Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Beberapa murid laki-laki bergegas masuk ke dalam kolam renang untuk menolong Karina yang tenggelam.
“Candra ke sini!” Seru sang guru kepada seorang pemuda yang berhasil menyelamatkan Karina.
Candra mengangguk dan dibantu oleh temannya, ia menaikkan Karina ke atas. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri, beruntungnya di sana sudah ada petugas ruang kesehatan yang memang bersiaga kalau terjadi sesuatu selama penilaian berlangsung.
Bening dan Winar sudah menangis, karena mereka tidak tahu kalau Karina tidak bisa berenang. Harusnya tadi mereka peka dengan gelagat Karina yang terlihat berbeda.
“Kalian yang sudah selesai, bisa kembali ke kalau atau istirahat lebih dulu! Jangan terlalu banyak orang di sini!” Kata guru olahraga yang membuat kerumunan mulai membubarkan diri.
Bening dan Winar tetap di sana, karena mereka sangat mengkhawatirkan Karina yang masih belum memuntahkan air yang masuk ke dalam mulutnya.
“Sepertinya dia membutuhkan napas buatan!” Kata Candra yang tadi menyelamatkan Karina.
“Kamu bisa memberinya napas buatan?” Tanya petugas ruang kesehatan kepada Candra.
“Bisa, tapi…” Candra tidak mengenal Karina dan rasanya tidak etis memberi napas buatan kepada orang yang tidak dikenalnya.
Tiba-tiba ponsel guru olahraga berbunyi, membuat sang empu terkejut dan sedikit menjauhkan diri untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Sa-saya mengerti,” jawab sang guru setelah mendapatkan sebuah perintah dari sang penelepon.
“Kalian semua kembali! Biar petugas kesehatan dan saya yang mengurus Karina!” Perintah guru olahraga dengan tegas.
Terpaksa Bening dan Winar bergegas keluar dari sana, diikuti oleh Candra yang masih sedikit mengkhawatirkan Karina.
Namun tidak lama setelah mereka keluar, seorang pria masuk ke dalam dengan topi di kepalanya.
“Napas buatan ya?” Tanya pria tersebut yang membuat petugas kesehatan terkejut, saat melihat wajahnya.
“I-iya,” jawaban tersebut membuat sang pria tersenyum.
“Menyingkir!” Pria itu menyuruh keduanya untuk menyingkir dari sisi Karina.
Sehingga dengan mudah, pria tersebut memberikan napas buatan kepada Karina.
Percobaan pertama gagal, tetapi pria itu kembali mencobanya dan kali ini dengan petugas kesehatan yang membantu menekan dada Karina.
Beruntungnya petugas kesehatannya adalah perempuan, jadi pria yang tengah memberikan napas buatan untuk Karina tidak akan murka.
“Uhuk… uhuk…” Karina akhirnya memuntahkan air yang sempat masuk ke dalam mulutnya.
Karina sempat membuka matanya, tetapi hanya sebentar. Gadis itu hanya melihat sekilas wajah yang terasa tidak asing, tetapi ia tidak bisa membedakan mimpi atau nyata.
“Apa Karina sudah baik-baik saja?” Tanya pria yang kini mengusap bibirnya yang basah.
“Sudah, saya akan meminta petugas yang lain untuk membawanya ke ruang kesehatan…”
“Tidak perlu! Di mana ruangannya? Aku akan menggendongnya!” Potong pria tersebut yang sudah menggendong Karina dengan mudah.
“Baik, saya akan memimpin jalan!” Kata petugas kesehatan.
Pria tersebut mengangguk, tetapi sebelum benar-benar pergi… ia menatap tajam guru olahraga. “Lain kali tanyakan dulu, sebelum menyuruhnya untuk berenang!”
Nada suaranya terdengar begitu dingin, membuat sang guru menunduk takut.
Ini memang kecerobohan guru olahraga, karena tidak memastikan kalau Karina bisa berenang atau tidak. Jadi, pantas saja pria tersebut terlihat begitu marah.
...***...
Di ruang kesehatan, Karina sudah dibaringkan di atas ranjang kesehatan dan selimut tebal menutupi tubuhnya yang terasa dingin.
Pria yang menolongnya masih belum pergi, entah sebuah kebetulan atau apa… pria itu ingin mengunjungi sekolah ini. Dan ia tidak sengaja melewati gedung olahraga dan melihat apa yang terjadi dari balik pintu.
“Gadis bodoh!” Pria itu mengusap pelan pipi putih Karina.
Pandangannya jatuh pada bibir gadis itu, ia kembali teringat dengan kejadian tadi. Bibir Karina begitu lembut dan hangat, membuatnya ingin menciumnya lagi.
Ia sedikit menuduk dan kembali menempelkan bibirnya di atas bibir pucat Karina, hanya menempel saja… tidak lebih.
Setelah dirasa cukup, pria itu menjauhkan tubuhnya dan berbalik untuk keluar dari ruang kesehatan. Namun sebelum benar-benar keluar, ia menatap petugas kesehatan yang tadi.
“Jangan katakan kepada siapapun, termasuk Karina tentang pertolongan tadi!” Ancamnya.
Sang petugas menganggukkan kepalanya, tetapi pria itu tidak akan percaya begitu saja. Ia akan mengirim orang untuk mengawasi petugas kesehatan dan guru olahraga yang juga akan diberi peringatan olehnya.
Belum saatnya Karina tahu tentangnya, karena sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Dia sangat menyeramkan,” gumam petugas kesehatan, setelah pria tersebut benar-benar pergi.
Tidak sampai lima menitan, ternyata ada yang datang lagi. Petugas kesehatan kembali dibuat terkejut saat melihat sang pemilik sekolah yang datang.
“Bagaimana keadaan Karina?” Tanya Lesa yang membuat petugas kesehatan kembali tersadar.
“Baik-baik saja, hanya menunggunya sadar,” jawabnya.
Lesa langsung ke sekolah, saat mendengar putrinya tenggelam… karena tidak bisa berenang.
“Siapa yang menolong putriku?” Tanya Lesa yang sudah berada di sisi Karina yang masih belum membuka mata.
Petugas kesehatan bingung untuk menjawabnya, karena pria tadi sudah mengancamnya. Jadi…
“Namanya Candra, dia berada di kelas Unggulan 3!” Petugas kesehatan tidak sepenuhnya berbohong, karena Candra juga menolong Karina.
“Candra? Apa itu putra keluarga Wijaya?” Gumam Lesa yang hanya mengetahui nama Candra di sekolah ini.
“Ma-Mama?” Kaget Karina yang baru sadar.
Lesa tersenyum menatap putrinya yang sudah sadar, ia memeluk Karina dengan hati-hati.
“Jangan seperti itu lagi! Kalau kamu tidak bisa berenang, bilang saja kepada guru… kamu tidak akan dimarahi,” bisik Lesa yang sudah mendengar apa semua penjelasan guru olahraga, tetapi Lesa masih belum mengetahui tentang pria tadi.
“Maaf, aku cuma takut tidak lulus kalau tidak mengikuti penilaian renang,” jujur Karina yang merasa sangat bersalah, karena sudah membuat mamanya khawatir.
“Kali ini maafkan, tapi lain kali kamu harus jujur kalau tidak bisa! Jangan membahayakan nyawamu, karena Mama sangat takut kehilanganmu,” Lesa mengeratkan pelukannya.
Karina bisa merasakan ketakutan sang mama, tetapi tiba-tiba saja pikirannya mengingat bayangan yang sedikit aneh.
“Apa kamu tahu siapa yang menolongmu?” Tanya Lesa yang kini melepaskan pelukannya.
Karina menggeleng pelan, ia tidak terlalu jelas melihatnya… walau wajah pria tersebut terasa tidak asing.
“Baiklah, tidak perlu memberatkan pikiranmu. Sekarang kamu istirahat, Mama akan menjagamu atau kita pindah ke rumah sakit saja?” Lesa benar-benar tidak bisa tenang.
“Aku baik-baik saja, Ma,” ucap Karina dengan senyuman cerahnya.
“Tapi nanti kamu mau diperiksa Kak Joshua ya! Mama harus memastikan tubuhmu benar-benar sehat!” Pinta Lesa.
“Iya, aku mau diperiksa… tapi tidak perlu ke rumah sakit,” balas Karina yang membuat mamanya tersenyum senang.
Petugas kesehatan mendengar semuanya dan ia baru tahu kalau Karina adalah putri sang pemilik sekolah.
“Tolong rahasiakan kalau Karina adalah putriku,” kata Lesa yang diangguki petugas kesehatan tersebut.
Bersambung!
semangat thor 💪💪