Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3-Setangkai Bunga
Sore itu, dengan baju potongan sederhana dan celemek bertuliskan "Toko Bunga Grasea" Lula sedang menata bunga-bunga jualan didepan toko tempatnya bekerja.
Ia tersenyum lebar saat melihat bunga yang di tatanya begitu cantik dan segar. Fresh flower memang secantik itu dan sewangi itu dibandingkan bunga palsu. "Kapan ya aku bisa secantik bunga bunga ini?" Gumam Lula yang tak pernah lepas pandangannya dari bunga segar tempatnya bekerja.
Tanpa sadar, dari jarak 5 meter ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik perlakuan Lula. Ya, ia adalah Arhan. Arhan menepati janjinya untuk mampir ditoko bunga tempat Lula bekerja. "Cantik" batin Arhan saat melihat seluas senyuman Lula yang sedang menatap bunga-bunga itu.
Arhan melangkahkan kakinya mendekati Lula dengan sangat cool. "Kak Lula." Sapanya yang berhasil mengagetkan lamunan Lula.
Lula langsung memutar kepalanya, melihat siapa yang memangil namanya. "Arhan? K-kamu beneran kesini?" Tanya Lula yang tak percaya dengan kedatangan seorang Arhan.
"Kaya nggak seneng ya aku dateng?" Titah Arhan yang bercanda.
Lula langsung menggeleng cepat, tidak setuju dengan pernyataan yang Arhan berikan. "Bukan gitu kok, aku seneng kamu beneran dateng kesini, aku kira cuman bercanda aja."
Lagi lagi Arhan menampakkan senyuman manisnya yang membuat hati Lula bergetar dengan sembunyi. Entah, Lula juga bingung kenapa hatinya jadi seperti ini, apakah ia jatuh cinta dengan cowok didepannya? Atau hanya sekedar kagum? Ah, mau suka ataupun kagum juga tidak akan bisa Lula memilikinya, Lula sadar diri dengan segala rupanya yang seperti sampah ini, sangat tidak cocok dengan Arhan yang begitu perfect dari hal apapun.
Arhan menyadarkan Lula dari lamunannya dengan melambaikan tangannya. "Kebiasaan, diem sambil natap aku, apa kakak terpesona dengan ketampanan aku?"
Lula terkekeh menampakkan senyuman yang begitu tulus dan lucu bagi Arhan. "Kepedean kamu itu tinggi banget!" Seru Lula dengan berani menyentil hidung Arhan yang sangat mancung itu.
Arhan memegangi hidungnya. Aneh rasanya, bukannya marah karena ada orang yang berani menyentuh wajahnya, ia malah senang dan rasa dihatinya ini sangat aneh, seperti ada perasaan nyaman saat berbicara dengan cewek yang ia panggil kakak, apa ini perasaan nya saja yang berlebihan? Tapi jika memang iya ini berlebihan, kenapa ia tidak pernah merasakan perasaan setenang ini saat bersama cewek lain? Ini adalah hal pertama yang ia rasakan, dan hanya ia rasakan pada seorang cewek yang dianggap buruk oleh seluruh siswa disekolahkan.
Beberapa saat kemudian, seorang pria berusia 26 tahun, bertubuh tinggi dengan pakaian kantor datang memecahkan obrolan Lula dan Arhan. "Mbak, penjual bunganya?."
Lula langsung berfokus pada costumer nya. "Eh, iya tuan, ada yang bisa dibantu?" Tanya Lula dengan begitu ramah, menunjukkan senyuman manisnya.
"Saya mau pesen fresh flower, seribu tangkai mawar ya, lusa bisa diambil kan?" Ucap pria itu.
Dengan senang hati Lula mengangguk. "Bisa, bisa banget tuan, mau request kata-kata?" Tanyanya.
Pria itu mengangguk. "Saya request , ' happy birthday mine'."
Lula mengangguk. "Oke tuan. Buat pacarnya ya? Pasti beruntung pacar tuan dapet kejutan dari anda."
Pria itu tersenyum mekar mendengar pujian dari Lula. "Haha... Saya yang beruntung mendapatkan wanita seperti nya, dia hebat, walaupun sering ngambek tapi saya tau kok kalau cintanya hanya untuk saya. Kalian pacaran kan? Kalian juga keliatan nya cocok dan jodoh."
Lula langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan costumer nya.
Begitupun Arhan yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka, ketika mendengar ucapan pria itu ia terbelak.
"Hah?" Ucap mereka bersamaan lalu saling berpandangan.
Melihat ekspresi wajah mereka berdua, pria berusia 26 tahun itu tertawa pelan. "Kenapa jadi kaget begitu? Mbak, pokoknya lusa saya ambil ya sorean."
Lula yang masih salah tingkah dengan ucapan costumer nya berusaha untuk mencari buku catatannya dari kantong celemek nya. "Eemmm.... Datanya di catat disini ya tuan, nanti untuk kelanjutannya kalau ada pertanyaan saya bisa menghubungi anda."
Beberapa menit berlalu, costumer tadi sudah pergi meninggalkan tokonya. Menyisahkan mereka berdua dengan hawa kecanggungan.
"Eemmm..." Lula memecahkan keheningan yang terjadi. Ia kemudian berjalan tak jauh dari Arhan untuk mengambil sesuatu. Beberapa saat berlalu, Lula kembali menghampiri Arhan dengan membawa setangkai bunga lily berwarna merah muda yang sudah dibungkus dengan begitu cantik. "Ini." Lula menyodorkan bunga lily itu pada Arhan.
Sebelum mengambil bunga itu, Arhan terdiam sejenak, sampai akhirnya ia mengambilnya dengan perlahan.
"Aku kan punya janji sama kamu kalau kamu kesini aku akan kasih kamu bunga karena sudah menolongku. Arhan, makasih ya tadi kamu sudah menolongku dari orang jahat itu, kamu adalah orang pertama yang begitu baik banget sama aku, maaf cuman bisa kasih kamu satu tangkai, soalnya aku gak punya uang buat beli banyak tangkai hehe..." Cengir Lula kemudian.
Arhan suka melihat penjelasan Lula yang sangat lucu dan tulus menurutnya. Ia mencium wangi bunga lily itu dengan aroma yang begitu menenangkan. "Makasih kak, bunganya bakal aku simpen dikamar, wanginya enak." Pinta Arhan yang masih fokus pada indra penciumannya.
"Mangkanya aku pilih bunga lily karna wanginya sangat enak dan menenangkan. Aku suka banget wangi bunga Lily, cantik juga bunganya, aku pengen secantik bunga Lily."
Alis Arhan berkerut hampir menyatu. Ia memperhatikan bunga Lily yang berada di genggaman tangannya, kemudian beralih melihat wajah Lula. "Kamu cantik." Ucap Arhan yang begitu pelan.
Lula berkerut mendengar apa yang Arhan ucapan. "Kamu ngomong apa?" Tanya Lula yang tidak mendengarnya, hanya melihat mimik bibir Arhan yang tidak bisa terbaca, mungkin efek rame kendaraan yang berlalu lalang melewati tokonya.
Arhan menggelengkan kepalanya. "Enggak, kamu bener bunga Lily ini cantik."
Lily mengangguk sangat setuju. "Iya, seratus persen aku setuju sama kamu! Mau tau enggak arti bunga Lily warna pink itu ada?"
"Apa artinya?" Tanya Arhan penasaran.
Lily mengajak Arhan untuk duduk di bangku agar tidak lelah. Mereka duduk bersebelahan.
Lily tersenyum kedepan, menatap lurus, membayangkan betapa indahnya bunga Lily jika dijadikan taman.
Tanpa sadar Arhan ikut tersenyum karna lagi-lagi melihat senyuman yang sepertinya akan menjadi candu baginya.
"Lily pink itu bisa disebut juga Pink lilies (bunga lily pink) melambangkan kelembutan, cinta, dan rasa syukur. Makna ini membuatnya sering dipilih sebagai hadiah untuk orang terdekat.Tapi makna utama bunga lily pink itu sebagai kasih sayang dan kekaguman. Sering digunakan untuk menunjukkan perhatian atau perasaan sayang pada pasangan, teman, atau keluarga. Kelembutan dan keindahan warna pink yang lembut melambangkan sifat halus dan keanggunan. Rasa syukur dan kebahagiaan, bisa juga diberikan sebagai tanda terima kasih atau untuk merayakan momen-momen bahagia." Jelas Lula dengan panjang lebar pada Arhan, ekspresi wajahnya begitu damai saat menjelaskan betapa kagumnya dia dengan bunga lily, terutama lily warna pink. Wajahnya beralih menatap Arhan. "Aku beri kamu bunga itu sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah sangat baik."