewi milih kuliah ke luar negeri. Hubungan mereka kandas di situ.

Bara kira cerita itu udah berakhir. Udah jadi masa lalu yang susah dilupakan Arkan.

Tapi yang bikin Bara mematung bukan cuma Dewi. Tapi cowok yang jalan di sebelahnya. Kemeja putih, tas selempang, langkahnya santai. Dari jauh, siluetnya mirip banget sama Arkan.

Bara mengernyit. Nggak mungkin. Itu pasti orang lain.

Ia mau nyebrang buat mastiin. Tapi lampu lalu lintas berubah. Arus motor dan mobil memisahkan mereka. Pas lampu hijau lagi, Dewi dan cowok itu udah masuk ke gang kecil, hilang dari pandangan.

Bara berdiri di pinggir jalan. Angin sore membawa aroma hujan. Di kepalanya, wajah cowok tadi terus berputar. Mirip. Terlalu mirip buat dibilang kebetulan.

Ia urungkan niat buat nelpon. “Kali aja aku salah lihat,” gumamnya pelan.

Malam harinya Bara sedang bosan, ia buka Insta di ponselnya.

Jempolnya berhenti di story Dewi. Foto terbaru, upload dua jam lalu. Lokasi Jembatan Suramadu.

Di foto itu, Dewi berdiri membelakangi kamera. Di sampingnya, ada siluet cowok. Tinggi, bahu lebar, tangan masuk saku. Cuma bayangan, tapi cukup buat Bara nahan napas.

Jantung Bara bergetar beberapa detik. Bukan karena kaget.

Kalau bener siluet itu Arkan, berarti selama ini Arkan bohong. Dan kalau Arkan bohong, yang bakal hancur pertama kali bukan Arkan. Bukan juga Dewi.

Tapi Naya.

Dada Bara sesak. Ia tutup aplikasi, tapi wajah Naya kebayang terus. Cara Naya senyum tiap pagi, dan Naya adalah orang yang dulu pernah mampir dihatinya, dan sampai sekarang Bara belum bisa terima kehadiran Naya sebagai kakak iparnya.

Jantungnya seolah berhenti berdetak satu detik memikirkan perasaan Naya kalau tau suaminya sedang bersama wanita lain diluar kota, wanita yang ternyata adalah mantan kekasih Arkan.

Bara ngusap wajah kasar. Ia tidak punya hak buat khawatir seperti ini. Tapi tetap saja, pikiran itu tidak bisa ia buang.

Kalau badai ini beneran datang, Bara tidak mau Naya kena duluan.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!