Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07# Perlakuan Kejam Adnan
“Alena, aku ini sahabat baik mendiang ibumu. Aku tak ingin kau terus-menerus terjerumus ke jalan yang salah. Kau pura-pura sakit padahal kau sangat sehat. Justru sebaliknya... Ayla, putri kandung keluarga Gunawan, dialah yang sebenarnya sedang sakit. Dia menyimpan trauma yang sangat berat di hatinya,” ucap Liam berusaha menjelaskan.
“Tunggu! Sejak kapan kau memeriksa keadaan Ayla? Siapa yang memberimu izin untuk mendekati dia? Dengar baik-baik perkataanku ini, Paman Liam... Jika kedapatan kau berkhianat atau melakukan hal di luar perintahku seperti sekarang ini satu kali lagi, aku pastikan nyawa putrimu melayang,” ancam Alena tajam, sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat ke wajah Liam.
Laki-laki itu sudah melakukan banyak hal kotor untuk Alena—mulai dari memalsukan laporan kesehatan, memanipulasi hasil pemeriksaan, hingga berbagai hal licik lainnya. Namun bagi Alena, semua itu masih terasa kurang. Meski usia Liam jauh lebih tua darinya, Alena tak pernah bicara sopan atau menghargai laki-laki itu, sangat berbeda jauh dengan sandiwaranya saat berhadapan dengan keluarga Gunawan atau Reyhan.
“Alena, aku kembali...”
Suara Reyhan terdengar dari ambang pintu. Ia bergegas masuk ke dalam ruangan sambil membawa kantong belanjaan berisi buah-buahan segar yang baru saja dibelinya.
“Aku permisi dulu...” ucap Dokter Liam. Ia pun segera berjalan keluar ruangan dengan tergesa-gesa seolah lega karena interogasi itu berakhir.
“Dokter itu baru saja memeriksamu?” tanya Reyhan, lalu meletakkan kantong berisi buah-buahan itu di atas meja dekat sofa.
“Ya,” jawab Alena singkat. Seketika itu juga, ia kembali berubah menjadi sosok gadis lemah dan manis seperti sedia kala.
“Lalu apa katanya? Bagaimana kondisimu?” tanya Reyhan penasaran.
“Beliau bilang kondisiku sudah jauh membaik. Katanya aku sudah boleh pulang sore ini atau malam nanti,” jawab Alena santai.
“Syukurlah kalau begitu. Aku jadi lega mendengarnya,” sahut Reyhan dengan senyum bahagia.
“Hmm...” Alena hanya tersenyum kikuk.
Jauh di dalam hatinya, ia masih merasa gelisah dan marah mendengar ucapan Liam tadi. Ia terus memikirkan satu hal: bagaimana mungkin Liam bisa memeriksa keadaan Ayla dan sampai tahu kalau sebenarnya Ayla-lah yang sakit parah?
“Keluarga Gunawan tidak boleh sampai tahu kondisi asli Ayla. Jika sampai ketahuan, semua yang telah aku miliki dan usahakan selama ini akan hilang seketika,” batin Alena penuh kekhawatiran.
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Gunawan...
Di rumahnya sendiri, Ayla tak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang. Bahkan dari para pelayan pun ia tak pernah dihargai. Mereka sama sekali tidak menganggap Ayla sebagai anak majikan. Satu-satunya orang yang mereka hormati dan layani dengan sepenuh hati hanyalah Alena. Tak jarang para pelayan itu malah menindas Ayla dan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah yang berat. Semua perlakuan itu mereka lakukan karena mereka pun ikut membenci Ayla, menganggapnya sebagai pembawa masalah yang selalu bermusuhan dengan Alena dan kedua kakaknya.
“Aku lapar...” gumam Ayla pelan.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja keluar dari kamarnya dengan niat mencari makanan.
“Masak sendiri saja kalau mau makan. Nyonya, Tuan, dan anggota keluarga lainnya sedang tidak ada di rumah, jadi kami tak perlu menyiapkan makan siang khusus. Kalau kau lapar, buatlah makananmu sendiri,” jawab kepala pelayan dengan nada ketus. Ia duduk santai di kursi sambil menikmati camilan yang ada di hadapannya.
Ayla hanya terdiam. Ia sudah sangat terbiasa menerima perlakuan kasar seperti itu. Ia pun berjalan perlahan menuju dapur, berniat mencari apa saja yang bisa dimakan. Padahal tangan dan tubuhnya sedang terasa sangat sakit hari ini, hingga ia tak sanggup memasak makanan berat.
Sesampainya di dapur, ia membuka lemari es. Tangannya yang kecil dan kurus perlahan hendak meraih sebotol susu dan sepotong roti yang ada di dalam sana. Namun tiba-tiba... Brak! Pintu lemari es itu tertutup paksa tepat di depan wajahnya. Tangan Ayla hampir saja terjepit keras.
“Apa yang kau lakukan? Itu makanan milik Alena. Dia sedang sakit sekarang. Nanti kalau dia pulang, dia pasti akan segera mencari makanannya. Jadi jangan coba-coba menyentuh barang-barang miliknya,” ucap seseorang dengan nada dingin.
Ternyata pintu itu bukan tertutup sendiri, melainkan ditutup oleh orang lain. Orang itu adalah Adnan, kakak kedua Ayla yang baru saja pulang dari kantor. Ia diminta Bastian untuk menjaga dan mengawasi keadaan Ayla di rumah, entah karena masih ada sisa rasa peduli, atau justru karena khawatir Ayla akan menimbulkan masalah baru saat rumah sedang kosong.
“Tapi Kak... aku lapar...” ucap Ayla dengan suara bergetar menahan tangis.
“Tak ada jatah makanan untukmu hari ini. Kau pantas diberi hukuman atas segala perbuatan kejam yang kau lakukan pada Alena,” jawab Adnan dengan tatapan penuh kebencian.
“Kenapa kalian masih saja tak mau mempercayai ucapanku? Aku sama sekali tak bersalah. Aku tak melakukan apa pun padanya. Soal gelang itu pun... dia sendiri yang bilang—”
“Cukup, Ayla! Berhenti terus-menerus membela diri. Baiklah, jika kau sangat ingin makan, boleh saja. Tapi sama seperti para pelayan lainnya, kau harus bekerja dulu. Bersihkan rumah ini sampai selesai. Jika tidak, kau bahkan tak pantas menerima sepotong roti pun dariku,” potong Adnan dengan kejam.
Setiap kali Ayla mencoba menjelaskan, Adnan selalu saja memotong dan tak mau mendengarkan.
“Aku sudah tahu betul, ucapan dan pembelaan diriku tak akan pernah didengar oleh mereka semua. Percuma saja aku bicara,” batin Ayla pasrah.
“Kenapa diam saja?! Cepat bergerak!” bentak Adnan dengan suara keras.
“Kondisiku sangat lemah hari ini, Kak Adnan... Aku mohon, berbaik hatilah padaku sekali saja...” lirih Ayla, suaranya terdengar begitu pilu dan menyedihkan. Padahal hanya untuk sekadar makan, ia harus memohon sedemikian rupa.
“Sudah kubilang, jika mau makan... bekerja dulu!” bentak Adnan sekali lagi, kali ini lebih keras dan tak sabar.
Pantas saja para pelayan berani memperlakukan Ayla semena-mena. Lihatlah, keluarga kandungnya sendiri saja sama sekali tak punya hati nurani atau rasa iba sedikit pun.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya