Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Beberapa menit kemudian, taksi yang ditumpangi Rebeca berhenti tepat di depan sebuah kafe bergaya modern yang terkenal sebagai tempat berkumpul para artis dan pebisnis muda di Seoul.
Rebeca membayar ongkos taksi, lalu turun sambil merapikan blouse putih dan rok hitam yang dikenakannya. Ia mendongak menatap bangunan kafe itu sejenak. Cahaya lampu hangat yang memancar dari balik dinding kaca membuat suasana malam terasa begitu indah. Dengan jantung yang berdegup lebih cepat, Rebeca melangkah masuk ke dalam.
Seorang pelayan yang telah mendapat instruksi dari Elgar segera menghampirinya. "Selamat malam. Apa Anda Nona Rebeca?"
"Iya," jawab Rebeca sambil tersenyum ramah.
"Tuan Elgar sudah menunggu di ruang VIP. Mari saya antar."
Rebeca mengangguk pelan, lalu mengikuti pelayan melewati area utama kafe yang dipenuhi alunan musik lembut. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua. Pelayan mengetuk pintu dua kali. "Silakan masuk." Pelayan membuka pintu itu.
Begitu melangkah ke dalam, pandangan Rebeca langsung tertuju pada sosok Elgar yang berdiri dari kursinya.
Lelaki itu tampil begitu modis, bak seorang oppa Korea. Ia mengenakan celana slim fit hitam yang dipadukan dengan kaus putih polos serta blazer hitam yang pas membentuk tubuhnya. Rambut two-block hairstyle miliknya ditata rapi dengan sedikit gelombang natural yang membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. Sebuah jam tangan mewah menghiasi pergelangan tangan kirinya, sementara senyum hangat langsung mengembang saat melihat Rebeca datang. "Sweety ..." panggilnya lembut.
Rebeca sampai terpaku beberapa detik. Penampilan Elgar malam itu benar-benar memikat. "S-Sayang," gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, Elgar melangkah menghampiri Rebeca. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia langsung merentangkan kedua tangannya. "Akhirnya kita bertemu juga." Sesaat kemudian, Elgar memeluk Rebeca dengan hangat. Pelukan itu dipenuhi rasa rindu yang selama ini hanya tersampaikan lewat panggilan video dan pesan singkat.
Rebeca sempat terkejut, tetapi perlahan ia membalas pelukan itu dengan malu-malu. Senyum bahagia tak henti-hentinya menghiasi wajah keduanya.
Perlahan, pelukan hangat itu berakhir. Elgar melepaskannya sambil tetap mempertahankan senyum lembut di wajahnya. "Ayo, duduk." Dengan sikap layaknya seorang pria yang menghargai pasangannya, Elgar menuntun Rebeca menuju meja yang telah ia pesan di sudut ruang VIP. Ia menepuk permukaan sofa terlebih dahulu sebelum menyuruh Rebeca duduk. "Silakan, Sweety."
Rebeca tersenyum manis. "Terima kasih, Sayang."
Setelah Rebeca duduk, Elgar baru mengambil tempat di sofa yang berhadapan dengan Rebecanya. Tatapan Elgar tak lepas dari wajah sang kekasih. "Kamu kelihatan makin cantik malam ini," pujinya tulus.
Pipi Rebeca kembali memerah. "Sayang, kamu bisa saja."
Elgar terkekeh pelan sebelum mengambil buku menu yang telah tersedia di atas meja. Ia lalu menyerahkannya kepada Rebeca.
"Mau makan apa? Pesan saja apa pun yang kamu suka. Aku traktir."
Rebeca menerima buku menu itu dan membukanya perlahan. Matanya menyusuri deretan hidangan dan minuman yang tertulis, meski beberapa nama menu terdengar asing baginya. "Aku bingung," katanya sambil tertawa kecil. "Semuanya kelihatan enak."
"Kalau begitu, kita pilih sama-sama." Elgar ikut membuka buku menunya. Sesekali ia memberikan rekomendasi makanan favorit di kafe tersebut. "Steak di sini terkenal enak. Pasta krimnya juga banyak yang suka. Kalau minuman, aku rekomendasikan chocolate latte atau peach tea."
"Hmm ... kalau begitu aku mau pasta krim sama peach tea saja."
"Oke." Elgar mengangguk, lalu menekan bel kecil yang tersedia di atas meja.
Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk ke ruang VIP. "Selamat malam, Tuan. Sudah siap memesan?"
Elgar mengangguk. "Ya. Satu creamy pasta, satu grilled steak medium, lalu minumnya satu peach tea dan satu iced americano."
"Baik, Tuan. Pesanan akan segera kami siapkan." Pelayan mencatat seluruh pesanan, kemudian membungkukkan badan, keluar.
Setelah pelayan meninggalkan ruang VIP, suasana kembali tenang. Hanya terdengar alunan musik lembut dari luar ruangan.
Elgar menatap Rebeca dengan senyum hangat. "Sweety."
"Iya, Sayang?"
"Besok pagi kamu ada rencana ke mana?"
Rebeca berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Belum ada. Paling aku mau jalan-jalan di sekitar Seoul sama Mama kalau beliau sempat. Kalau Mama sibuk kerja, mungkin aku istirahat di apartemen atau jalan sendiri."
Elgar mengangguk pelan. "Oh, begitu."
"Memangnya kenapa, Sayang?"
Elgar tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menyiratkan sedikit rasa menyesal. "Nggak apa-apa. Aku cuma ingin tahu saja. Soalnya ... besok aku sudah mulai syuting dari pagi sampai malam."
"Seharian?" tanya Rebeca.
"Iya." Elgar mengangguk. "Besok jadwalku padat sekali. Bahkan kemungkinan baru selesai larut malam."
Raut wajah Rebeca sempat berubah kecewa, tetapi ia segera mengulas senyum pengertian. "Oke, no problem. Pekerjaan tetap yang utama."
Elgar tersenyum hangat mendengar jawaban itu. "Terima kasih sudah mengerti."
"Lagian, jadi aktor sudah pasti sibuk, kan?"
"Benar." Elgar terkekeh pelan. "Makanya malam ini aku sengaja mengajakmu bertemu. Aku nggak mau kehilangan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersamamu sebelum besok benar-benar tenggelam dalam pekerjaan."
Ucapan itu membuat pipi Rebeca kembali memerah. "Aku juga senang bisa bertemu Kak Elgar malam ini." Senyum Elgar semakin lebar. Tepat saat itu, terdengar ketukan di pintu, menandakan pesanan mereka telah siap diantarkan.
Pintu ruang VIP kembali terbuka. Seorang pelayan masuk sambil membawa nampan berisi pesanan mereka. "Permisi." Dengan cekatan, pelayan itu menata satu per satu hidangan di atas meja. Semangkuk creamy pasta diletakkan di depan Rebeca, sementara grilled steak medium tersaji di hadapan Elgar. Tak lupa segelas peach tea dan iced americano melengkapi santap malam mereka.
"Selamat menikmati." Pelayan itu kemudian membungkukkan badan dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Elgar mengambil garpu dan pisaunya, lalu tersenyum kepada Rebeca. "Yuk, kita makan. Selamat menikmati."
"Iya. Selamat makan, Sayang."
Keduanya pun mulai menikmati hidangan masing-masing.
Rebeca mencicipi suapan pertama pastanya. Begitu saus krim yang lembut berpadu dengan pasta yang masih hangat memenuhi lidahnya, matanya langsung berbinar. "Mm ... enak banget," ujarnya tulus.
Elgar tersenyum puas melihat reaksi itu. "Syukurlah."
Rebeca mengangguk sambil kembali menyuapkan pasta ke mulutnya. "Pantas saja Kakak merekomendasikan tempat ini."
Elgar memotong steaknya, lalu mencicipinya dengan tenang. Sesekali mereka saling melempar senyum, menikmati suasana hangat yang terasa begitu nyaman.
Meski baru beberapa saat bersama, percakapan ringan yang mengalir di sela-sela makan malam membuat keduanya semakin larut dalam kebersamaan, seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk mereka berdua.
Makan malam mereka pun usai. Piring-piring yang telah kosong segera dibereskan oleh pelayan, menyisakan dua gelas minuman yang masih setengah terisi di atas meja.
Elgar dan Rebeca tetap berada di ruang VIP itu, mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari kesibukan syuting Elgar, rencana Rebeca selama berada di Korea, hingga cerita-cerita ringan yang sesekali membuat keduanya tertawa.
Di tengah percakapan, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang.
Elgar menatap Rebeca dengan sorot mata yang hangat. "Sweety."
"Iya, Sayang?"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Elgar mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh tangan Rebeca dengan lembut, lalu menggenggamnya perlahan.
Rebeca menundukkan kepala. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Elgar mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya, lalu mengangkat tangan satunya untuk menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi pipi Rebeca. "Kamu cantik sekali malam ini," ucapnya lirih. Pipi Rebeca langsung memerah. Elgar kemudian membelai pipinya dengan penuh kelembutan. Tatapan mereka saling bertemu dalam keheningan yang terasa begitu panjang. Perlahan, Elgar mendekatkan wajahnya.
Rebeca menahan napas.
Saat jarak mereka tinggal beberapa senti, Elgar berhenti sejenak, memberi kesempatan bagi Rebeca untuk menjauh bila ia tidak menginginkannya.
Namun Rebeca tetap diam. Matanya perlahan terpejam.
Melihat itu, Elgar mengecup bibirnya dengan sangat lembut. Ciuman itu membuat tubuh Rebeca menegang. Jantungnya berdegup begitu cepat hingga ia merasa seluruh wajahnya memanas. "Oh my god ... my first kiss diambil sama Elgar Jeverson. Yuhuu! Aku senang banget!" sorak Rebeca dalam hati.
Awalnya ciuman Elgar pelan dan lembut, tapi lama kelamaan ... gerakan lelaki itu mulai tak terkendali. Rebeca pun terbawa suasana, membalas ciuman liar itu dengan berani.
Perlahan tapi pasti, Elgar mendorong tubuh Rebeca hingga tubuh seksi itu jatuh ke sofa. Bibir mereka masih bertaut. "Inilah saatnya." Elgar menyeringai sambil menurunkan tangan kirinya ke bagian sensitif Rebeca.
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉